Harap bijak memilih bacaan, karena terdapat beberapa episode yang bisa mencemari kesucian otak reader.. 🤭🤭
Sadewa, nama pria dengan ketampanan dan kemapanan yang melekat erat di tubuhnya, sibuk meraih kesuksesan, membuatnya lupa bagaimana menggapai kesuksesan cinta. Karena di umurnya yang sudah 35 tahun, dia masih betah melajang, dan hal itu membuat Sadra, Sang Ibu khawatir.
Beda cerita dengan Ruby. Untukmembalas rasa terimakasihnya karena telah ditolong untuk biaya operasi adiknya, Ruby bersedia menerima tawaran Sandra sang pemilik butik tempatnya bekerja untuk dijadikannya menantu.
Tapi tidak dengan Sadewa, pria arogan itu sangat menentang keras perjodohan yang orang tuanya buat untuknya.
"Jika aku menikahi dia, itu sama saja seperti menanam benih kualitas premium miliku di Ladang gersang!" Sadewa.
"Jangan terlalu arogan Tuan Muda. Buktikan saja jika benih kualitas premium yang kamu bangga-banggakan itu bisa tumbuh di Ladangku!" Ruby
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Memulai misi
Ucapan Nathan terus saja terngiang-ngiang di pikirannya, membuat Dewa gelisah tak menentu. Nathan benar-benar menakut-nakuti Dewa dengan sangat kejam.
Dewa yang saat itu sedang menemani istrinya mengepak barang-barang pribadinya untuk ia bawa besok ke Filipina membuat Dewa terus memikirkan setiap kata-kata yang Nathan ucapkan.
...🍃Flashback On🍃...
"Anda takut istri Anda kembali ke pelukan pria yang tak boleh disebutkan namanya itu?" ucap Nathan saat mereka berhasil menyelesaikan dokumen-dokumen yang harus mereka bawa ke Filipina besok.
Dewa terdiam, gengsinya terlalu menjulang tinggi hingga dia malu untuk menjawab 'iya', tapi dia pun tak kuasa untuk berkata 'tidak'.
"Sekarang saya tanya sama Bapak. Apa yang sebenarnya bapak rasakan pada Nona? Suka? Sayang? Atau mungkin cinta?"
Lagi-lagi Dewa tidak menjawab, dia terus saja memutar-mutar bolpoinnya di atas meja, cuek. Walaupun demikian Nathan yang sudah lama bekerja dengan pria sableng itu tahu jika Dewa sedang mendengarkannya.
"Jika Bapak masih bingung, coba Bapak bayangkan apa yang terjadi dia Bapak jauh dari Nona? Atau bahkan jika saatnya tiba kalian berpisah nanti. Bayangkan Nona yang cantik itu kembali ke pelukan pria yang tak boleh disebut namanya itu! Atau mungkin saja Nona menerima pinangan saya!" Nathan sengaja memancing Dewa.
"Hei Bodoh. Mau dikemanakan istri dan anakmu?" bentak Dewa yang terpancing ucapan Nathan.
"Bukankah di agama kita seorang pria boleh memiliki empat istri!" goda Nathan.
"Cih." Dewa malas menimpali. "Tapi dia bukanlah perempuan yang selevel dengan aku. Bahkan menggunakan sumpit saja dia tidak bisa. Dia hanya bisa membersihkan rumah, berteriak menyuruh ini, menyuruh itu, melarang ini, melarang itu." Dewa terlihat kesal.
"Memang wanita seperti apa yang layak memilikimu Tuan Muda?" sindir Nathan.
Dewa terdiam, karena sampai detik itu pun dia tidak tahu jawabannya.
"Istri itu cerminan suaminya, jika suami tak menghargai istrinya, maka kemungkinan orang lain pun tak akan menghargai dirinya. Bukankah suami itu adalah pakaian untuk istrinya? Jadi jika Anda menutupi kekurangannya dengan kelebihan yang Anda miliki, maka tak seorangpun bisa melihat kekurangannya. Jadi baik buruknya istri itu tergantung bagaimana kita sebagai suami memperlakukan mereka. Bukan begitu?" Nathan seperti sedang memberikan sebuah nasihat kepada seorang calon suami.
"Kamu berisik!" jawab Dewa sambil mengambil jas dan tas kerjanya. "Aku pulang. Jangan lupa rapikan kembali ruanganku."
...🍃Flashback Off🍃...
"Berapa jam tangan yang harus aku masukan ke koper?" tanya Ruby, sambil membuka laci kaca yang berisi puluhan jam tangan bermerek.
"Satu aja. Satu lagi aku pakai," jawab Dewa malas.
"Yang mana?" tanya Ruby.
"Yang mana aja. Kamu kan tau apapun yang aku pakai akan terlihat mahal." Seperti biasa dia berbicara dengan sombongnya. Tapi hal itu membuat dia teringat kembali akan ucapan Nathan petang tadi.
Dilihatnya wajah Ruby yang sedang kebingungan memilih jam tangan yang akan dia bawa. Kemudian dia ikut tersenyum saat Ruby menemukan jam tangan yang menurutnya sangat cocok untuk suaminya.
"Ini lebih cocok." Ruby pun memasukkan jam tangan suaminya dan mengunci koper yang akan dibawa suaminya.
"Dewa!" Tiba-tiba saja suara Ruby terdengar lirih.
"Hemmm?" Dewa mengikuti tubuh istrinya yang kembali ke kamar tidur. Dilihatnya istrinya naik dan menepuk-nepuk bantal agar menyuruhnya naik ke ranjang.
"Kamu mau ngomong apa?" tanya Dewa yang sudah merebahkan tubuhnya di samping Ruby.
