NovelToon NovelToon
Bos Galak Jadi Papa

Bos Galak Jadi Papa

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Single Mom / Pernikahan rahasia / Pernikahan Kilat / CEO / Romansa
Popularitas:8k
Nilai: 5
Nama Author: uutami

"Lu ngapain tidur di samping gue?"

Gimana jadinya, kalau tiba-tiba bos mu yang galak kebangun di samping kamu tidur? Nggak kebayang, kan? Mana malah disalahpahami sama warga dan dikira udah berbuat mesum. itulah yang terjadi sama Galuh. Seorang single Mom yang berjuang untuk bertahan hidup. Yuk baca...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon uutami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 20

Ranu langsung membeku.

"Apa...?"

"Ke rumah mertuamu," ulang Pak Deni dengan nada tenang, seolah yang ia katakan adalah hal biasa.

"Pa, jangan bercanda."

"Papa lagi nggak bercanda."

"Papa tahu alamat rumah Galuh?"

"Tahu."

"Papa dapat dari mana?"

"Itu bukan urusanmu."

"Pa..."

Belum sempat Ranu melanjutkan, sambungan telepon sudah diputus.

Tut.

Tut.

Tut.

"Papa!"

Ranu menatap layar ponselnya dengan wajah pucat.

"Astaga..."

Ia langsung berbalik, berlari keluar rumah tanpa sempat melepas jas kerjanya lagi.

"Pak Ranu?" panggil Mbak Siti bingung.

Namun Ranu sudah tak mendengar.

Brak!

Pintu mobil dibanting.

Mesin langsung dinyalakan.

Ban mobil berdecit pelan saat keluar dari halaman rumah.

Sepanjang perjalanan, kepalanya dipenuhi berbagai kemungkinan.

"Papa sama Mama jangan sampai ngomong yang aneh-aneh...."

"Mereka belum kenal keluarga Galuh."

"Kalau Mama tersinggung sedikit saja..."

Ranu menggenggam kemudi makin erat.

Ia tahu sifat Mamanya.

Anggun memang sopan. Sangat menjaga tata krama.

Tapi kalau sudah bicara sesuatu yang menurutnya benar, beliau bisa sangat terus terang.

Ranu tidak takut pada kemarahan Mamanya.

Ia justru takut keluarga Galuh merasa direndahkan.

Takut Pak Burhan dan istrinya jadi tidak nyaman.

"Galuh..."

Ia mengembuskan napas panjang.

"Tolong jangan terjadi apa-apa."

Mobilnya langsung berbelok menuju kantor.

Kalau ingin mengejar Papa dan Mamanya, ia harus membawa Galuh.

Wanita itu harus ikut.

Begitu mobil berhenti di depan gedung kantor, Ranu turun hampir berlari.

Beberapa karyawan yang melihat langsung memberi salam.

"Selamat siang, Pak."

"Iya."

Jawabannya singkat.

Ia bahkan tidak berhenti.

Di lorong menuju ruang administrasi, Cindy baru saja keluar dari ruangannya sambil membawa beberapa map.

Matanya langsung berbinar.

"Pak Ranu."

Ranu tetap berjalan.

"Pak, saya mau kasih laporan...."

Tidak ada jawaban.

Ranu bahkan tidak melirik sedikit pun.

Ia lewat begitu saja.

Cindy sampai mematung.

"Pak?"

Namun Ranu sudah menghilang di ujung lorong.

Beberapa karyawan yang melihat kejadian itu langsung saling pandang.

"Lho..."

"Bukannya mereka dekat?"

"Iya, kemarin-kemarin Mbak Cindy sering masuk ruangan Pak Ranu."

"Katanya mereka pacaran. Apa bener?"

"Kok sekarang dicuekin begitu?"

"Jangan-jangan..."

"Retak."

"Kayaknya memang ada apa-apa."

Cindy menggigit bibir.

