Di sebuah kota yang dikuasai geng-geng jalanan dan kekuasaan gelap, sekelompok pemuda memilih bertahan hidup sambil melindungi warga lemah. Di markas tua mereka, tersembunyi sebuah rahasia berusia puluhan tahun — sebuah benda yang bisa mengubah nasib banyak orang, sekaligus menjadi sumber malapetaka kalau jatuh ke tangan yang salah.
Ketika kelompok berbahaya bernama Elang Darah mulai memburunya, identitas tersembunyi dan masa lalu kelam setiap tokoh perlahan terungkap. Arda yang terlihat malas ternyata menyimpan kekuatan dan tanggung jawab besar, sementara Kael dan kawan-kawannya harus memilih: ikut berebut kekuasaan, atau tetap memegang prinsip di tengah pertarungan yang melibatkan banyak pihak rahasia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ArdaKings, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6: Bayangan di Tengah Malam
Cahaya lampu minyak berkedip-kedip, melemparkan bayangan panjang yang bergerak di sepanjang dinding pabrik tua. Suara angin malam berdesir melewati celah atap, membawa bau tanah basah dan dedaunan kering dari luar.
Kael duduk bersila di tempatnya. Jari-jarinya bergerak cepat, memutar koin perak itu melintasi ruas jari tanpa henti. Matanya tertuju pada nyala api yang menari-nari di dalam tungku, bibirnya rapat terkatup. Tidak sepatah kata pun keluar dari mulutnya.
Di sebelahnya, Niko membentangkan selembar kertas lusuh di atas meja. Ujung-ujungnya ditindih dengan batu kecil agar tidak terbang tertiup angin. Jarinya menelusuri garis-garis yang digambar di atasnya — jalanan, sungai, titik-titik lokasi — lalu berhenti tepat di satu titik di bagian barat. Pensilnya berhenti di udara sesaat sebelum kembali menorehkan tanda silang kecil.
Bastian berdiri membelakangi mereka, menghadap dinding yang penuh bekas goresan. Tangannya mengepal, lalu melayangkan pukulan pelan ke udara, satu, dua, tiga kali. Napasnya teratur, tapi bahunya terasa lebih tegang dari biasanya. Setiap kali mengayunkan tangan, otot lengannya terlihat menegang jelas di bawah kemeja tipisnya.
Mikhael duduk di dekat pintu, mengasah sebilah pisau dapur dengan batu asah. Suara gesekan halus itu terdengar berirama, diselingi sesekali dia mengangkat bilah itu dan mengusapnya dengan ibu jari untuk memeriksa ketajamannya. Matanya sesekali melirik ke arah celah pintu, memastikan tidak ada bayangan yang mencurigakan bergerak di luar.
Di sudut paling gelap, Arda masih terbaring. Satu tangannya menjuntai ke luar selimut, memegang segenggam kacang yang dia masukkan ke mulutnya satu per satu. Matanya setengah terpejam, tapi telinganya tetap menangkap setiap bunyi kecil di dalam ruangan. Sesekali dia menggerakkan bahunya sedikit, mengusir nyamuk yang berputar di sekitar wajahnya.
"Jam berapa sekarang?" tanya Bastian tanpa menoleh, suaranya rendah.
Niko mengangkat kepalanya, melirik lubang di dinding tempat cahaya bulan masuk. "Sudah lewat tengah malam."
Gesekan batu asah berhenti. Mikhael memasukkan pisau itu kembali ke sarungnya, lalu menaruhnya di samping kaki. "Kalau pengawasan sudah berjalan seperti yang diatur, kita harusnya dapat kabar sebelum fajar."
Kael masih memutar koinnya. Gerakannya tidak melambat, tidak juga dipercepat. Dia hanya menunduk, seolah seluruh perhatiannya terpusat pada benda kecil yang berkilau samar itu.
Tidak ada jawaban. Tidak perlu. Mereka sudah cukup lama bersama untuk mengerti apa yang sedang dipikirkan satu sama lain hanya lewat gerakan saja.
Di luar, angin berhembus lebih kencang. Suara ranting pohon bergesekan terdengar makin jelas. Sesaat kemudian, bunyi langkah kaki ringan dan teratur terdengar mendekat — bukan langkah orang yang berjalan santai, tapi langkah orang yang terlatih untuk tidak menimbulkan suara berlebih.
Pintu didorong terbuka sedikit, dan sosok Lio menyelinap masuk. Pakaiannya basah terkena embun malam, rambutnya menempel di dahi. Dia menutup pintu kembali dengan hati-hati, lalu menunduk sebentar sebelum melangkah mendekat.
Matanya bergerak cepat mengamati wajah mereka satu per satu. Napasnya masih teratur, tapi matanya sedikit melebar, memberi isyarat bahwa dia membawa sesuatu yang penting.
"Sudah sampai?" tanya Mikhael, suaranya hampir berbisik.
Lio mengangguk, lalu mengeluarkan secarik kertas kecil dari balik ikat pinggangnya. Kertas itu basah di ujungnya, tapi tulisannya masih terbaca jelas. Dia meletakkannya di atas meja tepat di depan Niko.
"Mereka bergerak lagi," bisik Lio. "Tiga orang keluar dari gudang tadi. Satu menuju ke dermaga, dua lainnya belok ke jalan belakang menuju perbatasan selatan. Ada satu gerobak tertutup yang mereka tarik perlahan, tidak memakai lampu sama sekali."
