"Tuan, ayo tidur denganku?" Kalimat gila itu Dea ucapkan pada sang boss di bawah kendali alkohol.
Namun Dea pikir semuanya akan berakhir malam itu juga, namun siapa sangka satu sentuhan membuatnya dikejar selamanya oleh sang boss playboy.
"Dea, kamu harus tanggung jawab padaku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kim.nana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 - Pilihan Dea
"Apa? Dea tidak memberimu uang dan malah ingin mengakhiri hubungan kalian?" tanya Gisel pada Barry, mereka baru bisa bertemu di jam istirahat kerja Barry. Dan bukannya merasa senang mendengar kabar tersebut, Gisel justru merasa kesal.
Karena sungguh, baginya hubungannya dengan Barry murni hanya untuk bersenang-senang dan memoroti Dea. Tapi jika seperti ini maka semuanya tak ada artinya apa-apa.
"Aku juga tidak tahu kenapa tiba-tiba Dea berubah seperti itu, dia bukan seperti Dea yang ku kenal."
Kali ini Gisel tak langsung menjawab, namun memikirkan dalam-dalam tentang perubahan Dea yang memang nampak jelas. Jika perubahan Dea bukan karena mengetahui tentang perselingkuhan mereka Maka, Dea berubah karena akhir-akhir ini mendapatkan banyak bonus dari pekerjaannya.
Mungkin uanglah yang membuat saudara sepupunya itu berubah.
Menyadari akan hal itu rasa iri di hati Gisel makin besar saja, sungguh dia pun sangat ingin bisa bekerja di perusahaan besar seperti tempat Dea bekerja. Tapi Gisel belum menemukan jalannya.
"Apa kamu tahu dimana apartemen tempat tinggal Dea sekarang?" tanya Barry kemudian, sebab dia masih belum ingin menyerah tentang Dea. Jika harus memilih diantara Dea dan Gisel, jelas Barry akan memilih Dea tanpa perlu berpikir dua kali.
Baginya Gisel hanya untuk bersenang-senang dan keseriusannya hanya untuk Dea seorang.
"Tidak tahu, Dea hanya mengatakan bahwa dia akan tinggal di apartemen dekat dengan perusahaannya. Tapi aku tidak tahu detailnya di mana."
Gisel terdiam cukup lama setelah mengatakan itu. Bibirnya mengatup rapat, sementara pikirannya berputar cepat.
Ia menatap wajah Barry yang terlihat gusar seolah begitu terpuruk karena kehilangan Dea.
Meskipun tidak sepenuhnya mencintai Barry, tapi tetap saja dia kesal.
“Kita cari jalan pelan-pelan saja,” ucap Gisel akhirnya, “Dea itu memang keras kepala, tapi juga gampang luluh. Apalagi kalau kamu datang dengan sikap yang benar.”
Barry mengangguk, jelas masih menyimpan harapan. “Aku tidak mau kehilangan dia.”
Gisel tersenyum kecil. “Aku bantu sebisaku.”
Padahal di dalam hatinya, niat Gisel sama sekali bukan membantu Barry mendapatkan Dea kembali melainkan memastikan ia tetap bisa mengambil keuntungan dari siapa pun yang paling menguntungkan.
Barry butuh Dea sebagai sumber uang.
Gisel butuh Barry sebagai pelindung ego dan pelarian.
Mereka sama-sama sadar, hubungan ini hanyalah soal kepentingan masing-masing.
Malam pun akhirnya menjelang.
Lampu-lampu kota mulai menyala ketika mobil Alex memasuki area parkir apartemen. Sepanjang perjalanan pulang, mereka nyaris tak banyak bicara. Bukan karena canggung, melainkan karena kelelahan setelah hari yang penuh dengan pekerjaan dan hal panas di kantor Alex.
Begitu pintu apartemen tertutup, Dea langsung melepas sepatu dan menarik napas panjang.
“Aku bereskan barang-barangku dulu,” ucapnya pelan.
Alex hanya mengangguk, diam-diam menatap punggung Dea yang pergi lebih dulu. Biasanya Alex tidak tinggal di apartemen ini. Apartemen ini baru dia beli ketika memutuskan ingin menikahi sekretarisnya tersebut.
Biasanya Alex tinggal di apartemennya yang lain, tapi suasananya pun jauh berbeda dengan apartemennya sekarang. Karena di sini dia berbagi tempat dengan seorang wanita, sesuatu yang sebenarnya bagi Alex adalah hal baru.
Biasanya para wanita hanya datang untuk memuaskannya lalu pergi, tidak pernah tinggal seperti Dea sekarang.
Dea masuk ke kamar dan membuka dua koper besar yang sejak pagi belum sempat ia sentuh. Ia membuka satu per satu, mulai mengeluarkan pakaian, sepatu, dan barang pribadinya. Lemari Alex yang selama ini rapi dan maskulin perlahan berubah, ada sentuhan feminin yang mulai mengisi ruang kosong.
Saat Dea sedang melipat pakaian, bel apartemen berbunyi.
