Novel ini adalah sequel dari Novel karya author yang berjudul Perjalanan Istimewa.
Novel ini berkisah tentang Shima Killa Danurdara, Adik bungsu dari Bopo Arjuna dan juga Bahuraska Adiwangsa, putra Arjuna yang merupakan Bopo Muda Desa Banyu Alas.
Tak hanya itu, di Novel ini juga menceritakan mengenai Bima, adik angkat Aka yang menjadi orang paling dekat dengan Aka dan selalu menemani setiap langkah Aka.
Bagaimanakah perjalanan masa kecil mereka?
Ikuti kisah Shima dan Bahuraska (Aka) juga Bimantara di Novel ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fernanda Syafira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29. Bermain Di Hutan
Pagi itu, Satrio, Aka, Bima dan Bagas bermain sepeda mengelilingi Desa. Keempat cucu Pak Kades itu tampak riang bermain di jalanan Desa yang lengang karena warga Desa yang lebih banyak beraktifitas pada pagi hari.
"Kita main ke Hutan, yuk?" Ajak Aka saat mereka melewati jalanan Desa yang berbatasan dengan hutan.
"Tapi kan, kita belum bilang kalo mau main ke Hutan." Kata Satrio.
"Yang penting kan kita udah izin main, Kak. Pokoknya ya kita main." Kata Bagas.
"Lagian aku sama Mamas udah sering main di hutan, kok. Jadi jangan takut, kita pasti gak akan kesasar." Ujar Bima yang meyakinkan.
"Yaudah deh, ayo!" Jawab Satrio yang akhirnya tergoda untuk berpetualang di dalam hutan.
"Sepedanya taro dimana?" Tanya Bagas.
"Taro disebelah sana aja, di semak-semak." Jawab Aka.
"Nanti kalau hilang, gimana, Mas?" Tanya Bagas.
"Tenang aja, aman." Jawab Aka.
Mereka pun membawa sepeda mereka ke semak-semak yang cukup rimbun. Mereka menyembunyikan tiga sepeda itu di balik semak-semak.
"Kelihatan gak, io?" Tanya Aka.
"Enggak, Mas. Aman..." Jawab Satrio yang memastikan jika sepeda mereka tak terlihat dari jalanan.
Setelah membereskan sepeda, keempat bocah itu mulai menyusuri hutan. Aka dan Bima memang sering keluar dan masuk hutan itu untuk mencari buah-buahan liar yang banyak tumbuh di dalam hutan.
Terkadang, ia pergi bersama dengan Arjuna yang juga rutin memeriksa kondisi hutan dan memastikan tak ada pembalakan liar di dalam hutan itu.
Saat Aka dan Bima pergi bersama Arjuna, Arjuna mengajari banyak hal pada kedua putranya. Ia mengajari bagaimana cara bertahan hidup di dalam hutan. Ia juga mengajari buah dan tumbuhan apa saja yang bisa di makan dan tak bisa di makan. Maka dari itu, kedua putranya, terutama Aka sangatlah paham mengenai seluk beluk hutan yang mengelilingi Desa mereka.
"Mas..."
"Dalem..." Jawab Aka.
"Kenapa Desa ini di kasih nama Desa Banyu Alas?" Tanya Bagas pada Aka yang berjalan di belakangnya.
"Kata Romo, karena Desa ini gak pernah kekeringan meskipun musim kemarau sebab di kelilingi oleh pepohonan lebat yang menyimpan banyak air. Karena sumber utama air disini dari hutan, makanya di kasih nama Desa Banyu Alas. Kata Romo, kita harus menjaga hutan jangan sampai gundul, biar gak kekurangan sumber air bersih." Jawab Aka.
"Wah kereen!" Puji Satrio.
"Di Kota gak ada hutan. Tapi masih ada banyak air." Kata Bagas.
"Tapi kalau musim kemarau, airnya pasti berkurang, kan?" Kata Aka yang di jawab anggukan oleh Bagas.
"Kadang Yayah beli air bersih satu mobil tanki, kalau kemaraunya panjang." Ujar Satrio.
"Kalau di sini, gak pernah beli air. Malah kadang warga desa lain minta air dari desa kita kalau kemarau panjang." Kata Aka.
"Wah! Ada jeruk, Mas! Pohon jeruk yang kita tanam sama Romo, udah berbuah." Kata Bima yang berada di bagian paling depan.
Keempatnya segera menghampiri dua pohon jeruk yang berbuah lebat. Pohon itu memang di tanam oleh Arjuna, Bima dan Aka saat kedua bocah itu pertama kali ikut Arjuna masuk ke hutan.
Dengan riang, keempatnya memanen buah jeruk yang sudah masak di pohon. Bahkan ada banyak buah yang jatuh dan berserakan yang sebagian sudah di makan hewan.
"Jeruknya agak asem." Kata Bagas.
"Tapi enak, seger..." Imbuhnya kemudian.
"Kenapa jeruknya gak di tanam di belakang rumah aja?" Tanya Satrio.
"Kata Romo, supaya hewan yang ada di sini, gak kekurangan sumber makanan. Jadi mereka gak masuk ke desa dan ganggu tanaman warga." Jawab Aka.
