"Saat langit robek dan dunia menjadi neraka, uang tak lagi berkuasa. Hanya satu angka yang berharga, yaitu.. Peringkatmu."
—
Hari itu dimulai dengan hawa panas yang luar biasa. Bumi Aksara, seorang pemuda 20 tahun yang bekerja sebagai kasir minimarket, hanya memikirkan bagaimana cara bertahan hidup di tengah himpitan ekonomi.
Namun, dunia punya rencana lain. Sebuah retakan hitam membelah langit, membawa ribuan monster haus darah ke permukaan bumi.
Seketika, sebuah layar sistem muncul di depan mata setiap manusia. Dunia berubah menjadi permainan maut yang kejam. Manusia diklasifikasikan ke dalam 5 Tingkatan, dan Bumi mendapati dirinya berada di kasta terendah: Tingkat 5, Posisi 5 (Neophyte).
Dengan insting tajam yang diasah oleh kerasnya hidup di jalanan, ia mulai mendaki tangga kekuatan.
Dari seorang kasir yang dihina, Bumi berubah menjadi predator yang ditakuti. Ia akan melintasi medan perang yang kejam, demi mencapai satu tujuan mutlak... Menjadi Nomor Satu!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ganendra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sebuah Virus.
[ Misi Rahasia: "Pemberontak Pertama.
Tujuan: Menghindari penangkapan atau eksekusi dari unit pembersihan selama 12 jam.
Hadiah: Skill Pasif [Hidden Presence] dan 500 Poin Toko.
Penalti Gagal: Kematian atau penghapusan permanen dari sistem. ]
[ Apakah Anda menerima? (Y/N) ]
Bumi menekan tombol [Y] tanpa ragu. Ia tahu, menyerahkan diri pada pemerintah yang baru saja membiarkan ribuan orang mati adalah tindakan bunuh diri yang konyol. Dan hanya dilakukan oleh para banci yang tak mempunyai harga diri.
"Bumi! Tunggu!" Hendra memanggil dengan suara bergetar, namun pemuda itu sudah melompat melewati pagar kawat belakang minimarket.
Lampu sorot dari helikopter militer menyapu area belakang toko. Bumi menempelkan punggungnya pada dinding gang yang lembap.
Berkat sistem fisiknya yang sudah meningkat, gerakannya kini jauh lebih cepat. Ia bisa mendengar detak jantungnya sendiri yang tenang, kontras dengan kekacauan di sekitarnya saat ini.
"Unit Satu, laporkan situasi di Sektor X," suara radio dari atas terdengar jelas di telinga Bumi yang kini lebih sensitif.
"Target Boss Wilayah terkonfirmasi tewas. Namun, ada anomali. Seseorang menyerap seluruh energinya. Berdasarkan sensor bio-energi, target berada di koordinat minimarket. Status: Master."
"Master? Mustahil! Orang sipil tidak mungkin mencapai level Master dalam satu jam! Cari dan amankan. Jika melawan, gunakan peluru penahan energi."
Mendengar itu, Bumi menggertakkan gigi. "Peluru penahan energi? Ternyata mereka sudah menyiapkan teknologi untuk menghadapi manusia yang berevolusi." gumamnya.
Ia mulai berlari menyusuri gang-gang sempit yang ia hafal luar kepala. Setiap kali ia menyentuh pipa besi atau pagar yang menghalangi jalannya, ia mengaktifkan [ Structural Decay ]. Logam-logam itu hancur menjadi serpihan halus, memudahkannya lewat tanpa suara.
Tiba-tiba, langkahnya terhenti. Di ujung gang, tiga orang prajurit dengan seragam taktis hitam lengkap dengan helm sensor sedang menodongkan senapan mereka ke arah kerumunan warga yang ketakutan.
"Tunjukkan layar sistem kalian! Siapa pun dengan posisi Adept atau lebih, maju ke depan!" teriak salah satu prajurit itu.
Seorang pemuda, mencoba lari kabur. Namun...
Pshhht!
Sebuah peluru dengan kilatan listrik biru menghantam punggung pemuda itu. Ia jatuh tersungkur, kejang-kejang saat layar hologramnya meredup dan menghilang.
"Peringkatnya dihapus..." bisik Bumi ngeri. "Mereka benar-benar ingin memonopoli kekuatan."
Bumi melihat sebuah kotak panel listrik besar di dinding gang, tepat di atas posisi para prajurit itu. Dengan [ Visi Struktural ], ia melihat baut penyangga panel itu sudah karatan.
Lalu dengan cepat, ia memungut sebuah batu kecil, lalu melemparkannya ke arah baut penyangga sambil menyalurkan sedikit energi sistem yang ia miliki.
KRAK!
Panel listrik raksasa itu jatuh menimpa dua prajurit di bawahnya. Ledakan percikan api menciptakan kekacauan seketika.
"Ada serangan! Sektor 4 diserang!"
Bumi menggunakan pengalihan itu untuk melesat maju. Ia harus tahu seberapa kuat "Unit Pembersih" ini.
Saat ia melewati prajurit ketiga yang sedang bingung, Bumi menyentuh senapan laras panjang mereka.
KRETEK!
Senapan canggih itu seketika retak dan hancur menjadi tumpukan sampah plastik. Sebelum prajurit itu sempat berteriak, Bumi melayangkan pukulan ke ulu hatinya. Membuat sang prajurit pingsan seketika.
Pemuda itu lalu menyambar sebuah alat komunikasi dari rompi prajurit itu dan sebuah belati militer yang terlihat berkualitas tinggi.
[ Analisis Barang: Belati Komando ( D-Grade )
Ketajaman: Tinggi
Efek: Penetrasi Armor +5% ]
"Lumayan," gumam Bumi puas.
