Jourrel Alvaro, pembunuh bayaran yang selalu melakukan pekerjaannya dengan sangat bersih tanpa kendala berarti. Banyak para pejabat atau pengusaha yang menyewanya untuk menghabisi musuh-musuh mereka.
Cheryl Anastasia, gadis 24 tahun yang berbakat menjadi seorang arsitek. Darah seni mengalir dari ibunya, sedang jiwa kepemimpinan merupakan turunan dari sang ayah.
Suatu hari, Jourrel dibayar untuk menghabisi nyawa Cheryl. Namun seolah memiliki nyawa seribu, gadis cantik itu selalu lolos dari kematian.
Hingga akhirnya, kekaguman Jourrel meluluhkan hatinya. Ia kalah dan justru jatuh cinta dengan Cheryl karena gadis itu ternyata bukan gadis lemah. Memiliki banyak talenta luar biasa.
Akankah Cheryl membalas cintanya? Lalu bagaimana jika ayah Cheryl yang seorang ketua mafia dapat mengendus pria bayaran itu mengincar putrinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sensen_se., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32 : UJI KESABARAN
"Apa kau bilang barusan?" teriak Cheryl melebarkan matanya.
"Apa?" Jourrel bertanya balik.
"Heh, kupingku masih normal, ya!" sahutnya memicingkan mata.
Jourrel menaikkan sebelah alisnya, "Terus? Ah udahlah, aku urus administrasi dulu!" ucap Jourrel melenggang keluar dari kamar inap gadis itu. Enggan memperpanjang perdebatannya, meski harus berulang kali menekan rasa sabar.
Sedangkan Cheryl menekan dadanya yang berdenyut sedari tadi. Ia menepuk-nepuk kedua pipinya yang terasa panas, "Dia? Kenapa dia jadi baik?" gumamnya kebingunan dengan perubahan Jourrel juga pada dirinya sendiri.
Cheryl menutup wajah dengan kedua tangannya. "Aduh! Cheryl, ingat kata mama. Sebaik apa pun pria asing harus tetap waspada! Kecuali saudara sendiri! Ingat Cheryl! Tetap waspada!" tekan Cheryl pada dirinya sendiri.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Usai menyelesaikan tanda tangan semua administrasi beserta biayanya, Jourrel kembali dengan satu kantong obat di tangannya. Sempat berhenti di ambang pintu dan menatap obat-obatan beserta dokumen yang terlipat rapi di tangannya. Senyum tipis tersungging di bibirnya. Kemudian menggeleng pelan sembari membuka pintu.
Ternyata, di sana Cheryl sudah bersiap untuk pulang. Seorang suster melepas alat medis yang masih menempel di tubuhnya. Gadis itu beranjak ke toilet, hendak mengganti pakaian.
Jourrel bergegas dengan cepat membantunya. Namun kali ini di luar ekspektasi, karena Cheryl menolaknya dengan tegas. Jangan lupakan pelototan manik indahnya yang justru tampak lucu di mata Jourrel.
"Oke, nggak akan bantu!" tutur Jourrel mengangkat kedua tangannya. Mundur beberapa langkah untuk memberi jalan, namun Cheryl justru turun dari sisi ranjang lainnya. Jourrel hanya menghela napas panjang. Punggungnya bersandar pada dinding.
Sambil menunggu, Jourrel mengirim pesan pada Tristan untuk menanyakan kondisi motornya. Lagi-lagi lelaki itu harus mendesah kasar ketika mendapat balasan dari sahabatnya itu, karena motornya rusak parah.
Setelah keluar dari toilet, Cheryl sudah cantik dengan balutan kemeja semi formal beserta celana panjang. Wajah pucatnya sama sekali tidak memudarkan kecantikannya.
Jourrel menggerakkan kepalanya. Terpaku sejenak tanpa mengedipkan mata. Meski selalu mendapat wajah masam dan juga ucapan ketus, Jourrel tak begitu menanggapi dengan serius.
"Mau aku pesankan taksi?" tawar Jourrel pelan.
"Nggak usah!" ketus Cheryl meraih tas dan menggenggam ponselnya.
