Kakak beradik, menikah?
Apakah bisa?
tentu bisa, hal ini terjadi dan menimpa dua saudara yang ternyata mereka sama sekali tak memiliki ikatan darah.
" Siapa yang melepas hijabku?" Gumam Dinda kebingungan setelah nyawanya terkumpul dari tidur lelapnya.
" Pasti ini ulahnya, Pasti. Tidak ada yang lain." Dinda mendengus yakin.
Dinda mendatangi Andra tersangka utama sambil bersungut-sungut menahan amarahnya. Hijabnya sudah kembali terpasang dengan rapi, tapi tidak dengan wajahnya yang kusut dan awut-awutan.
" Kak, bangun!" Dinda mengguncangkan tubuh Andra tanpa perasaan.
" Ada apa sih? masih malam juga. Argh....!" Andra menggeliat dan mengerang mengumpulkan kesadarannya.
" Kamu membuka hijabku kan?" Dinda memicing mencari kejujuran.
" Iya." Jawaban Andra sangat enteng tanpa beban dan dosa.
" Aku tidak suka ya Kakak membuka hijabku seperti itu. Kakak itu bukan suamiku, tidak boleh melihat auratku!!" Seru Dinda yang mulai meninggi nada bicaranya. Ketidak sukaannya benar-benar kentara.
" Ish, ish, ish!" Andra menggeleng dan terkekeh. Lucu saja baginya melihat Dinda mengamuk dengan hal sepele seperti itu.
" Ibu ustazah, Pagi-pagi sudah marah-marah. Dosa loh Bu." Andra terkekeh geli mengamati raut wajah Dinda yang kaku.
" Apa ibu lupa, jika bukan hanya suami yang bisa melihat aurat wanita? Mahram juga. Ayah, Kakak laki-laki, adik laki-laki, dan paman dari Ayah. Nah aku ini kakakmu Dinda! Apa kamu lupa?" Andra menggeleng-gelengkan kepalanya.
" Memangnya kamu pikir aku ini orang lain? Jangankan rambut, udelmu saja aku paham bagaimana bentuk dan juga tahi lalatnya. Dasar aneh!!"
" Sudah, Kakak mau ke masjid dulu." Andra berdiri dan mengusap pucuk kepala Dinda.
Dan Dinda?
Dinda hanya melongo merasa menjadi mahluk paling bodoh di muka bumi ini. Bagaimana dia bisa lupa jika Andra tidak pernah tau bahwa dia adalah anak pungut? Jelas saja Andra berpikiran jika tidak ada yang salah dalam tindakannya.
Apa yang bisa Dinda lakukan?
Tidak ada. Dinda hanya bisa mengalihkan topik pembicaraan dan berpura-pura bodoh di hadapan Andra.
" Hehehehe! maaf ya Kak, otak ku sedikit error'." Ucap Dinda yang mengekor di belakang Andra seolah bukan masalah besar yang baru saja terjadi.
Andai saja Dinda tau jika semalam Andra juga sempat mencium keningnya, Apakah yang akan terjadi??
Bisa jadi sekarang sudah terjadi baku hantam dengan Arumi yang berperan sebagai wasit.
" Makanya, jangan apa-apa langsung marah." Kata Andra menasehati.
Flashback off.
" Terimakasih ya Kak, sudah mau membantuku." Kata Dinda yang sekarang sudah siap untuk membesuk Mama pita.
Papa Dimas mengabari jika Mama pita sudah siuman. Dan merindukan cucunya. Andra dan Dinda tentu saja antusias menyambut kabar baik itu dan segera bersiap menuju ke rumah sakit.
🌷🌷🌷
" Wah, cucu nenek!" Sambut Mama pita bahagia melihat kedatangan Arumi.
" Iya Nek, nenek sudah sembuh ya?" Dinda menyahuti dengan suara yang di buat-buat seperti anak kecil.
" Aku senang Mama sudah siuman." Ucap Andra yang kemudian mencium kening Nama pita.
Papa Dimas melihatnya dan hanya bisa menghela nafasnya. Entah apa artian helaan nafasnya, tapi seolah ada sesuatu yang terpendam.
" Kamu tidak ingin mencium Mama Din?" Mama pita menunggu ciuman hangat dari putrinya.
