Haris tidak menyangka akan dijodohkan dengan seorang gadis yang tidak dikenalnya sama sekali bernama Hana. Ia di jodohkan oleh seorang ulama kharismatik bernama haji Zakaria yang sudah dianggap seperti ayah kandungnya sendiri. Padahal ia sudah memiliki gadis pilihannya sendiri bernama Arini untuk dijadikan calon istri. Tidak mendapat respon dari sang ibu akan gadis pilihannya dan juga ia berhutang budi terhadap sang ulama karena telah membiayainya dari kecil hingga dewasa, menjadikannya dilemma untuk membuat keputusan sehingga ia terpaksa menikahi gadis pilihan sang ulama.
Bagaimanakah nasib pernikahan Haris dan Hana? Bagaimana pula kisah pernikahan mereka dan nasib orang-orang yang tersakiti oleh pernikahan ini, apakah mereka akan Bahagia?
Simak ceritanya pada novel ini, dengan judul “Pernikahan karena Perjodohan (Haris dan Hana)” by Alana Alisha.
Ig: @alana.alisha
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon alana alisha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32: Perdebatan Haris dan Hana
Hana baru selesai mengganti pakaiannya. Ia keluar dari kamar menuju ruang keluarga hendak menemui Haris. Terlihat Haris tengah membaca koran yang entah sudah berapa lama berita dalam koran itu berlalu. Ia kemudian melirik ke arah Hana yang mendekat. Hana tampak enggan. Ia terlalu Lelah untuk berbicara, namun ia juga tidak mungkin mengabaikan perintah suami yang tengah menunggunya.
“Hana, duduklah” Hana duduk mengikuti intruksi Haris. Ia memilih duduk di kursi yang letaknya jauh dari Haris.
“Sini lebih dekat” Hana kembali mengikuti perintah Haris, ia menggeser duduknya sedikit lebih dekat, namun hanya berpindah satu kursi.
“Lebih dekat lagi” Hana tak bergeming. Ia hanya diam. Haris mulai tak sabar dan bangun lantas duduk didekat Hana.
“Kamu sudah makan?” Haris bertanya dengan suara lembutnya. Hana baru ingat dari tadi ia sama sekali belum makan sedang hari sudah beranjak sore.
“Ini makanlah” Haris menyodorkan sekotak martabak manis yang tadi sempat ia gofood-kan ketika Hana berganti pakaian.
“Ayo..” Haris memulai duluan mengambil martabaknya. Enak.
“Bismillah” Mau tidak mau Hana ikut mengambil makanannya, tidak bisa dipungkiri cacing di perut sudah meronta-ronta meminta haknya.
Setelah menyantap martabak manis, Haris menatap Hana serius.
“Hana, tadi kamu kemana? Apa benar kamu membeli minuman?” Haris mulai bertanya, suaranya pelan namun penuh penekanan. Hana hanya diam.
“Hana, jawablah. Aku menunggu jawabanmu” Hana hanya diam. Ia tidak tau harus menjawab apa.
“Taukah kamu betapa paniknya aku tadi melihat kamu yang sudah tidak berada di dalam ruang rumah sakit? Aku mencari ke sana ke mari tapi tidak menemukanmu.”
“Mengapa kamu tidak mengabariku. Ah, bahkan handphone mu saja tidak aktif” Lanjut Haris panjang lebar.
“Apa ketika mas mencariku sama paniknya seperti ketika mendengar teman mas yang bernama Arini itu kecelakaan?” tiba-tiba saja Hana melontarkan pertanyaan ini. Ia menutup mulutnya dan dalam hati lagi-lagi ia merutuki kebodohan atas pertanyaan lancangnya.
Kini, sedikit tergambarlah dibenak Haris duduk persoalan yang terjadi. Apa benar istrinya ini sedang cemburu? Gadis itu tidak pernah to the point melukiskan bagaimana perasaannya.
“Apa kamu cemburu, Hana?”
“Mas, ini bukan masalah cemburu atau tidak. Di sana mas mengabaikanku. Aku mematung sendirian menunggu berjam-jam tanpa sedikit pun mas peduli bagaimana keadaanku. Aku paham aku mengerti teman yang mas sayangi itu tengah terbaring lemah tak berdaya dan mas panik. Itu memang manusiawi. Aku melihatnya juga tidak tega, dalam hati aku turut mendoakan kesembuhannya. Tapi, apa mengabaikan istri juga merupakan hal yang manusiawi mas?” Haris terdiam. Ia tidak menyangka Hana bisa beragumen sedemikian lantangnya. Gadis lemah lembut
ini menunjukkan sisi lain dari dirinya. Ia yang merasa harga dirinya tergores kini telah bersuara.
“Jadi karena hal itu, kamu memilih pergi sendirian dari rumah sakit?” Haris mengajukan banding atas argument Hana.
“Terus apa yang harus aku lakukan mas? Apa aku harus tetap terus menunggu mas yang entah kapan akan keluar dari ruangan sakral itu? Kemudian melihat mas menatap intens gadis yang terbaring dengan tanpa bergeming sedikitpun?” Haris tercengang. Ternyata selama di rumah sakit Hana terus memperhatikannya.
“Baiklah. Aku memang salah telah mengabaikanmu…”
“Mengabaikan istri sendiri lebih tepatnya!” Ternyata Hana masih belum bisa menerima.
“Benar, aku telah mengabaikan istriku sendiri, tapi apa pergi begitu saja tanpa meminta izin dari suami terlebih dahulu itu dibenarkan, Han?”
