Sama seperti bosnya, Adnan juga punya hobi mengambil foto dengan kameranya. Namun hobinya berubah jadi obsesi ketika dia ketagihan mendapatkan job 'fotografer p|us-p|us'. Semua itu berawal saat Adnan menemukan kamera tua milik mendiang ayahnya di lemari.
Kamera tua itu mampu membuat Adnan melihat dalam mode tembus pandang, lalu mode menampilkan yang tak kasat mata, bahkan sampai mode ronsen yang digunakan dalam kedokteran. Gilanya lagi, kamera itu mampu bisa membuat wanita klepek-klepek pada Adnan. Bagaimana bisa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 14 - Memilih Kabur
Cahaya lilin yang memburu menari-nari di atas kulit pucat mereka, menciptakan bayangan-bayangan aneh yang bergerak di dinding ruangan. Keheningan yang tadinya menyelimuti ruangan itu perlahan pecah, digantikan oleh suara desahan pelan yang mulai terdengar di antara mereka. Tanpa aba-aba, tubuh-tubuh telanjang itu mulai bergerak saling mendekat.
Tangan-tangan meraba, tubuh berdesakan, bibir bertemu tanpa keraguan. Tidak ada rasa malu, tidak ada batasan. Mereka bercumbu di lantai dingin, di tepi meja ritual, di antara tumpukan jubah hitam yang tergeletak berantakan. Suara ciuman yang basah, rintihan yang tertahan, dan gesekan kulit yang saling bersentuhan kini memenuhi ruangan, bercampur dengan bau anyir darah dan aroma dupa yang menyengat hingga membuat kepala Adnan pening.
Ada kegilaan yang menular di sana. Mata mereka tampak sayu namun berbinar aneh, seolah kesadaran mereka telah diambil alih sepenuhnya oleh sesuatu yang lain. Mereka saling meremas, saling memeluk begitu erat seolah ingin menyatu menjadi satu, sementara di atas mereka, sosok bertanduk itu masih berdiri tegak. Melalui layar kamera, Adnan melihat tangan raksasa makhluk itu perlahan turun, seolah membelai kepala mereka satu per satu, memberi berkah yang jauh lebih mengerikan daripada kutukan.
Adnan terpaku di tempat, kakinya terasa berat seolah tertanam di lantai. Ia bukan tergoda oleh pemandangan itu, justru rasa takutnya memuncak hingga ubun-ubun. Ia merasa sedang menyaksikan pesta penyembahan yang mengerikan, persetubuhan yang ditujukan bukan untuk sesama manusia, melainkan untuk entitas yang mengawasi mereka dengan senyum penuh kelaparan.
Saat itulah Gladys melepaskan pelukan salah satu wanita yang memeluknya, lalu berbalik perlahan menatap ke arah sudut ruangan tempat Adnan berdiri. Tubuhnya yang telanjang berjalan santai menuju ke arahnya, langkah kakinya luwes dan menggoda, seolah tidak ada beban rasa bersalah sedikit pun di hatinya.
Ia berhenti tepat di depan Adnan, jarak tubuh mereka hanya beberapa jengkal. Tangannya terulur, ujung jarinya hampir menyentuh dada Adnan.
"Kau lihat kan, Adnan?" bisiknya dengan suara lembut yang kini terdengar lebih mendesak, lebih mengundang. "Kau tidak perlu menyembunyikan apa pun. Tidak perlu takut. Di sini, kita bebas. Bebas dari aturan, bebas dari rasa sakit, bebas dari kesepian."
Ia menoleh sejenak ke arah teman-temannya yang masih tenggelam dalam kegilaan mereka, lalu kembali menatap Adnan dengan senyum tipis yang memikat.
"Mari bergabunglah dengan kami," ajaknya pelan. "Kau sudah melihat segalanya. Kau sudah menjadi bagian dari ini. Jangan berdiri sendirian di sana. Rasakanlah apa yang kami rasakan. Dia mengizinkanmu."
Jantung Adnan berdegup kencang hingga rasanya mau meledak. Ia mundur selangkah, menepis tangan Gladys yang mencoba menyentuhnya.
"Maafkan aku..." suaranya bergetar hebat. "Aku... aku sudah tak kuat."
Kata-kata itu seolah menjadi komedi bagi mereka. Suara tawa yang rendah, berat, dan terdengar penuh arti langsung meledak dari mulut Gladys. Tak lama kemudian, tawa itu diikuti oleh yang lain, bahkan Bastian yang tadi mengancamnya dengan pisau pun ikut tertawa sambil mengusap bibirnya yang berlumuran sedikit darah merah.
