NovelToon NovelToon
Ketulusan Cinta Wisnu

Ketulusan Cinta Wisnu

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Cintamanis / Tamat
Popularitas:2.3M
Nilai: 4.9
Nama Author: Syala yaya

Sebuah ikatan pernikahan harus berlandas cinta, kasih sayang dan komitmen untuk terus bersama.

Tapi apalah daya ketika pernikahan itu terjadi hanya karena sebuah bentuk pertanggungjawaban dari kesalahan.

Wisnu Tama, seorang pria berusia 27 tahun yang harus menikahi Almira Putri, gadis polos berusia 22 tahun.

Bagaimana cara Wisnu menakhlukkan hati wanita yang sudah menjadi istrinya itu, agar mau memaafkan kesalahan yang tidak dia sengaja dan mau sama-sama mempertahankan ikatan suci berlandas kebencian menjadi sebuah ikatan cinta? Ikuti yuk kisahnya.

Ini novel kedua saya dan merupakan sequel dari novel pertama.

Selamat membaca ^_^

Follow IG @Syalayaya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syala yaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33 Kesempatan Indah

Wisnu meletakkan ponselnya saat Almira berniat mengangkat panggilan. Merasa tidak tahu apa yang akan dia pertanyakan saat istrinya itu menjawab panggilannya. Kebohongan, Wisnu tidak mau mendengar kebohongan.

Wisnu merasa dengan memandang interaksi mereka berdua saja sudah membuatnya sesak napas, apalagi kalau harus mendengar kebohongan yang tercipta untuk menutupi pertemuan mereka berdua.

Wisnu sangat tidak menikmati sajian di mejanya. Segera berdiri dan menggeser kursinya, berniat pergi cepat dari sana. Tidak mau berlam-lama lagi berada di situasi seperti sekarang ini.

“Mana pesananku?” tanya Wisnu kepada pelayan yang ada di samping kasir.

“Silahkan datang kembali, Tuan,” ucap kasir sambil menyerahkan tas isi pesanan Wisnu yang diambilkan rekannya.

“Terimakasih,” jawab Wisnu segera berlalu dari sana dan keluar dari kafe.

Tidak menoleh kebelakang lagi, dirinya meninggalkan kafe dengan perasaan tertahan. Sebuah perasaan mengandung luka di dalam hatinya. Dia menahannya dengan sekuat hati, berusaha berpikiran tidak buruk mengenai istrinya.

Perjalanan yang dia tempuh selama kurang lebih dua jam telah berlalu, mendekati gerbang rumahnya yang otomatis terbuka. Tanpa memarkir dengan benar Wisnu segera meraih tas di jok sampingnya dan berjalan masuk ke dalam rumahnya. Nampak sepi, rumahnya kosong.

Tanpa memperdulikan suasana rumahnya Wisnu segera mengambil isi tas itu dan memasukkan ke dalam kulkas di dapur. Berlari kecil ke dalam kamar yang nampak rapi, Almira sepertinya terlebih dahulu membersihkan rumah sebelum pergi.

Wisnu sejenak bernapas lega menatap kamar mandinya, semua nampak bersih dan pakaiannya sudah dicuci semua.

“Apa aku salah bila marah padamu?” gumam Wisnu segera memasuki ruang mandi, melucuti pakaiannya dan segera menyalakan shower. Mengguyur kemarahan yang nampak masih mengganggunya.

Selang 30 menit dirinya sudah segar, mengganti pakaiannya menjadi lebih santai dan berjalan ke dapur. Nampak Almira juga sudah memasak, dengan senyuman tipis Wisnu meraih piring dan mulai mengambil nasi dan lauk dari atas meja makan.

Menyendok dan memasukkan satu demi satu sendok makanannya ke dalam mulutnya. Meraih ponsel dari saku dan menekan kontak Almira dan melakukan panggilan.

Tidak menunggu lama Almira mengangkat panggilannya. Wisnu menampilkan senyuman sinis.

“Hallo, Mas Inu,” jawab Almira dengan suara merdunya di telinga.

Wisnu mengingat kembali saat itu, dirinya tersenyum puas dalam hati saat Almira memberinya panggilan nama lucu itu kepadanya. Mas Inu … sebuah hal yang menggelikan dari istrinya.

“Lagi dimana?” tanya Wisnu dengan suara dingin, sambil meneguk minuman dari gelasnya.

