NovelToon NovelToon
Suami Mafia Sang Polwan

Suami Mafia Sang Polwan

Status: sedang berlangsung
Genre:Roman-Angst Mafia / Menyembunyikan Identitas / Action
Popularitas:115.8k
Nilai: 5
Nama Author: Nana 17 Oktober

Chantika Rahardja adalah putri dari keluarga pebisnis yang memilih menjadi polwan. Saras, adik tirinya selalu iri dengan prestasi dan kecantikannya. Apalagi sang ayah selalu membandingkan mereka dan lebih membanggakan Chantika.

Saras menjebak Chantika untuk menemani pebisnis yang terkenal playboy agar mendapatkan investasi.

Tapi siapa sangka Chantika malah terlempar ke ranjang Enzo Arkan Pradana, bos mafia yang terkenal tak pernah menyentuh wanita. Pria yang akhirnya bisa tidur tanpa menelan obat saat bersama Chantika.

Kesalahan semalam itu membuat keduanya menikah, tanpa Chantika tahu siapa sebenarnya suaminya. Di balik identitasnya sebagai CEO sebuah perusahaan, pria itu menyembunyikan kekuasaan yang tak seorang pun berani menentangnya.

Seorang penegak hukum menikahi penjahat?

Bagaimana rumah tangga mereka jika Chantika tahu sang suami adalah seorang mafia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

25. Sebelum Lamaran Itu Datang

"Dan setelah itu..." Enzo menatap Chantika lekat-lekat. "...tidak akan ada jalan lagi untuk membiarkanmu lepas dariku."

Chantika mendekat hingga jarak mereka tinggal beberapa senti. Ia mengendus pelan sambil menyipitkan mata.

"Aku mencium aroma posesif." Jemarinya menunjuk pelan ke dada Enzo. "Dari sini."

Enzo tersenyum tipis. "Kenapa?" Ia menundukkan tubuh hingga mata mereka sejajar. "Takut?"

Chantika menggeleng.

"Mau mundur?" bisik Enzo dengan suara berat. Bibirnya kembali terangkat tipis. "Terlambat."

Bukannya gentar, Chantika justru terkekeh pelan.

Enzo mengangkat sebelah alis. "Kenapa malah tertawa?"

"Bagiku, pasangan yang posesif bukan masalah." Chantika mengangkat bahu santai. "Asal masih dalam batas yang wajar."

"Menurutmu..." tanya Enzo pelan, "...aku masih dalam batas wajar?"

Chantika mengangguk mantap. "Kamu memberiku perhiasan untuk melindungi diri, bukan untuk membatasi gerakku. Kamu juga tidak pernah menyuruhku berhenti jadi polisi." Ia menatap Enzo penuh keyakinan. "Itu artinya kamu menghargai profesiku."

Senyum tipis menghiasi bibirnya. "Jadi menurutku, posesifmu masih dalam batas yang wajar."

Sorot mata Enzo melembut. "Aku memang tidak ingin membuatmu merasa tidak nyaman." Ia mengusap lembut pipi Chantika. "Apalagi merasa terkekang."

Chantika tersenyum lebar. "Bagus." Ia mengangguk puas. "Itu yang aku mau."

Namun, beberapa detik kemudian, senyum di wajah Chantika perlahan memudar. Raut wajahnya berubah serius.

"Btw, kamu gak bisa datang melamarku malam ini."

Enzo mengangkat sebelah alis. "Kenapa?"

Chantika melirik jam dinding, lalu kembali menatapnya. "Kamu gak lihat ini jam berapa?"

Enzo mengangkat tangannya melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Jarum jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam lewat tiga puluh menit.

Ia mengembuskan napas pelan. "Kalau begitu... besok malam aja aku datang melamarmu."

Chantika mengangguk kecil. "Oke." Ia melangkah mundur. "Aku harus pulang."

Baru saja Chantika berbalik, Enzo lebih dulu meraih pergelangan tangannya.

Dengan satu tarikan pelan, tubuh Chantika kehilangan keseimbangan hingga jatuh tepat ke dalam pelukan Enzo.

"Kamu belum mengucapkan selamat malam," bisik Enzo sambil tersenyum tipis.

Chantika mendengus pelan. "Kamu ini..."

Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, Enzo sudah lebih dulu membungkam bibirnya dengan sebuah kecupan lembut.

Mata Chantika membulat sesaat. Pria ini selalu saja seperti ini. Namun, alih-alih mendorong atau menolaknya, Chantika perlahan memejamkan mata dan membalas ciuman itu.

Untuk beberapa saat, dunia seolah berhenti berputar. Yang terdengar hanya detak jantung keduanya yang berpacu semakin cepat. Saling menyesap dan melum mat.

