NovelToon NovelToon
Pembalasan Istri Yang Tertindas

Pembalasan Istri Yang Tertindas

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Kehidupan di Kantor / Wanita Karir / Kelahiran kembali menjadi kuat / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Careerlit
Popularitas:109.7k
Nilai: 5
Nama Author: Mayy

Nadinta mengira hidupnya berakhir dalam keputusasaan, terkapar tak berdaya akibat pengkhianatan suami dan sahabat yang paling ia percaya.

Namun, takdir memberinya kesempatan kedua. Ia terlempar kembali ke masa lalu, di saat tubuhnya masih sehat, hartanya masih utuh, dan pernikahan neraka itu belum terjadi.

Kali ini, tidak ada lagi Nadinta yang naif. Ia bangkit untuk mengambil kembali kendali atas hidupnya dan memastikan mereka yang pernah menghancurkannya membayar harga yang setimpal.

"Selamat, karena telah memungut sampahku."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mayy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 31: Pertemuan Dengan Vivi

​Lampu-lampu di divisi pemasaran mulai padam satu per satu. Jam dinding digital di pilar tengah sudah menunjukkan angka lima lewat empat puluh lima menit. Sebagian besar karyawan sudah menghilang di balik pintu lift, berlomba menghindari macet atau mengejar kereta.

​Nadinta melangkah keluar ruangan sambil menjinjing tas kerja. Langkahnya terhenti sejenak tepat di depan kubikel Arga.

​Kosong.

​Meja itu berantakan. Tumpukan berkas yang biasanya tersusun rapi—pencitraan Arga agar terlihat sibuk—kini berserakan. Komputer mati, kursi terdorong jauh ke belakang. Persis seperti orang yang kabur dari kebakaran.

​Nadinta menyunggingkan senyum tipis.

​"Kabur rupanya," gumamnya pelan.

​Pemandangan meja kosong itu memuaskan. Rasanya seperti melihat benteng musuh yang mulai retak pondasinya. Arga pasti sedang pontang-panting mencari uang sepuluh juta itu, atau mungkin sedang memohon-mohon di depan pintu apartemen Maya.

​"Nyariin Pak Supervisor ya, Mbak?"

​Nadinta menoleh. Karina sudah berdiri tak jauh darinya, siap dengan tas ransel kecil. Gadis itu menatap meja kosong Arga dengan senyum geli.

​"Enggak," jawab Nadinta santai. "Cuma heran. Tumben mejanya kayak kapal pecah. Biasanya dia paling rajin bersih-bersih sebelum pulang."

​Karina tertawa kecil. "Tadi sih kaburnya kilat banget, Mbak. Jam lima teng langsung lari ke lift. Mukanya pucat, kayak dikejar debt collector."

​"Mungkin memang dikejar sesuatu yang lebih seram dari debt collector," sahut Nadinta penuh arti. "Kamu belum pulang, Rin?"

​"Ini mau jalan. Eh, hampir lupa!" Karina menepuk dahinya. Dia melangkah mendekat. "Teman saya yang punya butik itu lho, Mbak. Si Vivi."

​"Kenapa? Ada komplain?"

​"Bukan! Justru sebaliknya. Dia girang banget. Katanya saran Mbak soal ganti tone warna feed Instagram itu manjur. Orderan dia naik drastis tiga hari ini," cerita Karina antusias. "Dia maksa banget pengen ketemu Mbak Nadin. Katanya mau ngucapin terima kasih langsung."

​Nadinta berpikir sejenak. "Cuma saran kecil kok, Rin. Nggak perlu repot-repot."

​"Yah, Mbak Nadin kayak nggak tahu orang extrovert saja. Si Vivi itu kalau sudah punya mau, susah ditolak. Dia bilang besok mau traktir kita makan enak. Sekalian mau pamer koleksi baru," bujuk Karina.

"Gimana, Mbak? Besok pulang kerja? Mumpung lusa libur. Kita refreshing dikit lah dari drama kantor."

​Nadinta menatap wajah Karina yang penuh harap. Sebenarnya dia lelah, tapi tawaran refreshing terdengar menggoda. Berurusan dengan Arga dan Maya terus-menerus membuat jiwanya kering. Dia butuh udara segar.

​"Boleh," jawab Nadinta akhirnya sambil tersenyum. "Di mana tempatnya?"

​"Di butiknya langsung, daerah Jaksel. Nanti kita bareng aja naik taksi online."

​"Oke. Deal."

​Keesokan harinya, kemacetan Jakarta Selatan menyambut mereka. Namun, hal itu tidak menyurutkan semangat Karina. Begitu taksi berhenti di depan sebuah ruko bergaya industrial dengan cat terracotta mencolok, Karina langsung menarik tangan Nadinta.

​Papan nama kayu bertuliskan VIVID STYLE tergantung artistik.

​"Ini tempatnya?" tanya Nadinta, sedikit kagum. Desainnya unik, beda dari ruko standar di sebelahnya.