"Tak kuat?" cicit Gladys sambil menahan tawa, matanya menyipit menatap Adnan dengan pandangan yang penuh pengertian namun menyimpang. "Kasihan sekali kau. Ternyata nafsumu sekuat itu ya? Sudah lama kau menahan diri sejak tadi, bukan? Tidak perlu malu, sayang. Kami semua mengerti."
"Pantas saja dia gemetar begitu," sahut Bastian sambil tertawa sinis. "Sudah pasti dia menahan hasratnya sendiri."
"Datanglah... lepas saja bebanmu," panggil wanita lain dengan suara merayu.
Mereka semua salah paham. Mereka mengira Adnan tak kuat menahan gairah melihat pemandangan itu. Padahal yang dirasakan Adnan adalah ketakutan yang melumpuhkan, rasa mual yang menggelitik di tenggorokan, dan keinginan satu-satunya adalah lari sejauh mungkin dari tempat terkutuk ini.
Kesalahpahaman itu justru membuka celah bagi Adnan. Saat mereka lengah karena tertawa dan berpikir dia akan segera menyerah, insting bertahan hidupnya tiba-tiba bangkit sepenuhnya.
Tanpa berpikir dua kali, Adnan memutar tubuhnya. Ia menyambar tas kameranya yang terselip di sela-sela dinding, lalu memeluk erat alat tua itu ke dadanya.
"Aku tidak mau!" serunya dengan suara parau.
Ia berlari sekuat tenaga menuju pintu keluar ruangan itu.
"Hei!"
Suara Gladys yang tadinya lembut berubah menjadi tajam seketika. Adnan tidak berani menoleh ke belakang. Ia mendengar suara langkah kaki yang bergegas, disertai gesekan kain yang kasar, mereka kini berusaha mengenakan pakaian mereka kembali dengan terburu-buru.
"Tangkap dia! Jangan biarkan dia keluar dari gedung ini!" teriak Gladys, suaranya bergema panik di ruangan itu.
Adnan membuka pintu ruangan dalam itu dengan kasar hingga menabrak dinding, lalu berlari menyusuri lorong suite VIP yang mewah namun kini terasa seperti lorong neraka. Napasnya memburu, kakinya terasa ringan namun gemetar hebat. Di belakangnya, suara gaduh semakin jelas, mereka mengejarnya.
Pintu utama suite itu masih terkunci. Adnan menekan tombol pembuka pintu berkali-kali dengan tangan yang gemetar, namun mekanisme elektronik itu seolah macet. Di ujung lorong, ia melihat bayangan Gladys dan Bastian sudah muncul dengan pakaian yang belum rapi, jubah hitam mereka terbalik-balik, rambut mereka berantakan, namun tatapan mata mereka tidak lagi ramah. Itu adalah tatapan binatang buas yang kehilangan mangsanya.
"Diam di tempat!" bentak Bastian. Ia berlari semakin cepat.
Jantung Adnan mencelos. Ia menendang gagang pintu itu sekuat tenaga. Duar! Pintu itu terbuka sedikit, cukup untuk dia dorong hingga terlempar ke lorong utama hotel.
Ia berlari tanpa arah, hanya tahu harus menjauh dari sana secepat mungkin. Sepatu ketsnya memukul lantai marmer dengan suara berisik. Di belakangnya, teriakan-teriakan terus terdengar:
"Adnan! Berhenti!"
"Kau tidak akan bisa lari!"
"Kau akan menyesal!"
Adnan tidak peduli. Ia berlari menuju tangga darurat, lift pasti terlalu lambat dan mudah dikepung. Ia membuka pintu besi itu dengan kasar, lalu melompat turun anak tangga dua atau tiga langkah sekaligus. Tubuhnya terasa berat, paru-parunya terasa terbakar, namun rasa takut akan makhluk bertanduk itu dan ancaman kelompok Gladys memberinya kekuatan yang tidak pernah ia miliki sebelumnya.
Di lantai atas, terdengar suara pintu tangga darurat terbuka. Mereka mengejarnya lewat jalur yang sama. Langkah kaki mereka berdentang di dinding beton, semakin dekat.
Adnan terus berlari ke bawah. Lantai 18, 15, 12... Ia tidak menghitungnya. Yang ada di pikirannya hanya satu, lari sampai ke lobi, keluar dari gedung ini, dan mencari orang lain.