Kaelus Danurwenda terkejut ketika mendapati dirinya di pagi hari tanpa mengenakan pakaian. Dia mengumpat marah ketika mengingat kejadian tadi malam.
Kaelus mencari jejak si wanita namun nihil. Pencarian Kael berlangsung selama 4 tahun lamanya, tapi tak menghasilkan apapun.
Ketika harapannya pupus, dan hendak menerima perjodohan yang diatur orang tuanya, tiba-tiba seorang bocah dengan mata coklat kekuningan menabrak tubuhnya.
"Maap Om, Al nda senaja."
Debaran aneh memenuhi hati Kaelus Wajah bocah itu sangat tidak asing di matanya.
"Kamu ... ."
"Maaf Tuan, anak saya berlari tanpa arah. Permisi."
Melihat ibu dari anak itu, Kaelus samar-samar mengingat tentang wanita di malam yang salah itu.
Apa yang akan dilakukan Kaelus? Apa dia akan melanjutkan perjodohan yang diatur, atau malah mencari ibu dan anak tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ATSP 02
Ughhhh
Sinar matahari yang menembus kaca jendela membuat Kael melenguh. Di mengedipkan matanya berkali-kali untuk menetralkan pandangannya terhadap sinar matahari tersebut.
Kepalanya terasa sedikit sakit, namun Kael tetap berusaha bangkit. Dan pria itu langsung terkejut ketika mendapati dirinya yang bangun dari tempat tidur tanpa mengenakan pakaian sama sekali.
"A-apa ini?"
Mata Kael menelisik ke seluruh ruangan kamar. Dia melihat baju miliknya yang berserakan. Kael mengambil baju-baju itu, dan mendapati baju tersebut basah.
"Ah sialan!" umpatnya ketika mengingat apa yang terjadi semalam.
Kael bergegas kembali ke ranjang. Dia menyibakkan selimut itu dengan cepat. Dan betapa terkejutnya dia melihat bercak darah disana.
"Dasar bajingann kamu, Kael!"
Ia duduk di tepi ranjang, mencoba mengingat-ingat sepenuhnya dengan kejadian tadi malam.
Potongan-potongan ingatan itu pun muncul. Mulai dari ketika dirinya pulang, mengguyur tubuhnya sendiri dengan air dingin, hingga menyeret gadis tak bersalah untuk melepaskan hasratnya.
"Ya Tuhan, apa yang sudah aku lakuin sama gadis itu. Rosa, namanya Rosa kan ya?"
Kael buru-buru membersihkan diri, mengganti pakaiannya dan keluar dari kamar. Dia mencari-cari gadis itu, namun di rumah itu tak ada siapa-siapa.
Tapi Kael tidak menyerah. Dia menghubungi ibunya dan menanyakan kontak si pengawas rumah.
"Pak, gadis yang namanya Rosa apa bapak tahu dimana dia sekarang?" tanya Kael saat mendapatkan nomor kontak pengawas dari sang ibu.
"Waduh Den, bapak nggak tahu. Dini hari tadi dia nelpon, katanya mau pergi karena ada urusan mendadak gitu. Tapi bapak nggak tahu, dia pergi kemana."
Sial!
Kael mengumpat kesal mendengar hal tersebut. Bagaimana bisa gadis itu pergi begitu saja. Tidak, Kael bukannya menyalahkan Rosa. Dia hanya kesal dan marah kepada dirinya sendiri karena telah melakukan hal buruk terhadap orang lain.
"Ugh brengsek, aku harus segera pulang. Tapi gadis itu. Tunggu, aku akan nyuruh Rowan aja buat nyari."
Pikiran Kael sangat kalut sebenarnya. Namun dia tetap harus bersikap tenang karena dirinya harus segera kembali ke Bandung. Laporan tentang pertemuannya bersama klien must secepatnya dilaporkan kepada sang ayah. Maka dari itu Kael menunda pencariannya.
Akan tetapi Kael tak sepenuhnya menunda. Katika berada di perjalanan Jakarta Bandung, Kael menghubungi asisten pribadinya.
"Yap Bos," jawab seseorang diseberang sana.
"Rowan, datanglah ke Jakarta sekarang. Temui pengawas rumah ku yang ada di sini. Lalu cari informasi tentang gadis yang bernama Rosa. Setelah itu cari gadis itu sampai dapat,"ucap Kael.
"Ciri-cirinya kayak gimana?"
"Cewek, rambutnya item. Dah itu cari."
APA??
Tuuuut
Mata Rowan langsung mendelik mendengar perintah tuannya yang menurutnya sangat sembarangan. Bagaimana tidak, tiba-tiba dia diminta mencari seorang gadis yang wajahnya seperti apa saja dia tidak tahu.
"Dia udah mulai stress apa ya. Cewek yang namanya Rosa dengan rambut hitam itu banyak bambaaaang. Arghhhhh!!!"
Rowan memekik kesal. Dia tahu dan paham bahwa bos mudanya ini memang terkadang bertindak di luar nalar, namun kali ini benar-benar Rowan tak bisa mentolerir lagi.