​"Iya, Mbak. Keren kan? Vivi yang desain sendiri. Yuk masuk!"

​Begitu pintu kaca didorong, denting lonceng angin menyambut mereka, berpadu dengan musik jazz instrumental dan aroma vanila yang menenangkan.

​"Karinaaa!"

​Ketenangan itu pecah seketika oleh teriakan melengking. Dari balik tirai ruang ganti, muncul perempuan muda berambut bob pendek warna ash-grey. Dia memakai jumpsuit denim longgar dan sepatu warna-warni. Gayanya nyentrik, tapi pas.

​Itu pasti Vivi.

​"Vivi! Kecilin suara napa, malu sama tamu!" omel Karina, tapi tangannya sudah terangkat ke udara.

​Vivi tertawa lebar, lalu melakukan "tos" unik dengan Karina—tepukan telapak, punggung tangan, lalu siku. Sangat luwes.

​"Biarin woy, butik-butik aku juga," balas Vivi jenaka. Matanya kemudian beralih cepat ke sosok di sebelah Karina.

​Ekspresi jahil Vivi langsung berubah kagum. Dia memindai Nadinta dari ujung kaki sampai ujung kepala.

​"Wah..." Vivi melongo sedikit. "Rin, ini Mbak Nadinta yang kamu ceritain? Yang kasih ide palette earth tone itu?"

​"Iya, ini Mbak Nadin. Atasan aku yang paling the best," Karina memperkenalkan dengan bangga. "Mbak Nadin, kenalin ini Vivi. Desainer, pemilik butik, sekaligus manusia paling berisik di Jaksel."

​Nadinta tersenyum sopan, mengulurkan tangan. "Halo, Vivi. Saya Nadinta."

​Vivi tidak menjabat tangan itu secara formal. Dia malah meraih tangan Nadinta dengan kedua tangannya, menggenggamnya hangat.

​"Halo, Mbak Nadin! Aduh, akhirnya ketemu juga sama suhunya!" seru Vivi antusias. "Tangan Mbak halus banget ya, beda sama tangan aku yang kasar kena jarum melulu."

​Nadinta tertawa renyah. Canggung, tapi nyaman. "Kamu berlebihan, Vi. Saya bukan suhu. Cuma kebetulan suka scrolling media sosial."

​"Ih, merendah!" Vivi melepaskan tangan Nadinta, lalu menunjuk sofa beludru di sudut. "Duduk dulu, Mbak, Rin. Aku bikinin teh leci ya? Atau mau kopi?"

​"Teh saja," jawab Nadinta.

​Vivi sibuk di meja pantry mini sambil terus berceloteh. Suaranya mengisi setiap sudut ruangan.

​"Mbak Nadin harus tahu, gara-gara saran Mbak kemarin, DM Instagram butik meledak," seru Vivi dari kejauhan.

"Biasanya yang nanya cuma satu-dua, itu pun hit and run. Tapi kemarin, banyak banget yang langsung checkout. Katanya fotonya jadi kelihatan mahal."

​Vivi datang membawa nampan berisi tiga gelas minuman dingin. Dia duduk di kursi puff bulat di hadapan Nadinta.

​"Serius, Mbak. Makasih banget lho," ucap Vivi, kali ini nadanya tulus. Matanya menatap Nadinta lekat. "Aku sempat putus asa bulan lalu. Mikir apa desainku yang jelek. Ternyata cuma masalah visualnya saja yang salah."

​"Produk kamu memang bagus kok, Vi," puji Nadinta jujur, melirik deretan baju di display.

"Potongannya unik. Bahannya juga kelihatannya nyaman. Sayang kalau orang nggak melirik cuma gara-gara fotonya gelap."

​"Nah, itu dia!" Vivi menjetikkan jari. "Karina mah boro-boro ngerti ginian. Dia taunya cuma input data di Excel."

​"Heh! Sembarangan," protes Karina sambil melempar bantal sofa kecil. Vivi menangkapnya sambil terkekeh.

​Melihat interaksi mereka, Nadinta merasakan desiran hangat. Tulus. Tanpa kepalsuan. Sesuatu yang sudah lama hilang dari hidupnya.

​"Ngomong-ngomong, Mbak Nadin," Vivi tiba-tiba memajukan tubuhnya, menatap Nadinta dengan mata menyipit tajam bak pengamat mode. "Mbak kerja di bidang properti kan ya?"

​"Iya, kenapa?"

​"Pantesan," gumam Vivi sambil mengangguk-angguk. "Gaya Mbak Nadin itu... apa ya istilahnya? Structured. Rapi banget. Blazer hitam, kemeja putih, celana bahan. Aman. Berwibawa."

​Nadinta mengangkat alis. "Itu kritikan atau pujian?"