Ruby langsung melakukan tugasnya, apalagi jika bukan menidurkan bayi besarnya yang arogan yang memiliki tingkat kenarsisan seperti namanya. Jemari lentik Ruby mulai menyusuri rambut lebat suaminya.
"Tadi aku ikut jemput mommy pulang dari rumah sakit." Ruby menghela nafas sebelum melanjutkan ucapannya.
"Aku tau." Dewa memotong ucapan istrinya. "Lalu?"
"Aku masih bisa liat kekecewaan mommy yang masih berharap dia punya bayi lagi. Kayaknya mommy berharap banget punya bayi lucu," jawab Ruby, seperti akan memulai perbincangan serius.
Dewa tahu akan kemana menjurusnya ucapan istrinya itu, apalagi jika bukan itu. Pikir Dewa. Tapi Dewa pura-pura tidak tahu.
"Terus?"
"Kayaknya aku mau mundur lebih awal. Memang sebaiknya kamu cari perempuan yang kamu suka dan selevel sama kamu, supaya kamu bisa segera ngasih mommy cucu." Nadanya lirih saat mengucapkan hal itu.
Dewa seperti tersambar petir saat mendengar ucapan istrinya, dia tidak menyangka jika Ruby berpikiran untuk menyuruhnya mencari wanita lain. Dada Dewa seperti ditusuk ribuan jarum mendengar ucapan Ruby yang itu artinya dia mengajaknya bercerai.
"Kamu benar-benar mau nyerah?"
Dengan lesu Ruby menganggukan kepalanya. "Aku gak akan pernah dapat itu dari kamu, jadi bagaimana bisa aku bisa ngasih Mommy cucu? Kalau Mommy mengizinkan aku menikah dengan pria lain, mungkin aku bisa dengan mudah memberikannya cucu."
"Memang kamu mau berniat nikah sama siapa? A'Irfan mu itu?" Dewa sudah tak bisa lagi menyembunyikan kemarahannya, dia bangkit dan duduk menatap wajah istrinya dengan kesal.
"Ya aku gak tau. Emang kita bisa tau siapa jodoh kita nanti?" Ruby cuek seolah tak terpancing kemarahan suaminya.
Dewa semakin geram saja. "Sekarang apa yang kamu mau?"
"Itu," jawab Ruby tanpa terlihat berpikir lagi.
"Haaaah?"
"Aku cuma mau itu, semua bisa kamu kasih ke aku, mulai dari uang, perhiasan, pakaian dan banyak lagi, cuma itu yang kamu gak bisa kasih ke aku. Jadi buat apa punya suami kaya dan tampan kalo gak bisa ngasih itu? Ya pilihan kedua aku akan nyari suami yang bisa ngasih aku itu, walaupun gak kaya, yang penting bisa itu."
"Ruby, bukannya aku tak bisa memberimu itu, tapi—"
"Ya, iya. Aku juga tau, aku bukan tipe ideal kamu, aku gak selevel sama kamu. Jadi seperti aku bilang tadi. Lebih baik kamu cari calon istri yang sesuai kriteria kamu. Kasian Mommy Wa, kita sama aja udah php-in Mommy."
Dewa kembali dibuat bungkam dengan ucapan istrinya. Mengingat wajah Sandra yang begitu senang saat mengira dirinya hamil dan kecewa saat dia dinyatakan menopause membuat Dewa merasa bersalah. Benar kata Ruby, Dewa seperti telah memberi harapan palsu untuk kedua orang tuanya.
"Gak usah dipikirin sekarang, aku juga gak berniat minta cerai sekarang." Ruby kembali menepuk-nepuk bantal agar suaminya kembali tidur.
Seperti yang Ruby inginkan, Dewa pun langsung merebahkan tubuhnya.
"Nanti aja setelah kamu pulang dari Filipin," sambung Ruby yang sudah kembali mengelus kepala suaminya.
Dewa semakin gelisah, biasanya memeluk dan menghirup aroma tubuh Ruby membuatnya nyaman, tapi kali ini tidak, Dewa semakin ketakutan jika tubuh yang ia peluk menghilang dari pandangannya. Bahkan dia membayangkan Irfan yang kini ada di posisinya sekarang. Hal itu membuat Dewa gelisah.
"Bi!"
"Hemmm?"
"Rayu aku sekali lagi. Buat pertahananku runtuh malam ini juga," tantang Dewa.
Gengsinya masih setinggi Himalaya untuk mengajak Ruby itu terlebih dahulu.
"HAAAAH?"
"Iya, kalo kamu bisa meruntuhkan keimanan aku, kita akan itu malam ini."
Ruby tak menyangka umpannya akan langsung ditangkap oleh Dewa. Dia pun langsung berlari ke ruang ganti.
"Kamu mau kemana?" Dewa dibuat bingung dengan tingkah istrinya.
Sebab sebenarnya tak perlu dirayu pun Dewa sudah siap lahir dan batin untuk menyerang istrinya hanya gengsinya saja yang membuatnya sulit meminta itu duluan.
"Tunggu, aku prepare dulu!" teriak Ruby dari kamar ganti.
Dengan semangat Ruby menelpon mertuanya.
"Ada apa Sayang?" seru Sandra.
"Mommy anakmu masuk perangkap kita. Do'akan aku ya. Semoga malam ini misi kita berhasil!" Ruby berbicara dengan berbisik.
"Alhamdulillah. Semangat Sayang, semoga Bule sipit itu berhasil menjajahmu dengan baik dan benar." Doa Sandra menyertai menantu kesayangannya.
...Jeng!! ...
...Jeng!!! ...
...Akankah Dewa berhasil menjajah Ruby dengan baik dan benar seperti keinginan mommynya?...
...Penasaran yaaaaaa?? 🤭...
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