NovelToon NovelToon
Gairah Membara Seorang Wanita Simpanan CEO

Gairah Membara Seorang Wanita Simpanan CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / Percintaan Konglomerat / Kaya Raya / CEO
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Initial Be

"Tandatangani kontrak ini, maka seluruh utang keluargamu lunas dan ibumu akan mendapatkan perawatan terbaik malam ini juga."
Bagi Viona (23 tahun), dunia ini tidak pernah ramah. Demi menyelamatkan nyawa ibunya dari ancaman rentenir kejam, dia terpaksa membuang harga dirinya sedalam mungkin. Di bawah guyuran hujan badai, dia menjual kebebasannya kepada seorang pria asing yang ternyata adalah penguasa bisnis paling ditakuti di ibu kota—Arkan Mahendra (29 tahun).
Arkan adalah pria berwajah dewa yang berhati es. Baginya, Viona hanyalah mainan eksklusif yang dia beli untuk memuaskan obsesi dan gairahnya. Hubungan mereka adalah rahasia mutlak. Di siang hari, Viona hanyalah staf administrasi biasa yang tak terlihat. Namun di malam hari, dia adalah wanita yang terkurung dalam pesona membara sang CEO dingin.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Initial Be, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4: Di Balik Pintu Ruang Kerja Pribadi

Waktu seakan berjalan melambat bagi Viona. Sejak kunjungan mendadak Arkan ke divisinya siang tadi, fokus kerjanya berantakan. Jemarinya yang menari di atas papan ketik komputer berulang kali melakukan kesalahan ketik. Setiap kali dia memejamkan mata, tatapan intens dan penuh arti dari sang CEO selalu membayangi pikirannya.

Tepat jam empat sore, dokumen laporan keuangan kuartal terakhir yang diminta Arkan akhirnya selesai. Manajer divisi administrasi dengan wajah penuh harap segera menyerahkan map jilid tebal berwarna biru tua itu kepada Viona.

"Viona, karena tadi Tuan Mahendra secara spesifik meminta laporan ini diantarkan oleh staf dari divisi kita, saya tugaskan kamu untuk membawanya ke lantai paling atas gedung kantor pusat. Ingat, jangan sampai ada kesalahan. Masa depan divisi kita ada di tanganmu," ujar sang manajer dengan nada yang sarat akan tekanan.

Viona hanya bisa mengangguk pasrah. "Baik, Pak. Saya akan segera mengantarkannya."

Dengan langkah yang berat dan jantung yang bertalu-talu, Viona berjalan menuju lift khusus yang menghubungkan gedung manufaktur mereka dengan gedung menara kantor pusat Mahendra Group yang megah di sebelahnya. Begitu melangkah masuk ke dalam area kantor pusat, suasananya terasa sangat berbeda. Lantai marmer yang mengkilap, dinding kaca besar yang memperlihatkan pemandangan kota, dan para karyawan yang berlalu-lalang dengan setelan pakaian formal yang elegan.

Viona menaiki lift menuju lantai tiga puluh, tempat di mana ruangan kerja sang CEO berada. Begitu pintu lift terbuka, dia disambut oleh sebuah meja sekretaris yang luas. Seorang wanita paruh baya dengan pakaian sangat rapi dan kacamata bertengger di hidungnya mendongak menatap Viona.

"Selamat sore. Saya Viona dari divisi administrasi manufaktur. Saya ingin mengantarkan laporan kerja yang diminta oleh Tuan Mahendra siang tadi," ucap Viona sesopan mungkin.

Sekretaris itu memeriksa jadwal di komputernya sejenak, lalu mengangguk. "Ah, benar. Tuan Mahendra sudah menunggumu. Masuk saja langsung, beliau sedang tidak ingin diganggu oleh siapa pun selain kamu."

Kata-kata 'tidak ingin diganggu oleh siapa pun selain kamu' seketika membuat tenggorokan Viona terasa kering. Dia meletakkan jemarinya di atas gagang pintu kayu jati yang besar dan kokoh. Setelah menarik napas panjang untuk mengumpulkan keberaniannya, Viona mengetuk pintu tersebut tiga kali, lalu mendorongnya perlahan.

Ruangan kerja Arkan sangat luas, bahkan lebih luas dari rumah petak yang dulu ditinggali Viona bersama ibunya. Di ujung ruangan, di balik meja kerja kaca yang besar, Arkan duduk di kursi kebesarannya. Pria itu sudah melepas jas formalnya, hanya menyisakan kemeja putih yang lengan bajunya digulung hingga ke siku, memperlihatkan lengan kekarnya yang kokoh.

"M-Selamat sore, Tuan Mahendra. Saya mengantarkan laporan yang Anda minta," suara Viona terdengar bergetar di tengah keheningan ruangan.

Arkan tidak langsung menjawab. Dia meletakkan pena emasnya, lalu bersandar pada kursi kulitnya. Tatapan matanya yang hitam kelam langsung mengunci sosok Viona yang berdiri kaku di dekat pintu. Seringai tipis yang dingin muncul di wajah ketampanannya.

