Aruna Pramesti mencintai dalam diam, ia menerima perjodohan dengan Revan Maheswara dengan tulus.
Menikah bukan berarti dicintai.
Aruna menjadi istri yang diabaikan, disisihkan oleh ambisi, gengsi, dan bayang-bayang perempuan lain. Hingga saat Revan mendapatkan warisan yang ia kejar, Aruna diceraikan tanpa ragu.
Aruna memilih pergi dan membangun kembali hidupnya.
Sementara Revan justru terjerumus dalam kegagalan. Pernikahan keduanya berakhir dengan pengkhianatan, menyisakan luka, kehampaan, dan penyesalan yang datang terlambat.
Takdir mempertemukan mereka kembali. Revan ingin menebus kesalahan, tapi Aruna terlalu lelah untuk berharap.
Namun sebuah amanah dari ibunya Revan, perempuan yang paling Aruna hormati, memaksanya kembali. Bukan karena cinta, melainkan karena janji yang tidak sanggup ia abaikan.
Ketika Revan baru belajar mencintai dengan sungguh-sungguh, Aruna justru berada di persimpangan. Bertahan demi amanah atau memilih dirinya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mamak3Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pernikahan yang Retak
Malam itu, Aruna berdiri di teras rumahnya. Ia menengadah, menatap langit gelap yang bertabur bintang. Kedua matanya terpejam, lalu kedua tangannya diangkat ke atas, seolah ingin menggapai bintang-bintang itu.
Tanpa sadar, Aruna tersenyum. Ia membayangkan dirinya terbang ke langit, bermain bersama bintang-bintang, bebas tanpa beban.
“Ehem. Ehem. Runa.” Suara deheman itu mengagetkan Aruna.
Ia membuka matanya dan menoleh. Ayahnya sudah duduk di sampingnya. “Kamu lagi ngapain, nak?” tanya ayahnya dengan nada lembut.
“Aku lagi ngitungin bintang, yah,” jawab Aruna polos.
Ayahnya tersenyum kecil. “Kebiasaan kamu sejak kecil gak pernah berubah,” ujarnya.
“Ayah, boleh aku bertanya?” kata Aruna pelan.
“Mau tanya apa, nak?” tanya ayahnya.
Aruna menghela napas dalam. “Kenapa nasib aku seperti ini, ya, yah?” tanyanya dengan suara bergetar.
Ayahnya terdiam sesaat. Wajahnya menegang, lalu ia berkata pelan, “Kita makan dulu, ya, nak. Itu ibu sudah menyiapkan makan malam.” Ayahnya sengaja mengalihkan pembicaraan.
Aruna mengangguk. Ia bangkit berdiri dan melangkah menuju ruang makan. Sementara itu, Surya masih duduk sendiri di teras rumah. Jauh di dalam hatinya, ia merasa bersalah.
Keputusannya menjodohkan Aruna dengan anak sahabatnya telah membuat putrinya menderita seperti sekarang. Ia tidak pernah menyangka Revan, menantunya, tega menceraikan Aruna tepat setelah mendapatkan warisan dari almarhum ayahnya.
Tidak henti-hentinya Surya menyesali keputusannya. Jika saja dulu ia menolak melanjutkan perjodohan itu, mungkin nasib Aruna tidak akan sesedih ini.
“Ayah, ayo makan.” Suara istrinya memanggil dari ruang makan.
Surya akhirnya berdiri, menutup pintu depan, lalu masuk ke dalam menuju ruang makan. Di meja makan telah tersaji masakan buatan ibu Aruna. Ada sayur singkong santan, ikan teri sambal, dan kerupuk putih.
Melihat hidangan kesukaannya, Aruna langsung merasa lapar.
Selesai ayahnya memimpin doa makan, Aruna segera membalik piring makannya. Ia mengambil lauk kesukaannya dan mulai makan dengan lahap. Ayah dan ibunya tersenyum melihat Aruna makan seperti anak kecil yang kelaparan.
“Pelan-pelan makannya, nak,” ujar ibunya.
“Habis masakan ibu enak sih. Jadi aku nafsu makan,” jawab Aruna sambil tertawa kecil.
“Ya sudah, habiskan ya, nak, makanannya,” kata ayahnya.
Aruna mengangguk sambil mengacungkan jempol kanannya.
Setelah makan malam selesai, Aruna membantu ibunya membersihkan meja makan dan mencuci piring-piring kotor. Usai semuanya rapi, Aruna hendak naik ke lantai atas menuju kamarnya.
“Aruna, sini sebentar, nak.”
Panggilan ibunya membuat Aruna berhenti. Ia berbalik dan melihat ayah serta ibunya sedang duduk santai di ruang tengah. Aruna pun menghampiri mereka dan duduk di samping ibunya.
Ibunya mengusap punggung tangan Aruna dengan lembut sambil tersenyum. Namun Aruna dapat melihat kesedihan di mata kedua orang tuanya.
“Runa, lalu bagaimana kelanjutan rumah tangga kamu dengan Revan?” tanya ibunya pelan.
Aruna menarik napas panjang. “Aku dan Kak Revan akan tetap bercerai, bu,” jawabnya tenang.
“Apa tidak bisa dipertimbangkan lagi, nak?” tanya ayahnya.
“Tidak, yah. Kak Revan ingin segera bercerai agar dia bisa menikahi kekasihnya,” ujar Aruna.
Ayah dan ibunya terkejut.
“Kekasihnya? Apa maksud kamu, nak?” tanya ibunya kaget.
