NovelToon NovelToon
ISTRI TITIPAN ABANG

ISTRI TITIPAN ABANG

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Cinta Seiring Waktu / Idola sekolah
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

"Satu Janji, Dua Dunia, dan Takdir yang Tertukar."
Di hari pernikahannya, Syarifah Khadijah Al-Eydrus kehilangan Habib Farhan, calon suaminya yang tewas dalam kecelakaan tragis. Melalui sebuah wasiat terakhir, Khadijah terpaksa dinikahi oleh Zaid, adik kandung Farhan yang tampan, dingin, sekaligus berandalan ketua geng motor.
Bagi Zaid, Khadijah hanyalah "titipan" yang menyesakkan. Di bawah satu atap, sang Hafizah berjuang dengan kesabaran, sementara Zaid terus memberontak dalam liarnya kehidupan malam. Namun perlahan, getaran asing mulai tumbuh di antara cadar dan jaket kulit.
Akankah Zaid berubah menjadi imam yang pantas, ataukah Khadijah selamanya hanya menjadi bayang-bayang masa lalu?
"Karena terkadang, Allah mematahkan hatimu hanya untuk mempertemukanmu dengan seseorang yang akan menjagamu selamanya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BADAI DI JALANAN, DOA DI KEHENINGAN

Raungan mesin mobil yang dipacu Zaid membelah jalanan kota seperti banteng yang mengamuk. 120. 140. Lampu merah diterabas. Klakson dibunyikan panjang.

Pikirannya bercabang. Retak jadi dua.

Satu sisi: amarah yang memuncak pada geng Macan Hitam. Berani-beraninya mereka ngadang Haikal dan Rian. Berani-beraninya sebut nama kampus.

Sisi lain: bayangan Khadijah yang ia turunkan begitu saja di pinggir jalan depan swalayan. Dengan wajah cemas. Dengan gamis yang kepanasan. Dengan doa "hati-hati" yang terakhir kali ia dengar.

Ada rasa pahit yang tertinggal di kerongkongannya. Pahit seperti darah. Rasa bersalah karena lagi-lagi ia harus meninggalkan istrinya. Lagi-lagi ia harus kembali ke dunia yang penuh darah dan debu. Dunia yang ia kira sudah ia tinggalkan setelah akad.

_Gue suami apa preman sih?_ batinnya sambil memukul setir.

Zaid tiba di lokasi pengadangan 10 menit kemudian. Sebuah gudang tua di pinggiran distrik kampus. Tempat mangkal anak-anak nakal. Dindingnya penuh coretan. Lampunya hanya satu, remang.

Di sana, suasana sudah sangat kacau.

Puluhan pemuda dengan jaket hitam berlambang macan mengepung. Mereka membawa rantai, balok, dan celurit. Tertawa. Bersorak.

Di tengah kepungan itu, Haikal dan Rian berdiri membelakangi dinding. Terpojok. Rian tampak menyeka darah dari sudut bibirnya. Matanya bengkak. Sementara Haikal yang biasanya tenang, kini menggenggam sebuah besi panjang dengan rahang mengeras. Siap mati.

"Turunkan senjata kalian!" teriakan Zaid menggelegar saat ia keluar dari mobil. Pintu dibanting.

Semua mata menoleh.

Ketua geng Macan Hitam, seorang pria bertubuh gempal bernama Raka, menoleh dan menyeringai. Giginya kuning. Di tangannya ada celurit. "Wah, pangeran Al-Idrus sudah datang. Lama nggak nongol, kemana aja?"

Ia melangkah maju. Mengelilingi Zaid seperti predator. "Mana pengantin barumu, Zaid? Kudengar kamu menikahi seorang Syarifah yang tertutup rapat? Katanya hafizah? Kenapa tidak dibawa ke sini supaya kami bisa melihat secantik apa dia? Biar kami nilai, worth it nggak lo ngelepas dunia malam demi dia."

Mendengar nama Khadijah disebut dengan nada merendahkan oleh mulut kotor Raka, darah Zaid mendidih. Mendidih sampai ke ubun-ubun.

Kilatan amarah di matanya kini murni. Bukan lagi sekadar ego ketua geng yang wilayahnya diinjak.

Ini harga diri seorang suami.

"Jangan pernah berani menyebut namanya dengan mulut sampahmu itu," desis Zaid. Suaranya rendah. Berbahaya.

Tanpa peringatan, tanpa aba-aba, Zaid menerjang.

Pukulan pertamanya mendarat telak di rahang Raka. _Buk!_ Raka terhuyung.

Perkelahian besar tak terelakkan.

Di tengah dentuman tinju dan teriakan dan suara besi beradu, Zaid bertarung seperti orang kesurupan. Seperti kerasukan setan. Ia tidak peduli jika jaket kulitnya robek. Tidak peduli jika wajah tampannya memar. Tidak peduli jika tangannya berdarah.

