XANDER FAMILY SERIES #1
[ Jangan lupa dukungannya dengan Follow, Like, Vote dan Komennya ya! dukung terus cerita ini✔ ]
[ Cerita tamat! Revisi hanya part 1-5 sisanya gak niat di revisi ]
[ Masih banyak kesalahan karna ini novel pertama! mohon kritik dan sarannya di kolom komentar jika menemukan kesalahan dalam tulisan ]
Maura Natalie
Perempuan beparas cantik itu memiliki kehidupan yang penuh lika-liku. Banyak drama yang ia lewati dengan segenap hati. Ia pun kadang mengeluh dengan takdir yang Tuhan berikan, entah apa yang direncanakannya. Hanya waktu yang dapat menjawab itu semua.
Banyak yang menatapnya remeh termasuk Ibu Tiri dan juga Adik Tirinya. Ayah kandungnya pun lebih berpihak pada sang Ibu Tiri, membuatnya semakin hari semakin terpuruk.
Tanpa diketahui semuanya, ia mencoba untuk bangkit. Bermodalan dengan bakat terpendamnya dan menutup semuanya dengan rapat-rapat.
Seketika Ayahnya menyuruhnya untuk menemui seorang pria dan pria itu menjelaskan tentang apa yang terjadi dengan sang Ayah.
Akankah ini awal takdir Maura bahagia? atau malah sebaliknya?
SELAMAT MEMBACA❤
Coppyright 2020
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EvaNurul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menelpon
"Terima"
"Terima"
"Terima aja Syah"
Samar-samar Rara mendengar suara gaduh dari dalam butiqnya, dengan segera ia langsung berjalan menuju asal suara tersebut.
Ia menatap sekumpulan orang-orang yang sedang melingkari sesuatu disana.
Rara berjalan dan mendekat kearah sana "Ini ada apa ya?"
Mendengar suara yang sangat mereka kenal, sekumpulan orang itu berbalik menatap suara wanita tadi.
"Eh ada mbak Rara" ucap salah satu orang yang berkumpul disana.
Mereka mulai minggir memberi jalan untuk pemilik Butiq ini.
Rara menatap ke arah depannya, disana berdiri aisyah yang memandangnya dengan pandangan memohon pertolongan. lain dengan orang yang sedang berjongkok didepan Aisyah dengan pandangan berharap.
"Bagaimana Syah? apa kamu mau menerimanya?" ucap pria yang berjongkok itu sembari membuka kotak kecil berwarna merah yang didalamnya terdapat cincin emas.
Rara membulatkan matanya, pria itu adalah Pak Cipto langganan butiq ini. memang pria tua itu belum menikah sampai saat ini entah apa yang membuatnya tidak mau menikah yang jelas katanya semenjak ia berbelanja disini, Pak Cipto mulai tertarik dengan Aisyah yang tak lain karyawan pertama yang menyambutnya saat ia datang kesini.
Aisyah gemetar, ia ingin menolak tapi melihat tatapan pria dihadapannya membuat ia takut. Rara yang tau apa yang ada diperasaan Aisyah pun mendekat ke arah mereka berdua.
"Pak Cipto bisa berdiri aja gak?" ucap Rara, dengan segera pria itu berdiri sambil menatap Aisyah kembali.
"Aku ingin mendengar jawaban mu Ais"
Pa Cipto mengambil tangan kanan Aisyah untuk memasukan cincin itu di jari manisnya, namun langsung ditarik oleh pemilik tangan itu.
"Maaf pak sa..ya ga bisa" Aisyah menatap pria itu dengan pandangan khwatir. Pria yang ada dihadapannya ini bisa dibilang sudah setengah abad takutnya setelah mendengar penolakan dari Aisyah, Pak Cipto bisa tiba-tiba terkena serangan jantung dadakan itu yang Aisyah takutkan.
"Loh kenapa? apa kamu mau saya lamar di hotel besar? atau mau di Bali?" ucap Cipto dengan pandangan sedihnya itu.
"Bukan begitu pak, tapi sa..ya"
"Saya apa?"
"Aisyah sudah memiliki tunangan pak, mereka berdua sudah dijodohkan sama kedua keluarganya" Sambung Rara karna kasian melihat Aisyah yang kebingungan.