Jari Niko menyentuh kertas itu, lalu melipatnya rapat dan menyimpannya di saku dalam bajunya. Tatapannya langsung beralih ke Kael.
Koin di jari Kael berhenti berputar. Dia menggenggamnya erat di telapak tangan, lalu menoleh ke arah jendela pecah tempat cahaya bulan masuk. Matanya menyipit, mengamati kegelapan di luar seolah bisa melihat apa yang terjadi di ujung jalan sana.
"Isi gerobaknya?" tanyanya, suaranya datar, tidak ada nada terkejut atau panik.
Lio menggeleng pelan. "Tertutup kain tebal. Aku tidak bisa melihatnya. Tapi suaranya saat bergesekan dengan tanah terdengar berat — bukan berisi makanan biasa."
Bastian memutar badannya menghadap mereka. Tangannya masih mengepal, tapi kini sudah tergantung longgar di sisi tubuhnya. "Aku dan Mikhael bisa menyusul sekarang. Lihat saja apa yang mereka bawa."
Mikhael sudah berdiri, meluruskan punggungnya. Dia menepuk bahu Bastian sekali, isyarat setuju.
Namun Kael hanya menggeleng perlahan. Dia membuka telapak tangannya, membiarkan koin itu jatuh ke meja dengan bunyi klik yang halus.
"Jangan mendekat," katanya singkat. "Cukup amati saja. Jangan sampai terlihat."
Bastian mengerutkan dahi. Dia membuka mulut seolah ingin membantah, tapi melihat tatapan Kael yang tenang namun tegas, dia hanya mendengus pelan lalu mengangguk. Dia tahu maksudnya — kalau mereka bertindak terlalu cepat, jejak yang tersisa akan hilang begitu saja.
Niko sudah kembali membentangkan peta. Jarinya menunjuk jalur yang disebutkan Lio, lalu menarik garis imajiner menghubungkan titik itu dengan lokasi lain. "Kalau ke dermaga, biasanya untuk menunggu kapal. Kalau ke selatan... itu jalan menuju perbatasan keluar kota."
Dia mengangkat kepalanya, menatap Kael. "Mereka memindahkan sesuatu. Entah masuk atau keluar."
Kael berdiri perlahan. Dia melangkah mendekati jendela, lalu bersandar pada dinding di sampingnya. Matanya menembus kegelapan malam, memandang ke arah jalanan yang sepi. Tangannya kembali meraba koin di dalam saku jaketnya, jari-jarinya mulai bergerak lagi memutarnya pelan.
Di sudut ruangan, Arda berhenti mengunyah. Dia mengangkat satu alis sebentar, lalu menghela napas panjang. Dengan gerakan malas, dia membalikkan tubuhnya menghadap ke arah dinding, menarik selimut sampai menutupi kepalanya. Hanya suara dengkuran halus yang terdengar sesaat kemudian.
Mereka semua melihatnya, tapi tidak ada yang berkomentar. Sudah menjadi kebiasaan — selagi bahaya belum terasa menyentuh kulitnya sendiri, Arda akan tetap menganggapnya urusan orang lain.
Di luar batas penglihatan mereka, di jalan sempit yang gelap dan basah, tiga sosok berjalan membungkuk di samping gerobak kayu yang tertutup kain. Mereka melangkah hati-hati, menghindari genangan air dan suara kerikil yang bisa menimbulkan bunyi. Di depan mereka, seorang bayangan tinggi berdiri menunggu di bawah pohon besar, wajahnya tertutup topi lebar.
"Sudah sampai?" tanya orang itu dengan suara berat.
Salah satu dari mereka mengangguk, lalu membuka sedikit kain penutupnya. Di dalamnya terlihat tumpukan kotak kayu yang diikat rapat, permukaannya tertulis simbol aneh yang tidak dikenal warga biasa.
"Semua sudah sesuai perintah," jawab orang yang menarik gerobak itu. "Besok pagi harus sudah berpindah ke tempat yang lebih aman."
Orang bertopi itu mengangguk pelan, lalu melirik ke arah jalan belakang yang gelap. Matanya bergerak waspada, seolah bisa merasakan ada sesuatu yang mengawasi mereka dari kejauhan.
"Berhati-hatilah," katanya lagi. "Malaikat Hitam mulai mengendus. Jangan sampai ada kesalahan sekecil apa pun."
Dia berbalik dan menghilang ke dalam kegelapan secepat dia datang, meninggalkan ketiga orang itu untuk melanjutkan perjalanan mereka. Tidak ada yang tahu bahwa gerakan kecil mereka malam itu sudah tercatat, sudah diamati, dan sudah menjadi sepotong kecil dari teka-teki yang mulai disusun perlahan oleh kelompok yang mereka anggap hanya tidur di dalam pabrik tua itu.
Di dalam pabrik, Kael masih berdiri di dekat jendela. Angin malam menerpa wajahnya, membuat ujung rambutnya sedikit bergerak. Dia tidak bicara lagi, tidak menjelaskan apa yang ada di pikirannya. Tapi setiap gerakan tangannya, setiap tatapan matanya, sudah cukup memberi tahu semua orang — malam ini baru saja dimulai, dan mereka harus tetap terjaga sampai matahari terbit kembali.
Bersambung...