​"Dua-duanya," jawab Vivi jujur tanpa rasa takut. "Keren sih, kelihatan profesional banget. Tipe wanita karier yang kalau lewat, orang-orang bakal minggir kasih jalan. Tapi..."

​Vivi menjeda kalimatnya.

​"Tapi apa?" pancing Nadinta.

​"Tapi terlalu kaku," sambar Vivi cepat.

"Terlalu... main aman? Kayak ada tembok tebal yang Mbak bangun lewat baju itu. Padahal, kalau dilihat dari struktur wajah sama warna kulit, Mbak Nadin itu cocok banget pakai warna yang lebih berani. Mustard, terracotta, atau maroon."

​Karina menyenggol lengan Vivi. "Vi, jangan mulai deh jadi fashion police."

​Tapi Nadinta justru tertawa. Analisis gadis ini tajam sekali. Memang benar, selama ini Nadinta berpakaian hanya untuk terlihat kuat, untuk menutupi kerapuhannya.

​"Kamu teliti juga ya," komentar Nadinta.

​"Itu naluri desainer, Mbak," Vivi mengedipkan sebelah matanya. "Coba deh, sekali-kali Mbak lepas seragam perang itu. Aku punya satu dress baru, potongannya asimetris. Warnanya maroon gelap. Kayaknya bakal 'jahat' banget kalau Mbak yang pakai."

​"Jahat?" Nadinta bingung.

​"Maksudnya cantik banget sampai bikin orang lain sakit mata karena iri," jelas Karina menerjemahkan.

​"Nah, itu!" Vivi berdiri, semangatnya meluap-luap. "Mbak Nadin harus coba. Nggak harus beli kok. Anggap saja main dandan-dandanan. Aku penasaran banget pengen lihat Mbak Nadin versi playful. Mau ya?"

​Nadinta menatap uluran tangan Vivi. Tangan yang menawarkan dunia baru yang penuh warna, jauh dari abu-abunya kehidupan rumah tangganya.

​Di kantor, dia adalah atasan yang ditakuti. Di rumah, dia adalah tunangan yang dikhianati. Tapi di sini, dia hanya Nadinta.

​"Boleh," Nadinta menyambut tangan itu dan berdiri. "Tunjukkan gaun 'jahat' itu, Vi!"

​"Yes!" sorak Vivi girang, langsung menarik Nadinta menuju ruang ganti. "Karina, pegangin minumanku. Jangan diminum!"

​"Iya, bawel!"

​Saat Nadinta mengikuti langkah riang Vivi, dia menyadari satu hal. Dia menyukai tempat ini. Dia menyukai energi ini. Mungkin, dia memang membutuhkan teman-teman seperti ini untuk menghadapi badai yang akan datang di kemudian hari.

1
You And Me Cinta Abadi
Ibunya Arga berani menampar Nadinta padahal itu apartement milik Nadinta
You And Me Cinta Abadi
Nadinta ibumu sangat menderita saat hidup
You And Me Cinta Abadi
Wah Arga memuji Nadinta pasti supaya ibumu kagum ke dia
Aku dan kamu selamanya😍💏💑👪
Ibunya Nadinta kasihan sakit hati dan sakit fisik
Aku dan kamu selamanya😍💏💑👪
Nadinta Arga memangil kamu untuk berhenti berjalan keluar apartement
Risa Istri Yayang
Keren Nadinta ikutan membalas menampar ibunya Arga
Risa Istri Yayang
Ibunya Nadinta kasihan meninggalkan dunia ngga di temani suaminya
Risa Istri Yayang
Ibunya Arga ribet banget makanan bisa beli jadi jangan menyuruh Nadinta memasak
Yayang Lop3♡ Risa
Arga wajar Nadinta menampar ibumu karena ibumu menampar Nadinta duluan
Yayang Lop3♡ Risa
Ibunya Nadinta kenapa ngga minta cerai ke suaminya
Yayang Lop3♡ Risa
Ibunya Arga kejam menyuruh Nadinta memasak
Aku kamu tak terpisahkan
Nadinta kamu keluar dari apartement mencari udara segar
Aku kamu tak terpisahkan
Kasihan ibumu Nadinta karena saat di selingkuhi ayahmu dia cuma menangis
Aku kamu tak terpisahkan
Nadinta Arga pasti marah sama kamu
@Me and You Married
Arga kamu ngga bakal boleh menikah dengan Nadinta
@Me and You Married
Tabahkan hatimu ya Nadinta ikhlasin ibumu sudah meninggal dunia
@Me and You Married
Wah Nadinta kamu di puji Arga pintar memasak di depan ibunya Arga
@Yayang Risa Couple Happy
Arga ibumu tega melakukan kekerasan fisik ke Nadinta
@Yayang Risa Couple Happy
Nadinta di namun kamu bakal di pecat jadi kandidat calon istri Arga
@Yayang Risa Couple Happy
Nadinta ibunya Arga dan Arga kaget mendengar pengakuan kamu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!