Sejak kecil Celia selalu dilimpahi cinta dalam keluarganya. Sehingga ia rasakan proteksi yang berlebihan dari ayah serta yang lainnya hingga ia sulit untuk menemukan pasangannya.
Pada akhirnya Celia jatuh cinta pada lelaki yang merupakan teman kecilnya. Karena jarak yang terpisah jauh dan hubungan masa lalu yang kompleks antara orangtuanya dan juga orang tua Collin menjadikan ia harus rela melakukan hubungan cinta itu secara diam-diam.
Apa yang terjadi jika ayahnya menentang hubungan itu dan menyediakan calon lain sebagai suaminya ?
Ini hanya cerita 2 manusia yang memperjuangkan cinta mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MeeGorjes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menawarkan Bantuan
Selamat Membaca ♥️
Celia membulatkan kedua mata dan juga mulutnya mendengar perkataan Mommy-nya itu. Sungguh dia tak menyangka kalau Daddy-nya akan berbuat seperti itu. Sungguh kekhawatiran pria yang menjadi cinta pertamanya itu sangat berlebihan. Padahal Celia bukanlah anak-anak lagi.
“Apa Daddy tak memikirkan perasaanku?” tanya Celia kepada Mommy-nya yang juga masih berada di ruangan itu.
Renata hanya bisa mengusap punggung anak gadisnya yang akhir-akhir ini tak lagi ceria.
“Kita akan periksa ke dokter saja. Bagaimana? Itu juga supaya Daddy-mu berhenti untuk mencarikan calon suami untukmu.”
“Aku takut, Mom,” cicit gadis itu.
“Apa kamu tak ingin berjuang untuk kebahagiaanmu?” tanya Renata dengan tatapan teduh yang menyenangkan.
***
Pintu ruang kerja Fabian di rumah itu diketuk oleh seseorang di sana. Seorang pria yang usianya masih belum tiga puluh tahun itu masuk ke dalam ruangan laki-laki yang menjadi atasannya.
“Bagaimana?” tanya Fabian.
“Semuanya sudah dalam kendali,” ucap Rian kepada atasannya.
“Bagus. Tolong bantu aku mencarikan informasi tentang beberapa rekan bisnisku yang memiliki anak lelaki.”
Rian menatap wajah bosnya. Pemuda itu menatap Fabian yang saat ini sedang memijat pelipisnya perlahan. Bisa dia pastikan kalau saat ini pria itu frustrasi. Namun, Rian ingin mengakhiri masalah Fabian akan Celia.
“Apa Anda bermaksud untuk-“
“Ya. Aku akan menikahkan Celia. Selagi semuanya belum terlambat,” ucap Fabian memotong perkataan Rian.
Pria itu mengangkat sebelah alisnya diiringi dengan sebuah senyuman puas dan bahagia yang tampak dari wajahnya.
“Apa harus dari rekan bisnis Anda? Bagaimana kalau ada pemuda lain yang bukan pengusaha, ingin melamar putri Anda?” tanya Ryan masih tak mengatakan maksud sebenarnya.
Fabian terdiam. Dia seolah enggan berpikir untuk saat ini. Apa bedanya dia menikahkan Celia dengan Collin kalau pemuda dari kalangan biasa yang ia tawarkan sebagai suami?
Fabian tak setega itu untuk membuat anak perempuannya menderita dengan pria dari kalangan biasa saja. Dia terlalu sering memanjakan Celia. Oleh karena itu dia tak yakin kalau ada pria yang bisa memenuhi kebutuhan Celia yang sejak kecil serba berkecukupan.
“Bolehkah saya mengajukan lamaran untuk menjadi kandidat calon suami anak Anda, Pak?” tanya Rian.
Pertanyaan pemuda itu membuat Fabian mendongakkan kepalanya. Ingin rasanya dia marah dengan pria yang saat ini berdiri di hadapannya dan hanya dibatasi dengan sebuah meja besar di antara keduanya.
Bagi Fabian, perkataan Rian sungguh di luar dugaan. Dia tak menyangka kalau pemuda itu memiliki nyali yang cukup besar untuk meminta Celia secara langsung padanya.
“Apa yang membuatmu yakin kalau aku akan menerima permintaanmu?” tanya Fabian seraya menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi.
“Karena saya adalah asisten Anda dan Anda bisa lebih mudah mengontrol putri Anda di mana pun kami berada. Bukankah kalau Celia menikah denganku, itu berarti memudahkan pekerjaan Anda juga? Dan lebih efisien dalam urusan pekerjaan Anda apabila saat itu Anda membutuhkan saya?”
Rian tak segan untuk menjelaskan panjang lebar alasan yang masuk akal untuk mendapatkan persetujuan dari Celia.
