Dimalam pengantin yang seharusnya sakral ternyata menjadi mimpi buruk bagi Luna dimana ia melakukan ritual olahraga pertamanya dengan adik iparnya yang bernama Damian.
Suami Luna yang bernama Sebastian langsung menjatuhkan talak kepada Luna.
Orang tua Luna sangat murka dan ia meminta Damian untuk menikah dengan Luna.
Luna berjanji akan membalas dendam kepada Damian yang sudah menghancurkan hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Jam menunjukkan pukul lima sore dimana Luna baru saja membuka matanya.
Ia melihat Jayden yang sedang duduk sambil menonton televisi.
"Jayden, kenapa tidak membangunkan aku?" tanya Luna.
"Tidurmu nyenyak sekal dan aku tidak tega membangunkanmu." jawab Jayden.
Kemudian Jayden meminta Luna untuk segera mandi terlebih dahulu.
Luna bangkit dari tempat tidur dan segera menuju ke kamar mandi.
Jayden menyiapkan pakaian yang akan dikenakan oleh Luna saat akan pulang ke rumahnya.
Setelah selesai mandi Luna keluar dan melihat Jayden yang sudah menyiapkan pakaian untuknya.
"Aku tunggu di lobby." ucap Jayden yang kemudian keluar dari kamar.
Luna segera mengganti pakaiannya dan setelah itu ia segera menuju ke lobby hotel dimana Jayden sudah menunggunya di sana.
Jayden menelan salivanya saat melihat Luna yang sangat cantik dengan pakaian yang ia pilihkan.
Luna menepuk pundak Jayden yang sedang melamun.
"Ayo kita berangkat sekarang." ajak Luna yang langsung menggenggam erat tangan Jayden.
Jayden segera melajukan mobilnya menuju ke rumah Luna.
"Apakah kamu sudah siap untuk bertemu dengan mereka?" tanya Jayden.
Luna menganggukkan kepalanya dan ia mengatakan kalau sudah siap bertemu dengan kedua orang tuanya.
Jayden menggenggam tangan Luna dan menenangkannya.
30 menit kemudian mereka telah sampai di rumah Luna.
Luna turun dari mobil dan segera mengetuk pintu rumahnya.
Mama yang sedang berada di dapur langsung mematikan kompornya saat mendengar suara ketukan pintu rumahnya.
Ceklek
Mama membuka pintu dan langsung terkejut ketika melihat Luna yang berdiri di hadapannya.
"L-luna? Luna anak Mama?" Mama menghampiri Luna yang sedang menganggukkan kepalanya.
"I-iya Ma, aku Luna anak Mama." Luna langsung memeluk erat tubuh Mamanya.
Mereka berdua saling menangis untuk melepaskan kerinduannya.
Papa yang mendengar suara istrinya yang sedang menangis langsung keluar untuk melihat apa yang sedang terjadi.
"L-luna...." panggil Papa dengan suara lirih.
Luna langsung menghampiri Papanya yang memanggilnya.
"Papa...." Luna langsung memeluk erat tubuh Papanya yang sangat menyayanginya.
"Apa yang terjadi? Bukankah kamu?" Papa menghentikan ucapannya saat melihat Jayden yang dari tadi berdiri di belakang Luna.
Luna memanggil Jayden dan memperkenalkan kepada Papa dan Mama.
"Jayden yang sudah menolong Luna." ucap Luna.
Mama mengajak mereka untuk duduk di ruang keluarga.
"Sebenarnya apa yang terjadi pada kamu? Dan kenapa ada jenasah?" tanya Papa.
Jayden menceritakan semuanya kepada Papa dan Mama dimana ia yang melakukannya semua karena waktu itu Luna mengalami depresi berat.
Luna juga mengatakan kalau Damian dan Ayana sudah membohonginya.
"J-jadi selama ini Damian hanya berpura-pura mencintai kamu?" tanya Papa.
"Iya Pa." jawab Luna.
Disaat mereka sedang mengobrol tiba-tiba ponsel Papa berdering.
"Damian.." ucap Papa
Luna meminta Papa mengangkat ponselnya yang dimana Damian sedang menghubunginya.
Damian meminta kedua orang tua Luna untuk datang ke ulang tahun perusahaannya.
"P-papa akan mengusahakannya untuk datang kesana." ucap Papa yang kemudian mematikan ponselnya.
"Ada apa Pa?" tanya Luna.
"Damian mengundang Papa dan Mama ke acara ulang tahun perusahaannya." jawab Papa.
"Papa dan Mama datang saja ke ulang tahun perusahaan Mas Damian." ucap Luna.
Luna melirik ke arah wajah Jayden dan ia juga akan datang ke sana.
"Apa yang kamu rencanakan?" tanya Jayden.