Aisyah dengan cepat mengangguk "Iya pak, saya sudah punya jodoh"
Pak Cipto memasang wajah sedih dan kecewanya "Apa kamu ga bisa batalin aja Syah? saya serius sama kamu Syah, saya bisa kasih apa aja buat kamu. kamu mau apa? mobil? rumah? apartemen? saya kasih buat kamu kalo kamu mau jadi istri saya"
"Saya sudah ada jodoh pa, saya gamau sama bapaknya" tolak Aisyah.
"Mana saya mau lihat jodoh kamu sekarang, memang seganteng apa sih dia sampe Ais ku mau sama dia" sahut Cipto.
Rara menggeleng melihat kelakuan pelanggan nya, bisa-bisa nya dia tetap bersikukuh untuk mendapatkan Aisyah.
"Jodoh saya lagi ada diluar negri pak, dia sedang melanjutkan studi nya" uucap bohong Aisyah, ia hanya ingin cepat-cepat agar pria yang dihadapannya pergi dan tidak menemui Aisyah kembali.
Jujur disukai laki-laki seperti ini membuatnya takut, karna seumuran pak cipto ini sangat rentan terhadap hal-hal sensitif maklum sudah tua.
"Baiklah saya akan kesini lagi untuk bertemu jodoh kamu nanti, tapi sebelum jodoh kamu datang kesini saya akan tetap mencoba membuat kamu mengalihkan perasaan kamu itu pada ku. darling" ucap Pak Cipto dengan mengkedipkan sebelah matanya.
Pak Cipto pun berjalan keluar menuju pintu Butiq ini, Rara dan Aisyah berserta yang lainnya hanya diam memandangi laki-laki itu.
"Raaa aku ga mau sama dia" ngeluh Aisyah pada Rara yang berdiri disampingnya.
"Kenapa ga kamu terima aja sih Syah, kasian udah tua gitu ya minimal kamu temani di usia akhirnya nanti, jadi kan siapa tau kamu bisa kecipratan harta Pak Cipto" kekeh Rara melihat gadis yang disampingnya.
"Aku ga matre yah Ra"
"Hehe yaudah aku keatas dulu"
Sebelum Rara berjalan, ia menatap sekelilingnya yang masih di kerumuni karyawan.
"Loh kalian masih pada disini? lamarannya udah selesai loh" ucap Rara yang dibalas kekehan oleh para karyawan sedangkan Aisyah hanya menekukkan wajahnya.
Mereka semua mulai melanjutkan pekerjaannya masing-masing. Rara berjalan keatas untuk masuk kedalam ruangannya, saat ini ia butuh ketenangan untuk memikirkan desain-desain pakaian barunya.
Saat sudah sampai diruangan itu Rara langsung duduk di kursi nya, tak lupa juga ia mengecek handpone nya.
Belum ada notif juga huh!
Disana belum ada pertanda SMS atau WA dari pria yang saat ini ada dipikiranya.
"Apa aku duluan aja ya kasih kabar? tapi gimana? apa aku sapa hai? sudah sampai belum?" gumam Rara dengan tangan yang hampir sudah menekan nomor Kenzo.
Gajadi deh
Rara berniat mematikan handpone tersebut, tapi sebelum mematikan ponsel itu tangannya tanpa sengaja memencet tanda telpon di kontak Kenzo yang mengakibatkan sambungan telpon tersebut.
Aduh kepencet gimana nih? apa mataiin? apa lanjut aja?
Rara tidak menggerakan tangannya untuk mematikan sambungan itu, ia hanya membiarkan sambungan itu tersambung.
"Maaf nomor yang anda tuju tidak menjawab coba lah beberapa saat lagi, call-" dengan segera Rara mematikan sambungan itu sebelum wanita yang berbicara tadi menyelesaikan perkataannya.
Rara menaruh handpone itu di atas mejanya "Mungkin dia sibuk kali ya"
♣
Kenzo berjalan masuk kedalam kantor cabangnya yang besarnya memang tak sebanding dengan kantor pusat.
Ketika Kenzo berjalan banyak yang menatapnya penuh kekaguman, Kenzo hanya diam dengan pandangan dinginnya mengacuhkan pandangan yang kebanyakkan para kaum hawa.
Ia memasuki lift menuju ke ruang direktur kantor ini, diikuti Hans disampingnya yang setia mengikuti kemana Kenzo berada.
Ting!
Pintu lift itu terbuka, Kenzo berjalan keluar dengan pandangan yang masih dingin. disini juga masih ada beberapa karyawan yang menatapnya secara terang-terangan ada juga yang menyapanya dengan nada yang dibuat-buat.
