NovelToon NovelToon
Ksatria Untuk Alisa

Ksatria Untuk Alisa

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Nikahmuda / Cinta pada Pandangan Pertama / Persahabatan
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: kaka_21

Lampu jalan di depan rumah dinas Cakra berkedip, menyisakan bayangan panjang dan dingin di teras. Alisa berdiri di ambang pintu, menatap punggung Sancaka Naratama. Sanca mengenakan kaus gelap, dan bahunya tampak tegang. Mereka baru saja berdebat hebat tentang penugasan luar pulau mendadak yang diterima Cakra.

“Ayah pergi lagi, Sanca. Apa kau pikir aku tidak mengerti apa arti seragam itu?” Suara Alisa tercekat, ia berusaha keras menahan isaknya.

Sanca berbalik, tatapan matanya yang biasanya hangat kini terasa lelah. “Aku mengerti, Lis. Seragam itu artinya pengabdian. Ada risiko, ada jarak. Tapi ada kehormatan juga, yang dulu diajarkan Ayahmu padaku.”

“Kehormatan?” Alisa melangkah maju, napasnya memburu. “Honorku adalah ditinggalkan! Ibuku hilang. Satria memilih pergi demi nama keluarga. Dan sekarang, Ayah juga pergi lagi ke tempat berbahaya. Aku lelah mencintai orang yang selalu siap menghilang!”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kaka_21, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25: Meyakinkan Tuan Putri

Pagi di pangkalan batalyon itu selalu diawali dengan orkestra yang sama: suara terompet subuh yang melengking, derap sepatu bot yang beradu dengan aspal, dan aroma tanah basah yang menguap disambar sinar matahari pertama. Bagi Satria, rutinitas ini biasanya terasa seperti tugas negara yang mekanis. Namun, belakangan ini, ada denyut yang berbeda dalam setiap langkahnya. Sejak insiden badai dan pohon tumbang itu, dunianya tidak lagi hanya soal frekuensi radio dan kabel transmisi. Ada sebuah nama yang kini tersangkut di kepalanya layaknya sinyal yang paling kuat: Alisa. Panggilan "Kakak" yang sering diucapkan gadis itu dengan nada lembut namun tegas telah menjadi candu tersendiri bagi Satria. Panggilan itu sederhana, tapi baginya, itu adalah sebuah deklarasi bahwa ia bukan lagi orang asing di mata Alisa, melainkan seseorang yang memiliki tempat khusus di dalam hidupnya yang selama ini tertutup rapat.

Namun, kedamaian hati Satria pagi itu mendadak terusik saat sebuah nota dinas mendarat di mejanya. Bukan perintah untuk memperbaiki tower di perbatasan, melainkan perintah untuk menghadap Mayor Cakra di ruang kerjanya. Satria tahu, jika Cakra memanggilnya secara formal seperti ini, berarti ada sesuatu yang sangat serius. Sebelum berangkat, Satria menyempatkan diri untuk bercermin di ruang komunikasi. Ia merapikan kerah bajunya berkali-kali, memastikan tidak ada satu pun debu yang menempel di seragamnya. Damar, yang sedang asyik menyeruput kopi hitamnya sambil bersandar di kusen pintu, hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah keponakannya itu. Ia merasa jengah melihat Satria yang belakangan ini lebih sering tersenyum sendiri daripada fokus pada diagram sirkuit. "Sat, berhenti merapikan rambutmu. Mayor Cakra memanggilmu untuk bicara tugas, bukan untuk melamar anaknya di pagi buta begini," sindir Damar dengan tawa kecil yang khas. Satria hanya membalas dengan senyum simpul, sebuah senyum yang menurut Damar sudah terlalu "bucin" untuk ukuran seorang perwira perhubungan yang tangguh.

