SETIAP HARI UP UNTUKMU🤩
Kedatangan lelaki-lelaki muda Eropa yang ganteng-ganteng telah menuai pusat perhatian. Disaat yang bersamaan, lelaki-lelaki dan wanita-wanita muda pun ikut menghilang satu demi satu secara misterius.
Holsi dan teman-temannya menyadari hal itu dan tahu rahasia dibalik itu semua. Namun, mereka semua berhasil dibungkam oleh dua tokoh yang menawan namun iblis. Holsi dan teman-teman nya berhasil di usir dan di hina kan banyak orang.
Dua tokoh menawan itu semakin dipuja-puji bak dewa-dewi. Peminatnya dari kalangan remaja yang begitu tergila-gila pada dua tokoh itu.
Lalu, jelas nya seperti apa? Baca Sekarang!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon I Firmo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Halaman 33
Hari sudah menunjukkan pukul sepuluh malam di kota Bogor.
Entah apa yang telah terjadi, malam ini di Bogor begitu dingin dibarengi angin kencang yang meniup seluruh penjuru daerah di Bogor. Bahkan, cuaca dimalam ini sangat mendung. Orang-orang yang diluar rumah pun, entah kenapa mereka hanya ingin segera bergegas untuk masuk rumahnya dan mengunci pintu rumah rapat-rapat. Terasa memang, suasana gelisah mulai menyelimuti Bogor dengan penuh misterius tanpa alasan yang jelas.
Dan di kediaman keluarga besar Livino dan Kartina. Mereka semua juga sama merasakan hal yang sama, yaitu hati gelisah, takut, dan merasa aneh dengan suasana di malam hari ini.
Livino, Kartina, Ary, Ery sudah duduk di kursi demi kursi meja makan mereka yang mewah.
Sudah pula dihidangkan makanan demi makanan yang enak dan lezat, lalu ada juga minuman demi minuman yang melegakan tenggorokan setiap orang yang meminumnya. Dan diantara anggota keluarga ini, benar-benar tak ada yang memperdulikan Swift. Bahkan anehnya, Emilius yang biasa nya akan dicari jika jam makan malam tiba, malam ini tidak di cari.
Kartina yang sedang mengambil lauk-pauk nya itu, berkata. "Ery, bagaimana dengan job photo model di insta mu itu? Apakah kau sudah respon mereka dengan ramah? Atau kau melakukan hal kurang ajar lagi pada mereka?"
Dengan perasaan kesal, Ery mengaduk-aduk es kelapa nya itu. "Ayolah mama! Job photo model banyak yang masuk di DM, tapi aku tidak tertarik. Karena mereka menawarkan harga murah. Aku kan sudah cantumkan di bio profil ku jika sekali kasih job photo model aku harus dibayar minimal dua puluh lima juta. Tapi mereka mundur akhirnya!"
Namun Ary, hanya bisa mentertawakan nasib Ery yang kini sepi job. "Hahaha lagian sok-sok banget jadi artis. Udah tahu harga segitu tuh khusus Selebgram yang punya pengikut diatas 10 juta. Nah kamu? 5 juta juga baru mau..."
Tetapi Ery hanya bisa meminum es kelapanya itu dengan kesal saja.
Kemudian Kartina berkata dengan halus kepada Ary. "Lalu dengan mu, Ary. Bagaimana dengan bisnis trading mu itu yang di Jakarta?"
Lalu Livino, juga masuk ke pembicaraan yang membuat dirinya menarik hati. "Iya benar itu, papa suka trading. Trading di tempatmu menyenangkan, membuat papa profit dan profit. Tapi sesuai yang mama mu katakan, bagaimana dengan bisnis trading mu itu? Papa harap baik-baik saja."
Hampir sama nasibnya dengan Ery, Ary sedang sepi client. Dan yang ada sekarang ini, hanyalah account papa nya, mama nya, Ery, dan dirinya. Tetapi demi menutupi semua kegagalan yang hampir membuat nya bangkrut dijakarta, Ary berusaha menutupi nya dengan sebuah senyuman kebahagiaan palsu yang ia perlihatkan kepada Ery, dan kedua orang tuanya. "Begitulah, lancar dan aku mendapatkan komisi juga untuk perusahaan ku yang mulai berkembang. Aku kan bercita-cita ingin punya gedung di Jakarta, dan hari ini aku sedang memulai hal itu."
Mendengar perkataan Ary, membuat Livino bangga. "Hahaha, aku bangga pada mu, nak. Dan teruslah memulai bisnis mu itu, sampai menjadi besar."
Tiba-tiba, pintu rumah terbuka lebar yang membuat Livino, Kartina, Ary, Ery terkejut hebat.
Ery lalu celingukan. "Astaga mama! Siapa disana?"
Kemudian Kartina pun berusaha memastikan. "Apa mungkin angin kali ya?"
Lalu Livino yang juga khawatir, berkata. "Ary, cek coba."
