Salsabillah Khairunnisa Kirani, 25 tahun. Terpaksa harus menikah dengan Adrian Mangku Kusumo, 25 tahun. Karena perjodohan orang tua mereka, padahal mereka sama-sama memiliki kekasih.
Sabillah tak tahu mengapa Adrian selalu menuduhnya menjadi penyebab kehancuran Ajeng, kekasih Adrian.
Hingga di tujuh bulan pernikahan mereka, Sabillah melihat Adrian bersama wanita yang tengah hamil tua, dan wanita itu, kekasih Adrian.
Apakah Adrian sudah mengkhianati pernikahan mereka? Meski mereka sepakat untuk berpisah setelah dua tahun pernikahan mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isma Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Alam Bawah Sadar
Jam lima pagi Adrian sudah bangun, selain untuk menunaikan kewajibanya, Adrian melakukan lari pagi selama tiga puluh menit. Dia harus selalu tampil segar dan menawan didepan Sabillah. Kemarin-kemarin dia sempat malas melakukan kegiatan menyehatkan badan itu, tapi sekarang semangat lagi.
Jam enam tepat, Adrian sudah melajukan mobilnya kerumah Sabillah. Kurang lebih dua puluh menit waktu yang ia butuhkan dengan jarak tempuh dari hotelnya menginap ke kediaman Sabillah tanpa hambatan.
Sabillah yang sedang membuat pancake untuk sarapan anak-anaknya, mendengar suara mobil masuk kehalaman rumahnya.
Menarik nafas. "Hufft, nggak bisa lihat orang mau hidup tenang. Mama kenapa dulu bisa jodohin aku sama orang kayak gitu sih?" Dumelnya mematikan kompor, melepaskan apron dan membantingnya.
Heranya, saat melewati cermin bulat yang ada diruang tamu, Sabillah menghentiakan langkahnya.
"Keringatan banget," gumamnya merapikan ikatan rambut, dan penampilanya.
"Umak mau buka pintunya?" tanya Eka heran melihat sang mama. "Itukan orang itu." Enggan menyebut nama Adrian.
"Iya, mau Umak usir," jawab Sabillah berjalan kearah pintu.
"Ngapain sih pag-"
"Om Adlian." Suara Arial yang tiba-tiba berlari menghampiri Adrian, mengagetkan Sabillah dan membuat tubuh wanita itu limbung kedepan.
Sigap Adrian menangkap tubuh Sabillah hingga tubuhnya jatuh tepat kedalam pelukan sang mantan.
"Arial, hati-hati. Kamu bikin Umak kaget." Bukanya melepaskan diri dari Adrian, malah memperingati anaknya.
"Nggak papa Sabill, jangan dimarahin. Lagian kamu nggak jatuh, jatuhnya ke pelukan ku."
Sabillah melihat dirinya, baru menyadari jika dia berada didalam dekapan Adrian. Sabillah menarik tubuhnya. "Dasar omes, mengambil kesempatan dalam kesempitan." Berkata ketus. Mengibaskan pakaianya yang tersentuh Adrian.
"Ya ampun, nggak ada najisnya kali, Bill." Yang langsung mendapat delikan dari Sabillah. Adrian menelan ludah kasar. "Masih salah juga. Susah ya bilang terima kasih sudah diselamatkan, coba kalau eng-"
"Mau ngapain sih pagi-pagi kesini?" Potong Sabillah marah, membuat Adrian terkekeh.
"Mengunjungi kamu sama anak-anak," sahutnya enteng."
Anak-anak? Anak siapa yang dimaksudnya anak-anak?
"Hai good morning, handsome," menunduk, mengecup kening Arial sayang seperti anaknya sendiri. "Udah wangi, om tebak, pasti udah mandi ya?"
"Udah donk, Om. Umak yang mandiin," jawab anak itu dengan wajah ceria menggemaskan.
"Pinter pagi-pagi udah mandi. Karna pinter nggak bikin Umak repot, Om kasih hadiah, mau?"
"Mau-mau, ayo Om masuk, kita salapan sama-sama." Menyeret tangan Adrian untuk masuk.
Ternyata Sabillah salah mengambil pilihan membukakan pintu untuk Adrian. Diapun mengikuti langkah anaknya yang menyeret tangan Adrian dari belakang.