"Kenapa? Kendaraan kita sedang ditangani Tristan, baru dibawa ke bengkel dan dicek dulu. Soalnya dia lagi ada urusan mendadak. Dan dia titip salam sama kamu!" jelas Jourrel panjang lebar.
Cheryl membalikkan tubuhnya, ia berkacak pinggang dan masih menatap dengan aura permusuhan. "Jhon! Lu abis kejedot apa gimana? Abis ngalamin kayak gitu tadi, lu pikir gue bisa naik mobil apa? Hello, otak gue yang memiliki IQ di atas rata-rata ini, nggak bisa semudah itu lupa ya gimana rasanya di ambang maut?" pekik Cheryl mendorong sebelah dada Jourrel.
"Oh!" sahut lelaki itu singkat. Ia bingung harus menanggapi seperti apa.
"Oh doang?" Cheryl menyeringai. Ia pun melenggang keluar dengan langkah pelan.
Meski fisiknya tampak baik-baik saja, akan tetapi tentu saja kecelakaan itu menimbulkan trauma di hatinya. Hanya saja, Cheryl tidak ingin terlihat lemah. Ia berusaha menutupi dengan caranya sendiri.
Jourrel mengekori gadis itu dari belakang. Sigap jika sewaktu-waktu terjadi sesuatu sepanjang jalan keluar. Sadangkan Cheryl masih terus menggerutu sepanjang langkahnya.
Keluar dari lift, Cheryl langsung disambut assistennya di loby rumah sakit. Sebuah motor matic masih dibungkus plastik sudah nangkring di sana.
"Hei, kamu baik-baik aja?" tanya Rainer berlari menghampiri Cheryl. Ia meraih kedua bahu gadis itu dan meneliti setiap inchi tubuhnya.
"Aku nggak apa-apa. Mana pesenanku?" tanya Cheryl merapikan tas di bahunya.
"Tuh!" Rainer berbalik dan menunjuk motor hitam dengan body yang lumayan besar.
Cheryl membelalak, "Hah? Gede amat, Rain!? Nggak mau aku! Cariin yang lebih kecil. Issshh masa iya, nanti ngangkang kalau bonceng di belakang?" protesnya melipat kedua lengan.
"Hah? Gimana gimana?" Rainer tidak mengerti.
"Ganti yang body nya lebih langsing!" titahnya tanpa mau dibantah.
Rainer mengembuskan napas berat. Hari libur yang diganggu, ditambah dengan keinginan sang boss yang membingungkan, cukup menguji kesabarannya kali ini.
"Oke, milih sendiri. Untung pengirimnya belum pulang! Bentar aku panggil petugasnya."
Rainer menghampiri petugas dealer, ia menjelaskan bahwa atasannya ingin mengganti sepeda motor jenis lain. Rain pun meminta untuk membawa brosur pada Cheryl agar memilihnya sendiri.
Setelah cukup lama berdiskusi, akhirnya motor tersebut ditukar dengan model lain sesuai keinginan Cheryl.
"Jangan lama-lama, Mas! Aku tunggu di sini. Rain, udah kamu bayar 'kan? Kalau minta ganti rugi, nanti kasih aja." Cheryl mendaratkan bokongnya di kursi tunggu. Jourrel masih terdiam dan terus mengekori Cheryl. Ia berdiri di samping kursi yang diduduki Cheryl.
"Tunggu, jadi ini motor buat kamu sendiri?" tanya Rain penasaran. Cheryl mengangguk. "Hah? Buat apa? Anak sultan naik motor?" sambungnya terkejut.
"Bapak gue Tiger kalo lo lupa namanya," cetus Cheryl.
"Diih, emang bisa naik motor? Gaya lu!" Rainer memicingkan mata.
"Gunanya assisten buat apa, Bambang?" cebik Cheryl.
"Gue nggak bisa naik motor, Oneng!" Rainer hendak mendorong kening Cheryl dengan jarinya. Namun segera ditepis Jourrel dengan sigap. Ia khawatir, karena Cheryl belum sepenuhnya pulih.
Barulah Rain menoleh dan menyadari kehadiran Jourrel. Keduanya saling menatap kuat. Keningnya mengerut dalam. "Kamu?!" ucapnya menunjuk wajah Jourrel ketika mengingat sesuatu.
Bersambung~
Duhh... bener2 ratuu ni anak macan.