Bukan cerita poligami... Ini cerita dua orang wanita yang tidak mau mencapai surga dengan cara berbagi suami...
Shanshan mengira, menjadi cucu dari keluarga kaya raya, dan model seksi ternama, bisa membuatnya mudah mendapatkan Emyr; pria yang dicintainya...
Rupanya tidak, karena background kehidupannya, justru menjadi masalah bagi hubungan cintanya...
Shanshan harus menyaksikan pernikahan kekasihnya bersama wanita surga pilihan orang tua Emyr...
Meski nyatanya cinta Emyr masih untuknya, tapi ia tidak rela menjadi madu dari salah satu kaumnya (perempuan). Jangan sampai ada surga tak terindu: baginya dan Adeeva.
“Sekalipun aku tidak berpikir untuk menyentuhnya, rasaku masih tulus padamu, Shan," ucap Emyr.
“Allahumma baid baini wa baina.” Berkaca-kaca Shanshan merapalnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pasha Ayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bukan pecundang
Makan siang selesai, Adara tertidur pulas dalam gendongan ayahnya. Khai dan Emyr melambaikan tangan pada Haikal yang masuk ke dalam mobilnya.
Emyr lantas beralih pada Khai, mengajak kekasih hatinya masuk ke dalam mobil miliknya, untuk kemudian diantar ke rumah utama keluarga Miller tentunya.
Dalam perjalanan yang cukup terjeda macet mereka senyap di masing-masing joknya.
Emyr hanya rajin berdehem saat canggung melingkupi keduanya. Meski demikian, bisa diklaim bahwa tak ada yang lebih bahagia daripada Emyr dan Khaira.
Tepatnya di depan pintu gerbang tinggi milik keluarga Miller, seperti biasa Khai meminta Emyr memberhentikan mobilnya.
Khai tersenyum, lalu mengemasi tasnya untuk dibawa keluar. Namun, belum sempat mendorong pintu, Emyr sudah lebih cepat meraih lengannya.
"Khai." Khaira menoleh kaget. Sejenak, ia pandangi mata Emyr yang tampak protes pada aksinya. "Mau sampai kapan kita begini hmm?"
"Maksud mu?" Khai menautkan alisnya. Bingung dengan sentuhan kecil pria itu.
"Biar aku antar kamu sampai teras," kata Emyr.
Khaira menggeleng tak setuju tentu saja. Dan jika kemarin Emyr menurut, kali ini kening Emyr berkerut seolah protes.
Pasalnya, sudah satu Minggu lamanya Khai terus meminta diturunkan di depan gerbang saja. Bukankah Emyr juga perlu memastikan Khai aman sampai teras rumah? Terlebih, ia juga merasa tidak nyaman dengan keluarga besar Khaira.
Membawa anak gadis makan siang, pulang bersama, lalu pergi tanpa berpamitan dengan keluarga besarnya. Bukankah itu perilaku pecundang? Emyr bukan lagi remaja yang takut menghadap orang tua kekasihnya.
"Kalau kau terus menghindar dari keluarga mu, selamanya hubungan kita hanya akan jalan di tempat saja Khaira, tidak ada progresnya," ujar Emyr.
Khaira meredup ekspresi. Bukan tidak ingin, tapi ia memiliki trauma berat menyangkut restu orang tua. Pernah ia ditolak Abah, dan Khaira tak ingin Emyr merasakan sakitnya.
Emyr merendahkan wajah agar bisa menatap seksama kekasihnya. "Kau tahu, aku juga mau memiliki mu sepenuhnya, memiliki mu secara utuh, Khai," katanya lirih tapi terdengar sangat tulus.
Lagi, Khai menggeleng. Sedikitnya ia menaikan pandangan, di hadapannya Emyr masih menatapnya dengan lekat.
"Tapi aku takut Myr, Papa Axel terlalu dingin. Dia pasti menegur mu dengan cara yang lebih menyakitkan lagi dari kemarin."
"Hanya teguran," sanggah Emyr. "Aku tidak akan mati hanya karena teguran dari calon mertua."
"Bagaimana dengan Abah?" sahut Khaira.
"Aku pasti bisa membujuknya," kata pria itu. Lantas, menggenggam tangan Khaira demi meyakinkan gadis itu. "Kasih aku kepercayaan Khai, aku pasti bisa menghalalkan mu."
"Myr."
"Please!" Emyr menghiba, dan dengan sangat terpaksa Khaira mengangguk menyetujuinya.
Emyr melepas genggamannya, bibirnya tersenyum mendapat persetujuan dari kekasihnya.
Segera Emyr menyalakan mesin mobil kembali. Bergegas masuk ke dalam pintu gerbang rumah utama keluarga Miller.
Tiba di depan teras, Khai menghela napas panjang untuk sesekali. Ia gugup, karena rupa rupanya Kakek yang ia sebut Daddy Dhyrga tengah duduk di sofa taman depan bersama Papa Axel-nya.
Melihat itu Khaira menciut. "Emyr, saran ku, lebih baik kamu cepat pulang saja deh Myr."
Secara nanar Khaira menatap Emyr yang sudah bersiap-siap keluar dari mobil. "Daddy sama Papa orang yang satu server, mereka dingin, omongannya nylekit, daripada kamu..."