Ia terus bergerak, namun langkahnya kembali terhenti saat sebuah sosok mendarat dari atap gedung tepat di depannya. Sosok itu mengenakan jubah abu-abu dengan pedang panjang di punggungnya.
Di atas kepalanya, sebuah nama dan peringkat muncul. Sesuatu yang hanya bisa dilihat oleh sesama pengguna sistem tingkat tinggi.
[ Nama: Kapten Yudha.
[ Peringkat: Veteran - Posisi 3. ]
"Jadi, kamu tikus kecil yang berhasil membunuh The Devourer?" suara Yudha terdengar berat di balik masker taktisnya. "Menarik. Seorang kasir dengan level Master. Kamu adalah subjek yang sangat berharga untuk dibawa ke Iron Cage."
Bumi menggenggam belati militernya erat-erat. Tekanan aura dari orang di depannya ini jauh berbeda dari prajurit biasa.
"Kalian membiarkan monster membantai warga, lalu datang untuk mencuri hasil kerja keras kami?" tanya Bumi dengan nada sinis.
Yudha menarik pedangnya perlahan. Logam pedang itu bersinar biru cerah. "Ini bukan pencurian, nak. Orang dengan kemampuan sepertimu adalah Aset, yang memang harus di jaga. Dan hal ini.. Butuh peraturan resmi."
"Kalau begitu," Bumi memasang kuda-kuda, matanya mulai memancarkan cahaya ungu tipis, efek dari sisa energi The Devourer. "Mari kita lihat seberapa besar kendali yang bisa kau pegang setelah aku menghancurkan pedangmu itu."
Yudha langsung terkekeh, "Menghancurkan pedangku? Dengan Fisik Master rendahanmu itu? Ck.. Omong kosong!"
Dalam satu gerakan yang hampir tak terlihat oleh mata, Yudha menerjang maju. Pedangnya menebas udara, menciptakan gelombang tekanan yang begitu kuat.
Bumi tidak menghindar. Ia justru mengulurkan tangan kirinya, mencoba menyentuh bilah pedang yang sedang melesat ke arah lehernya.
"Strucutral... Decay!"
TINGGGGG!
Suara benturan logam bergema, diikuti oleh bunyi retakan yang sangat nyaring. Mata Yudha membelalak di balik maskernya saat ia melihat pedang kesayangannya mulai ditumbuhi garis-garis retakan hitam tepat di titik sentuhan jari Bumi.
Namun, Yudha adalah seorang Veteran. Ia tidak membiarkan keterkejutannya menghentikan serangan. Ia memutar pergelangan tangannya, menendang dada Bumi dengan kekuatan yang sanggup meruntuhkan tembok.
Bugh!
Bumi terpental mundur, menabrak tumpukan tong sampah hingga hancur. Dadanya terasa sesak, tulang rusuknya mungkin retak. "Akh...!"
"Kemampuan hebat juga," ucap Yudha sambil menatap pedangnya yang kini memiliki gompalan kecil. "Tapi levelmu masih terlalu rendah untuk melawanku."
Pria itu bersiap untuk serangan kedua, namun tiba-tiba suara ledakan besar terdengar dari arah pusat kota.
Retakan di langit kembali memuntahkan sesuatu yang lebih besar dari sebelumnya!
[ Peringatan Global! Gelombang Kedua Dimulai: "The Aerial Invaders" ]
Ratusan monster terbang dengan sayap lebar seperti kelelawar namun bertubuh manusia mulai menukik turun, menyerang helikopter-helikopter militer di udara.
DUARRR.. !!!
Satu helikopter di atas mereka meledak setelah mesinnya dikunyah oleh monster Itu, jatuh menghujam gedung di samping gang.
Yudha menengadah ke atas, lalu kembali menatap Bumi. "Beruntunglah kau, tikus kecil. Ada masalah yang lebih mendesak daripada menangkapmu."
Yudha melompat ke dinding dan dengan lincah memanjat ke atas gedung, meninggalkan Bumi yang masih terengah-engah di tanah.
Pemuda itu masih terbatuk, mengeluarkan sedikit darah. Ia lalu melihat ke layar sistemnya.
[ Misi Rahasia: "Pemberontak Pertama" - Sisa Waktu: 11 Jam 45 Menit.
Peringkat Regional Anda: 9 ]
"Pria itu terlalu kuat..." Bumi bergumam dengan berusaha berdiri. "Jika aku ingin menang melawan orang-orang seperti dia, posisi Master saja tidaklah cukup."
Bumi melihat ke arah monster-monster terbang yang mulai membantai prajurit militer di jalan utama.
Pikirannya langsung melayang pada satu nama.
"Genta..." ia teringat sahabatnya yang tinggal di area apartemen murah tidak jauh dari sini.
"Aku harus cepat menemukannya sebelum militer atau monster menghabisi area itu."
Namun, saat Bumi baru saja melangkah, seorang gadis dengan seragam sekolah yang robek dan wajah penuh darah berlari ke arahnya, dikejar oleh salah satu monster terbang.
"Tolong! Tolong Aku.. ! Aku tidak mau mati!"
Di saat Bumi bersiap untuk menolong, pemuda itu menyadari sesuatu yang aneh.
Di atas kepala gadis itu, tidak ada peringkat. Hanya ada informasi :
[ Target Terinfeksi ]
"Hah?" Bumi diam dengan ekspresi bingung. Lalu, gadis itu berhenti tepat di depannya. Wajahnya mulai berubah, kulitnya retak mengeluarkan cahaya kuning yang sama dengan cairan asam The Devourer.
"Lapar... lapar..." suaranya berubah menjadi geraman monster.
Sekali lagi Bumi tertegun. "Mereka bisa menginfeksi manusia...?"
***