NovelToon NovelToon
Cintaku Mentok Di Kapten Rex

Cintaku Mentok Di Kapten Rex

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Showbiz / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: daehwi25

Cikar Bobrok Berjalan Juga, Kerasnya batu jika selalu diteteskan air akan Berlubang juga, Waiting Tresno Jalaran Soko
Kulino.

Itulah landasan Seorang Nadya Marlynda Sismoko Tetap menancapkan cintanya kepada si kapten tentara tampan nan gagah Rexsaka Pramuja anak dari sopir pribadi keluarganya, Meski Tidak Mendapatkan Balasan yang sama. Ditengah penolakan dan sikap profesionalnya Rexsaka yang menganggap Nadya hanya sebagai nona majikannya, berbagai sarkas yang di lontarkan Rexsaka seolah merendahkan Nadya, membuat Nadya menjauh namun tak kunjung membuat Nadya jenuh untuk menaklukkan dinginnya puncak Everest itu.

" Lo memang cegil sejati Nad, Lo tau betapa dinginnya rexsaka itu, kenapa Lo gak menyerah juga jadi bucinnya sih"

"Asal Lo tau Ris, Cegil Nama tengah gue dan bucin nama belakang gue, gue gak akan menyerah"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon daehwi25, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1

Jika Dewi Parwati membutuhkan waktu seribu tahun untuk mencairkan hati dewa Siwa yang sekeras batu, maka Nadya Marlynda Sismoko punya waktu seumur hidup untuk membuat seorang Rexsaka Pramuja luluh kepadanya

Jika Srikandi harus mengangkat busur panah di medan laga dan menaklukkan kesatria sekelas Resi Bisma demi membuktikan ia layak bersanding di sisi Arjuna, maka Nadya tahu, ia butuh keras kepala yang jauh lebih runcing hanya untuk membuat seorang Rexsaka sudi menoleh ke arahnya.

Begitu gigihnya Nadya menginginkan rexsaka menjadi miliknya, lelaki yang kini tengah berdiri diatas podium tubuh tegapnya dibalut Pakaian Dinas Upacara (PDU) berwarna hijau pekat, melekat sempurna tanpa satu pun kerutan yang mencela penampilannya. Dada kirinya penuh dengan jajaran lencana dan tanda jasa bukti bisu dari garis depan pertempuran yang pernah ia jinakkan.

​Wajah Rexsaka terpahat begitu tegas di bawah bayang-bayang pet topi militernya. Rahangnya mengeras, matanya lurus menatap ke depan dengan tatapan yang tajam, dingin, dan benar-benar datar. Tidak ada senyum, tidak ada binar jemawa, bahkan ketika dua orang jenderal senior melangkah maju ke sisinya.

​Suasana mendadak hening, hanya menyisakan gemat suara pembawa acara yang membacakan surat keputusan. Nadya yang berada di barisan kursi undangan menahan napasnya. Matanya tidak berkedip barang sedetik pun, terkunci mutlak pada pundak lebar Rexsaka.

​Detik berikutnya, sang jenderal menyematkan tanda pangkat baru di kedua pundak Rexsaka. Tiga balok emas kini resmi bertengger di sana.

​"Kak Rex!" sapa Nadya setengah berseru. Acara penobatan telah selesai, Ia mengangkat tangannya tinggi-tinggi di tengah kerumunan, mencoba memecah lautan manusia setelah sepasang manik mata sang pujaan sempat tertuju kepadanya.

​Namun, binar di mata Nadya meredup dalam sekejap. Detik berikutnya, laki-laki itu melengos begitu saja, membalikkan badan untuk mengikuti seorang pria paruh baya yang membawanya pergi menjauh.

​Senyuman yang tadinya merekah sempurna kini layu seketika. Nadya menunduk, menatap buket mawar merah yang didekapnya erat-erat di dada. Itu bunga kesukaan Rexsaka. Nadya merakitnya sendiri dengan tangan amatir, sebuah keterampilan yang ia pelajari dengan gigih selama dua minggu penuh. Jari-jarinya sempat beberapa kali tertusuk duri hingga berdarah, tetapi bayangan wajah Rexsaka yang akan menerima bunga itu dengan seulas senyuman selalu menjadi penyemangat yang menyembuhkan lukanya setiap hari. Sayang, khayalan tetaplah khayalan. Sama seperti hari-hari sebelumnya, hanya tatapan sedingin es dan wajah datar tanpa emosi yang kembali ia dapati.

​Meski begitu, Nadya menolak untuk menyerah. Selama Rexsaka tidak menunjukkan ketertarikan pada wanita lain, ia akan terus melangkah maju. Tidak ada kata mundur dalam kamusnya.