" Apa boleh ma?" Tanya Dinda yang seakan menusuk hati Mama pita.
Jangankan mencium, dulunya Mama pita paling tidak suka jika Dinda mendekat dengannya. Selalu menjauhkannya dan mengacuhkannya. Dinda terbiasa bermanja-manja dengan Papa Dimas yang selalu merentangkan tangannya menunggu Dinda menghambur ke dalam pelukannya.
" Boleh Sayang, Mama juga sangat merindukanmu." Kata Mama pita dengan sendu dan penuh penyesalan akan kesalahannya di masa lalu.
" Cepat!" bisik Andra mendorong bahu Dinda untuk segera mencium kening Mamanya.
Bekal yang Dinda bawa kini mereka nikmati bersama. Hanya lauk sederhana tapi cukup membuat mereka banyak-banyak bersyukur atas kesehatan yang Mama pita dapatkan.
Tibalah waktu Andra mulai membahas tentang uang hasil penjualan rumah mereka. Papa Dimas setuju-setuju saja akan keputusan kedua anaknya.
sampai,
" Pa, Andra tadi pagi bertengkar dengan Mak lampir." Andra mengadu akan apa yang terjadi pagi tadi, berharap banyolannya akan membuat kedua orangtuanya bisa tertawa.
" Bertengkar masalah apa lagi kalian ini?" Lirih Mama pita masih dengan posisi bersandar di ranjang.
" Tadi, Pagi-pagi buta. Dinda terkena amnesia. Dia lupa jika aku ini kakak kandungnya. Dia memarahiku habis-habisan hanya karena aku melepas hijabnya sewaktu dia tertidur. Padahal aku hanya tidak mau tubuh adikku mengempis karena tertusuk jarum pentul." Ucap Andra berharap perkataannya bisa mengundang tawa.
Tapi justru sebaliknya, hawa dingin kian kental terasa terlontar dari tatapan mata ketiga orang selain Andra.
Andra terdiam membaca raut muka ketiganya yang seolah saling bicara dalam diamnya.
" Ada apa? apa aku salah bicara?" Raut muka Andra berubah menjadi tegang.
" Bisa kalian keluar dulu? Mama ingin bicara berdua dengan Papa." Lirih Mama pita dengan suaranya yang pelan.
Hanya menuruti, lantaran menolak pun sia-sia. Dinda sudah menarik tangan Andra sampai keluar ruangan.
" Ada apa?" Desis Andra yang benar-benar tidak tau menau.
Di dalam kamar rawat inap.
" Pa, ini saatnya. Kita harus membicarakan hal ini."
" Tapi Ma, keadaan Mama belum sepenuhnya pulih."
" Pa, mau sampai kapan kita menyimpan rahasia ini. Mama mendengar Andra bercerita seperti itu jadi takut. Bagiamana pun mereka tidak memiliki hubungan darah. Secara agama saja kita sudah salah karena menyembunyikan kebenaran ini."
" Tapi Ma, setelah pengorbanan Andra untuk keluarga kita, Papa tidak sanggup jika harus menyakitinya."
" Pa, sakit atau tidak kita harus mengungkapkan kenyataannya. Mama juga tidak tau sampai kapan Mama bisa bertahan. Mama rasa Mama sudah tidak akan lama lagi bisa berkumpul bersama kalian."
" Ma, Sayang. Jangan bilang seperti itu." Papa Dimas menitikan air matanya. Sedih bila sang belahan jiwa memiliki sisa usia yang tak lagi lama. Hancur remuk hatinya.
" Baiklah, jika itu maumu Ma. Tapi bagaimana bila Andra marah dan meninggalkan kita?"
Mama pita terdiam sesaat memikirkan segala kemungkinan yang akan terjadi.
" Apapun itu, Mama sudah siap. Panggilkan mereka Pa. Mama ingin bicara." Pinta Mama pita dengan sendu.
Papa Dimas mengiyakan kemauan Mama pita lalu memanggil keduanya untuk masuk.
" Ndra, Mama ingin bicara hal serius kepadamu Nak." Lirih Mama pita dengan tenaga yang semakin melemah.
" Ada apa ma?" Andra larut dalam suasana sedih yang tiba-tiba.
" Berjanji pada Mama, Apapun yang Mama katakan setelah ini, kamu akan tetap menjadi bagian keluarga ini. Mama hanya ingin menyaksikan keluarga ini rukun dan utuh."