Baru saja Ary berdiri dari duduknya itu. Swift dengan tiba-tiba, sudah masuk dengan rupa cantik sekali, wajah nakal, putih Eropa, dan mengenakan gaun putih yang kusam.
Lalu Swift berdiri didepan meja makan yang lebar dan mewah ini. "Hai keluarga ku."
Mendapati Swift yang jadi aneh dan berbeda itu, membuat Kartina tidak menyangka. "Kau Swift?"
Lalu Livino, menunjuk ke arah wajah Swift. "Apakah kau Swift?"
Dan Ery yang gemetaran, berkata. "Bukannya Swift nggak secantik ini ya?"
Kemudian Swift menjawabnya dengan nakal. "Haha Swift ya? Hello, jika kau tahu bahwa aku telah tiada. Iya, aku yang dulu. Tapi sekarang, lihatlah mama papa aku cantik, bule, putih, seperti yang mama papa mau kan?"
Namun Kartina masih saja dibuat bingung. "Apa yang terjadi dengan mu, nak?"
Mendapati perlakuan Kartina yang halus, malah membuat Swift muak. "Nak? Setelah sepuluh tahun baru kau bilang aku nak? Tapi tak apa, tak ada kata terlambat untuk baik pada ku. Haha, hai Ary, Ery, kakak-kakak ku yang ganteng tapi sombong!"
Livino pun masih tak percaya jika itu Swift yang asli. "Kau bukan Swift?"
Kemudian, Swift duduk dimeja makan itu dengan penuh tidak sopan. Ia lalu memegang sebuah apel merah merona. "Haha harus nanya segala aku asli atau enggak? Dan tak kah kalian ingat dahulu kalian pernah menghina ku? Lalu kalian keluarga nggak ada akhlak tahu kan apa kedatangan kami kemari?"
Ery lalu celingukan. "Kami? Emangnya kamu se kecamatan datang kesini?"
Kemudian Kartina berkata. "Apa kedatangan kamu kemari Swift?"
Lalu Swift langsung memasang wajah jahat kepada ibu kandungnya itu. "Iya, membunuh kalian!"
Seketika itu, Kartina terjatuh dari duduknya dan pingsan.
Livino yang marah, langsung berdiri dan membentak Swift. "Hentikan semua drama ini Swift!"
Kemudian Swift mengambil sebuah pisau yang tajam, lalu memainkan nya. "Drama? Bukannya kau sebagai bapak kandung yang memulai drama kurang ajar ini pada anak kandung sendiri?"
Lalu Livino berusaha menenangkan Swift. "Papa sayang sama kamu, nak. Sayang..."
Kemudian Swift memperlihatkan lagi wajah nakalnya. "Sayang sama aku karena aku udah secantik ini ya? Jadi papa kok pandang fisik sama anak? Emang papa seputih itu ya hatinya? Sok-sok kegantengan jadi bapak!"
Dan Ary sebagai kakak tertua, berdiri dari duduk nya lalu berusaha menenangkan Swift. "Tolong tenanglah sesaat saja Swift, aku mohon. Lihat, mama saja sampai pingsan. Tak kah kau peduli?"
Dengan kasar, Swift tancapkan pisau tajam itu ke meja makan hingga tembus. "Peduli? Tak kah aku peduli? Lalu apa gunanya diriku di keluarga ini yang tak kalian pedulikan? Selama ini aku sabar, selama ini aku berusaha nahan emosi ini, selama ini aku selalu mengalah. Dan adakah rasa kepedulian kalian terhadap ku darah daging kalian!"
Lalu Livino yang semakin ketakutan dengan seruan Swift yang semakin menggelegar, berusaha memohon. "Papa minta maaf, Swift. Minta maaf..."
Dan Swift terlihat menangis sejadi-jadinya. "Hiks, hiks, hiks. Baru kali ini kalian minta maaf? Tapi aku akan maafin kalian kok, kan kalian juga keluarga ku."
Seketika itu, Livino menjadi tenang. "Ya udah, papa malah makin senang kamu jadi secantik itu Swift. Papa jadi nggak malu lagi bawa kamu kalau kemana-mana."
Swift berusaha mengusap air matanya itu. "Iya, papa ku pilih kasih, itu fakta! Tapi ada satu syarat dan aku akan menghentikan kegilaan ini dari kalian."
"Apa itu?" Tanya Ery yang gemetaran.
Dan Kartina yang pingsan di lantai itu, seketika tersadar. Ia pingsan menghadap ke jendela besar nya itu yang tidak di tutup gorden. Seketika itu, ketika ia membuka kedua matanya. Ia terkejut, sudah melihat belasan vampir menyeramkan yang siap menyerang rumah ini. Seketika itu, Kartina berteriak-teriak ketakutan. "Vampir! Vampir! Ada vampir diluar jendela itu!"
tunggu ya
Author.....lanjut, tuntaskan ceritanya
cling gitu
Apakah dia murid baru