Tiga tahun Nadira mencintai Raka, setia menunggu pernikahan meski selalu ditolak dengan alasan "belum siap" bahkan saat ia hamil delapan bulan.
Hingga Nadira mendengar pengakuan Raka: hubungan mereka hanya permainan. Ia tak pernah serius, hanya menginginkan tubuhnya.
Saat Raka mengejar untuk menjelaskan, kecelakaan menghantam. Nadira koma, bayi mereka tak sempat lahir.
Di hadapan tubuh Nadira yang tak berdaya, Raka akhirnya mengerti... ia benar-benar mencintainya.
Tapi penyesalan selalu datang terlambat. Cinta yang disia-siakan mungkin tak akan terbangun lagi, meski orang yang dicintai masih bernapas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda SB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ingatan yang Kembali
Raka berdiri di ambang pintu dengan tubuh yang membeku total. Otaknya mencoba memproses apa yang baru saja ia dengar, kata-kata yang keluar dari bibir Nadira.
"Raka."
Bukan "Om".
Tapi Raka.
Namanya. Nama aslinya.
Apakah itu berarti...?
Raka tidak bisa berpikir lebih jauh. Kakinya bergerak dengan sendirinya, melangkah cepat menuju ranjang, mendekat pada Nadira dengan napas yang tersengal.
"Dira... Kamu... kamu ingat?" tanya Raka dengan suara bergetar, suara penuh harap yang hampir tidak percaya.
Nadira menatap Raka dengan tatapan yang masih sayu, tapi ada sesuatu di matanya... sesuatu yang berbeda dari seminggu terakhir. Ada kesadaran di sana. Ada... kenalan.
"Aku... aku di mana?" tanya Nadira dengan suara lemah, matanya menyapu ruangan dengan bingung.
Raka hampir menangis mendengar pertanyaan itu, pertanyaan yang normal, pertanyaan orang dewasa, bukan pertanyaan anak kecil.
"Kamu di rumah sakit, Dira. Kamu jatuh dari pohon. Tapi kamu..."
Tiba-tiba Nadira meringis, wajahnya memucat, tangannya langsung terangkat memegang kepalanya yang diperban.
"Ahhh!" erangnya dengan suara yang penuh kesakitan. "Sakit... kepalaku sakit sekali..."
Mama Nita yang berdiri di sudut ruangan langsung panik.
"Nadira! Raka, dia kesakitan!" teriak Mama Nita sambil berlari ke arah pintu. "Suster! Dokter! Tolong!"
Raka memegang bahu Nadira dengan lembut, mencoba menenangkan. "Dira, bertahanlah. Dokter akan segera datang. Kumohon bertahanlah..."
Nadira terus meringis, matanya terpejam erat, napasnya memburu. Tangannya mencengkeram kepala dengan kuat, seperti ada sesuatu yang merobek dari dalam.
"Sakit... Raka, sakit..." erangnya dengan suara yang semakin lemah.
Beberapa detik kemudian, pintu terbuka dengan cepat. Dokter Andi masuk bersama dua perawat dengan langkah cepat.
"Apa yang terjadi?" tanya dokter sambil langsung memeriksa Nadira.
"Dia baru sadar, lalu tiba-tiba bilang kepalanya sakit," jawab Raka dengan nada panik.
Dokter memeriksa pupil Nadira dengan senter kecil, memeriksa perban di kepalanya, lalu menatap monitor.
"Bapak dan Ibu, tolong keluar sebentar. Biarkan kami periksa pasien dulu," ucap dokter dengan nada tegas tapi tenang.
"Tapi..."
"Pak, ini untuk kebaikan pasien. Tolong keluar sekarang."
Raka melirik Nadira yang masih meringis kesakitan, hatinya remuk melihat wanitanya itu menderita. Tapi ia tahu ia harus percaya pada dokter.
Dengan berat hati, ia melangkah keluar dari ruangan. Mama Nita mengikuti di belakang dengan wajah pucat.
Pintu tertutup.
Raka berdiri di luar dengan tubuh yang gemetar. Tangannya terkepal erat di sisi tubuhnya, matanya tidak lepas dari pintu yang tertutup itu.
Mama Nita berdiri di sampingnya, bibirnya bergerak pelan... berdoa.
"Semoga Nadira baik-baik saja," bisik Mama Nita dengan suara gemetar. "Ya Allah, lindungi dia..."
Raka tidak menjawab. Ia hanya terus menatap pintu itu, menunggu dengan harap-harap cemas.