Di dalam ruang kerja Mayor Cakra, suasana terasa berat dan padat. Cakra duduk tegak di balik mejanya, menatap Satria dengan sorot mata yang sulit dibaca. Tidak ada keramahan seperti saat makan malam kemarin lusa. Di atas meja, terdapat sebuah amplop cokelat tebal dengan segel resmi kementerian. Cakra menggeser amplop itu perlahan ke arah Satria. "Duduk, Satria," ucap Cakra dengan nada suara yang rendah namun berwibawa. "Ini adalah misi terakhir yang akan aku percayakan padamu. Bukan soal keamanan pangkalan, tapi soal masa depan Alisa. Di dalam sini ada undangan residensi penulis muda di Jakarta dan beasiswa universitas. Ini kesempatan yang hanya datang sekali seumur hidup untuk bakat seperti dia. Masalahnya adalah, Alisa tidak mau mengambilnya. Dia bilang dia lebih baik tetap di sini, menungguku pensiun dan... entahlah, mungkin dia punya alasan lain yang tidak dia katakan padaku."

Cakra menatap Satria dengan tatapan yang sangat dalam, seolah sedang mencari kejujuran di balik mata pemuda itu. "Aku tahu kamu dan Alisa semakin dekat. Aku juga tahu dia sangat mendengarkan apa yang kamu katakan. Tugumu adalah meyakinkannya untuk pergi. Aku ingin tahu, apakah kamu tipe pria yang akan menahan seorang wanita di sisinya hanya agar hatimu tidak sepi, atau kamu tipe ksatria yang berani melepaskannya agar dia bisa menjadi bintang yang paling terang di luar sana? Jika kamu gagal meyakinkannya, atau jika aku tahu kamu sengaja menahannya di sini, maka jangan pernah berharap pintu rumahku akan terbuka lagi untukmu." Satria terdiam, ia merasa jantungnya seolah berhenti berdetak sesaat. Tantangan ini jauh lebih sulit daripada menghadapi badai di hutan. Melepaskan Alisa berarti kembali ke kehidupan yang sunyi, tanpa diskusi di joglo, tanpa tawa kecil di sore hari, dan tanpa panggilan "Kakak" yang menenangkan jiwanya.

Satria keluar dari ruangan itu dengan langkah yang gontai. Amplop di tangannya terasa sangat berat. Ia berjalan menuju joglo, tempat favorit Alisa untuk menghabiskan waktu. Di perjalanan, ia berpapasan dengan Damar yang sudah menunggunya dengan wajah ingin tahu. "Gimana? Disuruh lari keliling pangkalan atau disuruh putus?" tanya Damar setengah bercanda. Namun, saat melihat Satria menunjukkan amplop cokelat itu dan menceritakan isinya, wajah Damar berubah serius. "Wah, si Cakra benar-benar mengujimu di titik paling lemah, Sat. Dia ingin tahu kamu itu egois atau tidak. Melepaskan Alisa itu ujian cinta yang paling nyata. Kamu tahu sendiri kan, pangkalan ini sepi. Tanpa dia, kamu cuma bakal bicara sama kabel-kabel itu lagi." Satria hanya mengangguk pelan, pikirannya kacau. Ia membayangkan Jakarta yang jauh, kesibukan kota yang akan menelan waktu Alisa, dan kemungkinan bahwa jarak akan memudarkan segala yang baru saja mereka bangun.

Sore harinya, Satria menemui Alisa di joglo. Gadis itu sedang asyik mencoret-coret catatan di buku birunya, tampak sangat damai dengan kuncir kuda yang sedikit berantakan. Saat melihat Satria datang, wajahnya langsung cerah. "Kak Satria! Kok sore banget ke sini? Tadi Ayah bilang Kakak sedang sibuk di kantor markas," sapa Alisa dengan senyum yang begitu tulus. Satria duduk di hadapan Alisa, mencoba mengatur napasnya agar suaranya tidak bergetar. Ia meletakkan amplop cokelat itu di atas meja kayu. "Ini dari Ayahmu, Alisa. Sebenarnya ini untukmu. Aku diminta untuk memberikan ini secara langsung." Alisa mengerutkan kening, ia membuka amplop itu dan membaca isinya dengan saksama. Perlahan, senyumnya memudar, digantikan oleh raut wajah yang bimbang dan sedikit sedih.

