Kyra Andini resmi menjadi Nona di keluarga Wiratama. Namun, gelar itu tak seindah harapannya. Nyatanya pria yang menjadikannya halal, justru membenci kehadirannya.
Setiap hari perlakuan Kaisang Adipta Wiratama tak pernah baik, selalu dingin dan menganggap Kyra hanya patung pajangan saja.
Karena suatu malam terjadi kesalahan, menjadikan Kyra mengandung anak Kai. Meski begitu, Kai masih tetap berlaku kasar. Bahkan, tanpa sepengetahuan istrinya, Kai berselingkuh dengan sekretarisnya di kantor.
Bagaimanakah kelanjutan kisah rumah tangga Kai dan Kyra? Tetap bertahan, atau bercerai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mei_Mei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Teman Masa Kuliah
Sepulang bekerja, Kyra langsung menemui Bu Idah dan Kaina di halaman belakang.
"Kebanggaan Bunda, udah mandi ya? Harum banget." Kyra menciumi pipi Kaina berulang kali. Kaina yang duduk di stroller khususnya bergumam-gumam tak jelas.
"Bu, hari ini Kaina makannya lahap enggak?"
"Lahap, Non," jawab Bu Idah yang berdiri tak jauh dari ibu dan anak itu.
Puas menciumi pipi Kaina, Kyra duduk di bangku kosong. Tatapannya fokus pada Kaina. Tetapi berbicara pada ibu Idah.
"Ibu keberatan nggak kalau aku bercerita dan ingin meminta pendapat ibu," ujarnya.
"Enggak, Non. Ibu nggak keberatan sama sekali. Malah seneng kalau Non mau cerita." Ibu Idah ikut duduk di samping Kyra.
"Tadi, bos di tempatku kerja nawarin buat aku lanjut kuliah. Tapi aku bingung, mau aku iyain atau enggak. Kalau aku lanjut kuliah, bagaimana dengan Kaina, aku takut semakin nggak ada waktu buat dia," cerita Kyra. Tatapannya fokus melihat ke arah putri semata wayangnya, yang kini mulai terlihat sayu.
"Kenapa Non khawatir dengan Non Kecil, kan ada Ibu yang bisa jagain," sahut Bu Idah.
Kyra langsung beralih melihat wanita paruh baya di sampingnya itu. Merasa terharu dengan jawaban Bu Idah yang mau menjaga Kaina dengan jam kerjanya bertambah.
Putrinya memang tidak aktif seperti anak-anak pada umumnya, tapi dengan keterbatasan Kaina justru membuat seseorang yang menjaga sangat kelelahan karena harus berkali-kali menggendong tubuh Kaina untuk dipindahkan dari satu tempat ke tempat lain. Atau misal sedang buang hajat, harus mengurusnya seperti bayi. Sungguh, semua itu pasti melelahkan.
"Ibu sanggup menjaga Kaina walau hampir sepanjang waktu?" tanya Kyra.
"Ibu sanggup, Non. Asal ...." Bu Idah menggantung kalimatnya dan membuat Kyra mengernyit penasaran.
"Asal tipsnya dobel," imbuhnya dengan tersenyum malu-malu.
Kyra langsung paham dan mengangguk dengan antusias. "Kalau untuk tips, Ibu nggak usah khawatir, tentu akan 2x lipat."
•
Kai benar-benar seperti gembel. Dengan hobi barunya yang suka duduk di trotoar, memandangi lalu lalang orang-orang lewat. Baik pejalan kaki ataupun yang menaiki kendaraan.
Tak melakukan apapun, hanya otak diputar untuk mencari jalan keluar, tapi nihil. Tak terpikir apapun. Lidia?! Perempuan ****** itu?! Entah seperti apa nasibnya, lebih baik atau lebih buruk.
Mengingat, wajahnya juga wajah Lidia telah tenar di jagat maya. Mungkin nasib perempuan itu tak jauh beda darinya, sulit untuk menata masa depan. Brengsek! Siapa sebenarnya yang mem-viralkan video dan foto itu!!
Kai sama sekali tidak terpikir bahwa Kyra yang merancang kehancuran masa depannya. Dia selalu berpikir bahwa Kyra tak bisa melakukan apapun. Perempuan itu tak akan tega melakukannya.
Sesekali Kai menjambak rambut dengan kuat, kepalanya hampir meledak memikirkan kehidupan selanjutnya. Tak ada ide. Benar-benar buntu dan tak ada orang yang bisa dimintai pertolongan.
Rekan bisnis? Tak mungkin dia melamar kerja ke bekas rekan bisnisnya, semua pasti tahu berita tentang skandalnya. Ah, sial!
Teman kuliah? Ah, tak jauh beda. Dia sudah tidak punya muka untuk menghubungi siapapun. Ya Tuhan ....
2 menit berlalu, Kai mengingat salah satu teman yang lumayan dekat dengannya sewaktu masa kuliah.
"Apa dia mau menerimaku berkerja di perusahaanya?" Kai merasa ragu. Pasalnya, sewaktu dia masih memimpin di Perusahaan Wiratama, dia beberapa kali melontarkan candaan dengan mengatakan perusahaan 'Fhasion dan Jewelry' milik temannya itu susah maju karena pemimpinnya kurang cerdas.
Meski temannya itu tidak pernah marah, tetapi Kai merasa malu dalam keadaan sulit harus menghubungi untuk meminta bantuan.
Namun setelah beberapa saat menimbang pemikiran, akhirnya dia mengeluarkan ponsel dan mengirim pesan pada temannya.
'Ko, sibuk, nggak? Aku ada perlu sama kamu. Ketemu di cafe biasa.'