"Aku tidak takut Khai!" Pria itu tetap melanjutkan niatnya, keluar dari mobil dan berlari kecil, membukakan pintu untuk Khaira.
"Myr!" Khaira masih menghiba. Namun, lagi dan lagi Emyr menggeleng. "Aku mau hubungan kita sehat Khai, tidak sembunyi- sembunyi lagi," ucapnya.
Khaira bisa apa selain menurut. Keduanya lantas berjalan beriringan menuju sofa taman yang dihuni oleh Daddy Dhyrga, dan Papa Axel.
Khaira tersenyum kaku, sedang Emyr dengan gagahnya menyapa kedua pria yang tengah serius bermain catur. "Assalamualaikum."
"Waalaikumusalam," jawab Daddy Dhyrga. Papa Axel hanya diam, sedikit melirik sinis ke arah tubuh Emyr.
"Daddy, Papa." Khaira beralih fokus pada kakeknya. "Daddy besar, ini Emyr, teman kuliah Khai dulu," perkenalnya.
Pria itu manggut-manggut. "Daddy tahu, kami sudah sering ketemu." Ia lantas menatap wajah Emyr. "Iya kan Nak?"
"Benar Tuan," angguk Emyr seraya tersenyum.
Mereka memang sudah saling mengenal, karena kebetulan Emyr dan timnya pernah menangani kasus keponakan perempuan Dhyrga.
Melihat sambutan hangat Dhyrga, gegas Khaira duduk di sisi kakeknya. Pelan, ia memijat lengan pria yang wajahnya menolak tua itu. "Khai sayang Daddy besar," bisiknya.
Dhyrga terkekeh, ia usap pucuk kepala cucu perempuannya, sebelum kembali menatap Emyr. "Duduk Emyr."
Tak seperti Dhyrga yang ramah tamah, Axel justru bangkit dari duduknya, kemudian pergi tanpa mengatakan sepatah pun kata. Meski informasinya Emyr sudah menduda, bukan lantas Khaira kembali pada pria itu.
Emyr menatap berlalunya punggung bidang Axel. Sedikit menyesalinya, karena ia juga ingin bertegur sapa dengan pria dingin itu.
Khaira tahu, Papa Axel-nya memang tidak mudah ditaklukkan. Jika sudah benci, ia sulit menyukai, dan bilamana menyukai, ia sukar membenci.
Dhyrga berdecak. "Tidak usah diambil hati, satu putra ku memang begitu, sok sibuk," katanya. "Duduk lah," titahnya kemudian. "Gantikan Axel main catur bersama ku."
Emyr tersenyum dan mengangguk. "Terima kasih Tuan, tapi sudah sore. Lain kali saja, Emyr meluangkan waktu untuk mengobrol juga bermain dengan Tuan."
Dhyrga mendengus sebal. "Baiklah, tapi janji, aku tunggu lagi di sini," katanya. Khaira dan Emyr mengiyakannya, lantas berpamitan dengan sopan.
Keduanya kembali ke mobil setelah Dhyrga mengizinkannya. "Sepertinya Daddy menyukai mu, Myr." Entahlah, meski restu ayahnya masih buram, Khaira sudah merasa mendapat dukungan penuh dari kakeknya.
Emyr tersenyum. "Kami sering bertemu, bahkan beberapa kali sempat makan siang bersama, aku dan tim pernah mengurus kasus keponakan Daddy besar mu, Khai."
"Oya?"
"Hmm."
Senyum Khaira meredup seketika mengingat tingkah dingin ayahnya. "Maafkan sikap Papa, dia memang sedikit over protektif," ujarnya.
"Tidak apa." Emyr menggeleng. "Setidaknya, sore ini keluarga mu tahu, aku yang membawa mu pulang Khai. Setelah ini, aku tidak perlu merasa seperti pecundang lagi."
Senyum lagi-lagi terbit menghiasi bibir Khaira yang mungil. Ia bahagia, dan sangat-sangat bahagia.
Belum selesai kebahagiaannya, kini matanya dikejutkan oleh sebuah kotak yang Emyr sodorkan padanya.
Agar tak terlihat, rupanya Emyr sengaja meletakkan kotak berpita merah itu di bagasi mobil. "Teruntuk Sayang ku," tulisnya di atas kotak.
"Apaan sih!" Khaira tergelak. Rupanya dibalik sikap kakunya, ada Emyr yang romantis. "Itu sepatu flat. Kurangi memakai heels, sayangi kaki mu, aku belikan lagi nanti," ucapnya.
Khaira menggerutu. "Sebenernya sih aku nggak terbiasa pakai sepatu flat gini, tapi besok aku pakai deh..., thanks ya."
Emyr mengangguk seraya menepuk puncak kepala kekasihnya. "Aku pulang," pamitnya yang dibalas dengan anggukan gadis itu.
"Hati-hati, Emyr." Khaira mengulum senyum malu-malu. Tangannya melambai pada mobil Emyr yang perlahan bergerak menjauhinya.
Sekilas Khaira mengembuskan napas. Emyr benar, setidaknya ia lebih lega setelah berani membawa Emyr bertemu dengan Papa dan Kakeknya.
📌 Huaaa, dua bab hari ini.. seandainya saja bisa tiap hari dua bab.. Aamiin.. Terimakasih votenya semuanya..
baby boy belum lahir
tapi kasian jg emyr,serba salah keduanya/Wilt/