Aruna selalu memilih duduk di barisan paling belakang.
Di sana, dia merasa aman, terlindung dari keramaian, dari tatapan, dari hal-hal yang membuat dadanya sesak.
Hujan adalah teman terbaiknya, satu-satunya suara yang mengerti diamnya.
Sampai suatu pagi, di tengah gerimis dan jendela berkabut, Bu Maita menyebut dua nama yang tak pernah Aruna bayangkan akan berdampingan.
“Aruna Pratama dan Dhira Aksana.”
Dhira, cowok yang selalu jadi pusat perhatian, yang langkahnya tenang tapi meninggalkan riak kecil di mana pun dia lewat.
Sejak saat itu, barisan belakang bukan lagi tempat untuk bersembunyi.
Perlahan, tanpa sadar, Aruna mulai membuka ruang yang sudah lama dia kunci rapat-rapat.
Di antara rintik hujan, catatan pelajaran, dan detik-detik canggung yang tak terduga, Aruna belajar bahwa beberapa pertemuan datang seperti gerimis.
pelan, jujur, dan sulit dilupakan.
Karena kadang, seseorang masuk ke dalan hidupmu setenang hujan, tanpa suara, tapi kamu ingat selalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Teman yang Mulai Curiga
Aruna nggak tidur nyenyak semalam.
Tiap kali matanya mulai terpejam, bayangannya dateng lagi—bayangan Dhira di bawah pohon mangga, tatapannya yang... bingung, tatapannya yang nyaris kayak... peduli. Dan tiap kali bayangan itu dateng, jantung Aruna langsung dag dig dug lagi, kayak lagi lari marathon padahal cuma rebahan di kasur.
Pagi ini matanya bengkak. Dikit. Nggak terlalu keliatan sih kalau nggak diliatin dari deket. Tapi Aruna tau. Dia tau matanya merah, kulitnya pucat, bibirnya kering karena semalam nangis diam-diam sambil peluk bantal sampai ketiduran jam dua pagi.
*Astafirullah. Jangan lemah gini terus. Jangan.*
Sekarang jam istirahat. Aruna duduk di kantin—tempat yang biasanya dia hindari karena terlalu rame, terlalu berisik—tapi Kayla maksa. "Kamu nggak boleh terus-terusan ngumpet di perpus, Run. Sekali-kali makan di kantin yang bener, cium udara luar dikit."
Jadi di sini lah mereka. Duduk di meja pojok deket jendela. Kayla udah duduk di seberang Aruna, tapi belum pesen makanan—katanya mau pesen sebentar lagi. Aruna sendiri udah pesen: nasi goreng campur sama es teh manis. Makanannya belum dateng.
Aruna main-main sendok di meja. Ketuk-ketuk pelan. Bunyi kring kring kecil yang bikin dia agak tenang—atau nyoba tenang.
Kayla ngeliatin dia. Lama. Diem.
Aruna ngerasa. "Kenapa ngeliatin aku terus, Kay?" tanyanya pelan, nggak nengok Kayla, masih fokus ke sendok yang dia ketuk-ketuk.
"Run."
"Hmm?"
"Jujur deh." Kayla nunduk dikit, suaranya pelan tapi... serius. "Kamu suka sama Dhira, ya?"
Deg.
Sendok di tangan Aruna jatuh. Bunyi kring keras di meja. Beberapa orang di meja sebelah noleh sekilas, tapi untung cuma sekilas.
Aruna... membeku.
Wajahnya langsung panas. Merah. Panas banget kayak abis kena api kompor.
"A-apa... apa-apaan Kay... nggak... nggak mungkin..." tolaknya cepet. Terlalu cepet. Suaranya gagap parah. "Aku... aku nggak... nggak suka dia..."
Kayla senyum. Senyum geli. Bukan senyum ngejek. Senyum yang... ngerti. "Run, aku kenal kamu dari SMP. Aku tau kalau kamu lagi deg-degan."
"A-aku nggak deg-degan—"
"Wajahmu merah."
"Panas—"
"Tanganmu gemetar."
"Aku... aku kedinginan—"
"Aruna Pratama." Kayla manggil nama lengkapnya. Nada suaranya lebih tegas sekarang. "Berhenti bohong. Aku sahabatmu. Aku nggak bakal ngejudge kamu."
Aruna... diem.
Nggak bisa ngomong apa-apa lagi.
Kayla benar. Semua yang dia bilang... benar.
Tangannya gemetar. Wajahnya panas. Jantungnya dag dig dug nggak karuan.
Dan... dan dia suka Dhira.
Beneran suka.
Aruna nunduk. Dalam-dalam. Rambutnya jatuh nutupin wajahnya. Tangannya menggenggam ujung jilbabnya erat, remas-remas kayak lagi cari pegangan.
"Kay..." suaranya keluar kecil banget. Hampir berbisik. "Aku... aku nggak tau... aku bingung..."
