Penasaran dengan ceritanya langsung aja yuk kita baca
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8: CATATAN YANG TERLARANG
BAB 8: CATATAN YANG TERLARANG
Debu sisa perwujudan ayahnya masih menempel di jaket Arga, namun mentalnya sudah berubah. Ia tidak lagi sekadar ketakutan; ia marah. Ia merasa dijebak dalam lingkaran setan yang diwariskan oleh darahnya sendiri.
Arga kembali ke ruang bawah tanah rumah tua itu sebelum matahari benar-benar tinggi. Di antara tumpukan dokumen busuk, ia menemukan sebuah buku catatan kecil bersampul kulit manusia—setidaknya itu yang Arga rasakan saat menyentuh permukaannya yang kasar dan hangat.
Itu adalah Buku Log Kurir milik ayahnya.
Di dalamnya terdapat catatan-catatan gila. Ayahnya menulis:
"Jangan pernah mengantar paket dengan tangan kosong. Gunakan 'Garam Hitam' untuk menunda waktu, atau 'Cermin Retak' untuk melihat wujud asli penerima sebelum kau mengetuk pintu."
Dan di halaman terakhir yang ditulis dengan tinta merah kering, ada satu peringatan yang digarisbawahi tiga kali:
"Layanan Pengiriman Sembilan takut pada satu hal: Paket yang Salah Alamat."
Arga mengerutkan kening. "Salah alamat?"
Malam itu, Arga kembali ke gudang rongsokan. Pria tua berseragam hitam itu sudah menunggu. Kali ini, ia tidak memberikan kotak kayu atau toples, melainkan sebuah amplop hitam tipis yang terasa sangat tajam di pinggirannya.
"Paket nomor 5," ucap si pria tua. Wajahnya tetap tertutup bayangan topi, tapi Arga bisa merasakan tatapannya yang dingin. "Antar ke Terminal Bus Bayangan. Cari bus yang plat nomornya tidak memiliki angka genap."
Arga menerima amplop itu. Begitu jarinya menyentuh amplop, ia merasakan sensasi tersayat. Darah menetes dari jarinya dan terserap masuk ke dalam amplop tersebut.
"Ingat aturan nomor dua, Arga," pria itu memperingatkan. "Jangan bertanya apa isinya."
Arga pergi dengan motornya. Namun, kali ini ia tidak langsung menuju alamat. Ia berhenti di bawah lampu jalan yang terang dan mengeluarkan buku catatan ayahnya. Ia mencoba mencari tahu apa arti "salah alamat".
Tiba-tiba, motor Baskara berhenti di sampingnya.
"Kau masih hidup?" Baskara bertanya dengan nada datar, namun matanya melirik ke arah buku di tangan Arga. "Dari mana kau dapat buku itu?"
"Dari ayahku," jawab Arga tegas. "Baskara, apa kau tahu cara menghentikan semua ini?"
Baskara terdiam lama. Ia mematikan mesin motornya. "Hanya ada satu cara. Kau harus menukar paketmu dengan paket kurir lain. Jika kau berhasil mengirimkan paket milik orang lain ke alamatmu, dan paketmu ke alamat orang lain... sistem akan error. Tapi risikonya... kau akan diburu oleh 'Pengawas'."
Belum sempat Arga menjawab, terdengar suara klakson bus yang sangat nyaring dan melengking. Suaranya tidak seperti klakson biasa, melainkan seperti jeritan ribuan jiwa yang tersiksa.
Sebuah bus tua dengan karoseri tahun 70-an muncul dari kabut. Plat nomornya: B 1357 ZZZ. Semuanya angka ganjil. Bus itu melayang beberapa sentimeter di atas aspal, bergerak tanpa suara mesin.
"Itu alamatmu," bisik Baskara. "Hati-hati, Ar. Penumpang di bus itu bukan orang yang suka menunggu."
Arga mendekati bus yang berhenti di pinggir jalan tol yang sepi. Pintu bus terbuka dengan suara mendesis. Udara yang keluar dari dalam bus terasa seperti udara dari dalam peti mati yang baru dibuka.
Arga masuk ke dalam. Bus itu penuh. Semua penumpangnya duduk tegak, menghadap ke depan. Mereka semua memakai pakaian formal—jas dan gaun pesta—tapi tubuh mereka sudah mengering, menjadi mumi dengan kulit yang menempel ketat pada tulang.
Arga berjalan di lorong bus. Tujuannya adalah kursi paling belakang, di mana seorang pria besar dengan kepala terbungkus kain rami sedang menunggu.
Namun, saat Arga melewati kursi nomor 4, sebuah tangan mumi mencengkeram lengannya.
"Mana... suratku...?" mumi itu berbisik.
Arga teringat catatan ayahnya: Jangan mengantar paket dengan tangan kosong. Ia meraba sakunya dan menemukan koin emas pemberian ayahnya dari ruang bawah tanah. Ia meletakkan koin itu di tangan si mumi.
Mumi itu melepaskan cengkeramannya dan kembali kaku.
Arga sampai di kursi belakang. Ia menyerahkan amplop hitam itu. Pria berkepala rami menerimanya, lalu menyobek amplop itu dengan kasar. Di dalamnya bukan kertas, melainkan selembar kulit lidah manusia.
Pria itu menempelkan lidah itu ke wajahnya yang terbungkus kain rami. Seketika, ia bisa bicara.
"Terima kasih, Kurir. Sekarang sampaikan pada tuanmu... aku akan datang menagih janjinya malam ini."
Arga merinding. Janji apa?
Saat Arga turun dari bus, ia melihat telapak tangannya. Angka "4" berubah menjadi "5". Tapi ada yang aneh. Di bawah angka 5, muncul sebuah simbol kecil berbentuk mata yang menangis.
"Simbol Pengawas," Baskara muncul dari kegelapan. Wajahnya terlihat sangat ketakutan. "Kau melakukan kesalahan, Arga. Kau memberikan koin emas milik kurir mati kepada penumpang bus itu. Sekarang, Pengawas tahu kau punya buku itu."
Dari arah kegelapan hutan di pinggir jalan tol, muncul sosok-sosok jangkung dengan kaki yang sangat panjang dan tangan yang menyerupai sabit. Mereka bergerak sangat cepat menuju Arga.
"Lari, Arga! Lari!" teriak Baskara.