Di benaknya hanya ada satu tujuan: membungkam siapa pun yang berani menyentuh harga diri keluarganya. Berani menyebut nama Khadijah.

Haikal dan Rian segera bergabung. Membelakangi Zaid. Melindungi punggungnya.

"Zaid, kendalikan dirimu! Jangan sampai kamu membunuh orang!" teriak Haikal di sela-sela pergulatan. Napasnya tersengal. "Cukup! Kita udah menang!"

Namun Zaid seolah tuli. Setiap pukulan yang ia lepaskan adalah pelampiasan.

Pelampiasan atas rasa frustrasinya selama beberapa hari terakhir.

Atas kesedihannya kehilangan Farhan.

Atas rasa bersalahnya pada Khadijah.

Atas semua "kenapa gue" yang tidak ada jawabannya.

Sementara itu, di kediaman Al-Idrus, suasana rumah begitu tenang. Terlalu tenang.

Khadijah duduk di ruang tengah dengan gelisah. Kakinya tidak bisa diam. Ia mengetuk-ngetukkan jari di atas meja.

Ia telah berbohong pada Umi Syarifah. "Zaid ada urusan mendadak di organisasi kampus, Mi. Rapat penting." Umi percaya. Mengangguk sambil menghidangkan teh.

Namun naluri seorang istri tidak bisa dibohongi. Naluri itu berteriak.

Khadijah tahu. Ia tahu suaminya sedang berada di medan tempur yang jauh dari cahaya Tuhan. Di tempat yang bau darah.

Ia masuk ke kamar. Mengunci pintu. Mengambil wudhu kembali untuk mendinginkan hatinya yang terbakar cemas. Air wudhu sedingin es.

Khadijah membentangkan sajadahnya di pojok kamar yang remang. Hanya ada lampu tidur.

Dalam sujudnya yang panjang, dahinya menempel di sajadah, ia menangis. Tangis tanpa suara. Bahunya berguncang.

"Ya Allah... Ya Rabb..." bisiknya. "Lindungilah suamiku. Jagalah dia. Mas Zaid memang jauh dari-Mu. Jauh sekali. Tapi ia adalah amanah yang Engkau titipkan melalui tangan Kak Farhan. Amanah terakhir. Jangan biarkan ia tersesat lebih jauh. Lembutkan hatinya. Jaga raganya. Kembalikan dia ke rumah dengan selamat."

Khadijah tidak membaca Al-Quran dengan nada tinggi seperti biasanya saat murojaah. Tidak ada tartil.

Ia membacakan surah-surah perlindungan dengan suara lirih yang bergetar. _Al-Falaq. An-Nas. Ayat Kursi._ Diulang-ulang.

Baginya, setiap ayat adalah tameng gaib yang ia kirimkan untuk melindungi Zaid dari kejauhan. Setiap huruf adalah doa yang ia tembakkan ke langit.

Ia merasa bertanggung jawab atas keselamatan jiwa Zaid. Bukan hanya raganya. Tapi imannya.

---

Pukul sepuluh malam.

Suara deru mesin mobil terdengar di halaman rumah. Berat. Tersendat.

Khadijah yang sedari tadi duduk di sajadah langsung bangkit. Berlari kecil menuju pintu depan. Jantungnya berdebar.

Saat pintu terbuka, ia melihat pemandangan yang membuat darahnya berhenti.

Sosok Zaid bersandar kuyu di bingkai pintu. Hampir jatuh.

Wajahnya penuh memar. Mata kanan bengkak. Sudut bibirnya robek dan darah kering menempel di dahi. Kemeja hitamnya kotor oleh tanah, debu, dan noda merah.

Di belakangnya, Haikal dan Rian memapah Zaid. Wajah mereka juga tak kalah kacau. Lebam. Baju robek.

"Zaid!" Khadijah memekik pelan. Tangannya langsung menutup mulut. Air matanya langsung jatuh.

"Kami antar sampai sini saja, Khadijah," ujar Haikal dengan napas tersengal. Bajunya sobek di lengan. "Zaid keras kepala. Dia nggak mau dibawa ke rumah sakit. Bilangnya 'nggak apa-apa'. Tolong urus dia. Kami permisi dulu."

Tanpa menunggu jawaban, Haikal dan Rian langsung pergi. Mereka tahu ini urusan rumah tangga.

Khadijah segera menahan tubuh Zaid agar tidak jatuh. Tubuh kekar Zaid terasa sangat berat dan panas. Seperti bara.

Aroma keringat, besi darah, dan debu jalanan menyeruak kuat. Menyengat.

Dengan susah payah, Khadijah memapah Zaid masuk ke dalam rumah. Lewat pintu samping. Menuju kamar mereka di lantai bawah agar tidak membangunkan mertuanya.