" Ma, jika pertengkaran antara aku dan Dinda menjadikan beban di hati Mama, Andra minta maaf Ma. Andra berjanji akan menjaga keluarga ini sampai kapanpun." Ucap Andra dengan suara yang bergetar. Pikirannya bertumpu pada sumber masalah yang dia kira adalah pertengkaran antara dirinya dan Dinda.
" Kamu janji?"
" Iya Andra berjanji." Jawab Andra dengan menahan tangisannya.
" Mama minta kepadamu, Nikahilah Dinda." Mama Pita terbilang nekat untuk hal ini. Dia langsung memutuskan keinginannya sepihak tanpa berunding.
Papa Dimas sangat terkejut dan hanya bisa merangkul Dinda yang bingung mencerna keinginan Mamanya. Sementara Andra langsung berdiri dan melepaskan genggaman tangannya. Tatapannya kosong dan air matanya lolos begitu saja.
" Ma, aku dan Dinda itu saudara kandung! Pa, ada apa dengan Mama apa ini pengaruh obat?" Andra berseru menyalurkan emosinya.
"...." Papa Dimas menggeleng pelan tak berani menatap wajah Andra.
" Tidak Nak, Mamamu benar. Papa juga mendukung keinginannya." Papa Dimas melepaskan rangkulannya dan berlutut di hadapan Andra dengan air mata yang bercucuran dia meminta Maaf.
" Maafkanlah Papa Nak. Kami selama ini menutupi kebenaran ini darimu. Kamu sebenarnya bukan anak kandung kami." Papa Dimas berlutut.
" Maafkan Dinda juga Kak, Dinda juga sudah tau akan hal ini." Dinda ikut berlutut di hadapan Andra.
Tindakan Papa Dimas dan Dinda bukanya membuat Andra semakin luluh, tetapi Andra justru semakin menolak kebenaran ini. Dia merasa disakiti dan di khianati oleh orang-orang terdekatnya.
" Kalian semua bersekongkol menyembunyikan ini dariku? Tidak! Tidak!" Andra menggeleng.
" Kalian hanya bercanda kan? Ini bukan hari ulang tahunku. Ulang tahunku masih lama. Bangunlah Papa." Andra menggiring Papa Dimas untuk bangun dari posisinya.
" Dek, Dinda, jangan bikin lelucon seperti ini. Tidak lucu!" Andra juga meraih Dinda untuk bangun.
" A... aku anak kalian kan? kalian hanya mengerjaiku kan?" Tanya Andra sambil menangis tak kuasa menahan kenyataan yang menyakitkan.
Semuanya menggeleng dan tak berani menatap Andra.
Andra pergi dengan membawa kekecewaannya dan juga kekesalannya. Amarahnya membuncah mengisi setiap relung kalbunya. Dia berlari meninggalkan mereka semua. Entah kemana perginya tetapi tidak ada yang berani menyusulnya.
Bersamaan dengan itu.
Nit.....!
Nit.....!
Nit ...!
Suara pantauan ritme jantung terdengar berdeda. Kepanikan terjadi, Papa Dimas berlari mencari dokter.
" Ma, Mama.....!!!" Teriak Dinda terdengar histeris.
Apakah yang terjadi setelah ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mimi lita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 33. Cemburu??
...🌷🌷🌷...
...POV Dinda....
Mengapa aku sedih?
Mengapa aku kecewa?
Mengapa juga aku harus melihat adegan tadi?
Suamiku berciuman dengan wanita lain? di depan mataku..
Hhhh, nampaknya sebentar lagi aku akan benar-benar menjadi gila.
Seharusnya aku tidak kesana tadi. Aku menyesal sungguh menyesal. Pantas saja dua bulan ini dia tidak pernah pulang sama sekali. Ini salahku atau salahnya?
Apakah ini karena sikapku yang terlalu cuek dan mengacuhkannya?
Kuraba sendiri dimana letak kurangnya aku dan ternyata banyak. Banyak sekali. Selama kami menikah hampir tiga bulan. Belum pernah sekalipun aku memenuhi kewajibanku untuk melayaninya. Bahkan membuka baju di hadapannya pun aku tidak pernah.
Aku harus apa dan bagaimana?