Tangan kiri Chantika memegang rahang Enzo, tangan kanannya melingkar di leher pria itu. Enzo menekan tengkuknya memperdalam ciuman mereka.

Barulah ketika napas mereka mulai menipis, Enzo perlahan mengakhiri ciuman itu. Kening mereka saling bersentuhan.

"Selamat malam, istriku," bisiknya pelan.

Pipi Chantika kembali menghangat. "Selamat malam..." jawabnya lirih. "...suamiku."

Kalimat itu membuat senyum Enzo semakin lebar. Untuk pertama kalinya, Chantika menyebutnya dengan sebutan yang selama ini hanya ia dengar dari bibirnya sendiri. Itu saja sudah cukup membuat malam Enzo terasa sempurna.

***

Di ruang tengah, Rahardja duduk di sofa sambil memangku laptop. Jemarinya sesekali mengetik, tetapi beberapa menit sekali pandangannya selalu beralih ke jam dinding.

Pukul sepuluh malam lewat lima belas menit.

Ranti yang baru keluar dari kamar memerhatikan suaminya sejenak sebelum menghela napas pelan.

Ia tahu persis kenapa Rahardja memilih bekerja di ruang tengah, bukan di ruang kerjanya.

Pria itu sedang menunggu Chantika pulang. Padahal jika ingin bekerja, ruang kerjanya jauh lebih tenang.

"Pa," panggil Ranti lembut sambil duduk di sampingnya.

"Hm?" sahut Rahardja tanpa mengalihkan pandangan dari layar laptop.

"Lagi nunggu Chantika, ya?"

"Iya." Rahardja kembali melirik jam dinding. "Tadi dia bilang bakal pulang agak malam karena ada sedikit urusan. Tapi gak bilang jam berapa."

Ranti tersenyum tipis. "Dia 'kan polisi, Pa. Pasti bisa menjaga dirinya sendiri."

Rahardja akhirnya menutup laptopnya perlahan, lalu menoleh kepada istrinya.

"Mau dia polisi, tentara, atau profesi apa pun..." ucapnya tenang. "Dia tetap putriku."

Tatapannya melembut. "Sebagai ayah, sudah menjadi tanggung jawabku memastikan anakku pulang dengan selamat dan hidup bahagia."

Kalimat itu membuat Ranti tersenyum hambar. Entah kenapa, setiap kali Rahardja menunjukkan perhatian sebesar itu kepada Chantika, ada rasa tidak nyaman yang diam-diam muncul di dalam hatinya.

Ia segera mengalihkan pembicaraan.

"Oh ya, Pa."

Rahardja menoleh.

"Saras cerita kalau Papa pernah janji bakal ngangkat dia jadi manajer kalau berhasil dapetin investor."

Rahardja mengangguk. "Benar."

"Tapi setelah dia berhasil, Papa malah bilang kontraknya harus diperiksa tim legal dulu."

"Bukan kontraknya." Rahardja menggeleng pelan. "Salah satu klausulnya."

Ranti mengernyit.

"Kalau memang Saras sudah berhasil membawa investor, kenapa gak langsung ditepati saja janjinya?"

Rahardja mengembuskan napas pelan. "Karena yang dipertaruhkan bukan cuma sebuah jabatan."

Ia mengambil map yang berada di atas meja, lalu menunjukkannya kepada Ranti.

"Perusahaan ini memang milik keluarga kita. Tapi di dalamnya ada ratusan karyawan yang menggantungkan hidupnya di sini."

Tatapannya berubah serius. "Kalau aku mengangkat seseorang ke posisi manajer hanya karena dia anakku, tanpa memastikan keputusan bisnisnya benar, itu tidak adil bagi perusahaan."

Ranti terdiam.

Rahardja melanjutkan, "Kalau nanti tim legal menyatakan kontraknya aman, aku akan menepati janjiku."

"Kalau ternyata tidak?"

"Berarti Saras masih harus belajar." Nada suara Rahardja tetap tenang, tetapi tegas. "Kasih sayang orang tua tidak boleh membuat kita menutup mata terhadap kesalahan anak."

Ranti menghela napas pelan. "Tapi Saras pasti kecewa."

"Aku tahu." Rahardja mengangguk kecil. "Justru karena dia anakku, aku ingin dia tumbuh menjadi perempuan yang mampu berdiri dengan kemampuannya sendiri. Bukan karena dimanjakan oleh jabatan."

Tatapannya beralih kepada Ranti. "Jangan terlalu memanjakan Saras."

Ranti sedikit tersentak.