Alex keluar dari ruang kerja dan membuka pintu. Seorang pria berseragam rapi berdiri di depan, mendorong troli berisi beberapa kotak besar dengan logo butik ternama.
“Pesanan atas nama Tuan Alex,” ucap karyawan itu sopan.
Alex menandatangani penerimaan, lalu membiarkan sang karyawan mendorong kotak-kotak itu masuk.
Dea yang mendengar suara ramai keluar dari kamar, langsung tertegun saat melihat deretan kotak itu.
“Apa itu?” tanyanya heran.
Alex menoleh santai. “Pesananmu.”
“Pesananku?” Dea mengernyit. “Aku tidak merasa memesan apa pun.” Dea mulai was-was dan kaget, Bagaimana mungkin dia berbelanja sebanyak itu.
Alex kemudian membuka salah satu kotak, sementara sang karyawan sudah pergi pamit. Di dalamnya tersusun rapi berbagai koleksi lingerie dengan warna-warna lembut dan elegan, ada yang vulggar, ada juga yang nampak lebih manusiawi.
Deg!
Wajah Dea langsung memanas. “Tuan!” pekik Dea geli sendiri, sumpah demi apapun selama ini dia tidak pernah memakai baju setipis itu.
“Apa?” Alex malah tersenyum tipis. “Aku hanya ingin kamu nyaman, itu saja.”
“Kenyamananku tidak seperti itu,” protes Dea, meski suaranya melemah. "Justru aku sangat tidak nyaman," timpalnya jujur.
Alex mendekat dan berdiri di hadapannya. Jika sudah seperti ini posisinya Entah kenapa Dea merasa lemah.
“Dea, dengarkan aku,” ucap Alex lebih serius. “Aku tidak akan memaksamu memakai semua ini. Anggap saja ini sebagai hadiah.” ucap Alex dan terasa membingungkan bagi Dea.
Alex berkata tidak berharap tapi kenapa memberikannya.
Dea jadi terdiam. hatinya bahkan bingung harus merasa bagaimana, ada perasaan hangat, tapi juga campur aduk, malu, kesal dan juga tak bisa memungkiri perhatian itu membuatnya sedikit tersentuh.
Apalagi selama ini Dea tidak pernah mendapatkan hadiah apapun dari Barry, dan sekarang Alex seolah bisa memberikan Semua yang dia inginkan di dunia ini.
Dea menutup kotak itu perlahan. “Aku tetap akan memilih sendiri kapan memakainya," ucap Dea lirih.
Dia pikir Alex akan menolak dan tetap memaksanya untuk memakai Lingerie itu malam ini, tapi malah dilihatnya Alex yang mengangguk. “Baiklah dan aku akan menunggu," ucap Alex lembut sekali.
Bahkan suaranya terdengar hangat di telinga Dea.
Dea kembali ke kamar dengan langkah pelan. Dadanya masih terasa hangat oleh sikap Alex barusan, yang tidak memaksa dan hanya menunggu. Sesuatu yang tak pernah ia dapatkan sebelumnya.
Ia menutup pintu kamar, lalu duduk di tepi ranjang sambil menatap kotak-kotak berisi lingerie tersebut. Tangannya bergerak ragu, kemudian mengambil salah satu kotak lingerie itu. Dea pilih yang baginya tidak terlalu mencolok.
“Aku hanya ingin menghargai perhatiannya,” gumam Dea pada dirinya sendiri, seolah mencari pembenaran.
Dengan jantung berdebar, Dea mengganti pakaiannya. Saat bercermin, ia nyaris tak mengenali dirinya sendiri. Bukan karena pakaian itu semata, melainkan karena ada keberanian kecil yang selama ini tidak pernah ia miliki.
Dea menarik napas panjang, lalu melangkah keluar kamar.
Alex yang sedang duduk di sofa refleks menoleh. Untuk sesaat, ia terdiam.
Terkejut melihat kecantikan dan keseksian sang sekretaris. Siapa sangka jika Dea seindah ini.
Alex bangkit berdiri dan mendekati, tak menyangka juga jika Dea akan langsung memakainya. Padahal jelas beberapa saat lalu Dea melayangkan protes. Seolah sekarang Dea sedang berusaha menyenangkannya.
Dan Alex sangat bahagia akan hal itu.
Dea sudah tak mampu berkata apa-apa karena malu, sementara Alex masih belum puas memandangi.
Tatapan mereka kemudian bertaut. Tidak ada kata-kata berlebihan, tidak ada sentuhan tergesa. Hanya keheningan yang dipenuhi perasaan baru, asing tapi hangat, dan sedikit mendebarkan.
Malam ini Dea sadar satu hal, Ia tidak sedang dipaksa. Tapi ini adalah apa yang Dea pilih.
Dan pilihan itu entah mengapa membuat hatinya bergetar lebih kuat dari apa pun yang pernah ia alami sebelumnya.
"Cantik sekali," puji Alex.
lupe you pull😍😍
biar bang Al tantrum sdri🤣
tapi sayang tak digubris🤭..