Setelah tiga tahun lulus kuliah, Aira merasa hidupnya hanya sebagai beban. Di saat teman-temannya sukses dengan pekerjaannya, Aira harus menerima kenyataan jika hidupnya sangat menyedihkan.
Di tengah frustrasinya, teman kuliahnya yang paling cuek, tiba-tiba menelepon Aira. Berawal dari obrolan malam dan lamaran yang dikira candaan, teman prianya mendadak muncul di depan rumah Aira bersama keluarga besarnya untuk melamar Aira.
Bagaimana cerita selanjutnya? Apa Aira akan menerima lamaran tersebut? Mengapa pria itu tiba-tiba melamar Aira?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nafkah Pertama
"Mas Arsen, ih! Jangan bercanda yang aneh-aneh! Katanya tadi suruh tidur, besok harus bangun pagi!" cerocos Aira dengan napas memburu, menyembunyikan rasa salah tingkahnya yang sudah berada di ambang batas.
"Iya, iya, ini tidur," sahut Arsen melembut, tawanya mereda berganti dengan usapan pelan ibu jarinya di pinggang Aira dan memberikan sensasi hangat yang menenangkan.
"Jangan kaku begitu badannya. Tidur, Ra. Selamat malam, Istriku," bisik Arsen.
Mendengar kata terakhir itu diucapkan dengan nada yang begitu tulus, sekat pertahanan canggung di hati Aira perlahan mencair dan ketegangan di tubuhnya berangsur runtuh.
Dengan pelan, Aira mengembuskan napas panjang, membiarkan dirinya bersandar sepenuhnya pada dada kokoh Arsen yang malam itu terasa seperti benteng paling aman di dunia, melindunginya dari segala badai kehidupan yang selama tiga tahun ini menghimpitnya tanpa ampun.
.
Keesokan paginya, aroma tanah basah bercampur wangi kopi hitam menyeruak masuk melalui celah pintu kamar. Aira terbangun saat semburat fajar menyusup di antara anyaman bambu. Sisi kasur di sebelahnya sudah kosong dan rapi, menyisakan kehangatan yang perlahan digantikan oleh dinginnya udara pagi Lumajang.
Dengan tergesa-gesa, Aira merapikan rambutnya dan melangkah keluar menuju dapur. Namun, langkah kakinya mendadak terhenti di ambang pintu belakang.
Di sana, di dekat sumur tua, Arsen sedang menimba air. Kaus oblong putih yang ia kenakan tampak sedikit basah oleh cipratan air sumur. Otot-otot lengannya mengencang setiap kali menarik tali timba, sementara Ibu Astri berdiri di dekatnya sambil tersenyum lebar menenteng ember plastik.
"Lho, Mas, kok malah menimba air? Sini, biar Aira saja," seru Aira panik, berjalan cepat mendekati suaminya.
Arsen menoleh, menyeka keringat tipis di dahinya dengan punggung tangan, lalu menuangkan air sumur yang jernih ke dalam bak mandi luar.
"Nggak apa-apa, Ra. Itung-itung olahraga pagi. Air sumur rumahmu segar banget, beda sama air di Jakarta," jawab Arsen santai, sama sekali tidak tampak canggung.
"Iya, Nduk. Tadi Masmu ini bangun subuh sekali, langsung bersihkan halaman depan terus bantu Ibu di sumur. Menantu Ibu ini pinter, ndak manja sama sekali," puji Ibu Astri dengan binar mata bahagia yang sudah lama tidak Aira lihat.
Aira terpaku menatap Arsen, pria yang memimpin perusahaan furnitur ekspor dan terbiasa dengan kemewahan ibu kota, kini berdiri di dapur reotnya, tersenyum tulus sambil memegang gagang timba kayu.
Tepat pukul sembilan pagi, suara deru mobil kembali terdengar di depan rumah. Namun kali ini, bukan mobil mewah milik keluarga Arsen, melainkan sebuah mobil hitam yang membawa tiga orang pria berpakaian rapi, mereka adalah pengacara yang diutus langsung dari firma hukum keluarga Arsen di Surabaya.
Pertemuan di ruang tamu beralas tikar anyaman itu kembali digelar, namun kali ini suasananya sangat profesional dan bersih dari intimidasi keluarga besar. Pak RT dan Pak Modin desa yang sudah diundang sejak pagi tampak duduk takzim, memeriksa lembaran dokumen KUA yang dibawa oleh tim hukum Arsen.
"Semua berkas dari pihak desa sudah lengkap, Mas Arsen. Hari ini juga kami akan membawa dokumen ini ke KUA kecamatan untuk proses pendaftaran, untuk prosesnya mungkin membutuhkan waktu. Jadi, nanti Pak Arsen dan Bu Aira tinggal mengikuti sidang dan sisanya biar kami yang urus," ucap salah satu pengacara berjas rapi tersebut dengan sangat hormat.