“Mas Inu sudah pulang? Aku lagi di luar, Mas, habis bertemu teman. Sebentar lagi Ira sampai dirumah,” sahut Almira terdengar gugup.

“Nikmati saja pertemuanmu dengan temanmu, kepalaku pusing, aku mau tidur,” jawab Wisnu masih memasang suara acuh.

“Sudah dekat rumah kok Mas, aku naik Taxi,” ucap Almira terdengar memang terdengar ramai penuh klakson mobil.

“Kenapa tidak diantar temanmu?” tanya Wisnu menyeringai, ternyata Almira takut ketahuan hingga pulang memilih naik taxi dan bukan diantarkan pria yang Wisnu yakini pasti bernama Bagus.

“Aku tidak mau merepotkan, ya sudah … sampai jumpa dirumah,” ucap Almira menutup sambungan telepon.

Wisnu tersenyum sambil menutup panggilan. Merasa aneh dengan sikap Almira barusan. Sok baik, sok perhatian atau sok bersikap baik. Wisnu akan mengerjainya habis-habisan. Sepertinya momentnya pas, saat merasa bersalah, gadis itu menghilangkan sikap ketus terhadapnya.

Segera memindahkan piringnya ke bak cucian Wisnu berjalan santai ke kamar, menunggu sikap apa yang akan dinampakkan istrinya itu ketika sampai di rumah nanti.

Pikirannya melayang jauh, ingin sekali dia memanfaatkan kesempatan ini untuk memeluk erat istrinya tanpa paksaan lagi, melakukan hal lebih kalau memungkinkan.

Wisnu jadi tersenyum sendiri membayangkan. Pernikahan anehnya, tapi entah mengapa itu semua bukanlah sebagai beban tapi tantangan baginya.

Wisnu merebahkan tubuhnya ke kasur, menyamankan dirinya dengan posisi miring memeluk bantalnya. Hari ini dia tidak datang ke Hotel untuk bekerja. Malas sekali kalau hari ini harus berurusan dengan Johan dan anaknya Delia. Moodnya sedang buruk gara-gara kabar meninggalnya Imran juga istrinya sendiri yang berani menemui laki-laki lain tanpa ijinnya.

Hanya beberapa saat napas Wisnu sudah napak teratur, sudah nyaman tertidur pulas.

***

Almira merasa gelisah, mendengar suara Wisnu yang sudah sampai di rumah duluan sedangkan dirinya masih berada di jalan. Menyuruh sang supir taxi mempercepat laju kendaraannya. Almira duduk dengan perasaan tidak menentu.

Pikirannya kembali pada sosok Bagus yang baru saja dia temui. Mengabarkan tentang pernikahannya dan berakhir dengan pertengkaran di dalam mobil.

Tangan Almira bergetar lagi, mendengar penuturan kala malam itu kenapa Bagus seperti memang sengaja menelantarkannya di Bar, Almira menyandarkan punggungnya di sandaran dan menutup matanya perlahan.

“Sudah sampai, Bu,” ucap supir taxi nampak menghentikan mobilnya di depan pagar rumahnya.

Almira mengangguk dan segera membayar ongkosnya, turun dari dalam mobil taxi. Berdiri di depan pagar dengan bingung, bagaimana cara dia masuk ke dalam. Sambil meraih papan tombol dan memasukkan sandi akhirnya pintu gerbang terbuka setelah beberapa saat salah sandi.

“Benar-benar tidak kreatif. Sandinya tanggal pernikahan kita?” Almira tertegun menatap gerbang yang sudah terbuka, perasaannya tiba-tiba tidak enak. Wisnu menjadikan semua momen bersama dirinya terasa penting.

Memasuki rumah yang tidak di kunci pintunya, Almira masuk ke dalam dengan langkah canggung dan entah mengapa deg degan sekali. Apa yang telah Wisnu lakukan sedikit banyak menohok perasaannya.

Mampir ke arah dapur karena haus, Almira mengambil minuman dingin di kulkas, meneguknya seraya membuka juga area kulkas bagian atas. Matanya terbelalak kaget saat menatap nama es krim yang terpampang disana.

“Caffe Nee Depe?” Almira membaca nama yang tertera di Cup nya.

Tiba-tiba badannya merasa tegang, menyadari Wisnu juga baru dari sana juga. Almira bisa mengingat jelas, sebelum pergi tidak ada es krim di dalam kulkas.