Sampai dimeja makan, Adrian disambut wajah jutek Eka. Pemandangan yang sudah biasa bagi Adrian, dia sudah kebal.
"Hai Kakak," menyapa dengan sangat manis, "hari ini nggak sekolah?" Pertanyaan yang sudah pasti akan mendapatkan jawaban lirikan tak suka dari anak sulung Sabillah itu. Eka mengigit pancakenya.
"Kakak kayaknya pagi ini juga sudah mandi," menebak karena Eka yang sudah memakai bedak, rambut lurus tersisir rapih, "karena Kakak juga sudah mandi, Om juga akan memberi hadiah buat Kakak."
Mendudukkan Arial terlebih dahulu disebelahnya, Adrian ikut disampingnya yang bersebrangan dengan Eka yang meliriknya dalam diam.
"Tapi, Om mau sulap dulu."
"Sulap?" Arial yang bertanya antusias. Adrian mengangguk.
"Lihat," mengangkat kedua tangan keatas, "tangan Om kosong kan?" Menatap pada Eka dan Arial bergantian. "Sekarang Arial dan Kakak bantu Om berhitung, buat sulapnya."
Eka merotasikan mata malas. "Basi." Melanjutkan sarapanya.
Sabillah, dia hanya memperhatikan Adrian dari dapur, tidak menerima kehadirannya, tapi dari alam bawah sadarnya membuatkan kopi.
Sumpah ya, ini dari alam bawah sadarnya, bukan sengaja.
Meski tak diperhatikan Eka, Adrian tetap melakukan aksi sulapnya, dengan menyembunyikan tanganya di belakang, dibantu Arial yang menghitung. Adrian yakin, gadis kecil itu pasti memperhatikanya.
"One, teori, three," Arial berhitung.
"Yah, kosong," Adrian menunjukkan tanganya keudara. "Sekali lagi." Adrian kembali menyembunyikan tanganya kedalam jasnya.
"One, teori, three."
"Tadaaa" Dari belakang tubuhnya, Adrian menunjukkan tanganya yang berisi satu set alat tembakaan khusus anak-anak.
Benar dugaan Adrian, jika Eka pasti memperhatikanya dalam diam. Eka mengangkat pandanganya setelah Adrian menunjukkan barang kesukaanya itu. Matanya berbinar menatap minat pada benda itu, bibirnya sampai menganga tanpa ia sadari.
"Wow, look Kak. Itu mainan yang Kakak mau." Arial bertepuk tangan.
"Kakak suka?" Eka tetap diam, sangat jual mahal, padahal sebenarnya dia sangat menginginkanya.
Adrian kembali hanya terkekeh, betapa kuatnya anak itu mempertahankan pendirianya.
"Om nanti pasangkan disana ya," menunjuk pada dinding kosong di ruang keluarga. Eka tetap tak memberikan respon apapun. Melanjutkan makan pancakenya menutupi rasa takjubnya tadi.
Semua yang terjadi, tak luput dari perhatian Sabillah.
Adrian berdiri, menghampiri Eka. "Kakak yakin tidak mau lihat dulu?"
"Alial mau, Alial mau Om." terial Arial melompat-lompat kegirangan.
"Iya, Om bawa dua. Om pasang disana ya, nanti Arial bisa main bareng Kakak."
Tanpa izin yang punya rumah, dan serasa dia sang pemilik anak, Adrian memasangkan papan tembaak di dinding ruang keluarga, dengan perekat yang sudah disediakan dari mainan itu.
Sangat mengherankan memang, padahal bisa saja Adrian membayar orang untuk melakukan hal yang tak pernah ia lakukan sama sekali seumur hidupnya ini, terlebih ini bukan anak, atau adiknya. Melainkan anak mantan istrinya.
Semangat yang Adrian lakukan, demi agar ia terlihat mempesona dimata dua wanita yang selalu memasang wajah tak ramah kepadanya.
Eka memperhatikan apa yang Adrian lakukan dari tempatnya duduk.
Sabillah menghampiri Adrian yang sedang memasang papan tembaak.
"Aku nggak izinin kamu loh, Adrian. Ngapain sih ngelakuin ini?"
"Udah diem, aku yakin Kakak pasti suka."
"Tapi seharusnya kamu izin dulu sama aku."
