NovelToon NovelToon
Cinta Yang Tergadai

Cinta Yang Tergadai

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintamanis / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:477
Nilai: 5
Nama Author: Aksara Senada

Ini tentang Anin yang berusaha menjaga api cinta dalam rumah tangganya agar tetap menyala kala badai datang menggoyahkan–menguji cinta dan keutuhan rumah tangganya dengan Harsa yang telah banyak memberi bahagia. Haruskah ia gadaikan cinta mereka dengan perasaan sesaat?
....
Kamu adalah cinta yang datang layaknya hujan, membasahi saat aku merasa paling gersang. Namun, sayangnya kamu pergi bagai puing yang belum pernah sempat kugenggam.
~Sekala Bumi
....
Aku pernah tersesat diantara persimpangan gelap, kamu hadir menemukanku diantara pekatnya malam yang hampir menelan. Sayangnya diantara ribuan pilihan kau malah meninggalkanku sendirian tanpa pernah kau perjuangkan.

Kini ... aku tak lagi sama. Ragaku telah bertuan, walau pada kenyataannya separuh hatiku masih ingin menggenggammu.
~Anindyaswari

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Senada, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

21. LDM Sementara

“Aku ikut antar, ya?” tanya Anin saat Harsa baru saja selesai mandi, tengah memakai pakaian yang Anin siapkan.

Mereka sudah sampai sejak sejam yang lalu. Beruntung karena tak ada kendala dalam perjalanan, sehingga mereka bisa sampai rumah lebih cepat. Anin juga sudah selesai menyiapkan beberapa pakaian yang akan Harsa bawa. Katanya, jangan banyak-banyak, toh ia hanya sebentar. Jadi, Anin hanya menyiapkan sekitar tujuh lembar beserta pakaian sholat dan sarung, berikut dalaman suaminya.

Sementara Nana, gadis itu pulang dulu. Katanya mau mandi sekalian minta izin ke Mamanya.

Anin sendiri hanya duduk di sofa, ia belum ganti baju. Dengan rambut dicepol asal, ia tampak santai sambil menyilangkan kaki, tangannya terlipat di perut, sementara sebelahnya lagi sibuk menyanggah pipi. Memerhatikan suaminya, dari yang tengah berpakaian, kini bercermin, hingga merapikan rambut.

“Mas!” panggilnya saat Harsa tak menjawab ucapannya tadi.

“Hmm?!” Pria itu menyahut singkat. Kini ia tengah menyemprotkan parfum ke sekujur tubuh sembari menatap istrinya dari pantulan cermin. “Mau ikut gimana, sayang? Zura tidur, loh. Udah malam juga,” lanjutnya yang tahu Anin pasti merasa berat karena harus ditinggal.

Jika tak mendesak, Harsa pun tak ingin meninggalkan keluarga kecilnya. Jika agak lama, jelas ia akan membawa mereka ikut, tapi ini hanya perjalanan singkat yang jelas akan melelahkan. Ia pun harus segera kembali secepatnya, ia tak boleh izin terlalu lama.

Harsa tahu, Anin pasti akan kewalahan mengurus Zura seorang diri. Ia pun tak tega memikirkan Anin harus melalui malam dengan mengurus anak mereka tanpa ia di sampingnya. Sungguh, Harsa pun tak sanggup memikirkan itu. Tapi, kembali lagi, hal mendesak ini adalah kendala. Ia tak terbiasa berlama-lama meninggalkan istri dan anaknya. Sehingga ia pun merasa seberat ini.

Sementara Anin yang dipanggil sayang oleh Harsa malah menampakkan wajah meringis. Ia tampak menunduk dengan tangan menyentuh area wajah bagian pipi, hidung hingga kening. Ia tengah terkekeh, lagi-lagi merasa geli harus mendengar mulut Harsa semanis itu. Rasanya ia sangat disayang, Anin suka sekali, tapi entah mengapa terdengar lucu. Mungkin karena Harsa jarang sekali memanggil demikian.

“Ih, malah ketawa!” seru Harsa tak habis pikir melihat reaksi Anin. Ia yang sadar tengah diejek pun lantas menghampiri Anin, ikut bergabung duduk di sofa. Menggelitik Anin, lalu menariknya ke dalam dekapan. “Orang lagi seius, kamu malah ngejek.”

Anin tertawa, kakinya naik dan terlipat melindungi diri dari Harsa yang hobi sekali menggelitiki setiap kalah telak dan tersudutkan. “Hahaha, lepasin. Geli!” seloroh Anin. Tapi Harsa malah makin menjadi, bahkan kini tengah mengendus di ceruk lehernya.