“Mengapa kamu mau dengan anak saya? Padahal Anak saya sudah pernah tidur dengan pria lain?” tanya Fabian penuh selidik.
“Saya menyukai Celia, Pak. Dan Saya jatuh cinta pada pandangan pertama dengan putri Anda. Oleh sebab itu saya tak mempermasalahkan apa yang terjadi dengan Celia dan pria lain asalkan Celia dan saya bisa bersama,” ucap Rian mantap.
‘Andaikan Anda tahu kalau Celia dan Collin sebenarnya tak melakukan apa-apa meski ada di atas ranjang yang sama, Pak Fabian. Tapi saya tak akan menyiakan kepercayaan Anda untuk menjaga Celia kalau Anda mengizinkan. Hanya saja itu akan berbeda kalau Anda menolaknya,’ ujar pria itu dalam hati.
Rian masih menampilkan senyum terbaiknya seraya berdiri menunggu Fabian yang berpikir. Pemuda itu tak melepaskan pandangannya dari pria yang merupakan atasannya dalam bekerja. Dan mungkin ... Akan menjadi calon mertuanya.
Sementara itu, Fabian masih tampak ragu dengan Rian. Meski apa yang dikatakan oleh pemuda itu masuk akal dan sangat menguntungkannya, apa mungkin Rian bisa membahagiakan Celia?
Fabian juga masih takut suatu saat nanti Rian akan mencurangi dirinya dan juga Celia. Melihat apa yang telah dilakukan oleh pria itu, bisa saja kalau sebenarnya pemuda itu ingin menguasai harta bendanya, bukan?
“Apa kamu yakin kalau bisa membahagiakan Celia?” tanya Fabian kepada pemuda itu lagi.
“Apa Anda perlu saya membuktikan dan membuat perjanjian akan ucapan saya, Pak? Saya berjanji akan membuat Celia bahagia. Dan juga, kalau Anda khawatir dengan harta kekayaan Anda, saya tak keberatan jika Anda memberikan surat perjanjian pranikah agar saya tak bisa menuntut apa pun dari Anda dan Celia.”
Fabian masih tak sepenuhnya yakin dengan asistennya itu. Sebagai anak buah dalam bekerja, Fabian mengakui kemampuan Rian yang andal dan sigap dalam memecahkan masalah. Tapi, jika sebagai menantu ... Masih ada sesuatu yang terasa mengganjal dalam hati pria itu.
“Saya hanya mencintai Celia dan cinta saya tulus padanya, Pak. Oleh sebab itu, izinkan saya menikah dengan Celia. Dan akan saya turuti semua permintaan Anda,” ujar pria itu.
Fabian sedikit luluh dengan perkataan Rian. Dia bisa melihat kalau Rian benar-benar menyukai Celia.
Tapi ...
“Aku akan mendiskusikan hal ini dengan istriku. Dan kalau istriku setuju, aku akan mengurus semua urusan pernikahan kalian.
Wajah Rian kini tampak semakin bersinar. Senyuman tercetak lebar pada wajah pria itu. Selangkah lagi dia akan dekat dengan tujuannya. Dia tak lama lagi akan bisa memiliki Celia secara utuh. Dia tak akan menyiakan kesempatan yang ada di hadapannya.
“Kira-kira, kalau Bu Renata setuju dengan usulan ini ... Kapan kami bisa menikah, Pak?” tanya Rian dengan senyum yang tak kunjung memudar.
“Aku akan menikahkan kian secepatnya. Lebih cepat lebih baik.” jawab Fabian.
“Aku takut orang lain tahu ada benih pria yang ada dalam perut putriku yang belum menikah. Oleh sebab itu aku tak ingin orang-orang menjatuhkan aku dan keluargaku.”
Rian tampak menganggukkan kepalanya. Kini dia paham mengapa pria itu begitu terburu ingin menikahkan putrinya.
Sementara itu, Celia yang tadi hendak pergi dengan Mommy-nya menuju ke rumah sakit untuk melakukan tes bahwa dirinya masih suci, merasakan kembali lecewa kepada Daddy-nya. Dia tak menyangka kalau Daddy-nya menganggap dirinya begitu rendah. Bahkan memiliki rencana untuk menikahkan dirinya dengan sang asisten yang bernama Rian.
Gadis itu menerobos masuk ke dalam ruang kerja sang Daddy yang tak terkunci. Dia yang mendengar perkataan Daddy-nya, menatap tajam pria paruh baya itu. Gemuruh di dada Celia seolah tak dapat lagi tertahankan. Dia sangat lelah dengan apa yang dilakukan oleh Daddy-nya.
“Aku tak ingin menikah dengannya, Dad!” ujar Celia menunjuk ke arah Rian.
To be continued ♥️
Thanks for reading ♥️