Adrian menghentikan sebentar aktivitasnya. Menatap Sabillah. "Izin sama kamu lama, udah kayak izin mendirikan bangunan sama pemerintah. Harus lobi sini, lobi sana. Kelamaan, habis ini aku mau kerja."
"Terus ngapain repot-repot ngelakuin ini?"
"Demi anak-anak."
"Jangan sebut anak aku anak-anak, seolah itu anak-"
"Jangan terlalu cerewet, Bill. Nanti cantiknya ilang." Melanjutkan memasang.
"Aku nggak bercanda, Adrian. Aku nggak suka kamu begini."
"Tapi anak-anak suka pasti."
"Adrian!"
"Iya sayang." Menatap Sabillah, sungguh panggilan Adrian itu mampu membuat jantung Sabillah berhenti berdetak, ini aneh. Sabillah terpaku pada wajah tampan laki-laki itu. "Kamu tuh masih pagi jangan marah-marah terus, nanti cepet keriput."
Sabillah membuang muka kesal, wajah dan telinganya tapi terlihat memerah.
Deru suara mobil yang datang membuat Adrian mengalihkan tatapanya dari wajah cantik Sabillah.
Sabillah juga ikut menoleh kebelakang melihat siapa yang datang.
Itu Jimmy.
"Astaga, penjaga pada kemana, sih?" gerutu Adrian. "Kamu nggak usah bukain pintu buat dia, biar aku yang keluar," ucapnya. Heranya Sabillah diam, tapi menurut.
Adrian berjalan keluar, tapi ia berbelok kedapur terlebih dahulu. Meminum kopi yang dibuat Sabillah, meski masih panas, Adrian menenggaknya hingga habis. Sekuat tenaga Adrian menahan rasa panas dilidahnya.
Lihatlah, sekarang Adrian bisa berprofesi seperti seorang limbad juga.
"Terima kasih kopinya, ini lebih enak dari kopi termahal di dunia yang pernah aku minum." Mengedipkan mata. "Aku kerja dulu ya. Jangan masak, nanti aku kirim makanan sehat buat kamu." Pesanya pada Sabillah seperti berpesan pada istrinya.
* * *
"Kok ada lo sih, Rian disini?" tanya Jimmy kesal Adrian yang membukakan pintu. "Sabillah mana?"
"Udah jam sembilan, ayok kerja. Jangan sibuk ngurusin janda orang." Merangkul pundak Jimmy mengajak ke mobil. Jimmy seperti dihipnotis, dia menurut saja saat.
"Tapi aku mau ketemu ibunya anak-anak."
"Bilang begitu lagi aku tarik semua saham ku. Dan ku tarik leher kamu."
"Astaga Adrian, aku udah lama nggak ketemu."
"Mau ngapain, udah ke kantor. Jangan ganggu-ganggu janda ku." Adrian mengambil kunci mobil Jimmy, membuka pintu mobil, memasukkan Jimmy secara paksa.
"Maaf, Tuan. Tadi beliau bilang jika Tuan yang meminta menemui Tuan kedalam." Sebab tadi Jimmy menunjukkan chatnya dengan Adrian, padahal itu jawaban Adrian yang memintanya untuk bertemu dikantor. Tapi Adrian tahu Jimmy pasti banyak alasan untuk mengelabui orang.
"Udah sana, kalian nggak bisa diandalkan."
"Maaf sekali lagi maafkan kami."
"Adriannnnn, kamprettt. Gue mau ketemu ibunya anak-anak." Teriak Jimmy dari dalam mobil.
"Dorong mobil dia, kalo bisa sampai ke neraka." Perintahnya pada kedua orang suruhanya.
* * *
Tiba dikantor, Adrian tidak menemukan Arthur.
"Mana Arthur?" tanyanya pada sekretaris Arthur.
"Pak Arthur belum sampai, Pak."
"Kemana dia?" Adrian masuk ke ruanganya. Duduk dibangku kebesaranya, Adrian menghubungi Arthur.
Tapi tidak ada jawaban dari Arthur setelah dua kali Adrian menghubunginya. Karena Arthur harus menjelaskan yang ia bisikkan pada Ajeng kemarin.
"Jelaskan pada ku sejelas-jelasnya apa yang kamu katakan kemarin, Arthur? Katakan itu semua bohong!" Bentak Ajeng dengan lelehan air mata.