​Banyak orang di sekelilingnya melempar tanya, heran melihat seorang Nadya yang begitu gila dan obsesif mengejar Rexsaka. Ya, Rexsaka memang memiliki paras tampan yang memikat, tetapi di mata dunia, status sosialnya hanyalah seorang anak sopir pribadi di kediaman keluarga Nadya. Pertanyaan bernada sangsi itu sudah ratusan kali keluar dari mulut teman-temannya.

​Lagipula, Nadya bukanlah gadis sembarangan. Ia adalah putri tunggal dari Andy Sismoko, seorang konglomerat yang masuk dalam jajaran sepuluh besar orang paling berpengaruh di Asia dengan gurita bisnis yang tersebar di berbagai penjuru negeri. Tak hanya bergelimang harta, Nadya juga dianugerahi paras menawan yang menjadikannya primadona tak terbantahkan di kampus.

​Namun, logika dunia tidak berlaku bagi hati yang telah tertambat. Sama seperti Dewi Parwati yang mencintai Dewa Siwa, sang dewa yang dianggap aneh, tak punya rumah, tubuhnya dilumuri abu mayat, lehernya dililit ular, serta memiliki sifat yang sedingin batu, begitu pula dengan Nadya. Ia mencintai Rexsaka dengan keteguhan yang mutlak, menutup mata dari segala perbedaan kasta, dan hanya fokus pada satu nama yang telah mengunci seluruh dunianya.

Nadya melangkah masuk ke dalam rumah dengan bahu melorot lesu. Di tangan kirinya, sebuket mawar merah masih setia didekap, membawa kembali puing-puing harapan yang malam ini lagi-lagi berakhir dengan kekecewaan.

​"Dari mana saja jam segini baru pulang?"

​Sebuah suara bariton memecah keheningan rumah mewah itu. Di atas sofa ruang keluarga, Andy Sismoko sudah menanti. Sang papa, yang kini telah mengenakan pakaian tidur, berdiri tegak sambil berkacak pinggang dengan guratan wajah yang tegas.

​"Kamu mengganggu Rexsaka lagi?" Belum sempat Nadya membuka mulut, Andy sudah melontarkan pertanyaan lain yang menuntut jawaban.

​Mengganggu? Nadya membatin perih. Kenapa setiap peluh dan air mata yang ia curahkan untuk memperjuangkan cintanya selalu didefinisikan orang lain sebagai sebuah gangguan?

​"Apa sih, Pa? Nadya cuma datang ke acara pelantikan Kak Rex, mau mengucapkan selamat doang," jawab Nadya lirih. Ia melangkah menghampiri sang papa, lalu menghempaskan tubuhnya yang telanjur didera lelah di atas sofa.

​"Lalu kenapa baru pulang hampir tengah malam begini?"

​"Nadya tadi mampir dulu ke mal sama teman-teman, Pa. Saking asyiknya mengobrol, Nadya sampai tidak sadar kalau hari sudah semalam ini," bohongnya. Ia mencoba menatap sang papa dengan sepasang mata yang meyakinkan.

​Andy menatap wajah putri tunggalnya lurus-lurus untuk waktu yang lama, sebelum pandangannya turun tertuju pada buket mawar yang masih terikat erat di jemari Nadya. "Lalu, bunga itu dari siapa?"

​"Oh, ini? Tadi waktu di mal Nadya lihat bunga ini cantik sekali, jadi Nadya beli saja," bohongnya lagi. Sudah dua kali Nadya menenun dusta di depan papanya hari ini, menambah tebal catatan di buku dosanya yang mungkin sudah hampir penuh dan siap berganti lembaran baru.

​Namun, Nadya tidak punya pilihan. Terlalu mustahil untuk jujur bahwa mawar itu adalah korban penolakan bahkan sebelum sempat berpindah tangan. Ia tidak mungkin mengaku pada sang papa bahwa ia menghabiskan waktu berjam-jam di sudut kafe sendirian, hanya untuk menenangkan dadanya yang sesak karena usahanya hari ini kembali berantakan.

​"Mama mana, Pa?" tanya Nadya dengan nada ceria yang dipaksakan, berusaha mengubur duka sekaligus mengalihkan tatapan selidik ayahnya sembari mengedarkan pandangan ke sekeliling rumah yang sunyi.

​"Mamamu sudah tidur." Andy menghela napas panjang lalu bangkit berdiri. "Kamu juga Istirahatlah, besok kuliah lagi kan," ucapnya lembut seraya mengelus pucuk kepala Nadya dan mendaratkan kecupan hangat di sana.

​Sebelum melangkah pergi, tatapan Andy kembali berlabuh pada buket mawar merah di genggaman putrinya. "Berikan bunga itu pada Paman Amar besok pagi. Biar dia yang langsung memberikannya pada Rexsaka."