Aruna terdiam sesaat, lalu mengusap wajahnya perlahan. “Jadi begini, Bu. Yah. Kak Revan itu sudah punya kekasih. Mereka sudah menjalin hubungan sejak kuliah. Saat menikah denganku, Kak Revan masih berhubungan dengan kekasihnya,” jelas Aruna.
Ayahnya mengernyitkan dahi. “Kalau Revan punya kekasih, lalu kenapa almarhum ayah mertuamu menjodohkan anaknya dengan kamu?”
“Almarhum papa sama sekali tidak setuju dengan perempuan pilihan Kak Revan. Aku tidak tahu alasannya kenapa,” jawab Aruna.
“Lantas, kamu sendiri sudah tahu semua ini sejak awal, nak?” tanya ibunya.
Aruna mengangguk pelan. “Aku sudah tahu, Bu,” ujarnya lirih.
“Kalau sudah tahu, kenapa kamu mau?” tanya ayahnya.
Suasana mendadak hening. Mata Aruna berkaca-kaca.
“Aku melakukannya demi menjaga nama baik ayah,” ucap Aruna dengan suara bergetar. “Karena ayah sudah terlanjur berjanji dengan almarhum papa.”
Ayahnya terdiam. Ia tidak menyangka putrinya mengorbankan diri sejauh itu. Demi menjaga nama baiknya, Aruna rela menikah dengan laki-laki yang tidak pernah mencintainya.
“Maafkan Ayah, ya, nak,” ujar ayahnya dengan suara bergetar. “Gara-gara ayah, kamu jadi menderita.”
“Gak apa-apa, yah,” jawab Aruna, berusaha tersenyum. “Aruna kuat kok. Sejak awal menikah dengan Kak Revan, Aruna sudah memutuskan untuk menjaga jarak dan membentengi hati.”
Ibunya menatap mata Aruna dalam-dalam. “Tapi ibu tahu, nak. Jauh di dalam hati, kamu pasti sakit dan hancur, kan?”
Aruna terkejut. Ternyata tidak mudah membohongi ibunya.
Ia segera memeluk ibunya erat. Tangisnya pecah. Air mata mengalir bersama isakan yang selama ini ia pendam. Ibunya membelai rambut Aruna dengan lembut, membiarkannya menangis sepuasnya.
Malam itu, Aruna merasa lebih ringan. Beban di dadanya perlahan terangkat. Ia akhirnya mencurahkan seluruh perasaan dan isi hati yang selama ini menghimpitnya kepada orang tua yang paling mengerti dirinya.
Dan untuk itu, Aruna bersyukur.Karena ia tahu, ayah dan ibunya menerima dirinya dengan tulus apa adanya.
Keesokan paginya, Aruna tiba di kantor tepat pukul 07.30 pagi. Ia berjalan masuk ke ruangannya dengan langkah tenang, lalu meletakkan tas kerjanya di atas meja. Belum lama ia duduk, Maya sudah datang menghampiri.
“Runa, siang ini loe ada panggilan ke pengadilan terkait kasus impor spare part mobil ilegal kemarin,” kata Maya.
“Oke. Jam berapa ya, May?” tanya Aruna sambil membuka laptopnya.
“Jam 14.00 siang. Tempatnya di Pengadilan Negeri Jakarta Utara,” jawab Maya.
“Siap. Kita berdua kan yang datang?” tanya Aruna lagi.
Maya menggeleng pelan. “Gue gak bisa. Hari ini gue izin pulang setengah hari. Mama gue sakit, mau nemenin beliau ke dokter.”
“Yah,” Aruna menghela napas. “Terus gue sama siapa? Masa gue sendirian,” ujarnya panik.
“Tenang,” kata Maya cepat. “Loe ditemenin Pak Daniel. Kemarin beliau yang nawarin diri.”
“Ya udahlah,” jawab Aruna pelan. “Mau gimana lagi.”
Maya menatap Aruna sambil menyeringai kecil. “Kayaknya si bos ada hati deh sama loe, Run. Tapi loe harus jaga jarak. Ingat status loe sekarang istri orang,” katanya mengingatkan.
Wajah Aruna mendadak kehilangan gairah. Tubuhnya melemas, lalu ia terduduk lesu di kursinya.
“Gue mau cerai, May,” ucap Aruna lirih.
Maya terkejut. Matanya membesar. “Apa?! Jangan ngaco loe, Run. Baru delapan bulan nikah, masa udah mau cerai,” katanya tidak percaya.
“Gue gak bohong, May,” jawab Aruna dengan suara nyaris tidak terdengar. “Kak Revan yang gugat cerai.”
“Kok bisa?!” Maya spontan meninggikan suara. “Gimana ceritanya?” tanyanya penasaran.
“Panjang ceritanya,” ujar Aruna sambil menghela napas. “Nanti aja gue cerita. Loe selesain dulu urusan berobat ibu loe. Kita bicara lain waktu.”
Maya mengangguk pelan. “Oke. Tapi loe baik-baik aja kan, Run?” tanyanya khawatir.
“Gue baik-baik aja kok,” jawab Aruna, meski itu sebuah kebohongan.
“Ya udah, gue balik kerja dulu ya,” kata Maya sambil berdiri. “Lain waktu kita cerita-cerita.”
Maya pun melangkah meninggalkan meja Aruna.
Tanpa Aruna sadari, tidak jauh dari ruangannya, ada seorang laki-laki yang tanpa sengaja mendengar percakapan antara Aruna dan Maya. Ia berdiri terpaku, pikirannya bimbang.
Laki-laki itu bingung apakah ia seharusnya merasa bahagia atau justru prihatin, setelah mendengar kabar yang baru saja didengarnya.