"Aku sudah tahu soal ini, Kak. Ayah sudah pernah menyinggungnya, tapi aku bilang aku tidak tertarik. Jakarta itu terlalu jauh. Ayah sebentar lagi pensiun, aku tidak mau meninggalkannya sendirian di rumah baru nanti. Dan lagi..." Alisa menggantung kalimatnya, ia menatap Satria dengan mata yang mulai berkaca-kaca. "Kalau aku pergi, siapa yang akan menemani Kakak di joglo ini? Siapa yang akan Kakak ajak bicara soal fiksi dan antena?" Satria merasakan sebuah hantaman di dadanya. Keinginan untuk berkata "jangan pergi" sangat kuat di ujung lidahnya. Namun, ia teringat pada sorot mata Cakra dan janjinya untuk menjadi ksatria yang benar. Ia memegang tangan Alisa yang gemetar di atas meja, sebuah kontak fisik yang pertama kali ia lakukan dengan penuh keberanian dan keseriusan.

"Alisa, dengarkan aku. Pangkalan ini, joglo ini, dan bahkan Ayahmu, adalah bagian dari masa lalumu yang kuat. Tapi Jakarta, beasiswa ini, dan tulisan-tulisanmu adalah masa depanmu yang sedang memanggil. Kamu ksatria di atas kertas, dek. Medan tempurmu bukan di sini, di bawah perlindungan Ayahmu atau di dekatku. Medan tempurmu adalah di dunia luar, di mana orang-orang bisa membaca karyamu dan tergerak olehnya. Ayahmu tidak akan sendirian, dia punya Damar, dia punya aku, dan dia punya kebanggaan bahwa anaknya sukses di luar sana. Jangan jadikan aku alasan untuk kamu berhenti berjalan." Alisa menunduk, air matanya jatuh membasahi formulir pendaftaran itu. "Tapi aku takut, Kak. Aku takut kalau aku pergi, segalanya akan berubah. Bagaimana kalau Kakak lupa padaku?"

Satria tersenyum, sebuah senyum yang sangat manusiawi—campuran antara kebahagiaan karena dicintai dan kepedihan karena harus berpisah. "Aku punya tower sinyal paling kuat di daerah ini, Alisa. Aku akan memastikan frekuensi kita tidak pernah terputus. Setiap malam, aku akan menunggu ceritamu. Setiap bab baru yang kamu tulis, aku akan jadi pembaca pertamanya. Jarak itu cuma soal angka di peta, tapi apa yang kita rasakan di sini, di joglo ini, itu soal komitmen. Pergilah. Tunjukkan pada dunia bahwa anak seorang Mayor bisa menaklukkan kata-kata sekuat ayahnya menaklukkan medan perang. Kalau kamu tetap di sini hanya karena aku, maka aku adalah ksatria yang gagal melindungimu dari diriku sendiri." Kata-kata Satria itu terasa sangat padat dan berbobot, memecah segala keraguan yang selama ini menyumbat hati Alisa.

Malam itu, Alisa akhirnya mengangguk. Ia memeluk amplop cokelat itu erat-erat ke dadanya. Satria menemaninya hingga hari benar-benar gelap, mereka bicara lebih banyak dari biasanya, seolah ingin menabung kata-kata untuk waktu yang lama. Dari kejauhan, di balik jendela kantor markas yang remang, Cakra melihat pemandangan itu. Ia melihat bagaimana Satria tetap tersenyum meski wajahnya menunjukkan beban yang berat. Ia melihat putrinya akhirnya memiliki tekad yang bulat di matanya. Cakra mengambil napas panjang, ia merasa beban di pundaknya sebagai ayah sedikit terangkat. Ia menyadari bahwa Satria telah lulus ujian terakhirnya. Pemuda itu tidak hanya berani melindungi Alisa dari badai fisik, tapi juga berani melindungi masa depan Alisa dari ego pribadinya.