Haruskah aku mengatakan semua yang kulihat tadi kepada Papa?
Oh tidak, aku tidak akan menghancurkan suasana hati Papa di hari ulang tahunnya ini.
Dan kita lihat apakah dia akan peduli terhadap keluarga kami? Atau malah sebaliknya, dia sudah melupakan kami karena kami tidak lagi berharga untuknya??
Aku masuk kedalam kamar setelah tadi Keanu mengantarku pulang. Kulihat benda pipih di tanganku. Hatiku ragu antara menghubungi atau tidak. Papa memintaku untuk mengajak suamiku pulang karena akan merayakan ulang tahunnya bersama dengan acara yang sederhana.
Hatiku menciut setelah tadi melihatnya langsung di depan mataku. Semuanya bercampur aduk. Aku marah, kesal, dan kecewa. Tapi, aku sendiri bingung sebenarnya apa yang kurasakan ini?
Ah, sudahlah sudah pasti dia tidak akan menghiraukan kami lagi. Jangankan kami, untuk anaknya pun aku rasa dia sudah lupa.
" Sayang, anaknya Bunda. Arumi kangen Ayah tidak?" Aku berbicara dengan bayi yang tertidur pulas.
" Bangun Nak, jangan tidur terus ini sudah mau Magrib." Kataku yang menghujaninya dengan ciuman.
Arumi perlahan membuka matanya karena merasa terganggu dengan suaraku. Dia tidak menangis dan sesaat kemudian dia tersenyum. Sungguh manis.
Wajah yang pas perpaduan antara Natasya dan Andra.
Ah, iya Natasya. Arumi adalah anak dari perempuan yang melu**t bibir suamiku tadi.
Cih! aku gila!!! aku sudah Gila!!
Melihat senyum tulusnya dan kepolosannya membuat hatiku menghangat dan sesaat melupakan apa yang tadi ku lihat.
Terdengar suara bising seseorang di luar, terdengar juga suara gelak tawa Papa. Siapa kira-kira?
Aku yang penasaran kemudian menggendong Arumi keluar kamar.
Dan ya. Mataku terbelalak saat mendapati sosok yang sama persis dengan yang kulihat tadi. Pemandangan yang membuatku meradang di saat senja tenggelam.
Mengingatnya masih membuatku mual. Sungguh aku ingin muntah. Hatiku mencelos tak karuan.
Suami melakukan hal itu di belakang istrinya? Cih!! sumpah ingin ku tampar wajah baj****n tengik ini.
Ah, tapi tidak. Jika aku melakukan itu, dia pikir aku ini cemburu. cih!! Tak Sudi. Lebih baik aku berpura-pura tidak tau apa-apa dan hanya menunggu kapan sidang perceraian kami tiba.
" Nda!" Sapanya dengan senyum yang mengembang. Matanya langsung tertuju kepada sesuatu yang ku gendong. Agaknya dia rindu.
" Anak Ayah!" Dia mendekat dan mengulurkan tangannya. Aku tau dia ingin aku mencium punggung tangannya.
Oh, jangan harap tuan Andra. Aku tak Sudi. Aku jijik dengan tanganmu yang bekas kamu gunakan untuk memegang wanita tadi.
" Arumi ikut Ayah ya, Tante mau menyiapkan makanan untuk opa." Kataku yang beralasan pergi untuk menghindarinya.
Kami bertemu pandang, dan aku melihatnya dengan malas. Dia melihatku dengan banyak pertanyaan di matanya.
" Pa, aku bantu ya?" Aku menawarkan bantuan untuk menata meja makan.
Dia masih berdiri mematung sambil menggendong Arumi. Sesekali aku meliriknya tapi tak bertanya apapun padanya.
" Sudah sana urus suamimu saja. Suruh dia mandi. Papa bisa menata ini sendiri. Layani dulu suamimu." Papa mendorong bahuku perlahan dan mengantarkan ku sampai ke hadapan Mas Andra.
Huft...! Harusnya aku masuk kelas seni agar bisa berakting sempurna di hadapannya. " Mas mau mandi?" Tanyaku berusaha menetralkan wajahku.
" Iya, bisa kamu ajak Arumi lagi? Aku akan mandi dulu." Katanya. dan aku sejujurnya sudah tidak perduli lagi dengan apapun yang akan dia lakukan.