Dengan langkah pelan setelah menutup pintu kulkas Almira menghampiri Wisnu di kamar. Membuka pelan pintunya, terasa dingin pengaruh AC yang sudah menyala. Almira masuk dan meletakkan tasnya pelan ke kursi sofa agar tidak bersuara.

Terlihat Wisnu sedang tertidur pulas, Almira masih mematung menatapnya dari pinggiran tempat tidur. Dengan langkah pelan menuju kamar mandi mengganti pakaiannya dengan baju lebih santai. Dia memutuskan untuk mandi sekalian.

“Sudah pulang?” tanya Wisnu sudah terbangun, menatap Almira yang baru keluar dari kamar mandi.

Tubuhnya lebih segar setelah mandi, pikirannya juga menjadi lebih jernih. Memandang Wisnu yang sudah menyandarkan punggungnya di sandaran dengan bantal bertumpuk.

“Sudah, Mas. Maaf aku pergi tanpa pamitan,” ucap Almira berjalan mendekat dan berdiri di samping tempat tidur dengan wajah merasa bersalah.

“Pergi kemana kamu?” tanya Wisnu menampilkan sisi dinginnya, dengan wajah terlihat kesal.

Almira bisa melihat sisi lain dari Wisnu, caranya bertanya dan memandang terlihat penuh kekesalan. Sambil menggenggam erat piyama dirinya menunduk tidak berani memandang.

Apa dia tadi melihatku saat aku bertemu dengan mas Bagus? Bagaimana ini, jujur saja atau …?

Almira mendekat dan duduk di pinggiran kasur, merasa ada ketakutan yang mendera perasaannya saat bersitatap dengan suaminya.

“Aku tadi bertemu dengan mas Bagus, Mas,” jawab Almira jujur.

Dia merasa Wisnu akan semakin marah kalau dia berbohong, apalagi kalau sampai melihatnya bertemu pria itu. Tapi mencoba untuk menutupinya.

“Kenapa harus bertemu?” tanya Wisnu masih memandangnya penuh selidik. Semua gelagat aneh Almira dengan mudah bisa dia baca.

“Ada hal yang mesti aku tanyakan padanya, Mas,” jawab Almira berucap lirih.

Kenapa aku malah takut begini? Bukankah didalam perjanjian aku bebas melakukan urusanku, begitu juga dengannya?

Almira menunduk tidak membalas tatapan Wisnu yang menghujam ke arahnya. Sorot mata tajam yang tidak pernah dia terima sebelumnya dari suaminya itu.

“Baiklah, karena kamu berani jujur, kali ini aku biarkan. Tapi awas kamu melakukannya lagi, aku tidak segan menghajarnya didepanmu sekalipun,” lontar Wisnu dengan suara sengit, Almira mengangguk sambil menoleh menatap Wisnu.

“Sini, mendekatlah,” perintah Wisnu melambaikan tangannya ke udara.

“Tapi, Mas,” tolak Almira menatap Wisnu dengan mata membulat, tangannya kembali menegang sedikit gemetaran.

“Aku mau menenangkan amarahku, sini,” perintahnya lagi menepuk kasur sampingnya agar Almira lekas mendekat dan duduk disampingnya. “Bantu aku menurunkan tensi darahku,” tambah Wisnu melambaikan tangannya.

"Tensi darah?" tanya Almira menggumam sendiri.

Dengan menghela napas Almira segera mendekat secara perlahan, menggeser tubuhnya agar sedikit mendekati Wisnu.

Karena sudah tidak sabar dengan sikap Almira yang lelet, Wisnu segera menarik tangannya hingga terjerembab dalam pelukannya. Rasanya sangat nyaman, ketentraman yang terasa nyata mengisi perasaannya.

“Aku merasa senang kamu bisa masuk ke dalam hidupku,” ungkap Wisnu membuat tubuh Almira seolah membeku.

Wisnu membalik badan Almira hingga posisinya kembali berkuasa atas wanita itu, memandang wajah cantik yang perlahan mengisi penuh rasa sayang yang hadir di dalam hatinya.

“Jangan pernah menghianatiku,” lontar Wisnu mendekatkan wajahnya mendekati Almira.

“T-tapi, bukankah hanya dua minggu ini kesempatan Mas Inu?” ucap Almira takut-takut menatap. “Menghianati apanya?” tanya Almira gelagapan.

