Menjadi pengantin tanpa mempelai, Syakil Agha Mahendra menelan pil pahit di hari pernikahannya. Sakit, malu dan bingung menjadi satu kala calon istrinya menghilang tanpa kata beberapa saat sebelum akad.
Sejak hari itu, Syakil memandang dunia begitu berbeda. Tidak ada kehangatan dalam dirinya, yang ada hanya kerja, kerja dan kerja. Sibuk meniti karir dan mengepakkan sayap di dunia bisnis hingga dirinya berhasil menjadi miliarder ternama di usia muda.
Tanpa terduga, takdir justru mempertemukannya dengan seorang gadis yang begitu mirip dengan kekasihnya. Pertemuan yang merupakan awal muculnya obsesi Syakil untuk mendapatkan kembali wanita itu.
"Lepaskan!! Aku bukan wanita yang kamu maksud!!" - Amara Nairy
"Sampai mati kau adalah milikku, jangan coba-coba pergi jika ingin hidupmu baik-baik saja." - Syakil Agha Mahendra.
-----
Follow ig : desh_puspita
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desy Puspita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33 - Pesan Terakhir.
Sebagaimana jalannya takdir, waktu takkan berhenti di satu titik saja. Secepat itu waktu berlalu, siap tidak siap Amara harus menerima segala takdirnya. Tanpa siapapun selain Syakil, dia hanya memiliki pria itu untuk saat ini. Setelah merasa patah lantaran Eva yang bersikap biasa saja akan kepergiannya, kini Amara dibuat menangis dengan drama Mikhail yang tiba-tiba begitu kehilangan mereka berdua.
"Ck, sampai kapan kau akan memelukku, Khail?"
Sudah lebih dari sepuluh menit Mikhail memeluk erat Syakil sembari mulutnya tak berhenti meratapi kepergian Syakil. Bahkan Ibra mulai jengah melihat kelakuan putra sulungnya itu.
"Ketika masih sendiri saja kau sebetah itu di sana, apalagi jika hidupmu sudah sempurna," ucap Mikhail tersenyum getir, yang dia khawatirkan sejak tadi hanyalah hal itu.
Kehidupan Syakil di LA hanya dipenuhi dengan kerja, kerja dan kerja. Mikhail mengetahui bagaimana kehidupan adiknya dari asisten pribadi Syakil sendiri, dalam kesendirian dan sepi di keramaian, Syakil tetap betah bahkan pulang saja harus menunggu Kanaya memohon lebih dulu, apalagi kalau nantinya hidup Syakil benar-benar sempurna.
"Ck, apa maksudmu, Mikhail ... dunia sudah maju, kita hanya beda tempat tinggal bukan beda alam ... aku dan Amara pasti akan sering datang, jangan khawatir," ucap Syakil datar namun tetap membalas pelukan Mikhail yang sebenarnya dia sendiri risih saat ini.
"Benarkah begitu adik ipar?" tanya Mikhail pelan dan sedikit kesulitan menghela napasnya saat ini.
"Benar, Kak ... kami akan sering pulang, jangan khawatir."
Amara mendongak, memerhatikan sorot mata Mikhail yang kini sudah memerah. Dia menangis sungguh-sungguh atau hanya sandiwara Amara juga tidak bisa menyimpulkannya.
"Ikhlaskan, Khail."
Kanaya yang seharusnya bersedih di tinggalkan Syakil, namun kini justru dibuat kewalahan lantaran Mikhail yang mendadak manja pada adiknya padahal usianya tidak lagi muda. Menurut Zia, bawaan bayi dalam kandungannya.
"Berhenti memelukku, Mikhail ... kenapa jadi begini?"
Lama-lama Syakil kesal juga, bukannya tenang kala Kanaya menenangkannya, pria itu justru kian menjadi seakan benar-benar kehilangan sang adik.