" Hem..." Jawabku dan langsung menggendong Arumi lalu beranjak ke taman belakang.
Jika berada disana terus, maka Papa akan memarahiku karena bersikap acuh terhadap suami. Syukurlah bayi kecil ini selalu menjadi alasanku.
Aku kembali masuk kerumah dan tanpa sengaja berbarengan dengan dia yang juga baru keluar dari kamar. Kami berpapasan di depan pintu kamar.
" Mau kemana?" Tanyanya dengan tatapan yang sulit ku baca.
" Ke kamar. Tidak bagus kan anak bayi Magrib begini ada di luar?" Jawabku acuh dan kemudian meninggalkannya.
Siapa sangka dia kembali ikut masuk kedalam kamar bersamaku.
" Kenapa tadi kamu tidak bilang jika kamu ada di villa beauty hills?" Dia tiba-tiba bertanya tanpa melihat wajahku.
" Oh, itu. Kenapa memangnya?" Aku masih berpura-pura bodoh di hadapannya seolah tidak tau akan apapun.
Sudah bisa ku tebak, Mas Bayu pasti yang sudah memberitahunya akan kehadiranku tadi.
Dia mendekat, dan aku mundur beberapa langkah " Apa tadi yang kamu lihat?" Tanyanya. " Aku harap kamu bisa berpikir dewasa dan berlapang dada." Imbuhnya lagi dan kemudian pergi begitu saja meninggalkan aku sendiri.
Aku masih terdiam mencerna segala ucapannya. Dia ingin aku berlapang dada? Maksudnya aku menerima bentuk perselingkuhan yang dia lakukan begitu?
Oh Hello?? Are you seriously?
Inilah dia laki-laki. Mereka mahluk egois yang ingin menguasai bumi.
Dia ingin aku bersikap baik dan lapang dada?
Ok, kita mulai permainan ini Andra. akan aku tunjukkan jika apapun perbutanmu tidak akan berpengaruh padaku, dan tidak akan melukai hatiku.
Inikan maumu??
Baik, akan aku turuti.
Aku rasa, sisi malaikatku mulai terkubur dan berubah menjadi iblis saat ini. Jangan salahkan aku jika aku menutup pintu hatiku rapat-rapat. Kamu yang memulai semua ini Andra Pramudya.
...🌷🌷🌷...
...POV Author....
" Selamat ulang tahun ya Pa. Maaf Andra belum sempat membeli kado untuk Papa tadi Andra buru-buru." Andra menjelaskan tentang bagaimana dia tadi sangat sibuk sampai lupa untuk menyiapkan hadiah.
Jelaslah, mana sempat? Enakan juga uwu-uwuan sama mantan. Dinda memutar bola matanya malas sambil terus mengunyah makanannya.
" Pa, Dinda ada hadiah buat Papa. Tapi papa tutup mata dulu Ya?" Kata Dinda yang kemudian mengambil sesuatu dari dalam kamarnya.
Wajah Dinda sungguh terlihat sangat bahagia dan berbinar-binar " Ini dia!" Serunya bahagia. " Papa suka?" Dinda sangat antusias.
Papa Dimas tersenyum bahagia sampai menitikan air matanya " Terimakasih sayang." Ucapnya yang kemudian memeluk Dinda dengan eratnya.
Bukan hadiah mahal ataupun mewah. Hanya sebuah syal dari benang wol yang Dinda rajut sendiri.
Papa Dimas mengurai pelukannya " Kamu tau Papa sekarang sering kedinginan karena Mama sudah tidak ada, makanya kamu membuat ini untuk Papa?"
Dinda mengangguk " Papa, jangan bilang begitu. Mama selalu ada untuk kita kan?" Dinda menarik nafasnya sebelum berbicara lagi " Mama masih ada disini kan?" Tanya Dinda dengan satu tangannya yang menyentuh dada kiri sang Papa tepat di bagian jantungnya.
" ...." Papa Dimas mengangguk beberapa kali.
" Iya sayang iya." Ujarnya tak kuasa menahan kesedihan dan kembali mengingat sang belahan jiwanya yang telah berpulang.
Andra hanya terdiam melihat itu semua. Kedekatan antara Ayah dan anak kandung. Sesaat dia merasa tersisihkan.
