"Kaulah keberuntungan terbesar dalam hidupku, El. Jika sebelumnya kau sudah menolongku, sekarang izinkan aku untuk melindungimu. Aku akan berada di sisimu selamanya."
*****
Keberuntungan Hansel memang bagus. Ia yang kesusahan mencari pekerjaan akhirnya bisa mendpaatkan pekerjaan yang layak. Menjadi seorang Asisten pribadi seorang CEO muda yang cantik jelita. Hidupnya tak lagi dipandang hina dan rendahan.
Balas dendam dimulai. Siapa saja yang dulu menghinanya akan mendapatkan balasan satu per satu. Tentu saja, itu semua atas perintah sang CEO, Micheline Robert. Yang selalu memberikan semangat dan dukungan pada Asisten kesayangannya.
Bagaimana aksi balas dendam Hansel pada orang-orang yang merendahkannya?
Apakah ada benih cinta antara Hansel dan Micheline?
Kepoin yuk. Jangan lupa Favoritkan, like dan komentar guys~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dea Anggie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MSC 32 - Saling Jujur
Hansel masuk dalam apartemen. Ia segera mencari Marc di kamar Marc. Namun, tidak menemukan keberadaan Marc. Hansel memanggil-manggil Marc.
"Marc..."
"Marc..."
"Marc, kau di mana?" panggil Hansel.
"Marc..."
Hansel mencari Marc di seluruh ruangan, tetapi tidak menemukan Marc. Ia pun memutuskan untuk mencari Marc di luar. Ia segera pergi ke luar dari apartemen.
*****
Hansel terus mencari Marc. Ia mencari sampai ke taman yang berada tidak jauh dari apartemen. Hansel menghela napas panjang, ada rasa khawatir timbul di hatinya. Bagaimanapun, perkataan Charlie memang menyakitkan dan berlebihan. Hansel berjalan perlahan berkeliling taman. Matanya menyelisik terus mencari keberadaan Marc. Sampai ia menemukan Marc sedang duduk seorang diri bawah pohon.
"Ternyata," gumam Hansel merasa lega telah menemukan sahabatnya itu. Ia segera berjalan menghampiri Marc.
Hansel duduk di samping Marc, "Hah..." desah Hansel menghela napas panjang, "Aku mencarimu ke mana-mana. Kau ada di sini ternyata. Aku hampi saja sesak napas," keluh Hansel.
"Maaf," kata Marc lirih hampir tidak terdengar.
"Seperti ada yang bicara, ya? siapakah? aku tidak dengar apa-apa," gumam Hansel menggoda Marc.
Marc menatap Hansel, "Kau tak melihatku di sini? aku di sampingmu," sahut Marc.
Hansel menatap Marc, "Oh, ya. Aku kira siapa yang bicara 'maaf' tadi. Ternyata kau, ya. Memangnya kau minta maaf untuk apa? kau tidak bersalah padaku," kata Hansel menegaskan.
"Maaf sudah menutupinya darimu, Hans. Kau pasti terkejut, kan? kau pasti tidak mengira aku adalah seorang pekerja malam," ungkap Marc.
Hansel diam mendengarkan cerita Marc. Ia tidak ingin menyela cerita Marc karena tidak mau ada kesalah pahaman. Marc menceritakan awal mula ia bekerja sebagai laki-laki panggilan dan pekerja tempat hiburan malam. Marc sudah bertahun-tahun menekuni pekerjaannya itu. Meski hatinya menolak, pikirannya keras menekankan jika hidup butuh biaya. Hidup tanpa uang, seakan tidak ada apa-apanya. Karena Marc sadar jika ia bukan orang kalangan atas yang bisa mengandalkan kekayaan atau warisan orang tua.
Marc dikenalkan pada seseorang ke seseorang lainnya. Dari mulut ke mulut namanya perlahan dikenal banyak pelangannya. Banyak pelanggan yang setia menjadi pelanngan tetap Marc. Mereka semua baik kepada Marc, sampai memberikan uang tambahan secara pribadi pada Marc. Selain penggangat tempat tidur, Marc adalah seorang teman cerita dan pendengar yang baik. Tidak jarang pelanggan-pelanggannya berkeluh kesah dan meminta saran dari Marc untuk masalah yang ada.
Sebagai pekerja yang selalu totalitas. Marc tidak setengah-setengah. Ia sadar, ia tidak punya lagi yang namanya 'harga diri' sebagai seorang laki-laki. Namun, ia ingin menjadi seseorang yang tidak hanya dikenal debagai laki-laki pemuas nafsu saja. Ia juga ingin menjadi seseorang yang peduli pada pelanggannya sehingga pelanggan atau orang yang mengenalnya selalu ingat dengan sikapnya yang ramah. Bukan karena terpuaskan saja.
"... seperti itulah. Aku hanya mengikuti alurnya saja," jelas Marc.
Hansel menepuk bahu Marc, "Kau hebat, Marc. Aku bukan memuji pekerjaanmu. Aku memuji keberanianmu mengungkapkan semuanya padaku. Aku salut padamu," puji Hansel.
"Aku sudah tidak punya rasa malu, Hans. Maluku tidak berguba lagi," sahut Marc mengingat kata-kata Charlie yang memakinya.
"Marc..." panggil Hansel.
"Hm?" gumam Marc memalingkan wajah menatap Hansel.
"Apa kau tahu? aku juga menutupi sesuatu darimu," kata Hansel menatap sekeliling. Tidak berani menatap langsung mata Marc.
