Andien, gadis cantik itu tidak menyangka kedatangannya di satu desa untuk menghadiri acara pernikahan sahabatnya, membuat dirinya dibawa mahluk gaib ke suatu tempat yang tidak dia kenal.
Andien dipaksa untuk menjadi pengantin wanita di tempat yang tidak dia kenal itu..
Akankah Andien bisa selamat atau dia akan menjadi pengantin wanita di alam gaib dan tidak lagi kembali pada orang tua nya?
yukk guys ikuti kisah Andien dan jika dia selamat siapa penolong nya.?
note: ini cerita sekuel Novel Terikat Syarat Jailangkung
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arias Binerkah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 33.
“Windy..” ucap Pungki sambil membentangkan kain popok ajaib nya. Pungki siap siap akan menaruh kain popok itu pada kepala nya.. Akan tetapi di saat kain popok itu masih di depan mukanya.. Pungki terkaget kaget karena dia mendengar suara Windy dan nafas Windy yang ngos ngos an..
“Ada apa Kakak Pung Pung .. Hhhh.. hhh... hhhhh.. “ suara imut Windy yang berdiri di depan Pungki.
Pungki menurunkan lagi kain popoknya dia melihat Windy yang berdiri di depannya dan wajah imut itu mendongak menatap wajah Kakak Pung Pung nya.
Sesaat Pungki mengernyitkan keningnya saat melihat tubuh mungil Windy basah kuyup, rambut gondrong nya basah, bulu bulu putih dan halus di tubuh Windy pun juga tampak basah.. hingga kulit Windy yang sama dengan kulit anak anak pada umumnya samar samar terlihat di balik bulu bulu halus yang basah. Popok yang menempel di tubuh bagian bawah Windy pun juga tampak basah.
“Hmmm dari bermain di mana kamu?” Ucap Pungki sambil melangkah dengan cepat menuju ke walk in closet untuk mengambil handuk.
“Dari sini saja Kakak, aku tadi renang di kolam renang di tempat ini.” Ucap Windy sambil berjalan mengikuti Pungki.
“Tubuh kamu basah, tidak ada pengering rambut di sini.” Ucap Pungki lalu mengeringkan rambut Windy dengan handuk, Pungki menggosok gosok dengan penuh kasih sayang.
“Kakak baik sekali, tetapi nanti bisa kering sendiri kok, aku biasa renang di danau dan rambut ku akan kering sendiri. Kakak ada perlu apa panggil aku.” Ucap Windy yang berdiri tenang membiarkan Kakak Pung Pung nya mengeringkan rambut dan tubuhnya.
“Kita akan berangkat kalau tidak aku panggil nanti kamu bingung mencari dan tersesat lagi.” Ucap Pungki sambil terus mengeringkan tubuh Windy.
“Ya sudah ayo kita berangkat.” Ucap Windy lalu dia pun meloncat dan minta gendong Pungki.
Pungki pun melangkah keluar dari kamar, dia menggendong ransel di punggung nya dan menggendong Windy di depan. Tidak memedulikan jaketnya ikut basah karena bokong Windy masih basah. Pungki ingin cepat cepat ke ruang lobby agar keluarga Andien tidak menunggu nya.
Saat di ruang lobby tampak Rico sudah duduk di dekat Syahrul dan Syahrul sedang memegang hand phone terlihat sibuk mengusap usap layar hand phone miliknya..
“Itu sudah datang Mas, tidak usah ditelpon.” Ucap Rico sambil sekilas saja menatap Pungki.
“Untung kamu sudah datang Pung, bentar lagi Papa dan Mamanya Andien sudah mau ke sini. Mereka berdua sedang menemui Pak Hasto dan Bu Hasto.” Ucap Syahrul lalu memasukkan lagi hand phone ke dalam saku jaketnya.
Dan sesaat kemudian Syahrul kaget saat melihat jaket Pungki yang terlihat basah..
“Jaket kamu kok basah Pung?” tanya Syahrul sambil menatap Pungki yang kini mulai duduk dan memangku Windy tersayang.
“Ketumpahan air minum tadi Mas.” Jawab Pungki bohong karena tidak mungkin dia menjawab karena menggendong Windy yang bokongnya basah di saat ada Rico di dekat nya pasti akan ditertawakan oleh Rico dibilang gila.
Namun dia sudah bohong pun Rico masih saja tertawa terbahak bahak...
“Ha...ha... ha... belum apa apa dia sudah grogi itu Mas, sampai minum saja tumpah.. Bro kalau kamu tidak punya nyali dan tidak bisa alias meragukan tidak usah ikut saja.. tidur tidur di sini juga boleh kok..” ucap Rico lalu dia tersenyum miring ke arah Pungki..