​Tanpa menunggu reaksi dari sang anak, Andy membalikkan badan dan berlalu menuju kamar. Beliau tahu Nadya sedang berbohong. Bagi orang asing, ketenangan wajah dan binar mata Nadya saat merangkai kata mungkin akan terlihat sebagai kebenaran mutlak.

Namun, bagi seorang ayah yang telah membesarkannya, kebohongan Nadya selalu memiliki tanda, jemari gadis itu akan menekuk erat setiap kali ia menyembunyikan kebenaran.

Berbeda di tempat lain, malam yang kian larut tidak melunturkan kegagahan pria yang masih mengenakan seragam tentaranya itu. Dengan pet militer yang kini berada di genggaman tangan, Rexsaka melangkah keluar dari mobilnya. Pada saat yang sama, sebuah sedan mewah baru saja memasuki pekarangan rumah sederhananya. Mobil yang sangat ia kenal, namun ia tahu pasti itu bukan milik keluarganya.

​Ya, dialah Rexsaka. Dan pria yang baru saja turun dari kemudi sedan mewah tersebut adalah Amar, ayahnya, yang baru pulang mengendarai mobil milik keluarga Sismoko, majikan sang ayah.

​Sudah menjadi rahasia umum bahwa Andy Sismoko menaruh kepercayaan yang begitu besar kepada Amar atas pengabdian tulusnya selama puluhan tahun. Maka tidak heran jika Amar dibebaskan membawa mobil tersebut pulang ke rumah. Jangankan sekadar fasilitas mobil, berkat sokongan dan kebaikan Andy Sismoko pulalah Rexsaka bisa menggapai cita-citanya menjadi seorang prajurit, bahkan hari ini resmi naik pangkat menjadi seorang Kapten Angkatan Darat.

​"Kamu baru pulang, Saka?" tanya Amar saat mendapati pintu rumah masih terkunci dan putranya masih berdiri lengkap dengan seragam serta sepatu larsnya.

​Amar melangkah ke teras, mengangkat sebuah pot bunga kecil tempat biasa mereka menyembunyikan kunci cadangan, lalu membuka pintu rumah.

​"Iya, Yah. Tadi ada perayaan kecil-kecilan dulu bersama rekan-rekan," jawab Rexsaka sembari mengekor di belakang sang ayah, lalu menutup pintu rapat-rapat.

​"Kamu minum, Saka?" Amar kembali bertanya saat indra penciumannya menangkap aroma samar alkohol dari tubuh putranya.

​"Sedikit, Yah. Sungkan menolak ajakan atasan, lagipula pesta tadi memang diadakan untuk merayakan kenaikan pangkat Saka." Suara Rexsaka terdengar datar, namun terselip kehangatan yang tulus di sana, sisi lain dirinya yang hanya ia perlihatkan di depan sang ayah.

​"Sedikit saja boleh untuk menghormati, tapi jangan sering-sering. Tidak baik untuk kesehatanmu," sahut Amar penuh perhatian.

​"Iya, Yah. Kalau begitu Saka masuk kamar dulu, mau bersih-bersih." Rexsaka melangkah masuk ke kamarnya, meninggalkan sang ayah yang duduk melepas lelah di atas sofa ruang tamu.

​Setengah jam berlalu, Rexsaka keluar kamar dengan tubuh yang jauh lebih segar. Ia mendapati ayahnya telah berganti pakaian santai, kaos oblong putih basahan dan kain sarung khasnya. Di tangan Amar terdapat secangkir kopi hitam hangat, sementara layar televisi di depannya menyala, menampilkan siaran pertandingan sepak bola yang selalu setia menemani hingga kantuk datang menjemput.

​"Yah," panggil Rexsaka seraya mendudukkan diri di sofa, tepat di samping ayahnya.

​"Hmm? Belum tidur?" tanya Amar tanpa mengalihkan pandangan dari cangkir kopi yang baru saja ia seruput.

​"Belum, Yah. Ada hal penting yang mau Saka bicarakan."

​Mendengar nada bicara putranya yang tidak biasa, Amar meletakkan cangkirnya kembali ke tatakan. Ia mencondongkan tubuh, menatap lurus gurat keseriusan di wajah sang putra yang biasanya selalu minim ekspresi.

​"Yah... bagaimana kalau Ayah berhenti bekerja saja?"

​Suasana mendadak hening. Amar menatap lekat-lekat wajah putranya, mencoba mencari tahu apa yang mendasari pemikiran tersebut. "Apa ini karena Nona Nadya?" selidik Amar kemudian.

