“Anda sudah gila?!” Nasya menutup bibirnya menggunakan kedua tangannya.
“Kegilaan yang menguntungkan bukan? Hanya sebatas kontrak saja. Saya tidak akan menggunakan status suami untuk menyentuhmu,” ujar Elgan dan mendekat ke telinga Nasya. “Rasanya tidak sudi juga jika bukan karena terpaksa.” Elgan menjauh setelah berbisik.
Elgan memberikan kartu namanya. Kemudian, dia meninggalkan Nasya yang masih mematung dengan menggenggam pemberiannya tadi. Nasya menggemnya erat, air matanya terus saja mengalir, semakin deras seperti hujan malam ini.
“Kenapa semuanya begitu menyedihkan? Dikhianati pujaan hati yang katanya berjanji akan menikahi dan sekarang apa? Nikah kontrak? Begitu menyakitkan menjadi miskin. Tidak ada pilihan, meski ingin memilih,” batin Nasya meratapi hidupnya.
Bagaimana kelanjutan kisah rumit ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cacctuisie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CTIKCD - Gugup
Seminggu berlalu begitu saja, Nasya sekarang berada di sebuah kafe untuk menemui Revan. Keputusan harus segera diambil, Nasya tidak ingin memberi harapan. Dengan penuh pertimbangan, Nasya benar-benar memilih untuk mengakhiri hubungan yang selalu tertunda itu.
Sesekali Nasya melirik ke arah jam tangannya. Revan tak kunjung datang. Padahal, dia sudah mengabari Nasya kalau sudah berangkat. Ada rasa gugup di tengah penantiannya. Hingga matanya tertuju pada satu pria yang datang mengenakan jaket serta pakaian serba hitam membawa sebuah bunga. Senyuman yang dilontarkan pada Nasya, pernah menjadi yang terbaik bagi Nasya.
“Maaf ya udah bikin kamu nunggu. Aku tadi beliin bunga ini. Cantiknya sama kayak kamu,” ujar Revan memberikannya pada Nasya.
Nasya berdiri, sementara menerima bunga tersebut. Namun, pandangan Revan terhenti pada tas kertas yang seingatnya ada kado Nasya di dalam sana. Revan berusaha tak memperdulikannya, dia duduk bersamaan dengan Nasya. Menepis kekhawatiran yang melandanya begitu saja.
“Seharusnya, kamu marah gak, sih? Bukan kata maaf yang kamu katakan pertama kali, Van?” kata Nasya yang ingat jelas berkali-kali mengabaikan pesan maupun panggilan Revan.
“Marah? Yang telat kan aku bukan kamu. Hak marah ada di kamu, lah. Apa perlu aku minta maaf lagi? Biar kamu nggak ngambek. Aku gak masalah berapapun kata maaf yang aku lakuin, asal kamu gak marah,” balas Revan.
Nasya tertunduk lemah sebelum berani menatap Revan kembali. “Van, aku gak mau basa-basi dan malah bikin salah paham. Beberapa saat, aku memang penuh keraguan untuk buat keputusan. Kesannya malah kasih harapan, terus-menerus yang bakalan jadi kesalahan besar,” ucap Nasya berhenti sejenak, dia mengumpulkan keberanian untuk mengatakannya.
Perasaan Revan sudah tidak enak. Dia bisa melihat ekspresi Nasya yang tidak biasa. Ketakutan itu ada, tapi Revan berusaha santai. “Mau ngomong apa sih, Sya? Aku haus banget, nih. Diluar tadi panas, kita pesen minum dulu, ya,” balas Revan mengalihkan pembicaraan.
“Ini aku udah pesen. Masa kamu gak liat?” jawab Nasya seraya menunjuk minuman yang ada di depan Revan.
Revan tersenyum kaku dan meminumnya lebih dulu. Nasya menunggu Revan agar dia bisa lebih leluasa berbicara juga Revan bisa mendengar lebih jelas. Hubungan yang pernah memiliki janji untuk terus bersama harus diakhiri.
“Aku mau balikin kado ini, Van. Aku udah buka hadiah dan juga kumpulan catatan yang kamu tulis. Bunga Ini juga. Aku udah gak bisa menerima hadiah yang mengesankan ini. Begitupun, hubungan kita. Aku dan kamu, lebih baik berjalan di jalan masing-masing daripada harus bersama,” ungkap Nasya yang berat sekali menatap Revan.
Revan tertawa pelan. “Kamu ngomong apa, sih? Apa karena hadiah aku biasa aja? Harganya yang gak seberapa makanya kamu tolak? Kamu mau yang mahal, ya? Aku mau usahain, kok. Kamu tinggal bilang mau apa,” balas Revan.