"Iya. Makanya aku, Mamas sama Romo banyak nanam pohon buah di sini. Supaya hewan-hewan di dalam hutan semuanya gendut, kayak aku." Kata Bima yang membuat Satrio, Aka dan Bagas tertawa.
"Emang Mamas, Bima, sama Pak Ade nanem pohon apa aja?" Tanya Bagas.
"Banyak! Ada apel, ada pepaya, ada alpukat, mangga dan rambutan juga." Jawab Aka.
"Oh iya! Rambutannya pasti berbuah. Kan waktu itu udah ada buahnya kecil-kecil." Kata Bima.
"Ayo kita lihat! Aku mau makan rambutan!" Kata Bagas.
Mereka pun kemudian berjalan lebih dalam menyusuri hutan untuk sampai ke pohon rambutan yang di maksud.
"Tuh, kan! Udah merah-merah tapi kok tinggal sedikit, ya." Kata Bima.
"Pasti udah dimakanin monyet." Jawab Aka.
"Pohonnya pendek, tapi buahnya banyak ya." Kata Satrio yang sedang asyik memakan rambutan yang langsung ia petik dari pohonnya.
"Di dalam sana, ada rambutan hutan yang rasanya manis banget. Buahnya juga besar-besar, tapi pohonnya tinggi." kata Bima.
"Terus, gimana ambilnya kalau pohonnya tinggi?" Tanya Bagas.
"Tenang aja, ada Mamas yang pinter manjat." Kata Bima yang dengan bangga memeluk pinggang Mamasnya.
"Ayo kita kesana. Kita petik buah rambutan yang banyak dan bawa pulang." Ajak Satrio.
Mereka kembali menyusuri hutan lebat itu, menuju ke pohon rambutan hutan yang memang sudah berusia tua.
Namun, mereka sempat menikmati buah-buahan lain yang mereka temukan ketika berjalan menuju ke pohon rambutan.
"Wuaah! Besar banget, pohonnya. Buahnya juga banyak banget." Kata Bagas.
"Ini rambutan hutan? Kok rambutnya pendek-pendek?" Tanya Satrio.
"Kata Romo, dulu waktu Gusti Allah bagiin rambut, dia datengnya terlambat, makanya dapet rambutnya cuma sedikit." Jawab Bima yang membuat Bagas dan Satrio tertawa.
"Mamas... Tolong ambilin buahnya, dong. Aku gak sabar mau makan buah rambutan yang manis banget." Pinta Bima yang memang tak bisa memanjat pohon yang tinggi.
"Yaudah, Mamas ambilin dulu." Jawab Aka yang kemudian memanjat pohon rambutan besar di depannya.
Dengan lincah, Aka memanjat pohon besar itu. Kaki dan tangannya seolah melekat di batang pohon hingga tak perlu khawatir akan terjatuh.
"Mamas! Hati-hati!" Seru Bima yang memperingatkan dari bawah pohon.
Tak butuh waktu lama, Aka kinu sudah berada di dahan pohon yang terdapat banyak buah rambutan hutan.
"Nih! Mamas jatuhin, ya." Seru Aka dari atas.
Ia mematahkan tangkai rambutan yang berisi banyak buah rambutan, kemudian menjatuhkannya ke bawah. Sementara, Bima, Satrio dan Bagas yang berada di bawah, memunguti buah rambutan yang jatuh.
"Yang ini lebih enak." Kata Bagas saat menikmati buah rambutan hutan.
"Bener kan, apa yang aku bilang." Ujar Bima.
"Mas, lagi!" Seru Bima.
Aka yang sedang menikmati rambutan dari atas pohon pun kembali menjatuhkan buah rambutan yang ia petik.
"Aku mau ikut naik." Kata Bagas.
"Memangnya kamu bisa, Gas? Nanti jatuh loh." Ujar Satrio.
"Iya, Mas. Nanti Mas Bagas jatuh." Timpal Bima.
"Enggak. Waktu manjat pohon mangga di rumah Kung-kung, aku kan bisa." Kata Bagas.
Bagas pun mulai memanjat pohon rambutan yang besar itu. Pelan namun pasti, ia mulai naik untuk menyusul Aka yang berada di atas.
Namun, baru setengah memanjat, pijakan Bagas meleset hingga membuat tubuhnya tak seimbang.
"Bagaass!" Teriak Aka saat melihat adik sepupunya jatuh meluncur dari atas pohon.
lhah gimna Romo mu gk tau Mas 🤭🤭🤭 wong Romo juga sakti mandra guna 😀😀😀 tp sok ben luweh sakti Mas Aka ✌️✌️✌️ piihhhh Mas Jun jangan marah 😀😀😀
Alah2 Bima leh so sweetttt 🤭🤭🤭 padine kangen Mas Aka 3 dino ora kepetuk ora ng sg dijarak i 🤣🤣🤣
wong romo-mu bopo istimewa
tapi masih istimewa dirimu kok Ka
apapun itu semoga bermanfaat tnpa ada efek berbahayanya
lah mama's mama's aneh bin ajaib romomu kuwi titisan bopo pertama loh