"Terima kasih, Pak," jawab Arsen tegas, wibawa direktur mudanya kembali memancar mutlak.
Setelah tim pengacara pamit undur diri untuk menuju kantor kecamatan, suasana rumah kembali tenang. Ibu Astri masuk ke dalam kamar untuk beristirahat, meninggalkan Arsen dan Aira di teras depan.
Aira duduk di kursi kayu, menatap hamparan jalanan desa yang mulai berdebu di bawah terik matahari. Tiba-tiba, Arsen mengulurkan sebuah benda ke hadapannya, itu adalah sebuah kartu ATM berwarna hitam pekat dengan logo bank swasta terkemuka.
"Ini apa, Mas?" tanya Aira bingung, menatap kartu mewah itu bergantian dengan wajah suaminya.
"Nafkah pertamamu, Ra," ucap Arsen pelan, meraih tangan Aira dan meletakkan kartu itu di atas telapak tangannya.
"Di dalamnya sudah aku isi untuk kebutuhan kamu dan Ibu. Mulai hari ini, aku nggak mau dengar kamu mikir soal uang biar aku yang memikirkannya, jadi pakai uang itu sepuasmu," lanjut Arsen.
Aira menatap kartu di tangannya, matanya mendadak panas. Tiga tahun ia dihina karena gajinya yang tak sampai satu juta, tiga tahun ia memeras keringat di bawah makian Bu Rika hanya demi beberapa puluh ribu rupiah. Kini, seorang pria datang dan menyerahkan seluruh perlindungan finansialnya tanpa meminta syarat apa pun.
"Mas... ini terlalu banyak. Aku... aku nggak tahu harus bilang apa," lirih Aira, air matanya menetes satu per satu mengenai permukaan kartu hitam tersebut.
Arsen bergeser mendekat, merangkul bahu Aira dengan erat dan menarik kepala istrinya untuk bersandar di dada bidangnya.
"Jangan nangis lagi. Tugasmu sekarang cuma satu, Ra," bisik Arsen lembut, mengecup puncak kepala Aira dengan penuh kasih.
"Apa, Mas?"
"Dukung aku dengan selalu ada disampingku," ucap Arsen.
"Aku janji, Mas. Aku janji akan selalu ada di sampingmu, dalam keadaan apa pun dan sesulit apa pun nanti, aku akan terus mendukungmu sebagai seorang istri. Terima kasih karena sudah menjadi penyelamatku," bisik Aira, suaranya bergetar namun sarat akan kesungguhan.
Arsen tersenyum tipis, mengusap sisa air mata di pipi Aira dengan ibu jarinya yang hangat. "Bukan penyelamat, Ra. Kita ini mitra hidup yang baru mulai melangkah," ujar Arsen.
Setelah keheningan yang menenangkan itu berlangsung beberapa saat, Arsen perlahan merenggangkan pelukannya. Ia menatap Aira dengan raut wajah yang lebih serius, namun tetap melembut.
"Ra, ada satu hal lagi yang ingin aku sampaikan," ujar Arsen, menjeda kalimatnya sejenak untuk memastikan Aira mendengarkan dengan saksama.
"Begitu semua urusan pendaftaran pernikahan kita selesai, aku ingin membawa kamu dan Ibu pergi dari sini,"
Aira sedikit tersentak, meskipun ia sudah menduga hal ini sejak awal. "Pergi... kemana, Mas?" tanya Aira.
"Ke Jakarta, ke rumahku. Aku nggak bisa membiarkan kamu dan Ibu tinggal disini, selain karena pekerjaanku semua berpusat di Jakarta, aku juga ingin memastikan kamu dan Ibu hidup dengan nyaman dan bahagia. Di Jakarta, kita akan memulai semuanya dari awal," ucap Arsen.
Aira terdiam sejenak. Pikirannya melayang pada ibu Astri yang sepanjang hidupnya dihabiskan di tanah Lumajang ini, membawa sang ibu berpindah ke kota megapolitan yang asing tentu bukan perkara mudah.
Namun, mengingat bagaimana jahatnya perlakuan Bapak Hilman dan keluarganya, Aira tahu bahwa bertahan di desa ini hanya akan memperpanjang lingkaran penderitaan.
"Bagaimana dengan Ibu, Mas? Apa Ibu mau?" tanya Aira lirih, menyuarakan kekhawatirannya.
"Kita tanya Ibu sama-sama ya," jawab Arsen menenangkan.
.
.
.
Bersambung.....
baru nikah di atas kertas donk namanya..
jangan di tunda lagi,mank malam pertama harus wow gtu keadaan dan tempatnya..
walaupun nikah dadakan tapi kan sudah saling Nerima...
salut aja udah sebulan 😆😆😆
mati aja sana...
udah nggak ada membantu anak,anak dapat suami kaya malah mau morotin...
biar tambah panas hati para ibuk2 julidin🤣🤣🤣
hati" buanykkkkkk ular kadut menggatal