"Apa itu? apa yang sudah kau sembunyikan dariku?" tanya Marc.
"Aku sebenarnya masuk ke perusahaan tempatku bekerja, karena alasan tertentu. Aku diminta menjadi informan dan mengawasi gerak-gerik atasanku. Dan... kemarin, tangan kanan atasanku itu mengetahui semua. Aku dihajarnya sampai babak belur seperti ini," ungkap Hansel memperlihatkan wajahnya yang masih sedikit lebam.
Marc mendekatkan wajahnya dan melihat seksama wajah Hansel, "Kau tidak apa-apa, kan? apa kita perlu ke rumah sakit?" tawar Marc yang merasa khawatir.
Hansel menggeleng, "Aku sudah mendapatakan perawatan, Marc. Tidak apa-apa. Ini sudah resiko yang harus aku terima karena sudah mengkhianati atasanku. Untung saja, saat atasanku mendengar pernyataanku, ia bisa menerima alasanku. Dan mau memberiku kesempatan kedua," jelas Hansel.
"Kau ini, bisa-bisanya terlibat masalah seperti ini."
Hansel tersenyum, "Mau bagaimana lagi. Aku tidak bisa terus bergantung padamu, kan? hanya ini kesempatanku untuk bisa mendapatkan uang dan bisa membantumu," jawab Hansel.
"Terima kasih, Hans. Kau masih memikirkanku. Padahal aku tidak menginginkan itu," ucap Marc lirih.
Hansel mengusap bahu Marc, "Akulah yang seharusnya berterima kasih, Marc. Selama ini kau sudah terlalu banyak membantuku. Jika bukan karena kau, entah aku akan hidup seperti apa."
Ada perasaan lega. Saat Hansel dan Marc akhirnya saling jujur dan mengutarakan isi hati mereka masing-masing. Kini, tidak ada lagi rahasia yang tersembunyi diantar mereka berdua.
*****
Sementara itu. Di apartemen Charlie, Charlie dan Keily ada di ruang tamu. Keily yang kesal hanya diam saja saat ditanya Charlie. Charlie merasa kesal, mencoba menahan amarahnya sebisa mungkin. Ia tidak ingin menyakiti Adik satu-satunya yang sangat disayanginya itu.
"Kau akan terus mendiamkan Kakakmu ini?" kata Charlie
Keily diam, ia sibuk bermain ponselnya dan tidak mau tahu ocehan Charlie. Karena sikap Keily yang seperti itu, semakin membuat Charlie kesal.
"Ok. Teruslah diam dan jangan bicara. Jika kau berani bicara, aku akan memotong lidahmu. Jangan harap bisa keluar dari sini," ancam Charlie. Charlie mencoba menakut-nakuti Keily.
Mendengar kata-kata Kakaknya yang menakutkan Keily pun akhinya buka suara. Ia tidak ingin selamanya membisu, ataupun kehilangan lidahnya.
"Aku dengar," jawab Keily lirih.
"Jadi kau harus diancam dulu baru bicara, huh? dasar kau, adik paling mengejutkan se Dunia. Kau ini bukan lagi anak-anak yang tidak bisa membedakan yang baik dan buruk, Kei. Berpikirlah selayaknya orang dewasa. Kau kira ini lelucon," omel Charlie karena kesalnya.
"Kak, memangnya apa salahku? aku hanya ingin berhubungan baik dengan semua orang. Aku ingin punya temen, aku kesepian. Kakak selalu sibuk, sangat jarang menemuiku apalagi punya waktu jalan-jalan denganku. Jika bukan bersama orang lain, lalu aku dengan siapa?" jelas Keily menangis, "Aku tidak ingin merepotkan Kakak yang sibuk. Aku juga tidak ingin mengganggumu," imbunya.
Mendengar ungkapan Keily, dada Charlie terasa sesak. Ia menyadari jika ia sering kali lalai pada Adiknya. Karena kesibukannya dan karena ia terlalu memfokuskan diri dengan urusan pribadi. Ia hanya sesekali menghubungi dan menjumpai Adiknya. Perhatian juga kepeduliannya pada Adiknya dirasa kurang. Charlie merasa bersalah pada diri sendiri.
"Maaf," ucap Charlie, ia mendekat dan duduk di samping Keily. Ia mengusap lembut kepala Keily.
"Maafkan Kakak, Kei. Kakak tidak akan mengabaikanmu lagi," kata Charlie lagi.
Keily mengusap air matanya menatap Charlie, "Kakak..." rengek Keily yang langsung memeluk Charlie. Keily kembali menangis dipelukan Charlie.
Charlie mendekap erat Keily, mengusap punggung Keily dan mencium lembut puncak kepala Keily. Keily merasa senang juga sedih. Ia senang bisa merasakan kembali kehangatan dari Kakak kesayangannya. Sedih saat teringat akan dinginnya sikap Kakaknya padanya.
"Aku tidak ingin apa-apa, Kak. Aku hanya ingin Kakak ssperti yang dulu," ucap Keily serak.
"Ya. Kakak akan berusaha. Maaf sudah membuatmu merasakan sakit. Kakakmu ini sangat bodoh dan tidak peka. Maaf," ucap Charlie yang kembali meminta maaf.
Keily mengangguk, ia melepas peluka dan tersenyum menatap Charlie. Charlie menyeka air mata Keily, mencium lembut kening Keily. Lalu kembali memeluk Keily.
...*****...
terimakasih author👍👍👍
seru bangèet baca nya.....makasih ya thor smg sll sukses sll sehat bahagia ...
Bravo author😘