Juara II Cerita Seram Noveltoon.
Setta terlahir sebagai gadis yang berbeda dengan kawan sebayanya. Ia selalu dikelilingi para sosok yang tak kasat mata yang selalu datang dan pergi semaunya.
Gadis itu harus bertahan dengan takdir yang memilihnya. Bersama Nathan, satu-satunya keluarga yang ia miliki, Setta juga harus berjuang memecahkan misteri yang menimpa sang Kakak.
Bagaimana Setta menjalani kisahnya bersama para hantu?
Bagaimana juga dia akan memecahkan misteri yang menimpa kakaknya?
Kutantang kalian untuk membaca kisah kengerian Setta, sendirian di malam hari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vie Junaeni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 33 - With Ghost
*** Chapter 33 ***
Pak Idris dan rombongan Setta akhirnya sampai juga menyusul ke bumi perkemahan di desa Sukahati setelah tragedi yang menimpa Rania.
"Gimana Rania kamu keadaannya?" tanya Ibu Yana saat melihat Rania tiba.
"Baik bu alhamdulillah," jawab Rania.
"Gak bener itu, masa ujung-ujungnya di duitin," sahut Pak Idris.
"Maksudnya gimana pak?" tanya Ibu Yana penasaran.
Akhirnya Pak Idris menceritakan kejadian Rania tadi pada ibu Yana.
Rania dan Setta membuat tenda mereka sendiri karena tinggal mereka yang belum membuat tenda.
Jin dan Aryo tak tega melihat keduanya bersusah payah, akhirnya menghampiri untuk membantu.
Santi mencolek tangan Ratu saat melihat Jin dan Aryo membantu Setta membuat tenda.
"Manja banget sih!" gumam Ratu.
"Jangan-jangan tuh anak suka lagi sama Jin, wah baek-baek tuh perebut kebahagiaan orang," sahut Santi dengan berbisik. Keduanya sibuk memasak air panas di atas kayu bakar yang sudah di siapkan oleh para siswa.
"Ratu, gimana pesanan makan malam nanti di antar jam berapa?" tanya Ibu Yana.
"Jam berapa san? itu kan urusan luh soal konsumsi?" Ratu menoleh pada Santi.
"Nanti bu jam lima, dalam bentuk nasi kotak," ucap Santi.
"Pastikan jangan sampai telat ya, nanti kan jam enam kita solat magrib lalu makan malam, yang enggak solat magrib suruh tertib menyiapkan makan malam," ujar ibu Yana.
"Baik bu," sahut Santi dan Ratu bersamaan.
***
Setelah solat magrib berjamaah bagi yang menjalankan lalu di lanjutkan dengan makan malam bersama, kegiatan selanjutnya adalah membersihkan lingkungan dari sampah sisa makan malam. Lalu di lanjutkan dengan solat isya berjamaah bagi yang menjalankan.
Pukul setengah delapan malam para panitia membagi para peserta calon pengurus OSIS angkatan baru menjadi beberapa kelompok. Setta berkelompok dengan Rania, Nia, Toni dan Abdi. Toni ditunjuk sebagai ketua kelompok di regu Setta.
Masing-masing kelompok di beri tugas menyelesaikan tugas tertulis yang berisi pertanyaan seputar pengetahuan umum. Regu Setta berhasil mendapat nilai tertinggi yang sempurna.
"Keren kan kelompok kita berhasil juara, siapa dulu ketuanya," ucap Toni dengan nada sombong.
"Perasaan aku, yang ngisi semua jawaban Setta deh," ucap Rania.
"Iya tuh bener," Nia menimpali.
"Udah gak usah ribut, ini kan tugas kelompok jadi harus bersama," sahut Setta.
"Tuh bener kata Setta," Toni menunjuk Setta dan memberikan acungan ibu jari padanya.
"Oke sekarang tes individu ya, semuanya duduk dengan rapih," ucap Jin selaku wakil ketua OSIS mendampingi Ratu.
"Nah, kak Aryo dan Kak Bani akan membagikan selebaran pada kalian, di sana ada lima puluh pertanyaan yang harus kalian jawab dalam satu menit," ucap Jin.
Terdengar langsung riuhan para peserta yang saling bergumam tentang hal gila yang Jin berikan. Bagaimana bisa lima puluh soal pertanyaan umum di kerjakan dalam waktu satu menit. Para panitia lainnya saling tertawa melihat ekspresi kebingungan semuanya.