Wajahnya memerah menahan malu karena diperhatikan banyak orang.

Sementara itu...

Di dalam ruangannya, Galuh masih fokus mengetik laporan perjalanan dinas.

Sesekali ia membuka map, mencocokkan angka, lalu kembali mengetik.

Tok.

Tok.

Tok.

Suara keyboard memenuhi ruangan.

Brak!

Pintu mendadak terbuka.

Galuh langsung menoleh kaget.

"pak Ranu?"

Ranu berdiri di ambang pintu.

Napasnya masih sedikit memburu.

Wajahnya tegang sekali.

"pak, ada apa? Kok ke sini?"

"Berhenti."

"Hah?"

"Laporannya nanti saja."

"Tapi...."

"Ayo."

Ranu langsung berjalan mendekat.

Ia mengambil tas kerja Galuh yang berada di kursi sebelah.

"pak?"

"Ayo ikut aku."

Galuh benar-benar bingung.

"pak, tunggu dulu...."

"Laporan ini belum selesai."

"Nanti."

"Tapi...."

"Nanti."

Nada suaranya tidak keras.

Namun begitu tegas.

Galuh langsung berdiri.

"Ada masalah?"

"Ayo dulu."

Ranu sudah lebih dulu berjalan keluar sambil membawa tas Galuh.

"pak..."

Galuh buru-buru mengejar.

Sepanjang lorong, Ranu terus berjalan cepat.

Galuh sampai harus mempercepat langkah.

"pak Ranu... pelan-pelan...."

Ranu baru sedikit mengurangi langkahnya.

Namun tangannya langsung menggenggam pergelangan tangan Galuh.

"Ayo."

"pak..."

Mereka kembali melewati Cindy.

Wanita itu kembali membeku.

Matanya bergantian melihat tangan Ranu yang menggenggam Galuh.

Beberapa karyawan yang tadi bergosip kini makin terkejut.

"Lihat..."

"Itu Pak Ranu gandeng Mbak Galuh."

"Pantes aja Mbak Cindy dicuekin."

"Berarti...."

"Yang sebenarnya...."

"Mbak Galuh?"

Tak ada satu pun yang berani bersuara lebih keras.

Sementara Cindy hanya mengepalkan tangan.

Ranu sama sekali tidak peduli.

Ia terus menarik Galuh menuju parkiran.

Begitu masuk mobil, pintu langsung ditutup.

Mesin menyala.

Mobil meluncur meninggalkan kantor.

Baru beberapa menit berjalan, Galuh memberanikan diri bertanya.

"pak..."

"mas!" Ranu mengkoreksi, karena sekarang mereka sudah berdua, tidak di kantor. Jadi harus panggil Mas.

"mas Ranu."

"Hm."

"Sebenarnya ada apa?"

Ranu masih fokus menyetir.

Beberapa detik ia diam.

Lalu berkata pelan.

"Papa sama Mama."

Galuh mengernyit.

"Kenapa sama Papa Mama?"

"Mereka lagi ke rumahmu."

Galuh masih belum menangkap maksudnya.

"Rumahku?"

"Iya."

"Ke... rumahku?"

"Iya."

Galuh masih menatap Ranu.

Otaknya seperti berhenti bekerja.

Lalu perlahan...

Matanya membulat.

"Tunggu...."

"Rumahku di kampung?"

"Iya."

"Papa Mama ke sana?"

"Iya."

"Sekarang?"

"Iya."

Galuh langsung menutup mulut.

"Ya Allah...."

Wajahnya langsung pucat.

"Mas... serius?"

"Iya."

"Mereka sudah sampai?"

"Mungkin."

Galuh langsung gelisah.

"Aduh...."

"Kenapa?"

"Bapak sama Ibu pasti bingung."

"Aku juga takut."

"Kalau mereka salah ngomong gimana?"

Ranu melirik sekilas.

"Itu juga yang aku pikirkan."