Sepuluh menit yang terasa seperti satu jam akhirnya berlalu.
Pintu terbuka. Dokter Andi keluar dengan ekspresi yang... tersenyum tipis.
Raka langsung mendekat. "Dok, bagaimana?"
Dokter Andi menatap Raka dengan tatapan yang penuh empati... dan sedikit gembira.
"Kabar baik, Pak," ucap dokter sambil tersenyum. "Ingatan istri Bapak sudah pulih."
Kata-kata itu jatuh seperti berkah dari langit.
Raka merasakan lututnya hampir lemas. Ia tidak tahu harus tertawa atau menangis.
"Benaran, Dok?" tanyanya dengan suara bergetar.
"Ya. Gegar otak yang dialami pasien ternyata memicu pemulihan memori. Ini kasus yang jarang terjadi, tapi bukan tidak mungkin. Ingatan pasien sudah kembali sepenuhnya. Dia sudah bisa mengingat siapa dirinya, siapa Bapak, dan semua kejadian sebelum kecelakaan pertama."
Raka tidak bisa menahan air matanya lagi. Ia menangis dengan tangisan yang penuh lega, penuh syukur.
"Alhamdulillah... Alhamdulillah..." bisiknya sambil mengusap wajahnya yang basah.
Mama Nita di sampingnya juga menangis sambil mengucap syukur berkali-kali.
"Bapak bisa masuk sekarang. Tapi tolong jangan buat pasien terlalu lelah. Dia masih butuh istirahat," ucap dokter sebelum pergi.
Raka mengangguk cepat, lalu langsung membuka pintu dan masuk ke dalam.
Nadira duduk setengah berbaring di ranjang dengan bantal di belakang punggungnya. Wajahnya masih pucat, tapi matanya... matanya sudah berbeda. Tidak lagi kosong. Tidak lagi seperti anak kecil.
Itu mata Nadira yang ia kenal.. mata istrinya.
"Dira..." bisik Raka sambil melangkah cepat mendekat.
Nadira menatapnya, menatap dengan tatapan yang... datar. Tidak ada senyuman. Tidak ada kehangatan seperti dulu.
Tapi setidaknya, dia ingat.
Raka berhenti di samping ranjang, lalu tiba-tiba berlutut dan memeluk Nadira, memeluk dengan erat, dengan seluruh perasaan yang sudah ia tahan selama ini.
"Aku merindukanmu..." isaknya dengan suara serak. "Aku sangat merindukanmu, Sayang... Kamu tidak tahu betapa aku merindukanmu..."
Tapi Nadira tidak membalas pelukan itu.
Tubuhnya kaku. Tangannya diam di sisi tubuhnya, tidak memeluk balik, tidak mengusap punggung Raka seperti dulu.
Lalu perlahan, tangan Nadira terangkat... dan mendorong bahu Raka menjauh.
"Lepas," ucap Nadira dengan suara datar, dingin.
Raka tersentak. Ia melepaskan pelukannya, menatap Nadira dengan tatapan bingung dan... takut.
"Dira...?"
Nadira menatapnya dengan tatapan yang sangat dingin, tatapan yang tidak pernah ia berikan pada Raka sebelumnya.
"Pergi," ucapnya singkat. "Aku tidak mau lihat kamu."
Kata-kata itu jatuh seperti petir di kepala Raka.
Ia menatap Nadira dengan tatapan tidak percaya. "Sayang, aku..."
"Aku bilang pergi!" Nadira meninggikan suaranya sedikit, suara yang masih lemah tapi penuh penolakan.
Raka merasakan dadanya remuk. Ia menggeleng pelan... menggeleng dengan air mata yang mulai jatuh lagi.
"Dira, kumohon dengarkan aku..." Raka berlutut di samping ranjang... benar-benar berlutut dengan lutut menyentuh lantai dingin rumah sakit. "Maafkan aku. Maafkan aku atas semua kesalahan yang sudah aku lakukan. Aku tahu aku jahat. Aku tahu aku menyakitimu. Tapi kumohon... kumohon beri aku kesempatan untuk menebus semuanya..."
Nadira tidak menatapnya. Ia memutar wajahnya ke arah jendela, membuang muka, tidak mau melihat wajah Raka.
"Aku tidak mau dengar," ucapnya dengan nada datar.
Raka terus berlutut di sana... tangannya terulur ingin meraih tangan Nadira, tapi tidak berani menyentuh.