Namun,
" Kemarilah Mas, kamu tidak ingin berpelukan bersama kami?" Dinda merentangkan tangannya menunggu Andra bergabung.
Andra bergabung dan berpelukan bersama. Mereka haru dan bahagia, merayakan ulang tahun yang penuh makna.
Acara makan malam selesai dan sekarang waktunya mereka untuk beristirahat.
Inilah hal yang paling di hindari oleh Dinda, berada dalam satu kamar dengan orang yang di bencinya.
Melihat Andra bermesraan dengan wanita lain membuat Dinda terbakar. Entah karena rasa cemburunya atau karena merasa tertipu?
Di dalam kamarnya.
Kini mereka tidur bertiga dengan Arumi yang berada di tengah-tengah memisahkan antara Dinda dan Andra.
Andra sudah sibuk sendiri dengan ponselnya Bahakan tak ada sapa menyapa atau apapun. Posisi Dinda sekarang berada di dekat tembok. Dinda malas untuk bertanya atau melihat wajah Andra.
Tapi perbincangan terjadi kala Andra melihat Dinda masuk kedalam kamar mandi dengan rambut panjangnya dan keluar kamar mandi dengan rambut pendeknya.
Ya, Dinda masih kesal dan tak ada sesuatu untuk melampiaskan. Alhasil dia memotong sendiri rambutnya menjadi tinggal sebahu.
" Dinda, rambutmu?" Andra melotot dan meletakkan ponselnya.
Dinda terkesan acuh dan kemudian kembali ke tempatnya semula " Kenapa?" Tanya Dinda malas.
Andra menarik tangan Dinda dan menyeretnya untuk bangun. Kini mereka berdiri berhadapan.
" Kenapa, aku yang seharusnya bertanya kenapa. Kenapa kamu memotong rambutmu? Kamu tau kan kalau aku suka wanita dengan rambut panjang?" Andra menekan suaranya, dia takut Arumi akan terbangun.
" Kalau kamu tidak suka ya terserah. Bukanya kamu sudah punya wanita lain dengan rambut panjang? Maaf aku gerah." Sahut Dinda datar tapi lumayan menguras emosi Andra.
Andra mengepalkan tangannya. Baru sekali ini Dinda yang biasanya menurut kini menjadi pembangkang. " Dinda..!" Geramnya tersulut emosi.
" Apa? benarkan kata-kataku tadi? Juga baru saja sore tadi kamu yang memintaku untuk berlapang dada? Aku akan sangat berlapang dada. Aku tidak akan mengganggumu. Lakukan apapun sesukamu itu bukan urusanku kan?" Dinda melepaskan genggaman tangan Andra yang semakin kuat.
Sakit sebenarnya sangat sakit saat Andra menggenggam tangannya. Sebisa mungkin Dinda tidak menunjukkan sisi lemahnya.
" Kamu sadar apa yang kamu katakan?" Pekik Andra dengan suara yang tertahan.
" Iya aku sadar. Dan aku yakin kamu juga sadar dengan apa yang kamu lakukan. Sekarang lepaskan!" Dinda meronta.
" Apa yang kamu inginkan?" Tanya Andra dengan lirihnya.
" Aku ingin kamu jujur Mas. Sejak kapan kamu menjalin hubungan dengan mantanmu?"
Andra tersenyum tipis " Sejak aku mempunyai istri tetapi tidak pernah melayaniku." Jawabnya.
Jawaban Andra sungguh menyakitkan bagi Dinda tapi juga sekaligus menyudutkannya. Dalam hal ini berarti Andra menyalahkan Dinda yang tak melayaninya.
" Cih, Alasan. Banyak jalan menuju Roma! Banyak juga cara untuk membuat dirimu terlihat teraniaya. Tidak kusangka kamu picik Mas. kamu tau, tidak ada pembenaran untuk perselingkuhan?"
" Lalu kamu apa? Kamu sendiri tadi bersama Keanu kan?" Andra membalikkan fakta.
" Iya, aku bersamanya. Tapi kami tidak punya hubungan yang spesial. Kami hanya berteman. Apakah aku harus juga membuatnya sama dengan apa yang kamu lakukan dengan Natasya? berciuman dan bahkan lebih?" Ucap Dinda dengan santainya merendahkan Andra.