​Rexsaka menggeleng datar. Pandangannya dialihkan lurus ke layar televisi, memperhatikan belasan orang yang sedang berebut bola, meski pikirannya sama sekali tidak ada di sana.

"Bukan. Ini tidak ada sangkut pautnya dengan dia."

​"Saka hanya tidak ingin melihat Ayah kelelahan lagi. Sekarang Saka sudah sanggup mencukupi semua kebutuhan Ayah. Ayah tidak perlu lagi bekerja di kediaman Tuan Andy," tambahnya dengan nada melunak.

​"Saka tahu betul bagaimana besarnya jasa Tuan Andy kepada keluarga kita. Meminta Ayah berhenti bukan berarti kita menjadi manusia yang tidak tahu balas budi. Tapi umur Ayah tidak lagi muda, Yah. Nikmatilah masa tua Ayah untuk diri Ayah sendiri. Pengabdian Ayah sudah lebih dari cukup." Rexsaka menjelaskan pemikirannya dengan tenang.

​Amar tersenyum tipis, lalu menepuk pelan lutut putranya. "Tidak semudah itu, Ka. Ayah bertahan di sana bukan sekadar karena kewajiban atau pengabdian. Ayah menyukainya. Sejak ibumu pergi, rumah ini terasa begitu sepi. Dengan tetap bekerja, Ayah bisa mengalihkan rasa sunyi itu."

​"Ayah bisa menikah lagi." Meski lidahnya terasa kelu mengucapkan kalimat itu, karena di lubuk hati terkecilnya ada ketidakikhlasan jika posisi sang ibu digantikan, namun demi kebahagiaan masa tua ayahnya, Rexsaka rela meredam ego tersebut.

​Amar menggeleng pasti. "Ayah tidak ingin menodai cinta Ayah pada ibumu hanya karena Ayah merasa kesepian di masa tua, Nak. Meskipun raganya sudah tidak ada, jiwanya selalu bersemayam di sini." Amar mengetuk dadanya sendiri, tepat di bagian jantung.

​Rexsaka tertegun. Ia tahu betul betapa raksasanya cinta sang ayah kepada ibunya. Sebuah cinta tulus yang tetap kokoh berdiri meski sang pemilik hati telah lama berpulang ke keabadian. Bukan karena tidak ada wanita yang mencoba mendekati ayahnya, melainkan karena Amar telah membungkus rapat hatinya, menguncinya, dan melabelinya hanya untuk satu nama.

​"Sudah larut nak. Istirahatlah, besok kamu harus kembali berdinas, kan?" ucap Amar memecah keheningan setelah beberapa saat, seraya menepuk bahu tegap putranya.

​"Iya, Yah. Ayah juga jangan begadang terlalu lama." Amar hanya mengangguk sebagai jawaban.

​Rexsaka bangkit berdiri untuk kembali ke kamarnya. Namun, baru dua langkah ia mengayunkan kaki, suara bariton ayahnya kembali menginterupsi di tengah kesunyian malam.

​"Ka... tentang kamu dan Nona Nadya..."

​"Saka tidak memiliki hubungan apa pun dengan dia, Yah," potong Rexsaka cepat, nadanya kembali berubah datar dan sedingin es bahkan sebelum Amar sempat menyelesaikan kalimatnya.

​Amar tersenyum lega. Bukan karena ia tidak tahu seberapa gila nona majikannya itu mengejar sang putra, tapi ia masih sadar posisinya dimana. "Syukurlah, Nak. Kamu tahu sendiri, kan? Kamu dan Nona Nadya tidak akan pernah bisa bersama. Kita tidak setara."

​"Iya, Yah. Saka tahu diri."

​"Ya sudah, tidurlah," ucap Amar, mengalihkan kembali pandangannya ke arah layar televisi.

​Rexsaka melanjutkan langkahnya yang tertunda, lalu menutup pintu kamar. Ia bersandar di balik pintu kayu yang dingin, memandangi seragam kaptennya yang tergantung rapi di sudut ruangan. Namun, di balik wajah datarnya itu, tak ada seorang pun yang benar-benar tahu badai apa yang sedang berkecamuk di dalam pikirannya

Hy gaes....salam kenal, selamat datang di cerita pertama ku, semoga kalian terhibur ya dengan ceritanya, mohon kritik dan sarannya jika ada kekurangan di cerita yang author sajikan ini ya, dan author juga minta dukungan kalian dengan like dan komentar dan follow ya... terimakasih, enjoy 🙏☺️

1
falea sezi
uda g lanjut kah thor😕
falea sezi
ada rahasia apa
falea sezi
saka 😒 g tau diri lu ya 😒 coba ayah lu g di tolongin bisa metong dia 😒
falea sezi
bodoh bilang ke orang tua lo bego😒
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!