"Bingung kenapa?"
"Bingung... kenapa... kenapa aku bisa suka sama dia..." Aruna ngelap matanya cepet. Astafirullah, jangan nangis. Jangan nangis di kantin. "Dia... dia terlalu... terlalu beda sama aku, Kay. Aku... aku cuma... cuma orang biasa. Nggak penting. Dhira itu... dia terang. Semua orang suka dia. Semua orang kenal dia. Dan aku? Aku... aku nggak ada apa-apanya..."
Kayla diem sebentar.
Terus... dia ulurkan tangan, genggam tangan Aruna yang masih gemetar.
Genggamannya hangat. Erat.
"Run, dengerin aku." Kayla nunduk lebih deket, biar mata mereka sejajar. "Nggak apa-apa. Kamu boleh suka sama siapa aja. Perasaanmu... itu nggak salah. Itu... manusiawi."
"Tapi—"
"Tapi," Kayla potong lembut. "Hati-hati, ya. Dhira itu... cowok yang banyak diincar. Kamu tau sendiri kan. Nisa aja kayak udah klaim dia punya. Belum lagi cewek-cewek lain yang... yang diem-diem naksir dia juga. Aku cuma... aku cuma nggak mau kamu sakit, Run."
Sakit.
Kata itu... nyelekit.
Karena Aruna udah sakit. Udah sakit dari sekarang. Sakit tiap kali liat Dhira. Sakit tiap kali mikirin Dhira. Sakit tiap kali sadar... dia nggak mungkin bisa deket sama cowok itu.
"Aku... aku tau, Kay..." bisik Aruna pelan. "Aku... aku nggak berharap apa-apa kok. Serius. Aku cuma... cuma... ngerasa aja..."
Kayla ngangguk pelan. "Oke. Aku ngerti." Dia lepas genggamannya, senyum lagi. "Bentar ya, Run. Gue pesen makan dulu. Lo udah pesen kan?"
"Udah..."
"Oke. Tunggu sebentar."
Kayla berdiri, jalan ke counter kantin yang rame, antri di belakang beberapa anak yang lagi pesen juga.
Dan Aruna... duduk sendirian di meja itu.
Ngeliat piring kosong di depannya. Ngeliat sendok yang masih di atas meja. Ngeliat jendela di sampingnya yang nunjukin halaman sekolah yang... cerah. Terlalu cerah buat hatinya yang gelap.
*Aku... aku nggak boleh berharap.*
*Aku harus... harus lupain perasaan ini.*
*Harus.*
Tapi...
"Heh."
Suara dari belakang.
Aruna kaget. Noleh cepet.
Dan jantungnya... langsung turun.
Nisa.
Berdiri tepat di belakang bangku Aruna, tangan dilipat di depan dada, wajahnya... wajahnya penuh benci. Mata cewek itu ngeliatin Aruna dari atas sampai bawah, kayak ngeliatin sampah.
"L-lo..." Aruna refleks berdiri, mundur selangkah. "Nisa... ada apa..."
"Lo cewek kaku." Nisa maju selangkah. Suaranya pelan tapi... tajam. Nyelekit. "Lo gak pantas ya jadi pacarnya Dhira."
Deg.
Pacar... Dhira?
"A-aku... aku bukan—"
"Dhira deket sama lo cuma gara-gara tugas kelompok. Secara... dia suka sama gue." Nisa senyum. Senyum sinis yang bikin Aruna pengen mundur lebih jauh. "Jadi lo... awas ya. Lo berani macem-macem sama gue—"
"Macem-macem apa lo, tobrut?"
Suara lain. Keras. Tegas.
Nisa langsung diem. Berbalik cepet.
Kayla.
Berdiri di belakang Nisa dengan nampan berisi nasi uduk di tangan, tapi tatapannya... killer. Matanya melotot, alisnya naik sebelah, bibirnya nyengir—tapi bukan senyum ramah. Senyum... ngancam.
"Kay—" Nisa mundur dikit.
"Awas aja lo berani macem-macem, gue hajar lo." Kayla maju selangkah, masih pegang nampan tapi tubuhnya kayak siap... siap berantem. "Lo yang gak pantas, anjing. Dhira mana mungkin suka cewek yang bedakan nya tebel kayak emak-emak negara Konoha. Lo cocoknya sama om-om supir angkot."
Aruna nganga. Nggak percaya. Kayla... Kayla ngomong gitu?
Beberapa anak di meja sebelah mulai nengok. Bisik-bisik. Ngeliat drama ini dengan mata berbinar—kayak nonton sinetron langsung.
Nisa... wajahnya merah. Marah. Tapi... matanya... takut.
Semua orang tau. Kayla bukan gadis biasa. Kayla terkenal... keras. Barbar. Kalau udah marah, dia nggak peduli siapa lawannya. Pernah ada cerita waktu SMP, Kayla hajar cowok kelas sembilan yang ngeledek Aruna sampai cowok itu nangis minta maaf.