"Mas, udah ... nanti mereka juga kembali. Syakil sudah dewasa dan dia paham tempat pulang, sudahlah jangan berlebihan begini," ungkap Zia menepuk pundak Mikhail, tampaknya Kanaya tidak begitu berpengaruh hingga Zia harus turun tangan.
"Kamu nggak paham rasanya jadi Mas, Zia."
Sok tersakiti sekali, padahal di sini Syakil hanya kembali untuk menjalani kehidupan sesungguhnya. Akan tetapi Mikhail begitu enggan melepaskan Syakil seakan pria itu pergi untuk selama-lamannya.
"Paham, tapi kan Syakil sudah punya istri dan dia berhak menjalani kehidupannya sendiri. Mas juga dulu begitu, cuma bedanya pindahnya nggak sejauh Syakil itu saja," ucap Zia masih berusaha baik-baik, tampaknya lebih sulit berbicara pada Mikhail daripada putra dan putrinya.
Mikhail menghela napasnya perlahan, pria itu melepaskan Syakil kemudian menatap sendu Amara yang juga tengah bingung dengan kelakuannya,
"Jaga dia, kau sudah memilihnya sebagai wanitamu ... jangan jadikan dia sebagai pemuas egomu, Syakil."
Ucapan Mikhail benar-benar serius, entah apa maknanya namun Amara dibuat terhenyak untuk pertama kali dengan ucapan sang kakak ipar.
"Aku tau, kau jangan berpikir macam-macam, Khail."
Syakil mendadak tak suka dengan pesan Mikhail barusan. Pria itu memalingkan wajah dan menggosok hidungnya sebagai bentuk penolakan terkait pembicaraan ini.
"Hanya bicara saja," sela Mikhail kemudian, pria itu tersenyum dan menepuk pundak Syakil benerapa kali.
Beberapa tahun lalu, Mikhail tidak begini. Syakil pergi dia tudak segila ini dan benar-benar bersikap biasa saja. Entah memang pengaruh bayi atau ada sesuatu yang membuat Mikhail begitu berat melepaskan keduanya, mereka tidak mengerti.
"Pergilah, jangan berlebihan ... adik iparku bahkan sampai susah berjalan padahal baru satu bulan," bisik Mikhail namun masih bisa terdengar yang lainnya, pesan keramat yang berhasil membuat Syakil mendapatkan pukulan di dada Mikhail.
Keluarga melepas kepergian mereka dengan begitu berat terutama Mikhail. Matanya bahkan lebih merah dibandingkan Kanaya, aneh namun beginilah keadaannya.
.
.
.
Perjalanan hidup Amara dan Syakil yang sesungguhnya baru akan dimulai. Syakil membawanya ke sebuah tempat dengan julukan the city off angel bersama sejuta harapan kehidupannya di sana juga akan sebaik itu.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang, mereka kini tiba dengan beberapa orang yang sudah siaga menanti kehadiran mereka di bandara.
"Mereka siapa?"
"Hm, orang-orangku ... ayo masuk, perjalanan kita masih panjang."
Amara menelan salivanya susah payah kala melihat bagaimana interaksi Syakil dengan keempat pria yang sebelumnya menunduk hormat. Seberkuasa itukah suaminya hingga mampu membuat mereka tunduk hanya dengan satu kalimat saja.
"Pelan-pelan, istriku mabuk perjalanan," titah Syakil tegas dan benar-benar diangguki oleh pria tampan berkacamata hitam itu.
"Baik, Tuan."
Jawaban mereka juga terdengar lebih singkat dan tidak berani banyak tanya seperti sopir yang ada di rumah mertuanya. Hingga saat ini, Amara masih terjebak dalam kebingungan siapa Syakil sesungguhnya.
...... Lanjut
dia selalu bertindak diluar nalar tanpa sadar kalau perbuatannya menyakiti pasangannya
semoga tidak menjadi bencana dimasa depan saat Amara tahu alasan syakil menikahinya
sllu ada d manapun ada ibu2 mau mlahirkn