"Sesekali biarkan dia belajar menghadapi konsekuensi dari pilihannya sendiri."

Ranti tak segera menjawab. Beberapa detik kemudian, ia bangkit dari sofa. "Ya sudah. Aku ke kamar dulu."

Rahardja hanya mengangguk pelan. Setelah Ranti menghilang di balik koridor, pria itu mengembuskan napas panjang.

"Dari dulu aku berusaha mendidik Saras supaya mandiri..." gumamnya lirih. Tatapannya mengarah ke lorong tempat istrinya pergi. "...tapi Ranti selalu terlalu cepat melindunginya."

Belum sempat ia kembali membuka laptop, suara mesin mobil terdengar memasuki halaman rumah. Rahardja langsung mengenali suara mesin itu.

Mobil Chantika.

Tanpa sadar, napas yang sejak tadi terasa tertahan akhirnya terembus lega.

Beberapa saat kemudian, pintu rumah terbuka.

"Pa." Chantika melangkah masuk sambil tersenyum kecil.

"Sudah selesai urusannya?" tanya Rahardja.

Chantika mengangguk. "Iya, Pa."

Rahardja ikut tersenyum. Hanya melihat putrinya pulang dengan selamat sudah cukup membuat hatinya tenang.

Chantika menghampiri, lalu duduk di samping ayahnya. "Papa gak perlu nunggu aku sampai malam begini."

Rahardja tersenyum hangat. "Papa gak bakal bisa tidur kalau putri Papa belum pulang."

Senyum Chantika semakin lebar. Tanpa ragu ia memeluk lengan ayahnya, lalu menyandarkan kepala di bahu pria itu.

Rahardja mengusap lembut lengan putrinya.

"Capek?"

"Sedikit."

Jawaban itu diucapkan sambil mengembuskan napas pelan. Tanpa sengaja, pandangannya jatuh pada sebuah map yang tergeletak di atas meja. Keningnya langsung berkerut samar.

Map itu... Terlihat sangat familiar.

"Bukankah itu map yang dua malam lalu dibawa Saras saat bertemu Bryan?"

 

...🔸🔸🔸...

..."Seorang ayah menjaga dengan kepercayaan, seorang pria menjaga dengan perlindungan. Keduanya sama-sama berharap perempuan yang mereka cintai selalu pulang dalam keadaan selamat."...

..."Tidak semua perhatian berarti mengekang. Kadang, perhatian terbesar adalah memberi kebebasan sambil diam-diam memastikan orang yang dicintai tetap aman."...

..."Nana 17 Oktober "...

...🌸❤️🌸...

.

To be continued

1
Anitha
Pak Raharja tidak sebodoh itu Bryan
Beliau sudah mempersiapkannya sejak dulu,jadi jangan pernah mimpi permainanmu akan berhasil,di samping itu ada Menantu yang sangat berkuasa yang di takuti semua orang yaitu Enzo...

Lihat nanti rumah tangga Saras dan Bryan bakal seperti apa.

Pak Raharja Ayah yang sangat bijak dalam bersikap terhadap putrinya.
Siti Jumiati
lanjuuuut kak nana💪🙏
asih
selagi ada Enzo kayaknya mimpimu g bakal terwujudkan Bryan jangan terlalu PD kau akan kecewa nanti ..di saat kekecewaanmu kalau kau menyakiti laras saat itu juga mimpimu hancur
Puji Hastuti
semakin menarik,Bryan dg pasti kalau rencananya akan berhasil,sedang Raharja sudah siap dg strategi nya.
Oma Gavin
kepedean banget bryan jgn harap mudah raharja bukan orang bodoh apalagi enzo ada di pihak Raharja jgn terlalu percaya diri bryan takutnya ngga sesuai ekspektasi mu dan nyungsep
Anonim
Setelah mendengar jawaban Chantika yang sudah mengajukan izin menikah ke institusinya. Enzo mau ikut pulang bersama Chantika. Mau melamar.

Kalau lamarannya ditolak - Chantika pasti tidak menyangka jawaban dari Enzo 😄.

Kalau ngomong aneh-aneh lalu dihajar Papanya Chantika, Enzo gak apa-apa. Asal setelahnya, putri kesayangannya diserahkan padanya.

Mas kawin dari Enzo untuk Chantika masih rahasia.

Kejutan apa yang akan diberikan Enzo untuk seluruh keluarga Chantika sehubungan dengan mas kawin nanti di saat lamaran.

Sampai segitu yakinnya Enzo setelah acara lamaran dan mas kawin yang diberikan. Sampai berkata - tidak akan ada jalan lagi untuk membiarkan Chantika lepas darinya.