“Jangan berisik, mas. Nanti zura bangun!” peringat Anin agar Harsa berhenti.

“Siapa yang berisik? Yang ketawa kan, kamu.”

Anin berdecak sambil mendesah pelan. Dengan menjatuhkan kepala ke dada Harsa, ia mengaku kalah. Tak ada tenaga lagi untuk memberontak.

Tangan Harsa lalu tergerak merangkulnya. Sejenak terdengar tentram saat mereka hanya menikmati keheningan dengan larut dalam diam. Anin duduk menyandarkan kepala sambil menatap lurus ke depan.

Begitu pula Harsa, dalam diam tangannya sibuk mengusap rambut Anin. Tampak jelas ia sangat menyayangi wanita itu. Seketika banyak sekali yang terlintas di kepalanya. Ada beberapa hal yang belum sempat ia bagi dan ceritakan pada Anin. Mulai dari masalah ancaman suap atas kasus yang ia pegang, tapi takut ia bagi karena tak mau Anin cemas dan terbebani, walau sebenarnya sangat ingin ia ceritakan pada istrinya agar bebannya sedikit berkurang. Belum lagi soal niatnya untuk membantu tante Linda, ibu Sanessa. Harsa tak ingin menutupi apa pun dari Anin, tapi ia juga takut jujur, takut Anin marah. Ah, rasanya Harsa sangat kebingungan harus mulai darimana untuk menjelaskan. Belum lagi masalah yang Wijaya Adiguna ciptakan, makin membuatnya pusing saja. Makin jauh ia dari tujuan ingin menjelaskan semua ke istrinya.

“Kalau Papa ngotot mau tanah itu dijual gimana?” tanya Anin, ia membuka suara setelah sempat terdiam memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang akan suaminya hadapi di sana nanti. Rasanya ia ingin sekali ikut. Setidaknya sebagai tuas kontrol suaminya. Anin takut Harsa kelepasan, ia tahu di balik sikap diam, tenang dan tak neko-nekonya, suaminya ini selalu berusaha meredam emosi. Anin tahu Harsa tipe yang gampang tersulut, dia suka greget sendiri, hanya saja ia terlalu pandai mengendalikan diri. Anin takut Harsa lepas kendali dan akan meng-amuk Wijaya Adiguna, apalagi Anin sadar, ada amarah dan kecewa yang sudah Harsa pendam sejak lama pada Papanya itu.

Mendengar pertanyaan Anin, Harsa yang tadi juga sibuk dengan pikiran sendiri lantas menoleh, menatap istrinya dengan dalam. Bibirnya mengulas senyum, menampakkan cekungan di kedua pipi. Membuat Anin terperosok ke dalam lesung pipi yang membuat suaminya itu terlalu manis dalam pandangan.

Harsa mengecup singkat pelipis Anin, lalu kembali menatap lurus ke depan sebelum berkata, “kalau gitu kita lakukan hal yang sama.”

“Maksudnya?” tanya Anin heran, ia tak mengerti. Ditatapnya wajah Harsa lebih dalam, mencari jawaban dari wajah teduh yang tampak santai tapi ada seringaian menusuk yang tampak jauh di ujung bibir dan kedalaman matanya.

“Jangan bilang kamu mau tempuh jalur hukum buat gagalin kehendak Papa?” tebak Anin penuh selidik. Satu pikiran itu tiba-tiba terlintas di benaknya setelah menelisik wajah suaminya dan setelahnya Harsa malah menyeringai. Membuat ia lantas melayangkan pukulan tak seberapa ke dadanya.

“Nggak, ya, Mas! Aku gak setuju!” seloroh Anin mengungkapkan pendapatnya. “Apa kata orang nanti kalau tahu ada anak gugat orang tuanya hanya karena tanah, hanya karena harta?” tanyanya tak habis pikir. Ia tak sanggup mendengar suaminya dicap anak durhaka. Walau ia tahu faktanya, tapi entah mengapa ia tak rela.

“Kenapa harus peduli kata orang?” Harsa balik bertanya, “toh, kita gak salah.”

“Kita cuma pertahankan hak yang sudah seharusnya.” Dari jawabannya, Harsa mutlak akan menempuh jalur itu jika Papanya tetap kekeuh dan tak mau kalah. “Sebagai kakak, sebagai anak sulung, aku jelas harus menempuh jalur ini buat bikin Papa ngerti. Daripada aku emosi?” tanyanya lagi yang bikin Anin makin tercengang.