Galuh menggenggam ujung bajunya sendiri.

"Semoga Bapak nggak salah paham...."

"Semoga Mama juga...."

Keduanya sama-sama terdiam.

Mobil melaju semakin cepat menuju kampung.

Sementara itu...

Di rumah Pak Burhan.

Sebuah mobil hitam berhenti tepat di depan halaman.

Tetangga yang sedang duduk di gardu langsung menoleh.

"Mobil siapa tuh?"

"Wah, bagus banget."

"Orang kota kayaknya."

Pak Burhan yang sedang menyapu halaman ikut menghentikan kegiatannya.

Pintu mobil terbuka.

Pak Deni turun lebih dulu.

Disusul Anggun yang menggendong Arkan.

Di belakang mereka, sopir mengeluarkan beberapa bingkisan.

Kotak-kotak kue.

Buah-buahan.

Minuman.

Dan berbagai oleh-oleh.

Pak Burhan langsung bingung.

"Iya... cari siapa ya?" tapi ada Arkan digendongan tamu. "Arkan?"

"kakek!"

Pak Deni tersenyum ramah.

"Permisi."

"Saya Deni. Istri saya Anggun. Kami orang tua Ranu."

Pak Burhan langsung membelalak.

"Orang... tua... Ranu?"

"Iya."

"I-iya... silakan... silakan masuk dulu."

Pak Burhan sampai salah tingkah.

"Ibu..."

"Ibu..."

Istrinya segera keluar dari dapur.

"Wah... ada tamu."

"Monggo... monggo masuk."

Semua dipersilakan duduk di ruang tamu sederhana itu.

Pak Deni tersenyum hangat.

"Maaf ya, kami datang mendadak."

"Ah... malah kami yang minta maaf."

"jangan begitu pak. Ada pernikahan dan kami orang tuanya malah tidak dikasih tau. Dia juga pasti tidak memberi seserahan dan mahar yang layak," kata Anggun sedikit menyinggung.

Pak Burhan menghela napas.

"Soal kemarin itu... Kami benar-benar minta maaf..." katanya pelan. "Sebenarnya warga salah paham."

Pak Deni mendengarkan.

"Mereka cerita kalau... Waktu itu Ranu cuma terpeleset. Galuh lagi mencuci baju di sumur. Terus Ranu jatuh... tidak sengaja menindih Galuh. Eh... warga keburu datang. Malah dikira macam-macam."

Pak Deni mengangguk pelan. "Saya paham. Jadi begitu ceritanya.... Kalau sudah di kampung, kabar memang cepat menyebar."

Pak Burhan tertawa kecil.

"Iya."

"Padahal tidak seperti yang mereka kira."

Suasana perlahan mencair.

Anggun ikut tersenyum.

Lalu Pak Deni bertanya pelan.

"Kalau boleh tahu...."

"Suami Galuh bagaimana kabarnya?"

Pak Burhan tersenyum spontan.

"Baik."

"Suami Galuh ya Ranu."

Anggun dan Pak Deni saling pandang.

Lalu sama-sama tertawa kecil.

"Bukan...."

"Maksud kami...."

"Ayahnya Arkan."

"Oh...."

Senyum Pak Burhan perlahan menghilang.

Ia menoleh kepada istrinya.

"Bu."

"Iya, Pak?"

"Tolong ajak Arkan jajan dulu ke warung."

"Iya."

"Nenek beliin es krim yuk."

Arkan langsung bersorak senang.

"Yee... es krim."

Begitu mereka keluar rumah, Pak Burhan menarik napas panjang.

"Begini, Pak...."

"Sebenarnya Arkan bukan anak kandung Galuh."

Pak Deni dan Anggun langsung memperhatikan.

"Arkan anak keponakan kami."

"Dulu ibunya hamil di luar nikah."

"Mau dibuang...."

"Galuh nggak tega."

"Dia yang memilih merawat."