“Kakak Pung Pung sabar ya...” ucap Windy sambil mendongak dan menatap wajah Pungki.
“Iya..” Gumam Pungki di dalam hati dan dia tidak menanggapi ucapan Rico. Syahrul menatap Pungki dan Syahrul pun senang sebab Pungki tidak terbakar emosinya oleh ucapan Rico.
Sesaat tampak Papa dan Mamanya Andien sudah melangkah dan di belakang nya dua karyawan hotel menarik koper koper mereka..
“Ayo kita segera berangkat!” ucap Papanya Andien sambil terus melangkah. Tiga pemuda itu pun bangkit berdiri . Rico yang sejak tadi mengamati Pungki kembali tertawa terbahak bahak...
“Ha.. ha... ha...lihat sekarang celana nya yang basah. Sampai ngompol karena begitu takutnya ha...ha... ha... ha...” ucap Rico sambil tertawa terbahak bahak menatap celana depan Pungki yang basah karena habis memangku Windy.
Windy yang sekarang sudah digendong lagi oleh Pungki malah tertawa cekikikan..
“Hi... hi...hi...Kakak Pung Pung apa aku perlu minta gendong orang itu di kepalanya agar rambut dia basah.. tapi aku buat basah benar benar karena aku mau kencingin kepala nya... hi...hi...hi....” suara Windy di telinga Pungki.
“Tidak usah, tadi kamu bilang agar aku sabar, ya sudah kita sabar saja biarkan dia omong apa saja.” Gumam Pungki di dalam hati.
Semua orang di sekitar itu pun ikut menatap celana bagian depan Pungki yang basah.. termasuk Papanya Andien..
“Kalau kamu takut tidak usah ikut, sudah ada Mas Syahrul. Aku tidak mau berurusan dengan keluarga kamu kalau ada apa apanya dengan kamu.” Ucap Papanya Andien dengan dingin menatap ke Pungki.
“Saya akan tetap ikut Pak. Jika ada apa apanya dengan saya. Bapak tidak perlu bertanggung jawab pada keluarga saya. Ini murni karena niat saya sendiri bukan karena disuruh oleh Bapak.” Ucap Pungki dengan santun. Windy yang digendong oleh Pungki memeluk erat tubuh Pungki dan mencium pipi Pungki.
“Ingat itu ya, aku sudah memberi peringatan agar kamu tidak ikut!” ucap Papanya Andien lagi..
“Sudah Pa, ayo cepat kasihan Andien kalau kita tidak cepat cepat ke sana.” Ucap Mamanya Andien sambil menarik tangan suaminya.
Mereka semua pun segera melangkah menuju ke mobil yang sudah siap mengantar ke lokasi desa di gunung tempat kerajaan jin berada. Koper koper Papa dan Mamanya Andien sudah ditaruh di bagasi mobil. Tiga pemuda itu pun menaruh barang bawaan nya di bagasi mobil kini mereka membawa tas kecilnya dan segera masuk ke dalam mobil..
Windy pun tidak ketinggalan dia ikut masuk ke dalam mobil dan duduk manis di dalam pangkuan Pungki..
Mobil pun berjalan menuju ke lokasi tujuan.. semua yang ada di dalam mobil tampak diam sibuk dengan pikiran nya masing masing. Kecuali Windy sudah tidur manis di pangkuan Kakak Pung Pung nya.
Pak Sopir pun juga ikut diam karena takut jika bicara malah mengganggu, sebab dia tahu penumpang nya kali ini sedang mempunyai masalah berat.
Semakin lama jalan yang dilalui oleh mobil pun semakin menanjak. Setelah perjalanan kurang lebih dua jam, Pak Sopir mengurangi laju kecepatan mobilnya.
“Kita sudah memasuki desa lokasi danau itu. Dan saya hanya mengantar sampai di desa ini...” ucap Pak Sopir di saat mobil sudah belok kiri memasuki jalan sebuah desa. Jalan masih beraspal akan tetapi sudah lebih sempit dari jalan yang tadi dilalui. Di kanan kiri jalan itu pun banyak pohon pohon. Jalan pun tampak semakin menanjak dan berkelok kelok.
“Hmmm.” Gumam Papanya Andien karena mereka semua memang sudah tahu tahu sampai ke danau tempat kerajaan jin memang diantar oleh mobil lain.
Namun tiba tiba, Syahrul memegangi kepalanya. Pungki yang duduk di samping Syahrul pun tampak khawatir..
“Mas Syahrul kenapa?” tanya Pungki sambil menoleh ke arah Syahrul..
“Entahlah tiba tiba kepalaku pusing.” Jawab Syahrul sambil memijit mijit kepalanya..
tok
tok
tok
😁
genting ini...
kasihan andinnn