Keesokan harinya, pangkalan batalyon itu menjadi saksi sebuah perpisahan yang manis. Alisa sudah siap dengan kopernya, berdiri di samping jip dinas yang akan membawanya ke bandara. Cakra memeluk putrinya dengan sangat erat, sebuah pelukan yang jarang ia tunjukkan di depan umum. "Jaga dirimu baik-baik di Jakarta. Jangan lupa disiplin, dan jangan lupa makan. Ayah akan segera menyusul setelah urusan pensiun selesai," bisik Cakra. Alisa kemudian beralih ke arah Satria yang berdiri tidak jauh dari sana, tetap dengan kemeja rapinya namun kali ini matanya sedikit merah. "Kak Satria, terima kasih ya. Terima kasih sudah jadi antena paling hebat buatku." Satria hanya bisa mengangguk, ia tidak sanggup bicara banyak karena takut suaranya akan pecah. "Sama-sama, Alisa. Hati-hati di jalan. Jangan lupa kirim naskahmu padaku."

Saat jip itu bergerak menjauh, debu tanah merah beterbangan menutupi pandangan. Satria tetap berdiri di sana hingga jip itu hilang di balik tikungan bukit. Damar datang mendekat, menepuk bahu Satria dengan keras. "Kamu hebat, Sat. Kamu pria sejati. Sekarang, ayo kembali ke ruang transmisi. Masih banyak kabel yang harus diperbaiki supaya sinyal dari Jakarta bisa sampai ke sini dengan lancar." Satria tertawa kecil, ia menyadari bahwa hidupnya memang akan kembali sunyi untuk sementara, tapi kesunyian ini memiliki makna yang berbeda. Ia memiliki sebuah janji yang harus dijaga. Dan bagi Alisa, perjalanan ke Jakarta bukan lagi sebuah ketakutan, melainkan sebuah misi yang ia jalani dengan restu penuh dari dua ksatria terhebat dalam hidupnya. Di dalam tasnya, ada buku biru dan sebuah pulpen logam pemberian Ayahnya, serta sebuah memo kecil dari Satria yang bertuliskan: "Pangkalan hatiku selalu terbuka untukmu, kapan pun kamu ingin pulang."

Kehidupan di pangkalan batalyon pun kembali ke ritme semula, namun dengan semangat yang baru. Cakra kini lebih banyak menghabiskan waktu di joglo, terkadang ditemani Satria yang sibuk dengan laptopnya. Mereka berdua kini memiliki topik pembicaraan baru yang sama: perkembangan novel terbaru Alisa dan kapan jadwal kunjungan mereka ke Jakarta. Cakra tidak lagi menatap Satria dengan marah; sebaliknya, ia sering berbagi cerita tentang masa mudanya, seolah Satria kini benar-benar telah menjadi bagian dari keluarganya. Di tengah hutan yang sunyi dan perbatasan yang dingin, cinta dan pengabdian telah menemukan jalannya sendiri—melalui kabel-kabel transmisi, melalui kata-kata di atas kertas, dan melalui keberanian untuk saling melepaskan demi kebahagiaan yang lebih besar.

1
panjul man09
disetiap kesulitan ada kemudahan ,disetiap kesedihan akan ada kebahagiaan , setelah hujan muncullah pelangi , author 👍👍👍👍👍
panjul man09
ujian hati dimulai
panjul man09
ceritanya sangat menyentuh hati ,kalimat yg digunakan jauh lebih berbobot daripada cerita novel yg lain ,authornya sangat pandai memainkan perasaan
panjul man09
👍😍👍😍👍😍
panjul man09
👍👍👍👍👍
panjul man09
cuman 2 pemerannya ? tdk ada pemeran ketiga ?
panjul man09
/Cry//Cry//Cry//Cry//Cry/
panjul man09
/Cry//Cry//Cry//Cry/
panjul man09
mereka memelukan sosok ibu
panjul man09
sebaiknya cakra menikah lagi
david 123
terharu Thor...ttp semangat ya ..cerita ini bisa sbg movitasi bagi anak yg berjuang mencari jadi dirix melalui bakat dan minat.
david 123
aduh baca sambil berderai air mata..alurx..keren..sangat menyentuh...hati...luar biasa Thor ..ceritamu ini...ttp semangat dg ide -ide cermelangx....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!