"Bagaimana jadinya kalau gadis nakal harus takluk menghadapi anak dari pemilik pesantren?"
Tsabita Azzahra, sebagai bentuk protes karena selalu dibanding-bandingkan dengan kakaknya, Safira, yang nyaris sempurna, Bita memilih hidup bebas: nongkrong di lounge elite, pulang subuh, dan akrab dengan kehidupan malam.
Puncaknya, setelah mabuk berat akibat patah hati, Bita membuat kekacauan terbesar dalam hidupnya. Di area parkir remang-remang, ia mengira seorang cowok jangkung yang sedang duduk tenang di atas moge hitamnya adalah tukang parkir. Dengan lancang, Bita memaki-maki cowok itu, menarik kerah bajunya, dan... muntah tepat di atas sepatu sneakers mahal si cowok sebelum akhirnya pingsan.
Sepanjang insiden itu, si cowok hanya diam, menatap Bita dengan pandangan dingin yang tidak terbaca, lalu menolongnya dengan tenang.
Kehabisan kesabaran, orang tua Bita memberikan hukuman final: Bita dijodohkan dengan anak pemilik salah satu Pesantren.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elma Grace, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25
Malam harinya, suasana di dalam ndalem modern Pesantren terasa jauh lebih rileks. Aroma masakan sup ayam rempah dan gurame bakar buatan Umi menyeruak hingga ke koridor lantai dua, mengundang perut Bita yang sempat mogok makan untuk kembali berdemo.
Bita menyisir rambutnya perlahan di depan cermin, lalu merapikan jilbab instan berbahan kaus premium yang sangat nyaman. Saat ia berbalik, ia mendapati Ibra baru saja selesai merapikan sarung tenun dan kaus koko putihnya.
"Sudah siap?" tanya Ibra, pandangannya tertuju pada wajah Bita yang kini tampak jauh lebih segar dan tidak sepucat tadi siang.
"Sudah, Gus. Tapi... aku agak segan mau turun," aku Bita jujur. Jemarinya saling bertautan di depan dada. "Meskipun masalah wartawan tadi udah beres, aku tetap ngerasa gak enak sama Abi dan Umi."
Ibra melangkah mendekat, lalu menepuk pelan puncak kepala Bita dengan gerakan menenangkan. "Kenapa harus segan? Abi dan Umi yang paling bersemangat meminta kita turun untuk makan malam bersama. Ayo, jangan biarkan sup buatan Umi jadi dingin."
Bita mengembuskan napas panjang, lalu tersenyum tipis. "Ya udah, ayo."
Di ruang makan yang menyatu dengan dapur bersih, Abi dan Umi sudah duduk menunggu. Ruangan itu terlihat sangat elegan dengan lampu gantung minimalis dan meja makan marmer panjang. Begitu melihat Ibra dan Bita melangkah masuk, wajah Umi langsung berbinar hangat.
"Nah, ini dia anak-anak Umi. Ayo duduk, Nak, langsung diambil nasinya," sambut Umi dengan suara lembutnya yang khas.
"Iya, Umi. Maaf ya Bita agak telat turunnya," kata Bita sopan sembari menarik kursi di samping Ibra, tepat berhadapan dengan Umi.
Abi yang sedang membaca koran digital di tabletnya mendongak, lalu menatap menantunya dengan senyuman tipis namun berwibawa. "Bagaimana keadaanmu, Bita? Sudah lebih tenang?"
"Alhamdulillah sudah jauh lebih tenang, Abi. Terima kasih banyak karena Abi dan Umi sudah mengizinkan kami menyelesaikan masalah tadi di aula," jawab Bita tulus.
"Sudah menjadi kewajiban keluarga untuk saling menguatkan, Nak," sahut Abi dengan nada bariton yang mantap. "Ibra, bagaimana perkembangan di Polda setelah press conference tadi?"
Ibra menyendokkan nasi ke piring Bita terlebih dahulu sebelum mengisi piringnya sendiri. "Laporan sudah resmi masuk, Abi. Tim pengacara yayasan dibantu Bang Yusuf juga sudah menyerahkan rekaman telepon ancaman dari Reno yang masuk siang tadi sebagai bukti tambahan untuk pasal pemerasan dan pengancaman."
Umi yang sedang menuangkan kuah sup langsung terhenti, wajahnya berubah cemas. "Ya Allah, anak itu masih berani menelepon dan mengancam setelah kalian bikin konferensi pers?"
"Nggih, Umi. Dia panik karena saham perusahaan keluarganya langsung bergejolak setelah nama inisialnya mencuat di media bisnis," jelas Ibra tenang, seolah membicarakan hal yang sepele. "Tapi Umi tidak perlu khawatir. Mulai malam ini, nomor baru maupun akses siber yang mengarah ke Bita sudah diproteksi total oleh tim IT."
Abi mengangguk-angguk paham, lalu menyuap makanannya. "Bagus. Biarkan hukum yang bekerja. Orang seperti itu memang harus diberi pelajaran agar tahu bahwa harga diri seorang wanita bukan mainan yang bisa diinjak-injak."
Bita tertegun mendengarkan pembicaraan itu. Ia menatap Abi dan Umi bergantian, merasakan kehangatan yang belum pernah ia bayangkan sebelumnya akan ia dapatkan dari sebuah keluarga pesantren. "Abi, Umi... Bita bener-bener minta maaf karena masa lalu Bita sempat membawa dampak buruk buat nama baik pesantren."