" Hahahaha!" Dinda tertawa remeh. " Tenang, aku tidak seburuk itu Mas. Aku masih takut dosa." Sambungnya lagi yang kemudian semakin membuat emosi Andra memuncak.
Andra terkekeh. " Dalam hal ini, kamu juga ikut andil. Kamu mengabaikan kebutuhan biologis suamimu! Kamu tidak tau betapa tersiksanya aku menahannya?"
Dinda mendekat dengan tatapan mata yang tajam" Oh, bagus dan setelah itu zina menjadi jalan keluarnya? Aku salut padamu Mas."
" Tidak usah berbelit Belit dan mencari-cari kesalahanku. Katakan saja jika kamu masih mencintainya dan ceraikanlah aku." Dinda tak kalah emosi.
Andra ber smirik " Tak akan pernah!" Desisnya dengan tatapan mengintimidasi.
" Ini mudah, aku akan berhenti jika kamu sudah mencukupi kebutuhan biologis ku dengan baik." Ucap Andra dengan santai lalu membelai rahang Dinda.
" Cih!" Dinda meronta dan terlepas.
" Jangan harap!! Aku jijik dengan bekas orang lain." Kata Dinda tegas.
" Hahaha lucunya!!" Andra terkekeh.
" Jijik katamu? Kamu lupa jika saat menikah aku sudah menjadi duda dan bekas Natasya? kamu lupa?" Andra membelai pipi Dinda.
" Tak usah munafik Dinda!" Kekehnya merendahkan Dinda.
Benar perkataannya, lalu apa bedanya? dia bermain dengan orang yang sama.
Lalu mengapa aku sekarang ini....?
Apa aku cemburu??
Oh tidak, aku hanya tidak suka dia meremehkan pernikahan ini. batin Dinda marah.
Maafkan aku Dinda, sungguh aku masih mencintainya. Jika bukan karena permintaan Mama. Tak mungkin aku mau menikah denganmu.
Aku sudah memaksakan hatiku tapi aku tak bisa.
" Aku tak munafik, aku hanya ingin kamu menjadi pria tegas dan memilih salah satu dari kami." Dinda sama sekali tak menangis dalam pertengkaran ini. Wajahnya datar dan dingin tatapan matanya tajam.
" Sudah ku bilang kan! Aku akan berhenti setelah kamu mencukupi kebutuhanku!!"
Dinda mengangguk beberapa kali. " Egois!!" Makinya lalu kembali ke sebelah Arumi.
" Aku akan mengajukan permohonan cerai. Aku tak bisa berada dalam pernikahan yang tak sehat ini."
" Aku akan menolaknya!" Kata Andra yang kemudian mengangkat tubuh kecil Arumi dan memindahkannya ke selimut yang di gelarnya di lantai.
" Apa yang kamu...? Eumph...." Mulut Dinda tersumpal oleh sesuatu yang kenyal lembut dan hangat.
" Ma... sh....!" Dinda memberontak tapi tak membuahkan hasil.
Andra sungguh buas, bahkan baju Dinda Samapi robek dibuatnya. Dinda sungguh tak menyangka jika penyatuan pertama mereka akan terjadi dengan cara yang kejam seperti ini.
Andra seperti kehilangan akalnya dia menjadi liar dan tak bernaluri.
Ingin rasanya Dinda berteriak meminta tolong, tapi dia masih berpikir jika siapa yang berani menolong? Bukankah melayani suami sudah tugas istri?
Dinda juga masih memikirkan betapa malunya jika sampai Papanya tau akan hal ini.
Dinda yang berbulan-bulan tak melayani suami pasti akan mengundang kemarahan sang Papa.
" Kamu jijik kan? Iya, lihat ini, aku sekarang membuatmu sama denganku. Kita sama-sama kotor!" Cerocos Andra sembari memompa dengan kuat tanpa ampun membuat Dinda mengerang kesakitan dengan suara yang tertahan. Bahkan Dinda membekap sendiri mulutnya.
Satu kali?
Tidak, semalaman Andra melakukannya pada Dinda. Berkali kali hingga meninggalkan rasa sakit yang amat sangat pada gadis malang itu.
hati sesak... sangaattt sesak...
astagfirullah hal adziim... brkali² ku sebut nama-Mu agar aq t kena hipertensi...
ketika pernovelan jahat sama hidup mu,, sini aku peluk online