Ini bukan kisah istri yang terus-terusan disakiti, tetapi kisah tentang cinta terlambat seorang suami kepada istrinya.
Ini bukan kisah suami yang kejam dan pelakor penuh intrik di luar nalar kemanusiaan, tetapi kisah dilema tiga anak manusia.
Hangga telah memiliki Nata, kekasih pujaan hati yang sangat dicintainya. Namun, keadaan membuat Hangga harus menerima Harum sebagai istri pilihan ibundanya.
Hati, cinta dan dunia Hangga hanyalah untuk Nata, meskipun telah ada Harum di sisinya. Hingga kemudian, di usia 3 minggu pernikahannya, atas izin Harum, Hangga juga menikahi Nata.
Perlakuan tidak adil Hangga pada Harum membuat Harum berpikir untuk mundur sebagai istri pertama yang tidak dicintai. Saat itulah, Hangga baru menyadari bahwa ada benih-benih cinta yang mulai tumbuh kepada Harum.
Bagaimana jadinya jika Hangga justru mencintai Harum saat ia telah memutuskan untuk mendua?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yeni Eka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
"Waalaikum salam. Ada apa?” sahut Hangga sedikit ketus. Kakinya melangkah maju menyentuh teras lalu menutup pintunya.
“Harum ada?”
“Mau apa?” lontar Hangga sembari melipat tangan di dada.
“Mau ketemu sebentar, boleh?”
“Bilang aja lu mau apa?”
“Jangan galak-galak, Mas Bro. Aku Cuma mau ngasih ini.”
Hangga tersenyum miring. “Ya, gue gak ngerti lu ada maksud apa. Cuma kayaknya ada yang lu belum tahu kalau Harum itu udah punya suami.”
“Apa? Harum udah punya suami?” lontar Arya dengan raut terkejut.
“Bohong kan lu?”
“Kalau enggak percaya, tanya langsung saja sama orangnya.”
Arya terdiam sejenak sembari memandangi Hangga. Ia bimbang dengan hatinya apakah harus percaya dengan apa yang dikatakan temannya itu atau tidak. Tetapi, selama mengenal Hangga, Arya memang mengetahui kalau Hangga termasuk teman yang jujur dan tidak suka bohong.
Sesaat kemudian Hangga melihat Bi Jenah yang masuk ke halaman rumah.
“Dari mana, Bi?” tanya Hangga.
“Dari warung, Mas. Habis beli micin,” jawab Bi Jenah.
“Lu tanya aja sama Bi Jenah, kalau enggak percaya,” kata Hangga memandang Arya yang masih terpaku.
Arya tidak menanggapi ucapan Hangga. Mau apa tanya sama orang, kalau ternyata jawabannya iya kan bisa malu. Begitu yang di benak Arya.
“Oh, Yo wis kalau begitu. Titip kue ini aja.” Arya menyodorkan kotak segi empat sama seperti yang ia bawa untuk Harum beberapa hari yang lalu.
“Enggak usah. Bawa lagi aja,” tolak Hangga.
“Bukan buat Harum, ini buatmu aja,” kata Arya.
“Ogah.” Hangga mencibir. “Udah mending lu pulang sana,” usirnya.
“Ya udah, Bi. Ini buat Bibi aja.” Arya menyerahkan kotak yang kemungkinan berisi kue itu kepada Bi Jenah.
“Buat saya?”
“Hem.”
“Wah, makasih ya, Mas.”
“Sama-sama, Bi.”
Bi Jenah dengan semringah membawa bingkisan kue itu ke dalam rumah lewat pintu samping.
“Yo wis, aku pulang ya.” Pria yang memakai jaket denim itu naik ke motor lalu melesat bersama motornya dengan hati ter patah-patah.
Setelah Arya pergi, Hangga masuk ke dalam rumah. Ia berpapasan dengan Harum yang ternyata tengah berdiri di ruang tamu. Hangga tertegun sejenak. Ia berpikir bahwa Harum sepertinya mendengarkan semua yang dibicarakannya tadi bersama Arya.
“Jangan ge er. Aku usir dia bukan karena cemburu,” katanya lalu lekas melenggang pergi dari hadapan Harum.
Harum mengernyit bingung. “Mas Hangga ngomong apa sih? Siapa yang ge er? Siapa yang cemburu?” gumamnya dalam hati.
*
“Apa? Lu udah nikah sama Hangga?” lontar Melly dengan raut terkejut.
Nata mengangguk lemah. Ia memang baru saja curhat dengan Melly tentang keputusannya menjadi mualaf dan menikah dengan Hangga. Akan tetapi, ia masih menyembunyikan soal pernikahan spesial yang ia jalani bersama Hangga.
“Dan keluarga lu belum tahu soal ini?”
Nata mengangguk.
“Harusnya sih lu bilang dulu sama keluarga lu. Gue yakin kok, keluarga lu terima-terima aja. Karena gue lihat, keluarga lu kan dari dulu santai aja menanggapi hubungan lu dengan Hangga. Mereka enggak pernah menentang hubungan kalian kan? Pun dengan keputusan lu berpindah keyakinan, gue yakin, keluarga lu enggak akan marah. Kan banyak juga keluarga lu yang menikah dengan yang berbeda keyakinan,” tutur Melly.
Sesungguhnya hati Nata menyetujui pendapat Melly. Keluarga Nata tidak pernah menentang hubungannya bersama Hangga. Akan tetapi, selama ini Nata belum berani mengutarakan keinginan atau rencana menikah dengan Hangga pada keluarganya disebabkan halangan dari orangtua Hangga.
Tadinya, Nata berpikir akan membicarakan soal pernikahan kepada keluarganya setelah ia berhasil meluluhkan hati orangtua Hangga dan mendapat restu.
Namun, kejadian Minggu pagi di rumah Hangga itu membuat Nata lupa akan keluarganya. Nata syok berat mengetahui kenyataan bahwa Hangga telah menikah. Sehingga ia mengambil keputusan sendiri. Ia mau dinikahi Hangga saat itu juga, tanpa lebih dulu meminta izin atau memberi kabar kepada keluarganya.
“Semoga aja keluarga gue enggak marah ya, Mel,” lirih Nata.
“Semoga. Semangat dong, Nat,” sahut Melly.
“Makasih ya, Mel. Lu memang sahabat gue.” Nata memeluk Melly yang duduk di hadapannya.
Saat kedua sahabat itu tengah berpelukan, ponsel Nata berdering. Nata segera melepas pelukannya. Ia merogoh ponsel yang berada di dalam tas.
“Halo, Ya,” sapa Nata begitu menjawab panggilan telepon yang tidak lain adalah dari Arya.
“Nata, ghue marah nih sama elo. Elo ngerajain ghue ya," sahut Arya dengan logat khasnya.
sungguh nikmat kn mas Hangga poligami itu 😈
yg bener nggak sadar diri
perempuan yang merendahkan diri sendiri demi cinta yg akhirnya di telan waktu