"Direkturnya ada?" ucap Kenzo kepada wanita yang duduk di samping depan pintu bacaan direktur.
"Eh tuan Kenzo, ada pak didalam sudah pak Ridwan tunggu" ucap ramah wanita yang berbaju ketat didepannya dengan nada menggoda, namun tidak dijawab apapun oleh Kenzo.
Kenzo langsung masuk kedalam ruangan itu, disana terlihat ada pria berumur yang sedang duduk di mejanya.
Kenzo mendekati meja tersebut dan langsung duduk di kursi yang memang sudah disediakan jika ada tamu didepan meja tersebut.
Hans hanya menunggu tuan nya diluar, ia tau jika tuannya pasti ingin berbicara empat mata dengan si direktur.
Laki-laki yang sedang menatap layar laptop nya langsung mengalihkan pandangannya ke arah depan karna merasa ada seseorang yang duduk.
"Tua..n Kenzo" ucap Ridwan sebagai direktur dari perusahaan ini.
"Kau ini mengurus perusahaan kecil saja tidak becus!"
"Maaf tuan, sa..ya hanya tidak bisa menemukan pelakunya karna mungkin ada pihak manajemen yang ikut terlibat dalam masalah ini tuan" lanjut Ridwan, ia tau jika pasti akan seperti ini. karna dia sudah paham betul sifat dan sikap dari seorang Kenzo.
"Seharusnya ku pecat saja kau dari dulu! sudah ke sekian kali nya kau teledor"
Sebelumnya memang ada masalah seperti ini, namun waktu itu yang mengurusnya adalah pamannya.
Mendengar ucapan dari tuannya seketika Ridwad mengidik "Maaf tuan ja..ngan pecat saya, mau kerja dimana kalo saya dipecat"
"Itu urusan mu"
"Maaf tuann, saya janji akan menyelesaikan ini secepatnya dan tidak akan ada lagi hal seperti ini maafkan saya tuan jangan pecat saya" mohon Ridwan.
Kenzo hanya diam memandang Ridwan yang nampak memohon.
"Ck! kau tau gara-gara masalah ini aku jadi meninggalkan istri ku dirumah!"
Ridwan menatap tak percaya, tuan mudanya ini ternyata sudah menikah? tetapi kenapa tidak ada di berita atau di koran jika pemilik dari XanderCrop telah beristri?
Ceklek
Pintu ruangan itu terbuka, wanita yang berdiri didepan pintu tadi melangkah masuk mendekati para bosnya ini.
"Maaf pak Ridwan dan tuan Kenzo, apa bapak ingin saya belikan minuman? atau cemilan?" ucap wanita ber-tag Desi itu.
Desi adalah sekertaris dari Ridwan, sudah lama ia bekerja disini menjadi sekertaris.
Ridwan menatap sekertarisnya dengan pandangan binggung, tumben sekali wanita ini menawari membelikan minuman apalagi sekarang pakaiannya yang bisa dibilang ketat.
Tiba-tiba Hans masuk kedalam ruangan itu, ia melangkah berjalan menuju tempat bosnya duduk.
"Tuan maaf, tadi nona Maura menelpon tapi karna suara berisik dari luar, saya jadi tidak mendengarnya" ucap Hans.
"Kau dengarkan Wan? istriku menelpon karna merindukan ku dirumah"
Ridwan menunduk "Iya tuan maafkan saya"
Lain dengan Desi sekarang, ia menatap binggung tuan mudanya. dia bilang istri? apa tuan mudanya sudah menikah? wanita seperti apa dia yang bisa-bisanya menikah dengan orang yang dikagumi semua kaum hawa.
"Kemarikan handponeku Hans"
Hans segera memberikan ponsel tersebut "ini tuan"
"Yasudah kau keluar sekarang"
Hans mengangguk dan berjalan keluar dari ruangan ini.
Ridwan menatap sekertarisnya yang masih diam berdiri disana "Des, kamu sekarang keluar"
Namun tidak ada jawaban dari Desi, wanita itu masih menatap Kenzo dengan pandangan yang tidak ia ketahui.
"DESI!" bentak Ridwan. karna sedari tadi tuan mudanya ini diam menatapnya tanpa berbicara apapun.
Desi tersentak kaget mendengar suara itu "Ah! iya pak, bapa mau minum apa?"
"KELUAR!"