"Aku akan memberikannya sebuah kejutan." jawab Luna
Jayden pun mendukung dengan apa yang direncanakan oleh Luna.
Sementara itu di tempat lain dimana Ayana meminta kakaknya agar dokter memperbolehkannya pulang.
Ayana tahu kalau malam nanti Damian akan mengadakan acara ulang tahun perusahaan dan Ayana tidak mau jika semua orang tahu kalau Damian sudah meninggalkannya.
"Kak Dilan, aku mau pulang sekarang!" rengek Ayana.
Dilan yang tidak bisa menolak permintaan Ayana akhirnya ia memanggil dokter.
Dokter yang tidak bisa berbuat apa-apa akhirnya mengijinkan Ayana untuk pulang.
"Kamu pulanglah dulu, kakak masih ada urusan." ucap Dilan yang kemudian meminta anak buahnya untuk mengantarkan Ayana pulang ke rumah.
Dilan segera melajukan mobilnya menuju ke markas dimana ia mendapatkan kabar kalau anak buahnya yang ia perintahkan untuk menjadi mata-mata di gudang senjata milik Jayden telah meninggal dunia akibat luka tembak.
Sesampainya di markas ia melihat peti mati yang berisikan anak buahnya yang sudah terbujur kaku.
Dilan melihat sebuah pesan yang diselipkan di dalam saku anak buahnya.
Ia langsung membelalakkan matanya saat membaca pesan dari Jayden.
"CEPAT KELUAR!"
Dilan dan beberapa anak buahnya langsung keluar dan salah hitungan detik tiba-tiba terjadi ledakan di dalam markas Dilan.
"Uangku!!" Dilan berteriak saat ledakan itu menghabiskan semuanya dimana senjata, uang dan obat-obatan terlarang hangus semuanya.
Dilan tertawa terbahak-bahak melihat semuanya hangus dalam hitung detik.
"Aku akan membalas mu Jayden!" ucap Dilan.
Kemudian Dilan memanggil Pram untuk mencari keberadaan Jayden.
Dalam hitungan menit Pram memberitahukan kalau Jayden berada di Indonesia.
Pram menunjukkan rekaman cctv dimana Jayden berada di hotel Arizona.
"Cepat cari dan bawa dia ke hadapanku."
"Baik Tuan Dilan." anak buahnya langsung mengerjakan perintah yang diberikan oleh Dilan.
Jam menunjukkan pukul tujuh malam.
Kedua orang tua Luna sudah berada di ballroom hotel dimana Damian mengadakan acara ulang tahun perusahaannya.
"Papa, Mama. Terima kasih sudah mau menyempatkan waktu untuk datang ke acara ini." ucap Damian.
Papa dan Mama membalasnya dengan memberikan senyuman tipis.
Kemudian Damian mengajak Mama dan Papa untuk menikmati hidangan yang telah disiapkan.
"Mas Damian, kenapa tidak menjemputku." ucap Ayana dengan nada manja.
Damian sangat terkejut ketika melihat kedatangan Ayana yang ia kira masih berada di rumah sakit.
Melihat kedatangan Ayana, kedua orang tua Luna langsung mencari tempat duduk.
Damian langsung menggeret tangan Ayana dan memintanya untuk pulang.
"Aku tidak akan pulang dan aku akan menemani suamiku disini." ucap Ayana yang langsung menggenggam erat tangan suaminya.
Ayana ingin memanas-manasi kedua orang tua Luna yang dari tadi melihatnya.
Ia pun langsung mencium bibir Damian di hadapan para tamu yang hadir.
"Ternyata Tuan Damian sangat romantis sekali." ucap salah satu tamu yang hadir.
Papa Luna sedikit emosi melihat kelakuan Damian dan Ayana yang seperti itu.
Mama mencoba menenangkan Papa dan tidak tersulut emosi.
Damian pun langsung meninggalkan Ayana dan langsung naik ke panggung untuk memulai acaranya.
Disaat akan mulai berbicara tiba-tiba Damian melihat seorang wanita yang mirip sekali dengan Luna yang sedang berbicara dengan manajer hotel.
"L-luna.... Apakah itu kamu sayang?" ucap Damian dengan posisi mikrofon yang sudah menyala.
Ayana dan para tamu lainnya langsung menoleh ke arah Luna yang sedang menggandeng tangan Jayden .
Luna melirik ke arah Damian yang telah masuk kedalam perangkapnya.
Jayden langsung mengajak Luna untuk masuk kedalam lift.
Damian masih mengejar Luna yang saat ini sudah masuk ke dalam lift.
"LUNA!" teriak Damian.
Damian tidak bisa menyusul Luna yang saat ini sudah berada di dalam lift.