NovelToon NovelToon
Obsesi Teman Papa

Obsesi Teman Papa

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Cinta pada Pandangan Pertama / Beda Usia / Duda / Cintapertama
Popularitas:10.3k
Nilai: 5
Nama Author: Zhahra Putri

Kisah cinta pandangan pertama seorang pria dewasa kepada gadis muda, yang merupakan anak dari teman baiknya, dan berakhir menjadi obsesi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zhahra Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29. Siapa?

Apa yang dilihatnya bukan seperti apartemen yang ada dalam bayangannya. Ini tampak seperti rumah biasa yang sangat mewah.

"Ini punya Om?" tanyanya refleks. Matanya sambil mengedar ke segala arah, sambil terus melangkah masuk.

Bastian yang berjalan di belakangnya hanya bisa tersenyum mendengarnya. "Tentu saja. Bagus?"

Keisya mengangguk, "Bagus banget"

"Kalau kamu mau, saya bisa berikan"

"Iya"

Tunggu, apa?

Dia segera membalik badannya saat sadar ada yang salah, "Ga begitu juga Om. Kebiasaan, mentang mentang banyak duit" gerutunya pada akhir kalimat.

"Saya serius"

Iya dia tahu itu. Makanya dia mengatakan hal itu, karena sangat yakin jika Bastian tidak main-main dengan ucapannya.

"Ga usah aneh-aneh. Katanya mau makan, mana makanannya? Aku udah laper tau. Di kampus belum jajan apa-apa" Keisya mengalihkan pembahasan, sambil kembali berjalan menuju sofa. Dia duduk disana, melihat lihat ke sekitarnya.

Semuanya terasa nyaman.

Pemandangan langit sore dibalik jendela yang tirainya terbuka, suhu di ruangan, warna cat dinding yang lembut, dan semua tata letak furnitur, terasa pas untuk dipandang.

Keisya bersandar, menengadah melihat langit langit ruangan.

"Sebentar lagi datang" Bastian ikut duduk di samping gadisnya, memperhatikan bagaimana ekspresinya yang tampak berubah-ubah. "Saya serius, kalau kamu suka, kamu bisa memilikinya"

Keisya mendelik sebal, "Diem deh Om. Suka bukan berarti harus punya. Suka ya suka aja"

Bastian tidak setuju, "Saya tidak begitu. Kalau saya suka, saya harus memilikinya bagaimana pun caranya"

Terdengar sangat janggal di telinga Keisya. Kalimat itu seperti memiliki makna lain., seolah bukan lagi tentang apartemen yang Bastian maksudkan.

Ditengah kebingungannya, Keisya melirik pria disampingnya. Suatu tindakan yang tidak seharusnya dia lakukan ditengah situasi seperti sekarang. Alhasil seperti adegan kebanyakan di dalam drama, Bastian mulai mendekatkan wajahnya. Tatapan mereka saling terkunci, sebelum pandangan Bastian berganti tertuju ke arah area bawah wajahnya.

Bibir.

Keisya tidak menghindar, namun tidak juga merespon. Hanya tangannya saja yang terlihat mengepal, menanggapi debaran jantungnya yang gila-gilaan.

Hanya beberapa inci tersisa untuk kedua bilah kenyal itu bersentuhan, namun harus gagal setelah suara bel apartemen berbunyi.

Keisya terkejut, refleks mendorong Bastian menjauh. Dia duduk tegak sambil membuang muka ke arah lain.

Sedangkan Bastian tengah memejamkan matanya, kesal karena gagal mencium gadisnya. Dalam hatinya dia mengumpati siapapun itu yang sudah mengganggu mereka.

Padahal sedikit lagi.

Sialan.

Sambil mulutnya berdecak, Bastian berdiri menuju pintu depan. Ekspresinya yang datar terlihat berkali-kali lipat menyeramkan dari biasanya.

Sepeninggalan Bastian, Keisya ikut berdiri, dan berlalu dengan cepat ke area dapur. Dia akan mencuci wajahnya yang terasa seperti terbakar.