"A-awas... urusan kita belum selesai..." gumam Nisa pelan, suaranya gemetar dikit. Terus dia berbalik, jalan cepet keluar kantin.
Dan Kayla... Mengacungkan jari tengah ke arah punggung Nisa yang menjauh.
"Anjing kampung. Gonggong doang. Giliran dilawan ketakutan kayak kucing." Kayla nyodorin jari tengah lebih tinggi. Beberapa anak di kantin ketawa kecil. "Fuckk..."
Aruna... masih diem. Masih shocked. Masih... nggak percaya.
Kayla berbalik, duduk lagi di depan Aruna dengan santai, naruh nampannya di meja, ambil sendok, mulai makan nasi uduknya kayak... kayak nggak ada apa-apa.
"Kay..." Aruna duduk pelan, tangannya masih gemetar. "Kamu... kamu ngomong gitu ke Nisa..."
"Emang kenapa? Dia yang mulai duluan." Kayla ngunyah nasi uduknya, terus nengok Aruna. "Run, dengerin ya. Lo itu temen gue. Sahabat gue. Dan gue nggak bakal diem aja kalau ada yang ganggu lo. Apapun itu."
Aruna... matanya panas lagi. Tapi kali ini bukan sedih. Kali ini... haru.
"Makasih, Kay..." bisiknya pelan.
"Sama-sama." Kayla senyum tulus sekarang. Bukan senyum barbar tadi. Senyum yang... hangat. "Lagian, Nisa itu emang nyebelin. Gue udah pengen hajar dia dari dulu. Untung ada kesempatan."
Aruna ketawa kecil. Ketawa pertama hari ini. Meskipun masih ada air mata di pelupuk matanya.
Kayla lanjut makan, tapi sesekali ngelirik Aruna. "Run, gue serius. Lo nggak usah takut sama Nisa. Atau siapapun. Lo... lo itu lebih baik dari yang lo kira. Dan kalau lo suka sama Dhira... ya udah. Rasain aja. Jangan ditahan-tahan. Perasaan itu... kalau ditahan, malah makin sakit."
Aruna diem.
Ngeliat nasinya yang udah dateng tadi—tapi dia lupa kapan datengnya—terus main-main sendok lagi.
"Tapi Kay..." suaranya pelan. "Aku... aku nggak seharusnya berharap kan? Jelas... jelas ini berbeda. Aku dan Dhira itu... kayak... kayak air dan minyak. Nggak bisa nyatu."
Kayla berhenti ngunyah. Ngeliat Aruna lama. Terus... napas panjang.
"Run, gue nggak bisa bilang lo salah atau bener. Cuma..." Kayla nunduk dikit. "Hati lo... itu bukan musuh. Jangan dilawan terus. Kadang... kadang kita emang harus ngerasain dulu. Sakit dulu. Baru bisa move on."
Move on.
Kata yang... jauh banget rasanya.
Aruna ngangguk pelan. "Iya... aku... aku ngerti..."
Tapi dalam hati...
Dia bilang lain.
*Aku nggak bisa move on, Kay.*
*Karena... karena aku udah terlalu dalam.*
*Udah terlalu... jatuh.*
---
Siang itu, pulang sekolah, Aruna jalan sendirian lagi.
Kayla ada les lagi—kayaknya cewek itu lesnya banyak banget—jadi Aruna jalan kaki ke rumah lewat jalanan yang biasa. Jalanan yang... yang kemarin dia jalan bareng Dhira.
Langit cerah. Nggak hujan. Nggak mendung.
Tapi hati Aruna... gelap.
Dia inget kata-kata Nisa. "Dhira deket sama lo cuma gara-gara tugas kelompok."
Apa... apa itu bener?
Apa Dhira emang cuma... cuma baik karena tugas? Cuma karena terpaksa?
Aruna nggak tau.
Dan itu... itu yang bikin makin sakit.
Sampai di rumah, Arya belum pulang lagi. Aruna masuk kamar, ganti baju, terus rebahan di kasur.
Jurnalnya dia ambil dari tas.
Buka halaman baru.
Pulpen di tangan.
Tapi... dia nggak nulis apa-apa.
Cuma... natap halaman kosong itu.
Lama.
Sampai matanya capek.
Sampai dadanya makin sesak.
Dan akhirnya... dia tutup jurnalnya.
Peluk jurnal itu erat di dada.
Tutup mata.
Dan bisik pelan:
"Ya Allah... hati ini... nggak bisa dibohongin."
"Meskipun aku tau... ini salah."
"Meskipun aku tau... ini nggak mungkin."
"Tapi... aku tetep... tetep suka dia."
"Gimana... gimana caranya berhenti?"
Tapi nggak ada jawaban.
Cuma... sunyi.
Sunyi yang nyesek.
Sunyi yang... bikin Aruna ngerasa...
Sendiri.
Lebih sendiri dari sebelumnya.