Di Benua Aldabaron yang dipenuhi sihir, monster, dan teknologi Rune, seorang ronin muda bernama Ryosuke Tagawa kehilangan seluruh keluarganya akibat perang yang dipicu ambisi tersembunyi Empire Krusador. Dalam pengembaraannya, ia menemukan Tenkū Matō, pedang legendaris yang ditempa dari pecahan meteor dan menguasai sihir kegelapan. Bersama katana warisannya, Nichirin-gatana, yang memiliki sihir cahaya, Ryosuke menguasai gaya pedang Hyoho Niten Ichi-ryū. Ketika pasukan Krusador menginvasi Kepulauan Great Sea dengan senjata mengerikan Beast Crust Rune Cannon, Ryosuke harus menentukan pilihan: tetap menjadi pengembara yang menghindari perang, atau bangkit melindungi mereka yang tidak mampu melawan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr.Mounyenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18 — Awal Takdir
Di atas bukit, belasan pemanah tentara bayaran telah mengambil posisi sejak beberapa saat sebelumnya atas perintah Alfaro. Mereka terus melepaskan anak panah secara bergantian dengan disiplin tinggi, bukan untuk menghabisi seluruh pasukan Krusador, melainkan membuka ruang agar pemimpin mereka dapat keluar membawa Ryosuke.
"Teruskan tembakan!" teriak salah seorang pemanah.
"Jangan biarkan mereka menutup jalur mundur!"
Anak-anak panah berikutnya kembali melesat, menghantam tanah, perisai, dan kaki-kaki prajurit yang mencoba mengejar ke arah Alfaro. Serangan dari tempat tinggi itu membuat pengejaran kehilangan ritme, memberi kesempatan beberapa detik yang sangat berharga.
Alfaro mengulurkan tangan kirinya kepada Ryosuke.
"Cepat!"
Ryosuke memandang sekelilingnya sekilas. Ia mengetahui dirinya sudah berada di ambang batas. Jika tetap memaksakan bertarung, ia mungkin hanya akan menghabiskan sisa tenaga tanpa mengubah keadaan.
Dengan keputusan singkat, ia menyarungkan kedua katana nya, lalu meraih tangan Alfaro.
Sekali tarikan kuat, tubuh Ryosuke terangkat ke atas belakang pelana.
"Tahan erat!"
Alfaro segera menarik tali kekang.
Kuda itu berputar tajam lalu melesat menuju celah yang telah dibuka para pemanah. Beberapa tentara bayaran lain segera bergerak menutup sisi kiri dan kanan untuk melindungi pemimpin mereka dari serangan susulan.
Komandan Krusador yang melihat buruannya berhasil direbut orang lain langsung mengangkat pedangnya.
"Kejar mereka!"
Puluhan prajurit kembali bergerak.
Namun hujan anak panah berikutnya memaksa mereka kembali memperlambat langkah. Sementara itu, rombongan tentara bayaran telah memasuki jalur hutan yang jauh lebih sempit, membuat jumlah besar pasukan Krusador tidak lagi menjadi keuntungan.
Di atas pelana, kesadaran Ryosuke mulai memudar akibat kelelahan dan kehilangan banyak darah. Sebelum pandangannya menjadi kabur, ia sempat melihat seorang gadis berlari keluar dari barisan belakang rombongan.
"Kak Ryosuke!"
Suara itu begitu dikenalnya.
Ryosuke berusaha menoleh.
"Hana..."
Sebuah senyum tipis akhirnya muncul di wajahnya.
Adiknya masih hidup.
Keyakinan itu menjadi hal terakhir yang ia rasakan sebelum tubuhnya kehilangan tenaga sepenuhnya dan kesadarannya perlahan tenggelam ke dalam kegelapan, sementara rombongan tentara bayaran terus membawa mereka menjauh dari kejaran pasukan Empire Krusador.
Derap langkah kuda bergema menyusuri jalan tanah yang membelah hutan perbatasan, membawa rombongan tentara bayaran menjauh dari wilayah kekuasaan Empire Krusador. Tidak seorang pun berani memperlambat laju perjalanan mereka, sebab setiap orang memahami bahwa pasukan Krusador dapat saja kembali melakukan pengejaran apabila berhasil menemukan jejak yang mereka tinggalkan. Meskipun hujan anak panah dari para pemanah di atas bukit telah memberikan cukup waktu untuk meloloskan diri, tidak ada seorang pun yang menganggap mereka benar-benar telah berada di tempat aman.
Di barisan paling depan, Alfaro Perez terus mengendalikan kudanya dengan tenang sambil sesekali mengamati keadaan di belakang rombongan. Di belakangnya, beberapa tentara bayaran bergantian memastikan tidak ada jejak yang terlalu mudah diikuti oleh pasukan Krusador. Sebagian lain tetap siaga dengan senjata di tangan, berjaga-jaga apabila sewaktu-waktu musuh kembali muncul dari balik pepohonan.
Sementara itu, tubuh Ryosuke terbaring lemah di atas seekor kuda yang berjalan di tengah rombongan. Seorang tentara bayaran menopang tubuhnya agar tidak terjatuh selama perjalanan berlangsung. Pakaiannya telah dipenuhi darah yang mulai mengering, sedangkan napasnya terdengar pelan namun teratur. Luka-luka yang memenuhi lengan, bahu, dan punggungnya menjadi bukti betapa sengitnya pertempuran yang baru saja ia lalui seorang diri.