Dia tidak percaya jika dia sangat menantikan Bastian menciumnya.

"Kei, lo udah gila" dia bergumam sambil terus membasuh wajahnya. Napasnya dia hembuskan berkali-kali, berusaha menenangkan diri.

Kembali pada Bastian, yang menemukan ternyata orangnya pengganggu tersebut. Dia hendak melontarkan kalimat makian, namun di dahului oleh pria tersebut yang berbicara.

"Tuan, ini makanannya" ujarnya harap harap cemas. Paham sekali jika kedatangannya sepertinya tidak pada waktu yang tepat. Namun ia hanya menjalankan perintah untuk bergegas mengantarkan pesanan bosnya tersebut.

Posisinya benar-benar serba salah.

Bastian berdecak, mengambil alih pesanan tersebut, dan menutup pintu tanpa mengatakan apapun.

Jika saja tidak ingat gadisnya tengah lapar, pasti masalahnya tidak akan selesai sesingkat ini.

Saat kembali, dia tidak menemukan gadisnya di tempat sebelumnya. Namun terdengar suara gemericik air dari dalam. Bastian menunggu sambil menyiapkan makanan, dan menyusunnya di atas meja. Dia mengambil tissue beberapa lembar, dan mengelap kembali alat makan yang ada di dalamnya. Dan sampai saat itu, gadisnya itu belum juga kembali.

Bastian akhirnya memutuskan untuk menyusul, dan melihat apa yang sedang dilakukan gadisnya itu.

Begitu memasuki area dapur, Keisya bukan hanya sedang mencuci tangan seperti dugaannya, namun juga membasuh wajahnya. Gadis itu membungkuk di depan wastafel sambil terus bergerak menyiramkan air pada wajahnya. Tetesan air membasahi area sekitar tempatnya berdiri, menunjukan jika itu sudah berlangsung lama.

"Kei?" hanya satu kata Bastian membuka suara, namun itu sangat mengejutkan Keisya.

Gadis itu terlihat tersentak, lalu berdiri tegak dengan cepat sambil berbalik menghadapnya

"Hati-hati, licin" Bastian pun berujar cepat. Napasnya segera berhembus saat tak terjadi apa yang ditakutkannya.

"Om?"

"Kenapa?" Bastian belum menyadari apa yang membuat gadisnya seperti sekarang.

Keisya menggeleng,. Tetesan air membasahi baju bagian depannya. Dia terlalu ragu untuk kembali bicara setelah suaranya terdengar bergetar sebelumnya.

"Ayo, makanannya sudah siap" ajak Bastian.

Keisya mengangguk, namun tidak bergerak.

Bastian semakin heran.

"Kamu sakit?" Bastian mendekat, tangannya terangkat hendak menyentuh kening gadisnya.

Namun Keisya lebih dulu menghindar, dengan menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.

"Om duluan aja, nanti aku nyusul"

"Tapi kamu baik-baik saja?"

"Iya. Ih cepetan" desaknya sedikit merajuk.

Barulah Bastian yakin jika Keisya baik-baik saja. Dia mengalah, dan pergi terlebih dahulu.

Keisya segera berbalik dan kembali membasuh wajahnya. Sebenarnya bukan wajahnya yang harus dia bilas, melainkan otaknya.

Setelah menenangkan pikirannya, barulah Keisya menghampiri Bastian. Langkahnya yang sudah yakin itu kembali di buat ragu setelah melihat ekspresi Bastian yang tampak aneh.

Pria matang itu sedang tersenyum sendiri. namun tidak sedang melakukan apa-apa. Tidak ada ponsel di tangannya, layar televisi pun sama sekali tidak menyala.

Lalu, apa yang membuat Bastian seperti itu?

"Om kenapa?" kini posisi Bastian sebelumnya berbalik pada Keisya. Dia kembali duduk ditempatnya semula, berdampingan dengan Bastian.

Bastian melirik gadisnya, dengan senyumnya yang masih bertahan. "Kita akan berciuman nanti, tapi setelah makan"

Keisya melotot.

