Elena hanya seorang peneliti biasa di kota London, hingga sebuah tawaran rahasia mengubah segalanya. Ia setuju menjadi bagian dari program donor untuk pria yang tak ingin cinta, tak butuh istri, hanya menginginkan pewaris sempurna.
Lima tahun berlalu, Elena hidup dalam bayang-bayang kontrak yang melarangnya membuka jati diri. Tapi saat anak yang ia lahirkan tumbuh jenius melampaui usianya, masa lalu pun mengetuk pintu.
Dan pria itu... kini berdiri di hadapannya, tanpa tahu bahwa bocah itu adalah darah dagingnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rima Andriyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Alexander terdiam sejenak, lalu menarik napas panjang. Tatapannya menajam, seolah ada luka lama yang ia sembunyikan di balik wajah dinginnya. “Kau benar. Aku tidak bisa memberi pernikahan padamu, Elena. Aku tidak ingin terikat pada janji kosong yang hanya akan menghancurkanku suatu hari nanti. Aku tidak percaya pada cinta, atau ikatan seperti itu.”
Wajah Elena memucat. Meski sudah menduga, hatinya tetap terasa dicabik oleh pengakuan itu. “Jadi… apa yang sebenarnya kau inginkan dariku?” tanyanya lirih.
Alexander mendekat, menekan kedua telapak tangannya di dinding tepat di sisi kepala Elena, mengurungnya. “Aku ingin kau tetap di sisiku. Menjadi wanitaku. Jangan harap lebih dari itu. Aku akan memberikanmu segalanya, rumah, perlindungan, bahkan dunia jika kau mau. Tapi jangan pernah berharap aku memberimu pernikahan. Itu tidak akan pernah terjadi.”
Air mata Elena menetes, jatuh begitu saja. Ia menunduk, berusaha menyembunyikan wajahnya. “Aku tahu… aku sudah tahu sejak awal, Alexander. Kau tidak akan pernah bisa mencintai siapapun.”
Alexander menatapnya lekat. Ada sekilas keraguan, seolah sesuatu di dadanya berontak. Namun secepat itu pula ia menekannya. Dengan suara dingin, ia mengulang, “Kau bisa benci aku, Elena. Kau bisa menangis, marah, atau mencoba lari. Tapi pada akhirnya, kau tetap akan berada di sisiku. Karena aku tidak akan melepaskanmu.”
Elena terdiam, tubuhnya lemas bersandar pada dinding. Ia tahu, pria ini bukan hanya ancaman… tapi juga penjara. Penjara yang tidak bisa ia hindari, demi Leon.
Elena menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, menahan sesak yang semakin menghimpit dada. Tubuhnya bergetar, bukan hanya karena takut, tapi juga karena rasa putus asa yang perlahan melingkupi dirinya.
“Kenapa kau begitu kejam, Alexander?” bisiknya, suaranya pecah. “Kau tahu Leon tidak bisa bahagia dengan cara seperti ini. Aku… aku hanya ingin Leon tumbuh di dalam keluarga yang normal. Dengan cinta, bukan dengan ancaman dan paksaan.”
Alexander mengepalkan rahangnya, nadanya merendah namun tetap keras. “Keluarga yang normal?” ia tertawa hambar. “Tidak ada yang namanya keluarga normal, Elena. Aku sudah melihat cukup banyak keluarga hancur karena janji kosong bernama cinta. Aku tidak akan mengulang kesalahan itu. Leon akan mendapat segalanya, pendidikan, kekayaan, perlindungan. Itulah yang penting.”
“Tapi itu bukan yang penting baginya!” Elena membalas dengan suara bergetar, air matanya jatuh semakin deras. “Yang dia butuhkan hanyalah seorang ayah yang benar-benar menyayangi ibunya. Yang mencintai keluarganya dengan tulus. Bukan ayah yang hanya tahu memaksakan kehendak.”
Alexander terdiam. Untuk sesaat, sorot matanya terguncang oleh kata-kata Elena, namun ia cepat-cepat menegakkan kembali tembok dingin di dalam dirinya. Ia mencondongkan tubuh, wajahnya hanya sejengkal dari Elena.
"Jadi pria bernama Steve itu bisa memberikannya? Kau berencana untuk menikah dengannya? Itu tidak akan pernah terjadi."
"Jangan sangkut pautkan Steve dalam pembicaraan ini."
“Jangan paksa aku berubah, Elena. Aku sudah memperingatkanmu,” ucapnya dengan suara berat. “Aku tidak bisa memberi pernikahan untukmu. Tapi aku bisa memastikan kau tidak pernah kekurangan apa pun jika berada di sisiku. Itu tawaran terakhirku.”
Elena mengangkat wajahnya yang basah air mata, menatap mata pria itu dengan kebencian bercampur putus asa. “Dan jika aku menolak?”
Alexander mendekat lebih lagi, matanya berkilat dingin. “Maka aku akan tetap mengambil Leon. Kau tahu aku bisa melakukannya.”
Deg.
Darah Elena serasa berhenti mengalir. Jantungnya mencelos, dan tangannya refleks meremas ujung gaunnya. Ketakutan paling besar yang selama ini ia pendam kini diucapkan langsung oleh pria itu.
“Kau tidak akan berani—” suaranya tercekat, tak sanggup melanjutkan.
Alexander menyeringai tipis, namun sorot matanya serius. “Aku akan melakukan apa pun untuk memastikan putraku tumbuh di sisiku. Jika kau ingin tetap bersamanya, maka kau harus menerima syaratku.”