“Lebih gak bagus kan kalau denger berita ada anak mukul bapaknya?!”

“Mas!” sentak Anin tak suka. Ini yang sangat ia wanti-wanti. Takut Harsa lepas kendali dan akan melakukan hal tabu yang tak seharusnya dilakukan seorang anak pada ayahnya. Karena bagi Anin, biar bagaimanapun juga, Wijaya Adiguna itu tetaplah ayah suaminya. Apa pun kesalahan yang dilakukannya di masa lalu, Harsa tak boleh bertindak sejauh itu. Melenceng dan sangat bertentangan dengan hukum dan agama.

“Aku ikut kalau gitu!” kekeh Anin buat keputusan. Ia hampir berdiri, hendak menyiapkan barang, tapi Harsa cegah dengan memegang lengannya.

“Ikut ke mana?” tanya Harsa heran dengan mata memicing. Anin berdiri di hadapannya.

“Ikut kamu, lah. Mau ke mana lagi?”

Harsa lantas menggeleng cepat. Ia jelas tak setuju. Meski ingin, dan rasanya seberat itu pergi tanpa istri dan anaknya. Ia tetap tak setuju. “Gak, ya. Aku cuma sebentar, kamu gak harus capek-capek pergi buat hal begini.”

“Kalau pergi buat jalan-jalan atau liburan baru boleh.”

“Ya, gimana gak amu ikut kalau kamu ngomongnya ngelantur kayak tadi!” Anin berseru tak mau kalah.

Membuat Harsa lebih memilih mengalah, ia menghembuskan napas pelan. Matanya menatap Anin dengan mengerjap lembut, “Iya, nggak. Aku gak akan gitu.”

Anin kembali duduk setelah mendengar jawaban Harsa. Ia menghembuskan napas resah. Harsa terlalu bahaya untuk mengelola emosi tanpa pengendali.

“Kalau kamu mau bertindak ceroboh, setidaknya ingat anak kamu, mas. Emang gak kasian kalau dia harus dilabeli anak dari Harsa si anak durhaka?!”

Harsa lantas terkekeh mendengar penuturan Anin yang terdengar lebih seperti penghiburan baginya. “Anindiyaswari istri jaksa yang ternyata anak durhaka?” Harsa menyeringai menggoda. Tak kuasa membayangkan tajuk berita yang bertebaran di media sebagaimana yang Anin pikirkan. Mengingat beberapa masalah bisa jadi berita viral. Apalagi posisinya, ia cukup terkenal jika saja dijadikan berita. Seorang jaksa, yang jelas paham hukum. Menggugat ayahnya? Jelas orang-orang akan mengulik kisah hidup mereka? Mulai dari yang terdekat, masa kini, bahkan masa lalu bisa saja diketahui, dan sepertinya mereka akan terkenal seperti selebritis. Oh, sudah gila Harsa berpikir sejauh itu.

“Gak lucu!” sentak Anin seraya menyikut perut laki-laki yang masih tersenyum di depannya.

“Hmmmm, iya deh, gak lucu.” Setelah melihat jam di tangan, Harsa lalu berdiri. Ia menarik Anin untuk bangun dari duduknya.

“Aku berangkat, ya.” Ditariknya tengkuk Anin, agar dapat menjangkau kepalanya untuk ia kecup keningnya.

“Angga jemput?” tanya Anin penasaran. Tatapannya menatap Harsa dengan dalam. Sementara tangannya memegang lengan yang masih bertengger di kedua bahunya.

Harsa menggeleng tidak. “Pakai grab.”

Anin mengangguk mengerti.

“Aku pergi.” Sekali lagi Harsa mengecup kenin Anin. Tapi kali ini di susul kedua pipi, lalu mendarat di bibir. Ia tersenyum setelah melakukannya.

Anin lalu memeluk tubuh wangi yang sangat ia sukai. Jemarinya tergerak mengusap tubuh yang berbalut jake hitam itu. Ia tak mengatakan apa pun, tapi Harsa paham bahwa Anin jelas khawatir dan sedih.

Harsa kembali menghembuskan napas pelan. “Jangan lupa kunci pintu, pager. Pintu teras balkon jangan sering-sering di buka!” Ia memperingatkan. “Kalau udah balik nanti baru kita ganti kuncinya.”

