Di hari anniversary mereka yang ketiga tahun, Grizla ingin menaikkan jabatan suaminya dari Manager menjadi CFO dalam diam.
Tapi malam itu, ia terpaksa mengurung niatnya karena ibu dan adiknya ikut campur di hari perayaan anniversary mereka.
Dan lebih menyakitkan lagi, mertuanya itu membawa wanita asing bersama mereka yang membuat ia tidak nyaman dan membuat ia ragu harus menyerah posisi itu.
Lama kelamaan, suaminya mulai bersikap dingin, tidak ada keharmonisan ruma tangga yang ia dambakan. Akhirnya suaminya selingkuh dengan wanita tersebut yang ternyata satu kantor dengannya, alasan selingkuhnya adalah ia menginginkan seorang anak.
Plot twist-nya adalah, perusahaan itu miliknya, yang mengangkat suaminya sebagai manager adalah dirinya melalui orang Kepercayaan yang menjadi CEO sementara di perusahaan G' Jaya.
"Hari ini buka matamu lebar-lebar, siapa yang telah mengangkat derajatmu!" - Grizla
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20
Sementara itu, di koridor luar ruang CEO, Antonio berjalan dengan langkah menghentak. Dan jemarinya meremas dasi di tangannya hingga kusut. Kemarahan membakar dadanya, bercampur dengan rasa rendah diri yang amat sangat.
Beberapa karyawan yang berpapasan dengannya langsung memalingkan muka, berbisik-bisik rahasia.
Berita tentang didepaknya Antonio dari proyek utama ternyata sudah menyebar secepat kilat melalui grup pesan singkat kantor.
"Sialan! Bajingan kau, Boni!" umpat Antonio setengah berbisik, menendang sudut dinding koridor sebelum melangkah masuk ke kubikel timnya.
Di sana, Boni sedang duduk di kursi yang biasanya ditempati Antonio, memeriksa beberapa berkas dengan kacamata bertengger di hidungnya.
Melihat kedatangan Antonio, Boni mendongak, lalu berdiri dengan sikap formal namun ada binar percaya diri di matanya.
"Ah, Pak Antonio. Sudah kembali dari ruang CEO?" tanya Boni, suaranya terdengar tenang.
"Kau puas sekarang, hah?!" bentak Antonio, tidak mempedulikan pandangan mata staf lain yang mulai mencuri dengar. "Sejak kapan kau menusukku dari belakang, Boni? Mengemis pada Nyonya G agar bisa mengambil alih posisiku?!"
Boni menghela napas, tidak terpancing emosi. "Pak Antonio, tolong kecilkan suara Anda. Ini lingkungan kerja. Saya tidak pernah mengemis. Nyonya G sendiri yang meninjau ulang draf tersebut dan melihat ada banyak kejanggalan dalam kalkulasi anggaran yang Anda buat. Saya hanya memperbaikinya atas perintah Bu Siska."
"Halah! Jangan berlagak suci!" Antonio menunjuk wajah Boni dengan telunjuk gemetar. "Kau sengaja memanfaatkan kelalaianku untuk menjatuhkanku! Ingat, Boni, kau itu cuma asisten yang kuangkat dari bawah!"
"Itu dulu, Pak," potong Boni, kini nadanya berubah tegas. "Mulai hari ini, berdasarkan surat keputusan dari Nyonya G, posisi kita berbalik. Saya yang memimpin proyek, dan Anda diposisikan untuk membantu saya di bagian operasional lapangan. Jadi, mohon kerja samanya."
Kata-kata Boni bagai gada yang menghantam telak harga diri Antonio. Wajah manajer yang baru saja lengser itu memucat, lalu berubah menjadi merah padam. "Kau..."
"Jika Anda keberatan, Nyonya G tadi sudah menyampaikan pesan kepada saya," lanjut Boni tenang sambil merapikan dokumennya. "Beliau bilang, jika Pak Antonio merasa tempat ini terlalu kecil untuk ego Anda, Anda dipersilakan mengemasi barang-barang Anda sekarang juga."
Antonio bungkam. Ancaman pemecatan itu nyata. Di kepalanya langsung terbayang tagihan kartu kredit, cicilan mobil, dan fakta bahwa ia belum memberi uang belanja untuk rumah. Mengingat rumah, ingatan Antonio kembali terlempar pada sosok istrinya.
"Grizla... di mana perempuan sialan itu? Rumah kosong berantakan, dia belum pulang dari kemarin, dan sekarang di kantor aku malah dihina seperti ini!" batin Antonio, meluapkan seluruh rasa frustrasinya kepada istrinya yang tak bersalah.
"Baik," desis Antonio dari balik giginya yang mengatup rapat. "Kau ingin aku di lapangan? Aku akan lakukan. Tapi jangan harap kau bisa tenang di kursi itu, Boni."
Tanpa menunggu jawaban, Antonio berbalik dan melangkah kasar menuju mejanya yang baru—sebuah meja kecil di sudut ruangan yang biasanya digunakan oleh anak magang.
Kembali ke dalam ruang CEO, Grizla masih menikmati teh hangat yang dituangkan oleh Siska. Pakaian mewahnya terasa begitu pas di tubuhnya, sangat kontras dengan daster lusuh yang biasa ia kenakan saat mengepel lantai rumah Antonio.
"Nyonya Grizla, apa rencana Anda selanjutnya?" tanya Siska sambil berdiri di dekat meja. "Antonio sudah menerima penurunan jabatan itu. Dia tidak berani keluar karena dia tahu dia sedang terlilit utang demi pamer gaya hidup."
Grizla meletakkan cangkir tehnya perlahan. Bunyi denting porselen terdengar begitu elegan.
"Biarkan dia merasakan bagaimana rasanya menjadi orang paling bawah, Siska. Selama ini dia selalu menganggapku sampah karena aku tidak bekerja dan hanya bergantung pada uangnya yang tak seberapa itu," ujar Grizla, matanya berkilat dingin. "Aku ingin dia tahu rasanya diperintah, dicaci, dan tidak dihargai, persis seperti apa yang dia lakukan padaku setiap hari di rumah."
"Lalu mengenai statusnya sebagai suami Anda?"
Grizla terkekeh, sebuah tawa yang mengandung luka masa lalu namun penuh dengan kekuatan baru. "Aku tidak akan menceraikannya sekarang. Itu terlalu mudah untuknya. Jika aku menceraikannya sekarang, dia hanya akan menganggapku egois karena sudah kaya. Tidak. Aku ingin dia tetap terikat denganku, memeras keringatnya untuk perusahaanku, tanpa pernah tahu bahwa bos besar yang paling dia takuti dan dia sembah di kantor ini..."
Grizla menjeda kalimatnya, lalu memakai kembali kacamata hitam besarnya, menyembunyikan tatapan predatornya.
"...adalah istri yang selalu dia injak-injak di rumah."
kuy.. yg banyak geh ...😭
yg banyak lagi to Les... nanggung bacanya..
tak kasih kopi nih.. biar terang kontestrasinya... 😂😂🤭
yg semangat upnya, tak kirim kopi..💪
jgn kelamaan grizla yg disiksa di rumah hantu itu..