Tring
Sebuah pesan masuk ke handphone Rowan dan pesan itu berasal dari Kael.
"Jangan beritahu Papi sama Mami. Lakukan ini secara diam-diam. Secret mission, awas kalau bocor."
Ughhh
Rowan kembali mendengus kesal. Menjadi asisten pribadi Kael, ada saja kejutannya. Kael memang masih muda, jadi bagi Rowan yang usianya 3 tahun lebih tua merasa lumrah. Akan tetapi juga tak dipungkiri bahwa kadang dirinya merasa kesulitan.
"Cari ya cari aja lah. Haduh mana ini jam lagi macet-macetnya. Ah elah si bos mah."
Meskipun menggerutu akan tetapi Rowan tetap melaksanakan perintah sang bos muda nya itu.
Sedangkan di Jakarta, Kael yang tadinya hendak segera pulang, mengundurkan waktunya sejenak. Dia memutar balik mobilnya, ada tempat yang harus didatanginya lebih dulu sebelum kembali ke Bandung.
"T-tuan masih belum bangun Tuan Kael,"ucap seorang wanita yang usianya mungkin seusia ibunya Kael.
Kael bergeming, dia tidak peduli dengan ucapan salah seorang asisten rumah tangga yang bekerja di rumah itu. Kemarahan yang tertampak pada wajahnya sangat cukup jelas, yang mena sebenarnya cukup menakutkan bagi si asisten rumah tangga.
Namun, dia tidak bisa membiarkan Kael menuju ke tempat tuannya berada. Terlebih saat ini sang tuan tengah bersama seseorang.
"Jangan halangi aku, Mbok. Mbok tahu kan kalau saat ini aku lagi teburu-buru,"ucap Kael dengan sorot mata yang tajam.
"T-tapi Tuan, Mbok beneran tidak bisa membiarkan Tuan Kael masuk. Bisa-bisa Mbok nanti~"
Kael merasa iba dengan si mbok, tapi dia tetap tidak bisa pergi sebelum menemui teman brengseknya itu.
Langkah Kael semakin lebar dan cepat yang mana membuat si mbok kesulitan dan akhirnya Kael bisa berada di depan pintu milik Victor. Tanpa mengetuk, tanpa permisi, Kael menendang pintu kamar yang memang tak terkunci.
Wajah Kael yang dingin tampak tak peduli dengan pemandangan yang ada di dalam kamar itu. Pemandangan yang sebenarnya membuatnya sangat enggan untuk dilihat karena merasa jijik pada dirinya sendiri. Ya Kael merasa jijik pada dirinya yang sudah melakukan perbuatan tercela tadi malam dimana semua itu adalah ulah dari sang teman durjana.
"Apa yang kamu campur dalam minuman ku semalam, Vic? Brengsek kamu!"
"Woaaah Tuan Muda Kaelus Danurwenda, selamat pagi. Waah seger banget nih roman-romannya ya. Gimana enak nggak? Enak dong pastinya. Suka kan sama hadiah gue. Lo terlalu polos sampai-sampai gue gemes sendiri. Mana ada laki-laki seusiamu yang belum pernah ngerasain nikmatnya sekss. Nah sekarang udah ngerasain kan, coba ceritain ke gue gimana rasanya."
Victor nampak sangat puas melihat wajah Kael yang kesal. Dia tahu kalau Kael pasti akan mendatanginya dengan penuh kemarahan.
Drap drap drap
Bugh!
Aaaaaah
"Bajingan!"
Kael jalan ke arah ranjang, dan dia langsung melayangkan pukulan ke arah wajah Victor hingga sudut bibirnya berdarah. Victor tersenyum namun tidak dengan wanita yang ada di sebelahnya.
"Hahaha, melihat reaksi lo, gue yakin kalau lo udah asik-asikan semalem. By the way, siapa cewek yang beruntung ngeperawanin lo Kael."
Bugh!
Bugh!
Bugh!
"Tuaaaaan!!
Si mbok datang bersama seorang security rumah Victor. Melihat tuannya dipukuli, si mbok terkejut dan segera meminta security untuk menahan Kael. Dia pun juga membantu memisahkan Kael dari Victoor.
"Bajingan lo Vic, nggak semua orang harus kayak lo. Apa yang gue jaga selama ini hancur karena lo. Mulai sekarang, jangan pernah nganggep gue temen karena gue nggak pernah mau punya temen brengsek. Lo kalau mau brengsek ya brengsek aja sendiri, nggak usah ngajak-ngajak orang lain. Cuih, dasar bajingan!"
Kael menepis pegangan security dan si mbok. Dia juga membenarkan bajunya yang sedikit berantakan itu. Dan tanpa bicara lagi, Kael pun melenggang pergi meninggalkan kamar Victor. Tak hanya kamar victor, namun Kael juga meninggalkan pertemanan yang sudah dijalin selama 6 tahun lamanya dengan pria tu.
"Cih, munafik, dasar sok suci."
TBC
n faham
semangat n sehat sehat author🩷🩷
teman nya si kael gk d kasih pelajaran,,karna dia mereka jd sengsara