Anin manggut-manggut, ia juga paham kekhawatiran Harsa. Tangannya berat melepas saat kini pria itu melangkah ke tempat tidur terlebih dulu, berpamit pada anaknya, mencium pipinya.

“ Papa pergi bentar, ya. Jangan rewe.”

“Untuk sementara ini tolong jalin kerja sama yang baik sama Mama!” ujarnya lembut saat tangannya mengusap kening dan pipi bulat itu. Anin tersenyum hangat melihat apa yang Harsa lakukan.

Setelahnya Anin lalu mengantar Harsa turun. Melihatnya pergi bersama Nana yang datang sambil bawa beberapa barang, seperti orang mau pindahan.

“Mohon kerja samanya untuk dua hari ke depan, ya, Nana.” Harsa yang sudah duduk di mobil, dengan jendela terbuka menatap Anin dan Nana secara bergantian. Ia menyampaikan hal itu dengan menggerakkan dua jari dari kening menunjuk Anin dan Nana secara bergantian, seperti seorang kapten yang memberi arahan.

“Asiaap!” Nana berujar sambil melakukan gerakan yang sama seperti Harsa.

Setelah mobil yang Harsa tumpangi menjauh, Anin menghentikan lambaian tangannya. Ia menatap Nana yang ikut melambai dengan tatapan julid maksimal. Memerhatikan barang bawaannya satu persatu.

Ada boneka beruang yang cukup besar warna cokelat. Earphone kabel, tas berisi laptop, kabel data, charger, beberapa buku, tas berisi baju dan camilan, ada juga selimut yang di selipkan di antara ketiak. Bandul pita sebesar harapan orang tua. Anin geleng-geleng dengan wajah cengo. Nana terlalu profesional untuk orang yang hanya menginap.

“Aih, kayak mau merantau ini anak lah!”

Kini Nana balik mencebik mendengar Anin berceletuk menggunakan dialeg yang entah dialeg daerah mana. Nana agak tak asing, tapi tak tahu menyebutkan daerah. Bukan tak tahu, lebih tepatnya tak mau tahu. Bodo amat.

“Apa sih? Gak jelas, gak ngerti, gak paham!” celetuknya dengan wajah ketus, lalu langsung berlalu, masuk lebih dulu layaknya rumah sendiri. Lalu Anin segera menyusul setelah mengunci pagar, tutup dan kunci pintu sebagaimana pesan suaminya.

“Barang kamu banyak banget, kayak orang mau pindahan.” Anin mengukang kalimatnya dengan bahasa yang lebih dipahami. Ia sudah berhasil mengejar langkah Nana setelah sebelumnya sempat mengambil beberapa cemilan dan botol air minum di kulkas.

“Biar gak repot bolak-balik,” jawab Nana saat mereka sudah menaiki tangga.

Anin mencebik tak percaya. “Hallah, besok juga balik lagi.”

Nana sempat terdiam sebelum akhirnya berdecak, “Ah, mana iya lagi,” selorohnya sambil tepuk jidat saat mengingat pesan yang tadi masuk di grup. Menyatakan bahwa besok ia harus tetap masuk, karena harus menggantikan shift seorang teman yang izin.

Grup FrontLiner Angkasa_LD Hotel

Anggis-FO Manager: Halo tim, jadwal shift minggu depan sudah di-upload di aplikasi. Tolong dicek ya. Jangan lupa absensi tepat waktu. Thanks!

Buat @Nana, udah liat aplikasi belum? Besok jangan lupa, kamu gantiin shift Fifi.

Hal yang membuat Nana seketika lesu. Padahal ia baru saja mengambil cuti untuk tadi dan besok hanya untuk sekedar refresh otak dari penatnya dunia perhotelan. Eh, belum genap berlibur ia malah harus menggantikan shift seorang rekan.

Nana mendesah kasar. “Besok harus masuk kerja!" ia menjatuhkan diri beserta seabrek barang bawaan begitu tiba di sofa lantai atas, depan kamar Anin. Ia meringis meratapi nasib. Sementara Anin malah menertawai. Tampak seperti teman yang tak menganut ’ringan sama dijinjing, berat saam dipikul’.

“Kan, apa aku bilang? ” tanya Anin sembari menampakkan ekspresi yang sangat menyebalkan di mata Nana. Dia mengejek, bangga karena omongannya terbukti benar.

1
kalea rizuky
klo harsa selingkuh cerai nin harsa ini g bs move on kayaknya dr mantannnya
kalea rizuky: orang pendiem itu malah yg rawan selingkuh kak /Curse//Curse/
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!