Penantian selama dua tahun gadis itu akhirnya terwujud. Dia berhasil menikah dengan sang pujaan hati.
Tapi pernikahan mereka harus diuji oleh sesuatu yang sangat krusial. Bukan orang ketiga, bukan juga soal financial.
" Laaah kok nggak bisa berdiri sih kak?" kata si gadis.
" Ya mana ku tahu kalau dia lemes gitu," jawab si pria kebingungan juga.
Malam pertama yang diharapkan terpaksa ditunda atau lebih tepatnya gagal karena sang pria tidak mampu membuat miliknya bertugas sebagaimana mestinya.
" Bagaimana cara membuat itu berdiri," pikir si gadis.
" Apa aku harus melepaskannya karena ketidakmampuanku?" batin si pria.
Bagaimana dua anak manusia ini mengarungi pernikahannya? Akankah mereka berhasil mengatasi ujian berat itu?
Atau menyerah dan memilih saling melepaskan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Suamiku Impoten 33
Ciuman yang awalnya memang sudah menggebu itu semakin intens. Tangan Akhza menari indah di setiap sudut tubuh Airin. Ia sudah membawa Airin menuju ke tempat tidur. Membaringkan sang istri dengan lembut namun tidak melepas lumattan yang seperti air ditengah dahaga panjang.
" B-by ..." panggil Airin. Dia merasa seluruh tubuhnya terbakar. Panas namun begitu menyenangkan. Setiap sentuhan tangan Akhza membuat Airin merasa nyaman. Apalagi saat bibir suaminya itu menciumi setiap inci kulit tubuhnya, ada sensasi tersendiri.
" Ai, mungkin ini nggak seperti yang kamu harapkan, tapi a~"
" Sttt, nggak perlu banyak ngomong untuk saat ini. Ayo lakukan sesuai dengan naluri."
Airin membalikkan tubuh Akhza. Ia melepaskan kain yang tersisa di tubuhnya sehingga dirinya polos tanpa pakaian. Akhza sedikit terkejut melihat tubuh Airin yang tidak berbaju itu, terlebih Airin saat ini juga melepaskan pakaian miliknya.
Akhza kesusahan menelan saliva nya ketika bagian tubuh Airin berbentuk bulatan itu menggantung indah di depan matanya. Dan dorongan hasratnya meminta dirinya untuk meraup secara bergantian.
" Aaaah, by...."
Airin membuka mulutnya, merasakan sesuatu yang mulai menggelora dalam tubuh. Pun dengan Akhza. Ia lalu membalikkan tubuh Airin dan mengungkungnya di bawahnya.
Dengan membaca doa terlebih dulu dan memejamkan mata, Akhza meyakinkan dirinya bahwa dia bisa. Dia mencintai istrinya dan sungguh-sungguh ingin membahagiakannya. Bukan hanya itu, Akhza juga menanamkan dalam hatinya bahwa ia ingin membina keluarga bersama Airin dengan memiliki anak.
" Semoga Engkau mengabulkan doa hamba-Mu ini," ucap Akhza dalam hati. Ia lalu kembali meraup bibir sang istri. Ciuman dari bibir itu terus turun ke bawah, hasrat Akhza semakin menggebu. Tubuhnya terasa panas dan ya, benda miliknya berdiri sempurna.
" By ... ," panggil Airin. Dia jelas bisa melihat milik sang suami. Beberapa perasaan bercampur aduk. Antara senang dan juga khawatir. Bukan dirinya yang ia khawatirkan, melainkan sang suami. Ia takut jika tidak sesuai dnegan ekspektasi maka Akhza akan kembali berkecil hati.
" Ai, kami siap sayang? Aku akan mencobanya."
Airin hanya mengangguk, ia mengambil nafasnya dalam-dalam dan membuangnya perlahan. Ketegangannya bukan mengenai penyatuan, tapi terhadap sang suami. Dal.a hati Airin berdoa, ia sungguh memohon agar semuanya sesuai yang diharapkan.
" Aaaah, By ... ini ... ." Airin sedikit terkejut saat sesuatu memasuki tubuh bagian bawahnya. Ia jelas bisa merasakan bahwa benda itu besar. Rasa sakit membuat Airi mencengkeram punggung Akhza.
" Apa sakit? Jika iya aku akan menariknya lagi. Aku nggak mau kamu kesakitan Ai."
" No! Jangan! Mari lanjutkan, jujur aku juga nungguin ini."
Awalnya Akhza ragu, apalagi saat melihat Airin yang seperti tidak nyaman. Tapi ucapan Airin membuatnya merasa yakin untuk melanjutkan.
" Aku lanjutkan."
" Ya ... Aaah By ... ."
Akhza menghentakkan tubuhnya sehingga miliknya tenggelam sempurna di tubuh Airin. Secara perlahan ia mulai bergerak, dan setelah itu semakin cepat. Airin yang awalnya merasakan sakit kini sudah tidak lagi. Rasa tidak nyama di awal itu berubah menjadi nyaman dan bisa dikatakan menyenangkan.
Penyatuan mereka yang tidak pernah diduga sebelumnya kini akhirnya terjadi. Sesuatu yang sudah lama ditunggu, nikmat surga dunia yang halal bagi mereka kini bisa dirasakan keduanya.
" Ai, aku mencintaimu sungguh. Arghhhh!!"
Pelepasan yang sama-sama dilakukan keduanya menjadi tanda puncak acara siang itu. Akhza menitikkan air matanya. Ia bersyukur bahwa dirinya bisa melakukan tugasnya sebagai suami sekaligus memberikan nafkah batin terhadap istrinya.
" Terimakasih By."
" Aku yang seharusnya terimakasih. Kamu mau nungguin aku. Kamu mau nerima aku yang masih banyak kurangnya. Dan maaf jika ini telat."
Greb
Akhza memeluk tubuh Airin. Keduanya sama-sama mengucapkan syukur atas apa yang baru saja mereka alami.
Siang itu menjadi saksi, bahwa kekuatan cinta Airin mampu membuatnya menunggu. Dan kekuatan cinta Akhza mampu membuat ketidakmampuannya hilang.
TBC
terimakasih untuk tulisan indah mu thor