"Kak, ini mana cukup waktunya?" tanya Abdi mengacungkan tangannya.
"Ya kerjakan aja semampu kalian!" sahut Jin.
"Sukurin luh, mana paham sama soal kayak gini, mana lima puluh soal," gumam Santi sambil tertawa kecil.
"Baca baik-baik soalnya tau, coba deh pahami," gumam Ratu menimpali sambil tersenyum licik.
"Oke waktu mengerjakan di mulai dari saya menekan tombol stopwatch ini ya, satu menit dari sekarang, satu, dua, dan tiga, yak kerjakan!" perintah Jin.
Sepuluh detik kemudian Setta sudah berdiri menghampiri Jin dengan membawa kertas soal di tangannya.
"Tunggu sini dulu, berdiri samping gue," ucap Jin menerima kertas jawaban dari Setta.
"Yak, waktu satu menit habis, Aryo lu kumpulin kertas mereka semua!" perintah Jin.
Ratu dan Santi mendekati Jin dan melihat kertas jawaban Setta.
"Kok gak ada yang di jawab sih, lu ngeledek ya?" ucap Santi menatap Setta dengan tajam dan nyinyir.
"Enggak kok kak saya jawab sesuai perintah, nih di pinggir kertas cuma di suruh tulis nama lengkap," ucap Setta menunjuk tepi kertas.
"Dia benar San, emang itu perintahnya," sahut Ratu.
"Keren juga luh anak kecil, paham juga lo!" Jin menepuk bahu Setta. Ratu terkejut melihatnya dan kedua matanya mengawasi tangan Jin.
"Oke berhubung sudah jam sepuluh malam, sekarang kalian istirahat silahkan kembali ke tenda, besok saya mau kalian bangun jam empat pagi ya!" ucap Jin.
"Ta anterin aku pup yuk!" ucap Rania dengan wajah memerah menahan mulas di perutnya.
"Ah kamu mah ada-ada aja, ya udah aku ijin dulu sama kak Jin," ucap Setta.
Setelah meminta ijin akhirnya Setta mengantar Rania menuju kamar mandi umum di perkemahan tersebut.
"Ih serem amat ya," gumam Rania.
"Baca doa dulu Ran, biar gak di temenin setan," ucap Setta memperingatkan, dan Rania kembali lagi keluar pintu lalu mengucap doa masuk kamar mandi sebelum masuk.
Setta menundukkan kepalanya sambil bergumam karena tak berani melihat lama-lama yang barusan ia lihat sekilas.
"Hmmm bener kata abang, pasti banyak hantu di sini, belum yang Kunti lagi di pohon, belum lagi di ujung sana genderuwo di pohon kelapa, belum lagi pocong samping kamar mandi yang lagi ngintip, dan ini hantu apa ya?"
Setta melihat sepatu merah yang ada di hadapannya.
"Heh anak kecil, aku manusia," sahut Jin yang sudah berdiri di hadapan Setta.
"Astagfirullah, kakak ih ngagetin aja, kirain aku kan penampakan gitu."
"Sembarangan, masa ganteng- ganteng ini di bilang hantu," ucap Jin kesal.
"Idih ganteng kata siapa coba?"
"Kata ibu aku lah!" sahut Jin.
"Kakak ngapain kesini, mau ngintip ya?" tanya Setta asal.
"Enak aja, aku tuh mau... mau jagain kamu, makanya nyusul ke sini, kan abang Nathan nyuruh gue buat jagain elu," ucap Jin mulai gugup terdengar dari nada suaranya.
"Oh gitu... aku udah ada yang jagain kok di kamar mandi ini," ucap Setta.
"Mana yang jagain kamu, si Rania aja lagi pup di dalam, ya kan?"
"Tuh lagi ngintip, mukanya pucat, matanya hitam kaya mata panda," Setta melirik ke samping kamar mandi.
"Apaan sih, Ta?"
"Po...cong..." bisik Setta.
Jin langsung mendekat ke samping Setta tak berani melirik ke arah yang dilirik Setta tadi. Pocong tersebut melompat mendekat ke arah Setta yang tak berani melihat ke arahnya.
*************
Bersambung ya...
Jangan lupa mampir ke novel Vie lainnya
- Pocong Tampan
- Kakakku Cinta Pertama ku
- 9 Lives
- Gue Bukan Player
Vie Love You All...😘😘