Tubuh Elena seakan kehilangan tenaga, lututnya nyaris lemas. Dalam hatinya, ia berteriak marah, sedih, dan putus asa bercampur menjadi satu. Tapi di balik semua itu, satu hal yang paling jelas, ia tidak bisa kehilangan Leon.
Dan Alexander mengetahuinya.
Pria itu menyentuh dagu Elena, mengangkat wajahnya agar mata mereka bertemu. “Ingat baik-baik, Elena. Kau boleh membenciku seumur hidupmu. Tapi kau tidak akan pernah bisa lari dariku.”
Elena menatapnya dengan mata yang berkaca-kaca. Bibirnya bergetar, namun tak ada kata yang mampu keluar.
Di balik pintu kamar yang sedikit terbuka, sepasang mata kecil menyaksikan semuanya diam-diam. Leon berdiri di sana, tangannya mengepal. Ia mungkin baru berusia lima tahun, tapi matanya menyimpan ketajaman yang tak seharusnya dimiliki anak seusianya.
Ia tahu ada sesuatu yang salah.
Dan ia tahu… cepat atau lambat, ia harus melakukan sesuatu untuk melindungi mamanya.
Pagi itu, saat Leon sudah bersiap pergi ke sekolah, Alexander menurunkan Leon dari gendongannya, anak itu tidak lagi menatap ayahnya dengan binar kagum seperti beberapa menit lalu. Wajah mungilnya berubah kaku, tatapannya datar meski ia tidak mengucapkan apa pun.
“Papa akan menyuruh sopir menjemputmu nanti,” ujar Alexander sambil merapikan kerah seragam putranya.
Namun Leon menunduk, lalu berkata pelan namun tegas, “Tidak. Aku ingin Mama saja yang menjemputku.”
Alexander mengerutkan kening. “Leon—”
“Aku tidak mau dijemput sopir. Aku maunya Mama,” ulang Leon dengan nada keras kepala, lalu berbalik masuk ke dalam mobil tanpa memberi kesempatan Alexander membantah.
Alexander menatap punggung kecil itu, rahangnya menegang. Sementara Elena, yang sejak tadi hanya bisa menyaksikan, heran meski sekaligus cemas jika Alexander menganggap itu sebagai pembangkangan.
---
Siang harinya, setelah bel sekolah berbunyi, Leon berlari ke gerbang. Senyumnya langsung merekah saat melihat Elena sudah menunggunya.
“Mama!” Ia berlari dan memeluk pinggang Elena erat-erat.
Elena tersenyum hangat, mengusap rambut anaknya. “Sayang, bagaimana sekolahmu hari ini?”
Leon menatap wajah ibunya yang berusaha tersenyum. Setelah berjalan sejenak, ia bertanya, “Mama bahagia tidak… bertemu dengan Papa lagi?”
Langkah Elena terhenti. Pertanyaan sederhana itu terasa bagai belati menusuk jantungnya. Ia terdiam beberapa detik, lalu memaksakan senyum sambil mengangguk. “Tentu, Sayang. Papa-mu… dia tetap papamu.”
Leon menunduk. Ia tahu itu bukan jawaban yang sebenarnya. Senyum Mamanya terlalu dipaksakan, matanya terlalu redup. Ia bisa merasakannya, Mama sedang tertekan.
Sepanjang perjalanan, Leon diam, pikirannya bekerja keras. 'Apa aku salah? Apa aku salah membiarkan Papa tahu kalau aku anaknya? Tapi kenapa Mama tidak terlihat bahagia?'
Sampai akhirnya sebuah ide kecil muncul. 'Kalau Papa membuat Mama sedih… mungkin aku bisa mencari Papa baru untuk Mama.'
Senyum tipis muncul di wajahnya. Ia ingat pernah melihat pria bernama Steve, teman baik Mamanya, yang selalu bicara dengan lembut tersenyum tulus.
Tanpa berkata apa-apa, Leon membuka ponselnya. Ia mengetik sesuatu, mencari tahu keberadaan pria bernama Steve. Senyum puas mengembang saat ia menemukan lokasi, sebuah restoran tak jauh dari sekolahnya.
“Mama,” panggil Leon dengan nada ceria yang dibuat-buat. “Bagaimana kalau kita makan siang dulu? Leon lapar sekali.”
Elena menatap jam di pergelangan tangannya. “Sekarang? Tapi Mama belum menyiapkan—”
“Ayo, Ma. Di restoran itu saja,” Leon menunjuk ke arah jalan, tepat ke restoran tempat Steve berada. “Kita makan di sana ya.”
Elena menatap anaknya yang tiba-tiba bersemangat. Ia menghela napas kecil, lalu mengangguk. “Baiklah, Sayang. Kalau itu yang kau mau.”
Leon tersenyum puas. 'Bagus… kalau Mama bertemu Uncle Steve, mungkin Mama bisa tertawa lagi. Bukan seperti saat bersama Papa.'
Mereka pun berjalan menuju restoran itu. Di dalam hati kecil Leon, tekadnya sudah bulat, jika Papa tidak bisa membuat Mamanya bahagia, maka ia yang akan mencari orang yang bisa.
bukannya setting Belgia?🤭🤭 aku yg lompat atau bagaimana kok setelah saya urut lagi bacanya memang Belgia surat lamarannya dan Thorne juga datang ke Belgia gimana ya