Apa katanya? Jangan bilang Bastian tahu, apa yang ada dalam pikirannya?

"Atau, mau sekarang?"

"Jangan aneh-aneh" Keisya menutup mulutnya dengan kedua tangan, sambil menggelengkan kepala.

Bastian semakin bersemangat untuk menggoda gadisnya. Dia merasa sangat bodoh atas keterlambatannya untuk menyadari situasi yang terjadi. Rupanya Keisya sedang malu atas adegan ciuman mereka yang gagal sebelumnya.

Dia mendekatkan kembali wajahnya, membuat Keisya kalang kabut. Dia tidak berusaha menjauh dengan memundurkan tubuhnya, tapi berusaha beranjak dari duduknya.

Namun Bastian tidak membiarkannya.

Pria itu menariknya, hingga posisinya kembali terduduk namun dengan posisi yang langsung terkurung oleh tubuh besar Bastian.

"Om, jangan gila. Atau aku bakal teriak" ancamnya spontan.

Bastian terkekeh, mengangkat dagu gadisnya hingga mendongak, "Teriak sayang, teriak sekencang mungkin. Kita lihat, siapa yang bisa menolong kamu"

Beberapa saat setelahnya, Bastian sudah berhasil mempertemukan bibir mereka. Ciuman itu terasa sangat dalam dan bergairah, sampai membuat Keisya yang sudah kehilangan fokus sejak awal, langsung terbuai olehnya.

Tidak bisa di pungkiri, ciuman berbalas jauh lebih menyenangkan dibandingkan saat Keisya tidak sadar.

Hembusan napasnya, lenguhannya, suara kecipak basah dari saliva mereka berdua, semakin membakar gairah Bastian.

Mata mereka berdua sama-sama tertutup. namun Bastian tetap menuntun tangan Keisya untuk melingkar pada lehernya.

Keduanya terlalu larut, sampai tidak menyadari jika ada yang membuka pintu dari luar.

Sampai,

"SEDANG APA KALIAN BERDUA?!"

1
D_wiwied
pasti si mantan ato kalo ga ya orang suruhannya tuh
D_wiwied
Nah kan bener kan
D_wiwied
emangnya ada apa sih sebenarnya, apa alasannya nitipin kei ke neneknya.. bikin penasaran deh
Evi Lusiana
pinter sisi,menganalisa keadaan
Evi Lusiana
terlalu keras bastian sm anakny,egois gk sih
Evi Lusiana
lo gk tau aj kal klo tersangkany y bpk lo pk duda yg lg ngejar targetny
Evi Lusiana
modusmu pak duda
Evi Lusiana
mm keisya kmn thor
D_wiwied
double up triple up banyak up duoong 😆🤭
D_wiwied: semangat kakak 💪💪
total 2 replies
D_wiwied
astagaaa si om sama anak sendiri cemburu 🤭 don't worry om, kei ga suka sm David dia hanya care sm anakmu tp emang lain cerita sm anakmu, dia ngfans ato mungkin suka ma kesayanganmu tuh 😆🤣
Esti 523
daebak keisya ternyata suhu
D_wiwied
ciyuuss?? apa beneran?? kepo maksimal akuh 😆
D_wiwied
waah kereeen.. si Kei emang badas walau keceplosan ya kei, ngaku jg kamu akhirnya.. pasti seneng banget tu om Bas, alamat bakal dikekepin terus nanti 🤭😆
D_wiwied
apa hakmu marah2, kan kamu cuma mantan
Esti 523
kamu ketahuan oh no
D_wiwied
haisssh siapa lg ini main masuk apart begitu aja, ganggu om Bas kaan 🤭😆😆
D_wiwied
wah gawat ni si om, bawaannya pingin berduaan terus 🤭😆
D_wiwied
menang banyak om Bas 😆🤭
hehe besok kamu ga akan bisa ngelak lg kei kalo liat bukti dr Sisi 🤣🤣
Esti 523
dobel up donk
Esti 523
ada apa dgn masalalu keysa thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!