Hari itu seharusnya menjadi hari paling bahagia bagi Alea. Namun, sebelum ijab kabul dimulai, calon suaminya menghilang bersama uang mahar dan meninggalkan utang miliaran rupiah atas nama keluarga Alea. Di tengah kekacauan itu, muncul seorang pria asing bernama Raka Arvin. Dengan tenang ia menawarkan bantuan. "Aku akan menikahimu. Sebagai gantinya, kau harus menandatangani satu perjanjian." Tak punya pilihan lain, Alea menerima. Selama setahun, mereka hidup sebagai suami istri tanpa cinta. Raka terlihat seperti pria biasa yang bekerja sebagai konsultan hukum. Padahal... Ia adalah penyidik khusus yang sedang menyamar untuk membongkar kasus korupsi dan pencucian uang terbesar dalam satu dekade. Target utamanya? Ayah Alea. Semakin lama tinggal serumah, Raka justru menemukan sisi Alea yang berbeda dari bayangannya. Perempuan itu tidak pernah menikmati harta keluarganya. Ia bahkan diam-diam membantu para korban perusahaan milik ayahnya. Saat cinta mulai tumbuh, sebuah bukti baru muncul. Semua kejahatan yang dituduhkan kepada ayah Alea ternyata hanyalah lapisan pertama. Dalang sebenarnya justru seseorang yang selama ini paling dipercaya Alea. Kini Raka harus memilih. Menjalankan tugasnya sebagai penyidik... atau melindungi wanita yang telah mengubah hidupnya. Dan Alea harus menentukan satu keputusan yang akan mengubah seluruh hidupnya. Menyelamatkan ayahnya... atau membantu suaminya mengungkap kebenaran
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seranovelle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 9 - Jejak yang Sengaja Dihapus
Suara mesin pendingin ruangan terdengar pelan memenuhi ruang kerja.
Raka masih memegang ponselnya. Wajahnya tetap tenang, tetapi sorot matanya berubah tajam.
"Apa ada salinan dokumennya?" tanyanya.
"Sebagian ada," jawab Adrian dari seberang telepon. "Tapi dokumen yang paling penting hilang."
"Yang mana?"
"Berkas transaksi lima tahun lalu."
Raka memejamkan mata sesaat.
"Itu bukan pencurian biasa."
"Aku juga berpikir begitu."
"Orang yang mengambilnya tahu persis apa yang harus dicari."
Setelah telepon ditutup, Raka berdiri memandangi halaman belakang rumah melalui jendela.
Permainan mereka semakin berbahaya.
Yang membuatnya gelisah bukanlah hilangnya dokumen itu.
Melainkan kenyataan bahwa lawannya kini bergerak lebih cepat dari perkiraannya.
---
Di lantai atas, Alea mengeringkan rambutnya sambil sesekali melirik jam.
Sudah hampir pukul sebelas malam.
Lampu ruang kerja masih menyala.
"Dia memang tidak istirahat?"
gumamnya pelan.
Beberapa menit kemudian, ia turun ke dapur untuk mengambil segelas air.
Saat melewati ruang kerja, pintunya sedikit terbuka.
Dari celah itu ia melihat Raka sedang duduk dengan beberapa map terbuka di atas meja.
Wajah pria itu tampak jauh lebih lelah dibanding biasanya.
Alea ragu-ragu.
Akhirnya ia mengetuk pelan.
Tok...
Tok...
Raka langsung menutup salah satu map sebelum menoleh.
"Kamu belum tidur?"
"Aku mau ambil minum."
Tatapan Alea jatuh pada cangkir kopi di meja.
Kopi itu bahkan belum disentuh.
"Kamu juga belum makan apa-apa sejak pulang."
"Aku tidak lapar."
"Bohong."
Raka mengangkat alis.
"Kamu tahu dari mana?"
"Perutmu tadi bunyi waktu di mobil."
Raka terdiam beberapa detik.