“Kalau gagal, aku bisa melakukannya lagi sampai berhasil,” lontar Wisnu menampilkan senyuman jahilnya ke arah Almira.

Almira memukul pundak Wisnu merasa sudah digoda, ntah mengapa kini perasaannya menjadi terasa nyaman dengan semua perlakuan Wisnu kepadanya.

“Aku sepertinya benar-benar sudah menyukaimu,” ungkap Wisnu mengecup pucuk kening Almira dan memberikan senyum manisnya.

Almira masih terdiam membeku, menatap manik indah suaminya bahkan dirinya membiarkan Wisnu menciumnya dan mengeksplor tubuhnya, menyalurkan kehangatan dan cintanya melalui sentuhannya.

“Jangan bertemu dengan pria lain dibelakangku lagi,” ucap Wisnu meraih kancing piyama Almira dan membukanya perlahan satu persatu, bibirnya masih menyusuri lengkukan leher Almira yang mendesah merasakan geli dan nikmat di tubuhnya.

“Aku ….”

Almira meraih pipi Wisnu dan menahan serangannya, menahan agar Wisnu sejenak menghentikan aksinya.

“Kenapa? Jangan bilang surat ijinku masih belum ada?” goda Wisnu mencium bibir Almira dan tidak membiarkan istrinya berbicara lagi.

Mereka saling mengenalkan perasaan yang masih asing, rasa yang mungkin saja berujud cinta namun selalu mencoba untuk mengelak nya.

“Mas Inu ahh … itu.”

Almira merancu tidak bisa menahan tangan Wisnu yang menjelajahi tubuhnya. Hingga suara ponsel di nakas nyaring di telinga. Almira memukul-mukul punggung Wisnu, isyarat agar segera mengangkat panggilan ponselnya.

“Biarkan saja,” sahutnya malas.

“Angkat dulu, siapa tahu penting,” tahan Almira meraih tangan Wisnu yang memainkan area dadanya.

“Ira, berhenti beralasan,” desis Wisnu menampilkan suara marah.

“Nanti, nanti dilanjut lagi. Angkat dulu telponnya,” perintah Almira masih mencekal kuat tangan Wisnu agar berhenti.

Wisnu sedikit berdecak, bangkit dan duduk dengan meraih ponselnya di nakas. Nama Arjuna terpampang sebagai nama pemanggil.

Sambil menoleh ke arah Almira yang menatapnya penuh tanya, dia tampilkan lirikan matanya penuh kekesalan.

“Apa, Jun?!” sapa Wisnu dengan suara ketus.

“Astaga, ketusnya,” sahut Arjuna merasa suara Wisnu sangat kejam terhadapnya.

“Ada apa, katakan cepat,” oceh Wisnu dengan suara kesal sudah di ganggu si kampret kampung.

“Ini masih siang, bodoh! Berhenti membuatku tertawa, dengan model terbaru bagaimana rasanya?” kelakar Juna menampilkan tawa.

“Baru aku mau mencobanya, kau sudah menghancurkannya, tauk,” decak Wisnu sangat kesal.

Wisnu semakin kesal saja saat menoleh ke arah Almira yang nampak sudah merapikan pakaiannya.

“Maaf, sobat. Aku cuma mau memintamu ke Rumah sakit sekarang, ada kabar buruk,” ungkap Juna membuat Wisnu mendengar serius ucapan Juna padanya.

“Kabar buruk apa?” tanya Wisnu menampilkan wajah tegang.

Terlihat Almira mendekat dengan wajah ikut menegang, perasaannya ikut gelisah.

“Depe ... suaminya meninggal, sekarang dia sepertinya stress. Dia histeris dan mencoba melukai dirinya sendiri saat masih dalam perawatan di Rumah Sakit,” ucap Juna memberi kabar.

“Depe? Melukai diri?” ulang Wisnu meyakinkan apa yang dia dengar.

“Iya, datang ya. Sepertinya dia menyebut juga namamu, semua orang tidak bisa masuk ke dalam ruangan, dia minta kamu yang menemuinya,” terang Juna membuat Wisnu menghela napasnya.

“Aku tidak bisa,” tolak Wisnu menggeleng kepala.

“Wisnu, ini bukan soal apa-apa, tapi nyawa. Tolonglah, demi persahabatan,” bujuk Juna tahu kalau Wisnu pasti akan menolak terlibat masalah.

“Aku tidak bisa, sudah, aku tutup.”