“Kok bisa sih kamu bilang begitu, Van. Kamu baru kenal aku, ya? Selama ini, memangnya aku gila kemewahan? Ini bukan masalah mahal atau nggaknya. Aku, masalahnya ada di aku yang udah gak bisa lanjutin hubungan kita. Kamu baik aku akui itu, tapi kamu pernah berhubungan dengan sahabatku sendiri. Intinya aku gak bisa lagi, maaf kita harus berakhir.” Nasya segera beranjak dari tempat duduknya.
Nasya tidak akan sanggup jika mendengar Revan yang terus akan memohon padanya. Lebih baik, meninggalkannya setelah mengatakan maksudnya untuk pertemuan kali ini. Namun, Revan dengan cepat menahan Nasya. Dia pegang lengan Nasya erat, seakan tidak ingin ditinggalkan.
“Kamu selalu ungkit-ungkit masalah hubunganku dengan Cika. Lantas, bagaimana dengan kamu, Nasya? Apa hanya aku yang salah sampai tidak ada kesempatan untuk mendapat maaf,” tegas Revan, sorot matanya sangat mendominasi.
Nasya tertegun hingga tak bisa berkata apapun. Revan mengarahkan Nasya untuk kembali di tempat duduknya. Entah apa yang terjadi, tubuhnya tak bisa beranjak. Mengikuti arahan Revan, dia masih terkejut dengan ucapan Revan.
“Aku sudah tahu kalau kamu sudah menikah dengan pria kaya. Pembahasan pernikahan saat kamu menelpon ibumu. Disaat kita bertengkar karena kamu tahu hubunganku dengan Cika. Selama itu juga, aku diam. Aku tahu ada yang janggal dengan pernikahan kalian. Makanya, aku masih berani maju, Nasya. Cinta dan sayang aku tulus. Aku rela menunggu, terus begitu.” Revan menggenggam kedua tangan Nasya.
“Ka—kamu tau sejak awal, tapi masih mau sama aku. Kamu udah gila, Van? Aku gak bisa bilang apa-apa. Hanya satu yang aku mau kasih tahu. Kita selesai, seperti yang kamu tau. Aku sudah punya suami, udah gak ada tempat untuk kamu di hatiku. Kita sudahi semua janji yang pernah kita buat,” ujar Nasya yang sebenarnya berusaha menguatkan dirinya.
“Bukankah kamu tidak bahagia, Nasya? Hanya aku yang akan mengusahakan kebahagiaan kamu. Bukankah lebih baik kamu meninggalkannya dibandingkan harus meninggalkanku?” sahut Revan seraya menaikkan kedua alisnya.
***
Nasya pulang sore seperti biasanya setelah bertemu dengan Revan. Dia kembali untuk mengurus pekerjaannya di rumah makan. Pikirannya sedang tidak baik, tapi dia berusaha seakan tidak terjadi apa-apa.
Pertemuannya dengan Revan tadi sangat menguras tenaga dan pikiran. Nasya sampai bingung harus menghadapinya dengan cara apa. Di tengah keterkejutannya bahwa Revan sudah mengetahui pernikahannya, balasan Revan yang tak masuk akal.
“Revan udah gila banget. Harusnya dia kecewa karena aku udah bohong dan gak jujur. Dia malah mikir kita impas. Dia kira mendua selama pacaran dan setelah menikah itu sama. Aku gak boleh menjadi pengkhianat. Aku harus waras, setidaknya jika aku masih jadi istrinya Mas Elga. Aku harus menjaga martabat dan menyelesaikan kontrak. Meski, aku gak mau kontrak itu menghalangi hubungan ku dengan Mas Elgan,” gumam Nasya seraya masuk rumah dan menuju kamarnya.
Disaat dirinya membuka kamar, Nasya kembali tertegun melihat Elgan yang masih mengenakan pakaian kerjanya sedang duduk di pinggiran ranjang. Sorot matanya begitu menakutkan,. Pemandangan yang pernah dia lihat saat pertama kali bertemu dengan Elgan.
“Gak biasanya kamu pulang lebih cepat, Mas? Kamu juga belum berganti pakaian. Ada urusan penting apa sampai kamu harus nunggu aku di kamar?” tanya Nasya hati-hati.
Bukannya menjawab pertanyaan Nasya dengan suara gemetar. Elgan mendekati Nasya sampai tak ada jarak diantara keduanya. Nasya terus memundurkan langkahnya karena takut dengan sorot mata Elgan. Hingga dia harus terhenti ketika badannya sudah mengenai dinding.
Elgan mengunci Nasya dengan kedua tangannya. Nasya sampai bisa menghirup aroma Elgan saking dekatnya. Nasya memejamkan matanya saat Elgan semakin mendekati wajahnya.
“Ada yang ingin kamu sampaikan? Apa harus aku yang mengatakannya?”