Sebenarnya Hana juga paham bahwa ia salah dengan pergi begitu saja. Namun ia juga heran mengapa ia sebegitu tidak bisa menahan emosinya ketika melihat Haris berduaan di dalam satu ruang dengan wanita lain. Maka, ia pun terdiam. Mau tidak mau ia membenarkan perkataan Haris.
“Sudahlah. Aku yang salah. Aku yang memulai perkara ini” Haris berkata pelan sambil memegang tangan Hana.
“Apa wanita itu kekasih mas?”
“Bagaimana mungkin aku memiliki kekasih diluar sana sedang aku sudah terikat pernikahan denganmu”
“Lalu siapa wanita yang bernama Arini itu?” Hana masih menyelidiki.
“Aku telah mengatakan padamu kalau Ia adalah temanku”
“Hanya teman?”
“Untuk saat ini memang ia adalah temanku”
“Untuk saat ini?” Hana mulai menarik tangannya yang berada dalam genggaman Haris.
“Dulu sebelum menikahimu aku berencana menikahinya. Namun karena kita dijodohkan oleh orang tua kita, maka aku dan dia tidak berjodoh”
“Kalau begitu, apakah kelak mas berencana akan menikahinya??”
Haris pun terdiam. Ia sendiri tidak tahu bagaimana kedepannya. Ia belum merencanakan apapun. Namun diam nya Haris sudah lebih dari cukup untuk Hana. Itu artinya dari semula Haris memang berencana ingin memiliki istri lebih dari satu.
Hana bangkit dari duduknya tanpa menghiraukan Haris yang masih membisu. Ia melenggang masuk kekamarnya. Haris tidak tinggal diam. Ia pun menyusul Hana.
“Hana, dengarkan aku” Pinta Haris
“Apa yang harus aku dengarkan mas? Rencana poligamimu?”
“Kita memang tidak saling mencintai. Namun kamu sudah tau, dari awal aku tidak ingin dipoligami!” Lanjut Hana berkata tegas dengan masih membelakangi Haris. Matanya berkaca-kaca. Haris memeluk Hana dari belakang. Ini pertama kali nya ia berinisiatif memeluk istrinya dalam keadaan sadar. Jantung Hana berpacu lebih cepat. Ia sangat gugup dipeluk begini oleh suaminya. Namun disaat kondisi yang seperti ini, semua rasa gugup dan canggung segera di tepisnya.
“Aku sama sekali tidak berniat untuk poligami Hana. Namun masa depan kita tiada satu orang pun yang mengetahuinya. Mengapa kita harus larut memikirkan sesuatu yang belum pasti. Sebagai suami, aku minta maaf karena telah menyakitimu. Kita sebagai suami istri yang sebelumnya tidak saling mengenal kini sedang dalam tahap beradaptasi” Hana merenggangkan pelukan tangan Haris dari tubuhnya. Ia berbalik menghadap ke arah Haris.
“Kalau begitu, jawab aku. Apa mas masih punya perasaan layaknya perasaan laki-laki terhadap perempuan terhadap mba itu?” Hana menatap Haris tanpa berkedip. Haris menjeda waktu beberapa saat sebelum akhirnya ia mengangguk. Hana tersenyum. Ia ingin Haris mengetahui bahwa ia dalam keadaan baik-baik saja.
Ya. Mana mungkin perasaan itu bisa hilang begitu saja. Mereka, Haris dan Arini hampir menjadi sepasang suami istri. Hana mengerti akan hal ini. Ia berusaha keras untuk mengerti. Tapi entah mengapa mengetahui kenyataan ini hatinya sangat sakit. Perih yang ia rasakan. Ternyata, Suaminya mencintai wanita lain. Ia menikah dengan seseorang yang telah memiliki orang lain di hatinya. Walau ia tau rasa cinta itu sudah duluan ada tertanam di hati beliau sebelum ia hadir di kehidupannya.
Ia kembali mengingat keadaannya. Bukannya mereka sama? Bukankah ia juga akan menikah dengan Gibran sebelum dinikahi Haris? Ia bahkan juga masih memikirkan laki-laki itu. Pikiran yang muncul begitu saja. Walau sekeras apapun ia mencoba melupakan.
Oh, Tidak-tidak! Ia dan Gibran tidak punya hubungan seistimewa mereka. Bahkan mungkin sekarang Gibran telah melupakannya. Mereka akan saling melupakan seiring berjalannya waktu. Ia seorang wanita, ia juga tidak mungkin melakukan poliandri. Sedang Haris, suaminya masih belum bisa tegas apakah kelak ia akan menikahi Arini atau tidak. Malah Haris terang-terangan mencemaskan pujaan hati di depan mata kepalanya sendiri. Apakah ini adil baginya?
***
Haris dah sedikit tenang krn tdk ada lg tekanan utk menikahi Arini 😊😊😊😊
kebih baik di cintai dr pd mencintai.
maka terimalah cinta ny Romi 😋😋😋😋😋
pasti ada sesuatu yg memaksa atau mengancam Ummi Fatma 😬😬😬😬
semangkin seru ... dan memaksa emosi ikutan kesel 😆😆😆😆😆
sy yg gk sabar gmn reaksi nya Haris 😚😚😚😚😚😚
sy gk suka dgn Hj Aisya yg terlalu memaksa kehendak.
Hana ajak aja je New york biar Lisa gk bisa berkutik 😊😊😊😊😊