Setelah membaringkan Zaid di tempat tidur, Khadijah dengan sigap mengambil kotak obat dari kamar mandi dan baskom berisi air hangat. Gerakannya cepat tapi tidak panik.

Ia tidak bertanya "kenapa". Ia tidak menceramahi "kan udah dibilang".

Dengan tangan yang masih gemetar, ia mulai membersihkan luka di wajah Zaid menggunakan kapas. Pelan. Hati-hati.

Zaid meringis saat alkohol menyentuh luka di dahinya. Sakit. Ia membuka matanya sedikit. Menatap Khadijah yang sedang fokus mengobatinya. Alisnya berkerut karena konsentrasi.

Di bawah cahaya lampu kamar yang temaram, ia bisa melihat mata Khadijah yang sembab. Merah. Jelas habis menangis lama. Tapi tidak ada marah di sana.

"Kenapa kamu belum tidur?" suara Zaid serak. Hampir hilang. Seperti orang kehausan.

"Bagaimana saya bisa tidur sementara suami saya sedang bertaruh nyawa di luar sana?" jawab Khadijah tanpa menatap mata Zaid. Ia terus menyeka darah di pipi Zaid dengan gerakan yang sangat lembut. Selembut mengusap bayi.

Zaid terdiam.

Ia merasakan dinginnya air. Hangatnya perhatian Khadijah. Meresap ke dalam hatinya yang selama ini beku. Hati yang sudah lama tidak disentuh dengan lembut.

"Aku menang, Khadijah," kata Zaid tiba-tiba. Nada bangganya anak kecil. "Mereka tidak akan berani lagi menghinamu. Nggak akan ada yang berani sebut nama kamu lagi."

Gerakan tangan Khadijah terhenti. Kapas di tangannya berhenti di pipi Zaid.

Ia menatap Zaid. Pandangannya sedih. Kecewa. "Kemenangan apa yang Mas dapatkan dari darah dan luka? Dari memar dan jahitan? Mas pikir saya bangga dibela dengan cara seperti ini? Dengan cara yang bisa membuat Mas mati?"

"Lalu aku harus bagaimana?!" suara Zaid meninggi karena frustrasi. Ia memukul kasur. "Aku tidak punya cara lain selain tinju! Aku nggak bisa ceramah kayak Bang Farhan! Aku nggak bisa ngomong baik-baik! Dunia mereka cuma ngerti bahasa kekerasan!"

Khadijah meletakkan kapasnya ke dalam baskom. Airnya sudah merah.

Lalu ia menatap Zaid lekat-lekat. Dari mata ke mata. "Mas punya Tuhan. Mas punya doa istri Mas. Saat Mas berkelahi tadi, saat Mas mengayunkan tinju... saya bersujud meminta keselamatan Mas. Saya minta Allah melunakkan hati lawan Mas. Itulah cara saya membela Mas. Itulah senjata saya."

Air matanya jatuh. Satu.

"Tolong... jangan buat saya takut setiap kali Mas keluar rumah. Jangan buat saya harus berdoa sambil gemetar."

Zaid tertegun.

Ia melihat setetes air mata jatuh dari pelupuk mata Khadijah, membasahi kain cadarnya yang putih.

Keangkuhan Zaid. Egonya. Tembok 10 meter itu runtuh seketika. Hancur berkeping-keping.

Untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa tinjunya. Kemenangannya. Ototnya. Tidak ada artinya sama sekali dibandingkan dengan air mata wanita di depannya ini. Dibandingkan dengan doa yang dipanjatkan di atas sajadah.

Perlahan, dengan tangan yang penuh luka lecet dan darah kering, Zaid meraih tangan Khadijah yang sedang memegang kain kompres.

Ia menggenggamnya erat. Dingin. Kasar. Tapi tulus.

"Maaf..." bisik Zaid. Suaranya pecah. "Maafkan aku, Khadijah. Maaf karena buat kamu takut. Maaf karena aku nggak bisa jadi laki-laki yang kamu harapkan."

Malam itu, di tengah aroma obat-obatan, alkohol, dan keheningan kamar yang hanya dipecah suara jangkrik, sebuah retakan besar terjadi pada dinding ego Zaid.

Retakan yang tidak bisa ditutup lagi.

Ia mulai menyadari satu hal.

Bahwa kekuatan sejati bukan terletak pada siapa yang paling keras memukul. Bukan siapa yang paling ditakuti di jalanan.

Tapi pada siapa yang paling tulus mendoakan di sepertiga malam.

Pada siapa yang tetap menunggu di balik pintu, dengan air hangat dan kapas, meski suaminya pulang membawa luka.

Dan malam itu, untuk pertama kalinya, Zaid tertidur dengan tangan masih menggenggam tangan istrinya.

1
Enz99
Bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!