Hana tidak pernah menjauh sedikit pun dari sisi kakaknya.
Ia menunggang kuda tepat di samping Ryosuke, memandang wajah kakaknya tanpa berkedip seolah takut kehilangan sosok itu lagi. Beberapa kali ia mencoba memanggil pelan, berharap Ryosuke membuka mata, tetapi tidak ada jawaban selain embusan napas yang lemah.
"Dia akan baik-baik saja."
Suara tenang Alfaro terdengar dari depan tanpa menoleh.
"Lukanya memang banyak, tetapi napasnya masih stabil."
Hana menganggukkan kepala pelan.
"Terima kasih..."
Ucapan itu keluar hampir seperti bisikan.
Seandainya rombongan tentara bayaran tidak datang tepat waktu, Hana bahkan tidak berani membayangkan bagaimana akhir pertarungan tadi.
Perjalanan terus berlanjut hingga pepohonan lebat perlahan mulai berkurang. Jalan tanah yang sempit berubah menjadi jalur yang lebih lebar, memperlihatkan bekas roda kereta dan jejak kaki yang jauh lebih ramai daripada sebelumnya. Beberapa saat kemudian, sebuah tembok batu raksasa mulai tampak berdiri menjulang di kejauhan.
Benteng Vargan.
Benteng terbesar di jalur perbatasan Green Continent yang menghadap langsung ke wilayah Empire Krusador.
Dinding batu berwarna kelabu itu menjulang tinggi, sementara menara-menara pengawas berdiri kokoh di beberapa sudut benteng. Dari kejauhan terlihat para prajurit penjaga terus berpatroli di atas tembok, mengawasi setiap pergerakan yang datang dari arah utara. Bendera Green Continent berkibar di atas gerbang utama, diterpa angin yang bertiup dari dataran perbatasan.
Namun rombongan Alfaro tidak mengarah menuju gerbang benteng.
Sesaat sebelum mencapai tembok pertahanan, Alfaro membelokkan kudanya ke sebuah jalan kecil yang memisahkan diri dari jalur utama. Jalan itu mengarah ke sebuah kawasan terbuka yang dipenuhi bangunan kayu sederhana, pagar-pagar rendah, kandang kuda, gudang perlengkapan, serta beberapa tenda besar yang berdiri berjajar dengan rapi.
Jaraknya tidak sampai seratus meter dari tembok Benteng Vargan.
Tempat itu merupakan barak kelompok tentara bayaran yang selama ini bekerja mengawal jalur perdagangan dan menerima berbagai penugasan di wilayah perbatasan. Letaknya sengaja dibangun dekat benteng agar mereka dapat bergerak dengan cepat apabila dibutuhkan, tetapi tetap berada di luar wilayah militer resmi Green Continent.
Begitu rombongan memasuki halaman barak, beberapa tentara bayaran yang sedang berlatih segera menghentikan aktivitas mereka.
"Kapten sudah kembali!"
"Buka gerbang!"
"Siapkan tempat untuk yang terluka!"
Suasana yang semula tenang mendadak berubah sibuk. Beberapa orang segera mengambil alih tali kekang kuda, sementara yang lain berlari membawa tandu kayu menuju Ryosuke.
Alfaro turun lebih dahulu dari kudanya.
"Bawa dia ke ruang perawatan."
Empat orang segera mengangkat tubuh Ryosuke dengan hati-hati, memastikan kedua katana miliknya tetap berada di sampingnya tanpa dipisahkan. Mereka kemudian membawa pemuda itu menuju sebuah bangunan kayu berukuran sedang yang terletak di sisi paling tenang dari barak.
Hana turun dari kudanya tanpa menunggu bantuan siapa pun.
"Aku ikut."
Tidak ada yang menghalanginya.
Mereka dapat melihat dengan jelas bahwa gadis itu tidak akan meninggalkan kakaknya dalam keadaan apa pun.
Saat pintu ruang perawatan dibuka, aroma ramuan obat langsung memenuhi ruangan. Beberapa rak kayu dipenuhi botol-botol berisi ramuan, gulungan kain bersih, serta berbagai peralatan untuk menangani luka. Seorang tabib tua yang sejak tadi sedang merapikan perlengkapannya segera menghampiri tandu begitu melihat kondisi Ryosuke.
"Luka sebanyak ini..."
Ia menggeleng pelan.
"Dia masih hidup setelah menghadapi semua itu?"
Alfaro hanya menjawab singkat.
"Selamatkan dia."
Tanpa membuang waktu, sang tabib segera memeriksa setiap luka yang ada di tubuh Ryosuke, sementara beberapa asisten mulai menyiapkan air hangat dan ramuan untuk membersihkan darah yang mengering.
Hana berdiri tidak jauh dari tempat tidur, menggenggam erat kedua tangannya sendiri sambil memperhatikan setiap gerakan sang tabib. Meskipun rasa lelah mulai menguasai tubuhnya, ia sama sekali tidak berniat meninggalkan ruangan itu.
..._BERSAMBUNG _...
cerita nya seru, like + bunga🌹 , semangat😉