Bagi Arvin, Karin bukan sekadar tante dari sahabatnya. Karin adalah tempatnya pulang, tawa yang selalu ia cari, dan masa depan yang ingin ia tuju. Di saat kedekatan mereka mulai mencairkan dinding perbedaan usia, sebuah kencan tak sengaja justru membawa kembali bayang-bayang masa lalu Karin yang belum usai.
Ketika masa lalu menuntut tempatnya kembali, akankah Karin bertahan pada zona nyamannya, atau berani melangkah demi rasa yang lebih dari sekadar tante?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agatha soul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rating 18+
Karin menghentikan langkahnya di ambang pintu, berbalik sambil berkacak pinggang menatap cowok jangkung di depannya itu.
"Harusnya kamu tuh bilang-bilang dulu lewat chat, Arvin. Kalau misal Tante lagi gak di rumah atau lagi keluar gimana? Kan kasihan kamu udah jauh-jauh ke sini," omel Karin dengan nada keibuan yang gemas.
Arvin melepas jaket denimnya dengan santai, menyisakan kaos hitam polos. Dia menatap langsung ke mata Karin. "Ya... kalau Tante lagi gak ada, bakal aku tungguin di depan sampai Tante pulang," jawab Arvin tenang tanpa beban.
Karin seketika terbungkam. Jawaban telak dan tatapan lurus dari remaja 17 tahun itu entah kenapa selalu berhasil membuat pertahanan Karin goyah dan mendadak salah tingkah. Karin berdeham canggung, lalu memutar badannya masuk ke dalam.
"Dasar keras kepala. Ya udah, duduk dulu. Tante ambilkan minum," ujar Karin menyembunyikan senyumnya.
Setelah memberikan segelas sirup dingin untuk Arvin, Karin kembali ke meja kerjanya yang berada di sudut ruang tengah untuk mengambil laptopnya. Di sana, menampilkan ratusan baris naskah novel yang sedang buntu.
Arvin ikut berdiri dan berjalan mendekat kemudian duduk di samping Karin, memperhatikan layar laptop. "Lagi pusing ya, Tan?"
Karin mengacak rambutnya yang dicepol frustrasi. "Iya nih, Vin! Tante lagi mentok banget di bab konflik. Karakter cowok utamanya harusnya lagi ngegombalin si cewek setelah mereka berantem, tapi Tante bingung kalimat yang pas gimana biar gak kelihatan alay."
Arvin tersenyum tipis. "Emang karakter cowoknya kayak gimana?"
"Ya... kayak yang Tante bilang waktu itu. Karakternya tenang, gak banyak omong, tapi sekalinya ngomong langsung bikin baper. Mirip-mirip kamulah," jelas Karin polos tanpa sadar.
Arvin memajukan tubuhnya, menopang dagunya dengan satu tangan sambil menatap samping wajah Karin yang sedang serius menatap layar. "Kalau karakternya mirip gue... kenapa Tante gak coba tanya langsung ke gue kalimat apa yang bakal gue omongin?"
Karin menoleh, membuat hidung mereka hampir bersentuhan karena jarak yang dekat. "Memangnya kalau posisi kamu lagi kayak di novel ini, kamu bakal ngomong apa ke cewek itu?"
Arvin menahan pandangan Karin, suaranya merendah dan berubah menjadi sangat dalam, seolah dia sedang tidak berakting. "Gue bakal bilang... 'Gue gak peduli seberapa sering kita berantem, yang penting lo jangan pernah mikir buat pergi. Karena lo satu-satunya alasan gue mau bertahan.'"
Deg.
Karin terpaku di tempatnya. Ruangan itu mendadak terasa senyap, hanya menyisakan deru napas mereka berdua. Karin bisa melihat ketulusan yang teramat dalam di mata hitam Arvin, membuat jantungnya berdegup tidak karuan.
Sadar suasananya menjadi terlalu intim, Karin buru-buru memalingkan wajah dan mengetik kalimat Arvin ke laptopnya dengan jari yang sedikit gemetar. "O-oke... kalimatnya bagus. Tante pakai ya," ucap Karin gugup.
Sore harinya, setelah naskah Karin selesai beberapa halaman berkat bantuan Arvin, Karin meregangkan otot-otot lehernya yang kaku. "Aduh, pegel banget. Nonton film yuk, Vin?"
"Boleh, Tan. Nonton apa?" tanya Arvin sambil menyalakan TV pintar di ruang tengah.
