Untuk melunasi hutang Ayahnya, Silvi terpaksa menikah dengan Andika. Sejak saat itu hidupnya seperti di neraka. Dia hanya menjadi pemuas Andika yang memang seorang casanova itu. Meski sudah memiliki Silvi tapi dia masih saja sering mengajak wanita lain ke apartemennya.
Silvi merasa tidak sanggup lagi dengan kekerasan fisik dan verbal yang dilakukan Andika, akhirnya dia kabur. Andika terus mencari dan ingin membawanya kembali. Di saat itulah Andika merasa kehilangan.
Berbagai cara sudah Andika lakukan untuk mendapatkan Silvi lagi. Apakah Silvi mau kembali dengan Andika atau Silvi lebih memilih bersama Dion, sahabat yang selalu setia menemaninya dan juga mencintainya dengan tulus?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puput, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33
"Cantik sekali." Andika membungkukkan badannya dan memandang pantulan wajah cantik istrinya di cermin.
"Ih, Mas gak bosen liatin aku tiap hari?"
Andika justru menciumi pipi mulus Silvi. "Kenapa bosan? Tiap hari rasanya aku makin jatuh cinta sama kamu."
"Makin pintar gombalannya." Silvi sekarang berdiri dan mengambil tas kecilnya yang hanya berisi dompet dan ponsel. Kehidupannya sekarang memang jauh lebih baik daripada dulu saat dia masih bersekolah.
Kemudian Andika menggandeng tangan Silvi lalu keluar dari kamarnya. Mereka berpamitan pada Pak Adi, setelah itu mereka berjalan keluar rumah dan masuk ke dalam mobilnya.
Beberapa saat kemudian, mobil Andika sudah mulai melaju menuju hotel berbintang tempat pertemuan makan malam itu.
"Setiap kali aku menghadiri acara bersama kamu, aku selalu merasa bangga." kata Andika.
"Kenapa Mas? Aku malah minder karena aku merasa paling muda sendiri."
"Tapi kami yang paling cantik." Satu tangan Andika mengusap pipi Silvi dengan pandangannya yang tetap fokus pada jalanan malam hari itu. "Nanti kamu jangan jauh-jauh dari aku. Setelah makan, kita langsung pulang."
"Iya Mas, biasanya kan Mas Dika yang ngobrol sama rekan-rekan bisnis."
"Untuk kali ini sepertinya tidak, karena Andre juga akan datang bersama istrinya."
Silvi hanya menganggukkan kepalanya.
Beberapa saat kemudian, mobil Andika berbelok ke tempat parkir hotel. Mereka segera turun dari mobil dan berjalan memasuki hotel, tepatnya di restoran dekat taman hotel.
Beberapa tamu sudah datang, Andika menyapa rekan bisnis yang dia kenal. Begitulah, katanya Silvi tidak boleh jauh-jauh tapi Andika justru mengobrol dengan rekan-rekannya.
"Silvi, sini gabung sama kita. Biarkan saja suaminya mengobrol." ajak salah satu istri dari rekan kerja Andika yang memang sudah mengenalnya.
Mau tidak mau Silvi bergabung dengan mereka.
"Lama ya tidak bertemu. Sibuk apa sekarang?" tanyanya.
"Saya baru lulus kuliah, dan masih berencana untuk membuka sanggar tari," jawab Silvi. Sebenarnya dia tidak suka ketika ditanya kesibukannya, mereka seolah menyindir bahwa dia hanya mengandalkan Andika dalam hidupnya.
"Wah, kamu kan penari profesional ya. Sudah sering tampil di berbagai acara dan sering mengikuti kompetisi. Nanti kalau sanggarnya sudah buka, saya mau mendaftarkan anak saya," kata Clara, ibu dengan dua anak itu masih terlihat sangat cantik tapi sedikit sombong.
"Iya, mungkin masih satu tahun lagi." Silvi tersenyum kaku lalu dia mengambil minuman dingin agar mereka tidak banyak bertanya lagi.
Beberapa saat kemudian terlihat Andre, adik kandung Andika yang datang bersama istrinya.
"Wah, itu Bu Rossa dosen kampus negri itu kan? Istrinya Andre."
"Iya, cantik ya, masih muda sudah jadi dosen juga."
Rossa tersenyum ramah menghampiri Silvi dan ibu-ibu lainnya.
"Bu Rossa, sudah hamil berapa bulan?" tanya Clara sambil mengusap perut buncit Rossa.
"Jangan panggil Bu, panggil Rossa aja. Ini sudah jalan 6 bulan."
"Wah, padahal baru menikah 8 bulan ya. Hebat bisa langsung jadi."
Di saat seperti itu, hati Silvi terasa sangat sedih. Dia merasa sensitif ketika ada orang yang membahas tentang kehamilan. Kini dia hanya bisa terdiam sambil mendengar cerita Rossa terkait kehamilannya.
"Silvi kamu sudah dua tahun ya menikah dengan Andika?"
Silvi hanya mengangguk pelan.
"Lebih giat lagi, biar cepat jadi."
"Maaf, saya permisi ke toilet." Silvi memutar langkahnya dan berjalan cepat menuju toilet.
Kenapa aku jadi cengeng kayak gini?
Silvi menyusut air mata yang hampir terjatuh di ujung matanya. Dia semakin melangkah jenjang menuju toilet.
"Kenapa aku selalu sedih seperti ini ketika mendengar mereka membahas kehamilan," gumam Silvi sambil menatap dirinya di depan cermin toilet.
"Kak Silvi..."
Seketika Silvi menghapus air matanya saat ada Rossa yang ternyata menyusul langkah kakinya.
"Kenapa?" tanya Rossa.
"Aku gak papa. Cuma benerin make up aku." Silvi mengambil tisu lalu menyeka tipis air matanya yang membasahi pipinya.
"Kak Silvi jangan sedih." Rossa memeluk tubuh kakak iparnya. Dia tahu, apa yang Silvi rasakan saat ini.
"Iya, hanya aku saja yang terlalu cengeng." Silvi tersenyum dalam tangisnya. Dia seperti menjadi wanita yang sangat lemah saat berada di posisi ini.
"Kak Silvi gak boleh sedih. Semua ini sudah diatur oleh Allah. Nanti jika sudah waktunya, Kak Silvi pasti akan mendapatkannya."
Silvi menganggukkan kepalanya dengan senyum kecilnya. Kemudian dia melepaskan pelukannya lalu membenarkan bedaknya.
Di dekat pintu ada Andika yang terus melihat Silvi. Sama halnya dengan Silvi, hatinya juga sakit. Dia juga kecewa dengan dirinya sendiri. Apakah sampai sekarang dia masih belum pantas menjadi seorang Ayah hingga dia belum diberi kepercayaan memiliki seorang buah hati?
💕💕💕
.
Like dan komen ya...
ditgg karya selanjutnyaaaa