"Tutup pintunya, Viona. Dan kunci," perintah Arkan dengan suara baritonnya yang berat dan penuh penekanan.

Viona tertegun. "Tapi, Tuan... ini di kantor. Bagaimana jika ada orang lain yang—"

"Aku tidak suka mengulang perintahku, Viona," potong Arkan dingin. Tatapannya menajam, memancarkan aura dominasi yang membuat nyali Viona ciut dalam seketika. "Ingat poin nomor tiga di kontrak kita. Kamu tidak memiliki hak untuk menolak."

Mengingat ancaman dan utang yang mengikatnya, Viona terpaksa membalikkan tubuh. Dengan tangan yang gemetar, dia memutar anak kunci pintu tersebut hingga terdengar suara klik yang mengunci mereka berdua di dalam ruangan kedap suara itu.

Viona berjalan mendekati meja kerja Arkan dengan kepala tertunduk, lalu meletakkan map dokumen itu di atas meja. "Ini laporannya, Tuan."

Arkan sama sekali tidak melirik map tersebut. Fokusnya sepenuhnya terarah pada Viona. Pria itu berdiri dari kursinya dan melangkah memutari meja kerja, berjalan perlahan mendekati Viona. Setiap langkah sepatu Arkan terasa seperti ketukan vonis mati bagi kebebasan Viona.

Viona mundur selangkah demi selangkah hingga punggungnya membentur permukaan meja kerja kaca yang dingin. Dia terperangkap. Arkan meletakkan kedua tangannya di sisi kiri dan kanan tubuh Viona, mengurung gadis itu dalam jarak yang sangat intim. Aroma parfum maskulin yang mahal bercampur aroma kertas dokumen dari tubuh Arkan langsung mereduksi pasokan oksigen di sekitar Viona.

"Kamu tampak sangat ketakutan siang tadi di kubikalmu," bisik Arkan tepat di depan wajah Viona. Embusan napas hangatnya membuat bulu kuduk Viona meremang. "Kenapa? Takut jika teman-teman sekantormu tahu bahwa staf administrasi yang polos ini sebenarnya adalah wanita simpanan rahasia dari pemilik perusahaan mereka?"

Air mata keputusasaan mulai menggenang di pelupuk mata Viona. Kata-kata Arkan selalu berhasil menghancurkan sisa-sisa harga diri yang dia miliki.

"Tuan Mahendra, tolong jangan keterlaluan... Kita berada di lingkungan kerja. Saya mohon, bersikaplah profesional," lirih Viona dengan suara serak menahan tangis.

Arkan terkekeh sinis. Tangan kanannya terangkat, menyentuh dagu Viona dan mengangkatnya dengan agak kasar agar gadis itu menatap matanya. "Profesional? Kamu lupa statusmu? Aku yang membelimu, Viona. Seluruh tempat ini adalah milikku, termasuk dirimu. Aku berhak melakukan apa saja, kapan saja, dan di mana saja."

Jari-jari kokoh Arkan bergerak turun ke kerah kemeja tinggi yang dikenakan Viona. Dengan satu gerakan lambat namun menuntut, Arkan membuka dua kancing teratas kemeja gadis itu, menyingkap kulit putih mulus yang kini dihiasi bercak kemerahan hasil perbuatannya semalam.

"Sangat indah," gumam Arkan, matanya menggelap dipenuhi kilatan gairah yang membara. Ego dan obsesinya meledak setiap kali melihat bagaimana gadis di hadapannya ini benar-benar tunduk di bawah kendalinya.

Viona hanya bisa mencengkeram pinggiran meja kaca di belakangnya dengan erat. Dia memejamkan mata, membiarkan setitik air mata lolos membasahi pipinya saat bibir hangat Arkan mulai mendarat di lehernya, memberikan kecupan-kecupan menuntut yang membakar kesadarannya. Di satu sisi, hati nurani Viona menangis karena merasa terhina, namun di sisi lain, sentuhan intens dari sang CEO entah mengapa selalu berhasil menyalakan getaran gairah yang aneh di dalam tubuhnya yang khianat.

Tiba-tiba, suara interkom di atas meja kerja Arkan berbunyi nyaring, memecah ketegangan intim di antara mereka.

BZZZ... Tuan Mahendra, maaf mengganggu. Nona Clarissa, tunangan Anda, baru saja tiba di lobi bawah dan sedang menuju ke ruangan Anda sekarang.

Mendengar nama itu, Viona langsung membuka matanya dengan terkejut. Tunangan? Arkan sudah punya tunangan? Rasa syok dan sakit yang luar biasa seketika menghantam dada Viona, membuatnya merasa jauh lebih kotor dari apa yang dia bayangkan sebelumnya.

1
Aysah Meta
Ya tuhan Buu..bisanya kau nolak anak mu,Viona!!Banyak hal sdh dia lalui..Krn km,dia melakukan ini semua.
bener sih kecewa sama perbuatan anak,tapi semua itu buat nyambung hidup mu.
Aysah Meta
Akhirnyaa up juga
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!