Galaksi si cowok super galak yang menjadi dambaan para kaum hawa SMA Bhakty Jaya. Tampan, tubuh semampai, hobi menyakiti hati Orzie, dan satu lagi, otak encer gak main-main yang membuat namanya terkenal di mana-mana sebagai siswa paling pintar di kalangan guru-guru.
Saat ratusan hati bertekuk lutut di hadapannya, tidak bagi Orzie. Si cewek berpenampilan super sengak dengan title 'Rembes Style'!
Menjadi babu Galaksi udah biasa. Tapi uangnya habis diporotin cowok itu, yah, si roh jahat–sebutannya pada Galaksi.
Geng Legion yang membawa mereka dalam pusaran maut terpaksa merampas nyawa salah satu sahabat Gamaliel, kembaran Galaksi. Hingga dalam keterpurukan itu, Orzie datang membawa harapan. Perhatiannya membuat Gamaliel egois dan melakukan segala cara merebut Orzie dari jeratan Galaksi!
Galaksi started!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blackblue_re, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 33 Chapter 33 | Pak Boss
A/N: bosen gw ama author POV muluk, males nulis, males ngetik, males liat emak, males cebokan eh, males lah!
Ganti POV aja gak apa yak? Sekali aja, wehee:p
****
Hampir dua hari gue tepar di kasur, kayak mayat kena azab. Menunggu cahaya Ilahi, suram. Para penagih hutang menari-nari di depan, meminta tunggakan. Gue pura-pura meninggal. Meninggalkan kenyataan. Apasi.
Tiba-tiba teringat ucapan Audrey kemarin, apa sikap gue nunjukin kalo gue suka sama Roh Jahat? Gak lah, ya.
Jadi semalam gue putuskan menjauh dari Galaksi, sekaligus menyelamatkan nyawa dompet yang semakin terkikis.
Pagi-pagi buta Lis udah ngirim chat nyuruh gue dandan sendiri, dia lagi balik ke rumahnya gara-gara masalah rumah. Gue ogah dandan, ntar jadi monyet. Mana perut kerocongan lagi, minta diisi. Sama batu misalnya.
Tanpa mikir dua kali gue segera meninggalkan kost-an, Buk Endang basa-basi bentar melihat sang setan keluar dari penjara. Di persimpangan kelihatan angkot lagi menarik penumpang.
*****
"Eh nyet, belum mampus lu rupanya?" tanya Zaki dengan tampang bercanda, pengen gue usap tuh mukanya. Sama air mendidih misalnya.
"Belum. Gue gak akan meninggal sebelum keadilan untuk para jomblo ditegakkan."
Gue terdiam. Menatap Zaki.
"Apasi! Gak jelas!" Serobot gue menampar cowok itu usil, Zaki mengomel kesal kayak aparat kena lempar sempak bencong.
Tiba-tiba dari samping Erlan bercelutuk. "Kau dua hari tak masuk, kangen sama abang tidak?"
"Inget lu aja kagak," jawab gue lempeng. Sengaja buat mancing emosi tuh anak, bener aja, Erlan mengumpat kayak dukun santet kecolok dupa.
Memang bikin orang kesal jadi hal paling baik buat mengawali pagi hari, daripada sarapan dengan janji mantan. Apaan, basi.
Guru masuk, Pak Budi namanya. Wajahnya kinclong kayak piring kena sanlaik, hidung mancung, badan tegap.
"Pelajaran hari ini kita mulai dengan.. KUMPULKAN PR!!"
Para murid tersentak, untung gue ngerjain PR, sekaligus mengoper buku Galaksi ke mejanya, dia malas menengok. Gue juga udah bosen liat muka penuh dosanya.
"Ayo, siapa lagi yang belum kumpulkan PR? Kalau ketahuan biar saya gulung sama mobil saya."
Anjir!
Gue terpelatuq. Jiwa missqueen ini tersentil.
Pak Budi mengecek buku kami satu per satu, matanya menatap nyalang ke arah Teuku.
"Teuku! Mana tugasmu?!"
"Di rumah Pak, hehe."
"Jangan mengada-ngada! Atau saya panggilkan orangtuamu bawa buku kamu ke sini?!"
Teuku berdehem pelan, dia udah terbiasa kena omel, dibacotin, kena gaplok. Kepalanya tampol-able, muka gembel-able, badan pun cerca-able.
Yang jelek-jelek ada sama tuh bocah.
"Pak...kata Emak saya gak baik melihat ke masa lalu, sama seperti halnya pelajaran sejarah. Tidak perlu mengungkit sejarah kelam di antara kita kalau hanya menimbulkan luka..."
Lah si anjir! Galaw? Di betterin aja.
"Beraninya kamu, ya?!!" seru Pak Bad Ass itu, sebutan anak-anak kelas. Kami terdiam.
"Selama Bapak gak makan sendal jepit saya gak takut sama Bapak!"
Gue ngakak. Orang gila itu memang selalu memancing pembullyan massal. Rasanya pengen gue sodok sendal jepit ke mulut dia, biar dia kunyah sampe pait.