Umi mengulurkan tangannya di atas meja, menggenggam jemari Bita dengan lembut. "Bita, dengar Umi, Nak. Pesantren ini bangunan fisik, marwahnya ada pada nilai-nilai Islam yang kita amalkan. Mengampuni, membimbing, dan melindungi adalah inti dari apa yang kami ajarkan di sini. Kamu itu anak kami sekarang. Jadi, berhenti meminta maaf untuk hal yang sudah lewat, ya?"
Air mata Bita hampir saja menetes mendengar ketulusan Umi, namun ia buru-buru mengerjapkan matanya dan mengangguk. "Iya, Umi. Terima kasih banyak."
"Nah, sekarang dihabiskan makannya. Lihat itu, suamimu sudah menumpuk lauk di piringmu sampai penuh," goda Umi sambil melirik piring Bita yang memang sudah dipenuhi ikan gurame bakar dan sayuran oleh Ibra.
Bita menoleh ke samping, mendapati Ibra yang hanya memasang wajah lempeng tanpa dosa sambil terus mengunyah makanannya. "Gus, ini kebanyakan tahu..." bisik Bita protes.
"Dihabiskan, Bita. Kamu butuh banyak energi untuk menghadapi hari esok," jawab Ibra pelan namun tidak menerima bantahan.
malamnya, setelah makan malam yang hangat dan penuh obrolan ringan dengan orang tua, Ibra dan Bita kembali ke kamar mereka. Bita berdiri di dekat jendela kaca besar, memandangi kompleks pesantren elit yang kini tampak syahdu di bawah siraman cahaya lampu taman.
Ibra berjalan mendekat, membawa dua cangkir susu jahe hangat, lalu meletakkannya di meja kecil dekat jendela. "Belum mengantuk?"
Bita berbalik, menyambut salah satu cangkir yang diulurkan Ibra. "Belum, Gus. Pikiranku masih agak jalan-jalan ke mana-mana. Rasanya... kayak mimpi aja."
"Mimpi di bagian mananya?" Ibra bersandar di ambang jendela, melipat kedua tangannya di dada sembari menatap istrinya lekat-lekat.
"Ya semuanya. Dari kemarin malam aku nangis-nangis ketakutan karena merasa dunia kiamat, sampai malam ini aku bisa duduk tenang di sini dengan status nama baik yang perlahan pulih," tutur Bita, lalu menyesap susu jahenya sedikit. "Dan yang paling aneh... aku gak nyangka kalau kamu bisa se-protektif itu."
Ibra menaikkan sebelah alisnya. "Kenapa? Kamu pikir aku akan diam saja melihat istriku dizalimi?"
"Ya tadinya aku pikir kamu bakal jengah atau minimal nanya-nanya detail kenapa aku bisa punya foto di kelab malam kayak gitu," Bita menundukkan kepalanya sedikit. "Banyak cowok yang bakal langsung mundur atau ngerasa ilfeel kalau tahu ceweknya punya masa lalu yang liar, Gus."
Ibra mengembuskan napas pendek. Ia menegakkan tubuhnya, melangkah satu langkah maju hingga jarak di antara mereka mengikis. Dengan lembut, Ibra meraih cangkir dari tangan Bita dan menaruhnya di meja, lalu menggenggam kedua tangan istrinya.
"Bita, tatap aku," pinta Ibra, suaranya terdengar begitu dalam dan memikat.
Bita mendongak, menantang sepasang manik mata tajam milik suaminya yang malam ini tampak sangat lembut.
"Aku menikahi Tsabita Azzahra yang berdiri di hadapanku saat ini. Wanita yang berproses, yang mau belajar, dan yang memiliki hati yang tulus," ucap Ibra dengan kesungguhan yang mutlak. "Masa lalumu adalah milikmu, itu urusanmu dengan Sang Pencipta. Tugas aku bukan menjadi hakim untuk masa lalumu, melainkan menjadi pembimbing dan pelindung untuk masa depanmu. Paham?"
Jantung Bita kembali berdegup kencang, sebuah perasaan asing yang sangat manis meletup-letup di dalam dadanya. "Gus Ibra... kamu kalau ngomong suka gak mikirin kesehatan jantung orang lain ya?"
Ibra membelalakkan matanya sedikit, lalu sebuah kekehan rendah yang terdengar sangat seksi lolos begitu saja dari bibirnya. "Kenapa dengan jantungmu? Sakit?"
"Ih, bukan sakit! Tapi copot karena jantungan!" Bita kesal sekaligus malu, wajahnya sudah seperti kepiting rebus. Ia mencoba menarik tangannya, namun Ibra malah menahannya dengan kerlingan jenaka.
"Kalau begitu, biasakan dirimu mulai sekarang," goda Ibra, wajahnya mendekat seolah sengaja ingin melihat rona merah di pipi Bita semakin pekat. "Karena mulai hari ini, aku tidak akan menahan diri lagi untuk menunjukkan seberapa berharganya kamu di hidup aku, Kamu paham, Istriku?"
Bita benar-benar kehilangan kata-kata. Sifat Gus Ibra yang semula ia kira kaku, dingin, dan membosankan, ternyata hanyalah topeng dari seorang pria dewasa yang sangat pandai membuat pertahanan hatinya runtuh berantakan.
"I-iya, paham, Gus," jawab Bita terbata-bata, akhirnya menyerah dan menyembunyikan wajah merahnya dengan bersandar di dada bidang suaminya.
Ibra tersenyum puas, melingkarkan lengan kekarnya di pinggang Bita, mendekap wanita itu erat-erat di bawah langit malam Jakarta yang perlahan menjadi saksi dari mekarnya cinta baru di antara mereka.