"Dia bilang... biar anak itu jadi anaknya saja."

Ruangan mendadak sunyi.

Anggun menatap ke arah pintu yang baru saja dilewati Arkan.

Sementara Pak Deni mengangguk pelan.

Di dalam hati, keduanya justru semakin menghormati Galuh.

Namun tidak satu pun mengucapkannya.

Pak Deni kemudian tersenyum hangat.

"Kalau begitu..."

"Mulai hari ini kita sudah jadi besan."

"Yang sudah lewat, biarlah lewat."

"Kami datang ingin bersilaturahmi."

Belum sempat Pak Burhan menjawab, terdengar suara berbisik dari luar pagar.

"Eh... eh..."

"Itu siapa?"

"Kok banyak banget bawa bingkisan?"

"Rumah Pak Burhan kedatangan siapa, ya?"

Satu per satu kepala tetangga mulai bermunculan di depan halaman, penuh rasa penasaran.

1
ᴍɪᴍɪ💋🅢🅐🅛🅢🅐🅑🅘🅛🅐👻ᴸᴷ
karyawan julid bukannya kerja malah ghibahin istri bosnya pula minta dihempaskan ke planet Mars kyaknya klo tau faktanya bakal nyesel tuhh mereka🤣
𝐈𝐬𝐭𝐲
Ranu omes...🤣🤣🤣
Sri Wahyuni
gaassss juga kak up nya😍
Cinta_manis: siap kak. tunggu ya🙏😍
total 1 replies
Sri Wahyuni
wah sudah dapat lampu Hijau....gasss Ranu 🤣
Cinta_manis: iya, tuh 🤭
total 1 replies
delis armelia
kirain udh mau gol gawang
Cinta_manis: 🤭🤭🤭 nanti ya kak
total 1 replies
Sastri Dalila
😅😅
Cinta_manis: makasih komennya kak🙏
total 1 replies
𝐈𝐬𝐭𝐲
pasangan yg bikin gemes🤣🤣
eh malah bumer udah minta mantunya cepetan hamil, ayo di gas ranu jgan kelamaan 😂😂
Cinta_manis: 🤭🤭🤭 iya tuh
total 1 replies
imel
pelan pelan Buu🤣🤣🤭
Sastri Dalila
🤣🤣🤣
delis armelia
ayo ranu gol gawang
ᴍɪᴍɪ💋🅢🅐🅛🅢🅐🅑🅘🅛🅐👻ᴸᴷ
Wkwkwk mama Anggun langsung gercep to the point suruh bikin Galuh hamil setelah dijulidin mamanya Cindy emang bener sih harus buktikan ya Ma kalo anak Mama bibitnya premium sekali semburrr langsung jadi kembar nnti🥳
Kiki Sugiarti
bagus ceritanya saya suka
Cinta_manis: makasih kaka bintang 5nya😍
total 1 replies
sutiasih kasih
up banyak" thor
Cinta_manis: 😭😭😭tunggu ya kak. next time dicoba🙏
total 1 replies
𝐈𝐬𝐭𝐲
lanjuut thor ceritanya bagus bgt aku suka..😍
Cinta_manis: makasih kak😍🙏
total 1 replies
sutiasih kasih
lanjutkan thor....
double up
Cinta_manis: heheh, tunggu ya, kak. doblenya🙏
total 1 replies
sutiasih kasih
ap g makin klepek" nntinya si Ranu.... dpt istri hatinya baiknya g ktulungan...
Cinta_manis: makasih komennya kak😍
total 1 replies
Sastri Dalila
👍👍
Cinta_manis: makasih kk🙏
total 1 replies
Rahma Lia
lanjut kesini setelah Yuda,,
Sastri Dalila
👍👍👍
Cinta_manis: cihuy! makasih bintang 5nya kak😍🫰
total 1 replies
Sastri Dalila
🤣🤣
Cinta_manis: kena juga si Ranu 🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!