Dengan segera Desi berjalan cepat kearah pintu ruangan ini, tak lupa juga menutup pintu itu kembali.
"Kau ini pemarah sekali" ucap Kenzo sambil menatap kehadapannya.
Ridwan menghela nafas "maaf tuan"
Kenzo menatap layar ponselnya, disana hanya ada notif panggilan tak terjawab dari Maura, tak ada pesan atau sebagainya.
"Jelaskan siapa saja yang terlibat dalam masalah ini" Kenzo berbicara dengan pandangan yang menatap layar ponsel.
To:Rara
Kau merindukan ku ya?
Send.
Ridwan langsung menjelaskan prihal masalah ini kepada Kenzo. Kenzo hanya mendengarkan tanpa menatap Direktur dari perusahaannya ini.
♣
Ting!
Hp Rara berdering memunculkan notif dari seseorang.
Dengan segera Rara mengambil hp nya dari atas meja kerja nya dan melihat siapa yang mengiriminya SMS.
From:Tuan kejam
Kau merindukan ku ya?
Rara mengidik ngeri, perkiraannya salah kirain tuan mudanya itu tidak akan membalas sambungan tadi tapi nyatanya malah mengirimkan SMS yang menurut Rara horor.
"Aduh bales ga yah" gumam Rara, jika ia tak membalasnya takutnya tuannya malah mengirimkan pesan kembali atau memarahinya karna tidak membalas pesannya tersebut.
To:tuan kejam!
Maaf tuan tadi kepencet
Setelah mengirim pesan itu, Rara melemparkan hp nya ke meja dihadapannya dengan hati-hati, takutnya hp itu pecah.
Rara melanjutkan mengambar desain-desain pakaian yang menurutnya cocok untuk ia buat.
From:Tuan kejam
Jangan alasan, bilang saja kau merindukan ku. aku tidak keberatan di rindukan oleh mu.
Rara menatap jenggah isi pesan itu, sepertinya pede sekali tuan mudanya ini. Rara menatap layar itu tanpa berniat membalasnya.
Rara menaruh ponsel itu kembali, ia melanjutkan gambarannya itu.
Ting!
Rara mengambil hp nya kembali dan menatap layar itu.
From:Tuan kejam
Mengapa kau tidak membalas?! apa kau sedang bersama selingkuhan mu itu hah!
Lagi-lagi kata selingkuh, Rara jenggah! sudah dibilang ia tidak berselingkuh lagian juga mana ada laki-laki yang ingin berdekatan dengannya.
To:Tuan kejam
Maaf tuan aku kehabisan pulsa tadi.
Rara berbohong ia tak punya pilihan jawaban lain, jika Rara menjawab malas bisa-bisa tuannya akan menghukumnya nanti ketika sudah pulang dari sana.
Ceklek
Rara menatap pintu ruangannya terbuka, disana terdapat Aisyah yang berjala masuk mendekati Rara saat ini.
"Ada apa Syah?" ucap Rara.
Aisyah duduk di depan meja Rara, Ia ingin sekali menceritakan ini dari dulu namun takut jika sahabatnya ini marah padanya.
"Begini Ra, em ak..u"
Rara menatap Aisyah dengan pandangan menyelidik, ada apa dengan wanita ini sebenarnya.
"Ga jadi deh Ra Hehe, Eh kamu kemana aja ko jarang kesini sih" ucap Aisyah mengalihkan pembicaraan.
"Itu ak..u sibuk dirumah Syah" Rara belum siap untuk menceritakan jika ia sudah menikah dengan Kenzo.
Aisyah mengangguk percaya, ia pun pamit keluar untuk melanjutkan pekerjaan yang belum ia selesaikan.
Untung dia percaya
Rara bangkit dari duduknya dan membereskan semuanya, sekarang ia akan pergi ke sesuatu tempat sekarang.
▫▫▫▫▫▫▫
Trimksih sudah membaca!❤
Suport terus yah ceritanya🙌
Ig: nrfdll15_
*rara tidak peduli perasaan suaminya dia dengan enteng melawan kata2 suaminta tapi dengan lelaki lain dia begini peduli bahkan lelaki itu berbuat jahat saja dia sok pengertian dan sedih
dan parahnya novel ini malah membenarkan kelakuan rara
miris
kosakata nya juga baik dan alur cerita nya tidak fullgar dibagian yg untuk 17+ 🤭👍
semangat terus ya author 💪🥰 dengan cerita nya yg lain ...