Akhirnya Pak Budi jadi males sendiri menanggapi bocah sableng itu. Udah capek ngedumel sampe giginya karatan, dan sebenarnya Teuku juga males ngasih alasan. Asal kalian tahu, biar tampang kek ustadz, sifat dia menyerupai saitonnirrojim, dia juga yang punya ide nulis tulisan kayak gini di tongkrongan.
Anak LEGION jangan DIUSIK, nanti tambah BERISIK!
Hampir sepuluh anak cowok Ipa satu di sini gabungan Legion. Dulu, gue pikir anak-anak kelas unggul adalah penerus bangsa dengan gaya serta tampang mumpuni, bahkan gue sempat su'udzon kalau mereka suka makan buku.
Holyshit! Gue ketipu! Mereka gak ada bedanya sama kawan SMP gue dulu! Kerjaannya nyandung nenek-nenek, ketemu acara kondangan langsung bawa piring, pas-pasan sama musuh langsung nyabet-nyabetan. Gue jadi nangis darah.
Apalagi ketemu sama manusia pemakan galah itu, Galaksi. Semangat hidup yang tadi menyala-nyala tinggap asap doang. Suram. Menyedihkan. Dibabuin mulu, asem!
Audrey yang duduk di sebelah gue memulai topik pembicaraan, "Ji... Gak apa dandanan lo balik kayak dulu? Ntar dijegat sama anak Taruma bisa mampus lo."
"Males gue ah."
"Gue serius Ji, gue khawatir sama lo."
"Gue biasa aja tuh, ah lebay banget sih lo?"
"Kenapa di sana ribut-ribut hah? Coba kalian ribut di depan sini, Bapak mau denger juga!"
Busedd. Serem amat tuh Bapak.
Gue cengengesan sambil mengaruk lantai kelas, ya enggaklah, paling cuma ngupil doang.
Kami berdua manut-manut, gak berani melawan sang Bad Ass, selain ganteng bapak itu juga punya bokong bohay! Gue sampe kalah level 99+ sama bokong penuh kedahsyatan itu.
Dan akhirnya setelah musuh bebuyutan dalam hal bokong itu pergi, kami terus berseteru secara kucing-kucingan, dia balik dengan wajah tembok bergambar Valak.
Sama aja horror kampret!
"Orzie mana?"
Gue tersentak kaget. "Sa-saya Pak!"
Kemudian di ujung sana Pak Umar masuk dengan tampang seram. Kami terdiam beribu bahasa pas kaki panjangnya melangkah di ubin kelas, pelan tapi membunuh.
Baru pertama kali ini, gue merasa ketakutan melihat Pak Boss menyorot dengan tampang murka.
"Orzie! Kamu tahu apa yang dilakukan anak Legion, sampai bocah Taruna itu menyerang anak sekolah kita seminggu yang lalu?"
Gue jadi simalakama, jawab iya malah makan temen. Jawab enggak, ntar Pak Boss gak percaya lagi sama gue.
"Mereka emang suka buat onar pak..."
"Kenapa kamu takut? Jawab yang jujur! Temen-temen kamu gak mau angkat bicara, sekarang bilang sama Bapak kenapa mereka jadi semarah itu?! Apa kalian melakukan sesuatu?!"
Dalam hati seperti ada yang berbicara ke diri gue.
Ji, jujur aja. Pak Boss itu orangtua kedua lo, gak perlu takut. Kalo lo dipindah, itu emang konsekuensinya.
"Pak, Legion gak bersalah...saya..."
"Saya kenapa?"
Gue menunduk takut menatapi meja. Jujur mungkin pilihan terpahit sekarang, tapi percuma menutupinya.
"Saya yang bacok pimpinan mereka..."
Entah apa yang ada di kepala Pak Umar saat ini, gue takut mendongak. Yang jelas perbuatan gue sangat salah dan gak bisa dimaafkan. Bisa jadi Pak Umar malah membenci gue.
"Kamu..." terdengar suaranya menggeram. Lalu Pak Umar meninggalkan kelas dengan kecewa.
Teuku membalikkan badannya, tersenyum hambar. "Lo terlalu jujur, Ji.. Sebenarnya otak lo terbuat dari apa sih?" bisiknya pelan. Gue menggeleng gak tahu. "Justru Pak Umar bakal lebih benci kalo denger itu dari orang lain..."
"Gue bangga jadi temen lo, salut gue." ucapnya pelan. Audrey menepuk pundak gue dengan khawatir. Di sisi lain, Pak Budi berdiri menatap gue di sana.
Bukannya benci, justru Pak Budi menatap gue lembut. "Kamu memang salah. Tapi gak pantas saya marah sama orang jujur seperti kamu."
Gue hanya tersenyum kecut. Pahit. Tapi di sisi lain, hati gue terasa tenang
ada yg tau ga sih authornya pindah kemana?
semangat terus Thor, sukses selalu di tunggu karya-karyanya 🥰🥰🥰🥰