Lalu tanpa sadar ia tersenyum.
"Itu memalukan."
Alea ikut tersenyum.
"Tunggu sebentar."
Ia berjalan menuju dapur.
Tak sampai lima belas menit kemudian, Alea kembali membawa semangkuk mi rebus sederhana dengan telur dan irisan daun bawang.
"Aku tidak pandai memasak."
"Tapi setidaknya lebih baik daripada tidak makan."
Raka memandangi mangkuk itu beberapa saat.
Sudah lama tidak ada seseorang yang memperhatikannya seperti ini.
"Terima kasih."
Alea menarik kursi di depan meja kerja.
"Aku temani."
Mereka makan dan mengobrol ringan.
Untuk pertama kalinya sejak menikah, pembicaraan mereka tidak dipenuhi rasa curiga.
Alea bercerita tentang masa kecilnya, bagaimana ayahnya selalu mengajaknya ke kantor setiap liburan sekolah.
Raka lebih banyak mendengarkan.
Sesekali ia tertawa ketika Alea menceritakan tingkah jahilnya semasa kecil.
Suasana hangat itu membuat Alea lupa bahwa pria di depannya masih menyimpan begitu banyak rahasia.
---
Keesokan paginya...
Alea terbangun lebih awal.
Saat turun ke ruang tamu, ia mendapati pintu depan sedikit terbuka.
"Raka?"
Tidak ada jawaban.
Di atas meja makan hanya ada secarik kertas.
> **Aku keluar sebentar. Sarapan sudah kusiapkan. Jangan lupa makan. — R**
Alea tersenyum tipis.
"Padahal pulang tidur hampir tengah malam."
Ia membuka tudung saji.
Masih hangat.
Ada bubur ayam, buah potong, dan segelas susu.
Pria itu memang aneh.
Sulit ditebak.
Namun perhatian-perhatian kecil seperti ini perlahan membuat tembok di hati Alea mulai retak.
---
Sementara itu...
Di sebuah gudang tua di pinggir kota.
Seorang pria bertubuh tinggi menyerahkan sebuah map kepada seseorang yang duduk membelakangi pintu.
"Semua dokumen yang diminta sudah saya ambil."
Pria yang duduk itu membuka map tersebut.
Senyumnya perlahan mengembang.
"Bagus."
"Lalu... bagaimana dengan Raka?"
"Dia mulai mendekati keluarga Prameswari."
Suasana mendadak hening.
Beberapa detik kemudian terdengar suara tawa pelan.
"Biarkan saja."
"Semakin dekat dia dengan Alea..."
"...semakin sakit saat mengetahui siapa musuh sebenarnya."
Pria itu akhirnya berbalik sedikit.
Namun wajahnya masih tertutup bayangan.
Hanya satu hal yang terlihat jelas.
Sebuah cincin bermotif burung garuda berwarna hitam di jari manisnya.
---
Menjelang siang, ponsel Alea berdering.
Nama yang muncul membuat senyumnya memudar.
**Nadira.**
Sahabat yang menghilang bersama Arga.
Jari Alea membeku di atas layar.
Panggilan itu terus berdering.
Lalu berhenti.
Beberapa detik kemudian...
Masuk sebuah pesan singkat.
> **Lea, aku tahu kamu membenciku. Tapi ada sesuatu yang harus kamu ketahui tentang suamimu. Kalau terlambat, kamu akan menyesal.**
Napas Alea tercekat.
Ia membaca pesan itu berulang kali.
Hatinya berkata untuk mengabaikannya.
Tetapi rasa penasarannya jauh lebih besar.
Tepat saat itu, sebuah pesan lain masuk.
Kali ini dari nomor yang tidak dikenal.
> **Jangan temui Nadira. Dia sedang memancingmu.**
Alea membelalak.
Bagaimana mungkin ada orang lain yang mengetahui pesan itu?
Dan... siapa yang sedang mengawasinya?
**Bersambung...**