Wisnu meletakkan kembali ponselnya ke nakas dengan lesu. Merebahkan kembali tubuhnya dengan mata terpejam. Perasaannya menjadi bimbang.

“Mas Inu, siapa yang mau melukai diri?” tanya Almira meraih bantal yang digunakan Wisnu untuk menutupi wajahnya.

“Bukan siapa-siapa,” jawab Wisnu dengan suara berat, memandang wajah Almira yang berubah menegang penuh kecemasan.

“Ada apa? Tidak ada urusannya dengan kita, kamu tidak perlu cemas,” seloroh Wisnu menegakkan tubuhnya dan meraih lengan Almira agar bisa memeluknya dengan erat.

“Saat kamu melakukan upaya bunuh diri, perasaanku sama takutnya, Mas. Bahkan untuk menghajarmu atau memasukkan dirimu ke penjara rasanya sangat menyiksa. Jadi, ayo kita bantu orang itu untuk berhenti melukai dirinya, kita kesana. Bagaimana?”

Wisnu memeluk tubuh Almira semakin erat. Perasaannya menjadi tidak menentu, perasaannya sangat tidak enak mengenai ini.

Dia tegakkan tubuh Almira dan mengusap pipinya sembari mengangguk. Almira memberikan senyuman tipis dengan rona wajah gelisah yang mulai melandanya.

Ada apa denganmu kak? Bukankah kamu sudah bahagia. Kenapa mendadak seperti ini saat semua terasa sudah pada jalurnya? Jangan membuatku merasa bersalah lagi.

Almira membiarkan Wisnu kembali memeluknya, mengurangi ketegangan saat nama Depe kembali disebut setelah lama tidak mendapat kabar apapun darinya.

***

Apa kesalahanku sangat fatal?

Apa ujian ini untuk memperingatkanku akan sebuah cinta yang suci tidak akan bisa terpisah?

Aku tahu aku salah, hingga sesaknya amat nyata terasa.

Aku sudah merasa menyesal hingga mencoba membuka hatiku saja rasanya bagai dosa.

Bisakah kamu berikan maaf untukku, saat ketidak sengajaan itu menghimpit hari-harimu? (Almira-Aldheka)

Bersambung …

Terimakasih masih mengikuti kisah Wisnu-Almira. Jalan mereka masih panjang yaa. Jadi maaf bertele-tele biar babnya bisa panjang dan nggak cepet tamat. Hahaha

Terimakasih untuk Like, komentar juga vote luar biasa dari kalian semua. Love you pull deh😘

Baca juga dong karya sahabatku online Bang Eka Pradita

Karya Uni yang selalu memberiku pelajaran dengan krisar agar aku belajar menulis yang benar.

Salam Cinta dan persahabatan dariku Syala Yaya🌷🌷

1
Hotlin Situmorang
lanjutkan ceritanya
Siti Nina
oke
Hotlin Situmorang
Wisnu memang bertanggung jawab
Luwis Ida yasa
tidak bosen rasanya q BCA novel ini apa lagi yang bab ini hehehe
Dasem Ida Faizah
lucu bgt
Dasem Ida Faizah
lucu bgt
Suhartik Hartik
lucu ya kisah Alan dan yashna... dibikin kisah dong
Suhartik Hartik
author nya top banget bikin obrolan ringan tapi excellent banget
Nnuraeni Eni
Keren .keren ..kereeeeen... 👏👏
Nnuraeni Eni
Setuju tuh 😉
Nnuraeni Eni
Uuuuh So Sweet 😘😘
Nnuraeni Eni
Aku udh baca ini 2x lho kak , tp ga bosen buat baca lg .. Kisahnya itu yg bikin pembaca jd senyum² sendiri ... Kena dihati 🥰🥰
Nnuraeni Eni: /Kiss//Kiss//Kiss//Wilt/
total 2 replies
SETIA RINI
luar biasa
YK
karya luar biasa
YK
ck, lupa ya pernah nyium Isna???
YK: aduh, salah komen... 😌
total 1 replies
YK
aamiin...
YK
biar si johan kebakaran bulu ketek...
YK
mobilmu otw, ihsan...
YK
jadi curigation, nih, sama Bagus. jangan2 Imran diracun sama dia. biar wisnu balik sama depe dan almira dia jual...
YK
bagas ini kyknya dominan banget. bukankah dia yg minta putus lalu ngotot balikan lagi... mencla mencle...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!