"Sayang, aku menyesal. Aku sangat menyesal. Aku mencintaimu. Aku mencintaimu dengan sepenuh hatiku. Kumohon... kumohon maafkan aku..."
Nadira tetap diam, tetap membuang muka.
Lalu tiba-tiba, tangannya bergerak... menyentuh perutnya yang rata.
Matanya melebar. Napasnya tertahan.
"Kenapa... kenapa perutku rata?" tanyanya dengan suara gemetar. Ia menoleh menatap Raka dengan tatapan yang penuh ketakutan. "Dimana anakku? Dimana bayiku?"
Raka merasakan dunianya runtuh... lagi.
Pertanyaan yang paling ia takutkan. Pertanyaan yang harus ia jawab dengan kenyataan yang paling menyakitkan.
"Dira..." suaranya bergetar hebat. "Anak kita... dia..."
"Dimana dia?" Nadira hampir berteriak, matanya mulai berkaca-kaca. "Raka, dimana anak kita?"
Raka menutup matanya erat, air matanya jatuh deras.
"Dia... dia tidak bisa diselamatkan," bisiknya dengan suara yang sangat pelan... suara yang penuh kepedihan. "Saat kecelakaan itu... anak kita... dia meninggal, Dira. Maafkan aku... maafkan aku..."
Keheningan.
Lalu...
"TIDAAAAK!"
Nadira menangis histeris, memilukan, hancur total.
"TIDAK! TIDAK! TIDAK!" teriaknya sambil memukul kasur dengan kedua tangannya. "ANAKKU! ANAKKU!"
Raka tidak tahan melihatnya. Ia memeluk Nadira dengan erat, memeluk meski ia tahu Nadira tidak menginginkannya.
"Maafkan aku, Dira... maafkan aku..." isaknya di bahu Nadira.
Tapi Nadira memberontak dengan keras. Tangannya memukul dada Raka dengan sekuat tenaganya... pukulan demi pukulan yang penuh kemarahan, penuh kesedihan.
"LEPASKAN AKU!" teriaknya sambil terus memukul. "KAMU YANG BUNUH ANAKKU! KAMU!"
BUK! BUK! BUK!
Pukulan-pukulan itu mendarat di dada Raka, ada yang lemah, ada yang cukup keras. Tapi Raka tidak bergerak. Ia hanya diam menerima semua pukulan itu, menerima semua kemarahan Nadira.
"KAMU JAHAT! KAMU PEMBUNUH!" teriak Nadira sambil terus memukul, air matanya mengalir deras. "AKU BENCI KAMU! AKU BENCI KAMU!"
Raka terus memeluknya... terus menerima pukulan demi pukulan.
"Maafkan aku... maafkan aku, Dira..." isaknya terus-menerus. "Aku tahu aku salah... aku tahu ini semua salahku... maafkan aku..."
Nadira terus memukul, terus menangis sampai tenaganya mulai habis. Pukulannya semakin lemah, semakin lemah, hingga akhirnya tangannya jatuh lemas.
"Aku benci kamu..." bisiknya dengan suara yang sangat lemah, suara yang hampir tidak terdengar. "Aku benci kamu, Raka..."
Dan tepat saat itu...
Tubuh Nadira limbung.
Matanya menutup. Tubuhnya jatuh lemas di pelukan Raka.
"NADIRA!" Raka berteriak panik. "NADIRA, BANGUN! KUMOHON!"
Ia memeriksa napas Nadira, masih bernapas, tapi sangat lemah.
"SUSTER! DOKTER!" teriaknya sekeras yang ia bisa.
Pintu langsung terbuka. Perawat dan dokter masuk dengan cepat.
"Pasien pingsan!" teriak salah satu perawat.
"Periksa tekanan darahnya! Cepat!"
Raka dipaksa mundur, dipaksa melepaskan Nadira. Ia berdiri di sudah ruangan dengan tubuh gemetar, menatap Nadira yang kembali tidak sadarkan diri.
"Aku benci kamu."
Kata-kata terakhir Nadira terus bergema di kepalanya.
Dan Raka jatuh berlutut di lantai, menangis dengan tangisan yang sangat dalam, sangat menyakitkan.
Karena ia tahu... ia tahu bahwa meski ingatan Nadira sudah kembali, tapi yang kembali bukanlah cinta Nadira.
Yang kembali adalah kebencian.
Kebencian yang ia tanam sendiri dengan kesalahan-kesalahannya.