Pastinya, keselamatan Chantika akan aman apabila bersama Enzo.
Anonim
Enzo tidak selalu ada di dekat Chantika. Jadi Chantika punya kesempatan melindungi diri sendiri dengan perhiasan-perhiasan dan jam tangan yang dipakainya.

Chantika pasti sangat terharu, Enzo benar-benar memikirkan semuanya.

Enzo sempat terkejut ketika Chantika langsung memeluknya, dan mengucap terima kasih.

Enzo mengatakan - jangan berterima kasih. Karena tugasnya sebagai suami adalah memastikan istrinya selalu pulang dengan selamat.

Chantika bergumam - masih saja bilang aku istrimu. Dan berkata seperti biasanya - kita belum menikah 😄.
Anonim
Enzo melarang Chantika menemui Bryan sendirian.

Enzo menawarkan bantuannya. Sekelas Ezo saja merasa tidak tenang kalau Chantika berhadapan dengan Bryan. Enzo tahu sepak terjang Bryan - investor playboy.

Enzo benar-benar ingin melindungi Chantika. Ia memberi Chantika perhiasan serta jam tangan yang dirancang sedemikian rupa, terpasang alat untuk melindungi Chantika yang seorang polisi.
Puji Hastuti
aduh kayak buah simalakama
asih
gara² kebodohan satu orang seluruh keluarga jadi susah ..

q juga curiga kekayaan Bryan itu muncul Dari mana .. atau jangan² dia dalang Dari semua barang selundupan atau illegal itu Dan victor atau siapa itu hanya kaki tangannya saja
Fadillah Ahmad
Ayo Kak Nana... Lanjutkan lagi Kak 🙏🙏🙏😁

Semangat Kak Nana... Up Bab Baru-nya ya, Kak 🙏🙏🙏
Fadillah Ahmad
Nay, itu kau tau! 😂😂😂 Kenapa kau malah melakukan itu, ha? Dasar Bodoh! Otak dangkal! 😁😁😁 Mikirn6a cuma untuk saat ini doang. Nggk mikirin juga apa, kedepannya. 😂😂😂 Kalau kau lumpuh Selerti Ryuhan Kai Zander, gimana Coba? ha? Makin susah lagu, hidupmu tau! 😂😂😂
Fadillah Ahmad
Kaulah yang bodoh! 😂😂😂 Demi menggugurkan janinmu, kau malah menyakiti dirimu sendiri. 😂😂😂 Dasar Bodoh! Kenapa nggk mengakhiri hidup saja sekalian? ha? 😂😂😂 jelas pula kau masuk ke neraka... 😂😂😂
Fadillah Ahmad
Nah kan! 😂😂😂 Aku sudah menduganya sedari awal. Soalnya, pertanyaan kamu oada dokter tadi itu sudah aneh tau... 😂😂😂 Ternyata, memang kau sengaja ya, menggugurkan kandunganmu sendiri? 😂😂😂 Dasar! Kau tidak bisa mengibuli aku tau... 😂😂😂
Fadillah Ahmad
Yaaah, sudah Capek-capek mencelakai diri sendiri, eh... Bayi sialan itu nggk juga keguguran... 😂😂😂🙏
Fadillah Ahmad
Kok, aku merasa pertanyaan kamu ini agak aneh ya, Saras? 🤔🤔🤔 Kayak, seolah-olah kamu sengaka gitu loh, menyelakai dirimu Sendiri! 🤔🤔🤔 Sedikt aneh deh Perranyaanmu itu... 😂😂😂
Fadillah Ahmad
Hahaha, tepat sekali! Aku berpik8ran sama seperti kau Ranti! Aku curiga kalau Saras sengaja menumpahkan sqmbun itu, untuk menggugurkan kandungannya... 😂😂😂
Fadillah Ahmad
Benarkah? 😂😂😂 Kok, aku nggk percaya ya? 😂😂😂 Aku malah berpikiran, kalau kau sengaja melakukan itu, untuk menggugurkan kandunganmu, iya kab? Kamu sengaja bukan? 😂😂😂
Fadillah Ahmad
Waaah, apakah Saras akan ke guguran dengan sendirinya? Di karenakan tertekan oleh keadaa 🤔🤔🤔
Anitha
Nunggu keputusan dari Pak Raharja apakah Saras akan di nikahkan sama Bryan atau tidak,jadi serba salah...

Enzo saat ini hanya perlu mengawasi saja tidak ikut campur dulu selagi Pak Raharja bisa mengatasinya...

jika nanti Saras nikah dengan Bryan..
tentu saja Enzo dan Chantika bakal pindah ke Apartement Enzo yang lebih nyaman tidak ada parasit
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!