Mereka akhirnya memilih menonton film horor yang sedang tren. Mereka kembali duduk lesehan di atas karpet bulu yang tebal, dengan setoples berondong jagung di antara mereka. Di luar rumah, langit perlahan mulai menggelap, menciptakan suasana temaram di dalam ruang tengah karena Karin sengaja mematikan lampu utama dan hanya menyalakan lampu sudut yang kekuningan.
Di tengah-tengah film, saat adegan menegangkan muncul dengan suara musik yang menggelegar, Karin yang dasarnya penakut, bergidik dan memegang lengan kekar Arvin yang berada di sampingnya.
Arvin yang menyadari ketakutan Karin diam-diam tersenyum. Alih-alih melepaskannya, Arvin justru menggeser posisi duduknya menjadi lebih rapat, hingga lengan dan bahu mereka menempel sepenuhnya.
"Kalau takut, merem aja, Tan," bisik Arvin tepat di samping telinga Karin, membuat bulu kuduk Karin meremang, bukan karena hantu di film, melainkan karena kedekatan mereka.
Karin tidak menolak. Dia malah semakin mengeratkan pegangannya pada lengan Arvin, menenggelamkan sebagian wajahnya di balik bahu tegap cowok itu sepanjang sisa film. Arvin yang mendapatkan keuntungan itu hanya bisa menahan napas dengan jantung yang berdebar gila, namun dia merasa sangat bahagia karena bisa menjadi pelindung untuk Karin.
Arvin melirik Karin yang masih memegangi lengannya dengan erat, lalu terkekeh pelan di tengah kegelapan ruangan.
"Tante... kalau emang penakut, harusnya jangan milih nonton film horor," ucap Arvin meledek.
Karin mendelik sebal, namun tidak melepaskan cengkeramannya. "Tante itu sebenarnya berani nonton horor, tapi kalau ada temennya. Kalau sendiri baru gak berani."
Arvin hanya menggeleng-gelengkan kepala mendengar pembelaan wanita di sampingnya. Mereka kembali memfokuskan pandangan ke arah layar TV besar di depan mereka. Namun, alur film horor barat yang mereka tonton tiba-tiba bergeser memanas. Di tengah ketegangan cerita, dua karakter utamanya mendadak melakukan adegan ciuman yang cukup intens dan panas.
Set!
Secara refleks, Karin langsung mengangkat tangan kanannya dan menangkupkan telapak tangannya ke depan mata Arvin, menghalangi pandangan cowok itu sepenuhnya.
"Anak kecil gak boleh lihat adegan dewasa!" seru Karin cepat, mencoba bersikap layaknya seorang tante yang melindungi keponakannya.
Arvin tersentak kaget mendapati pandangannya mendadak gelap. Bukannya malu atau menjauh, tangan kekar Arvin justru bergerak naik, memegang pergelangan tangan Karin lalu menurunkannya perlahan dari wajahnya. Arvin menoleh, menatap Karin dengan sorot mata yang menuntut.
"Apaan sih, Tan? Orang mereka cuma ciuman doang," sahut Arvin santai, tetap menggenggam tangan Karin agar tidak menutup matanya lagi.
Karin merona, lalu menunjuk ke arah sudut kanan atas layar TV dengan jari telunjuknya yang bebas. "Kamu itu belum cukup umur, Arvin! Tuh, lihat ratingnya, 18+!"
Arvin melirik sekilas ke arah logo rating di TV, lalu kembali menatap Karin dengan senyuman tipis yang terkesan menantang. "Terus kalau tahu ratingnya begitu, kenapa Tante dari awal milih nonton film ini? Lagian... tahun depan juga gue udah 18 tahun, Tan."
Bersamaan dengan kalimat itu, Arvin dengan gerakan santai namun pasti merentangkan tangan kirinya di atas sandaran sofa, tepat berada di belakang tubuh Karin. Posisi itu membuat Karin seolah-olah sedang berada di dalam dekapan longgar Arvin, mengunci jarak di antara mereka menjadi semakin intim. Aroma parfum wood maskulin milik Arvin langsung menguar lebih pekat di indra penciuman Karin.
Karin menelan ludah dengan canggung. Kesadaran bahwa posisi mereka sudah terlalu dekat.
"Iya, iya..." jawab Karin buru-buru, memutus kontak mata dan kembali melemparkan pandangannya lurus-lurus ke layar TV, berpura-pura sangat fokus pada filmnya demi menyembunyikan wajahnya yang kini sudah merah padam.
Arvin yang melihat reaksi salah tingkah Karin hanya tersenyum puas dari samping, membiarkan tangannya tetap bertahan di sana sepanjang film berputar.