Elena hanya seorang peneliti biasa di kota London, hingga sebuah tawaran rahasia mengubah segalanya. Ia setuju menjadi bagian dari program donor untuk pria yang tak ingin cinta, tak butuh istri, hanya menginginkan pewaris sempurna.
Lima tahun berlalu, Elena hidup dalam bayang-bayang kontrak yang melarangnya membuka jati diri. Tapi saat anak yang ia lahirkan tumbuh jenius melampaui usianya, masa lalu pun mengetuk pintu.
Dan pria itu... kini berdiri di hadapannya, tanpa tahu bahwa bocah itu adalah darah dagingnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rima Andriyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Leon mendengus kecil, menatap papanya tanpa berkedip. “Kalau Papa bohong, Leon bisa tahu.”
Alexander menaikkan alis, terkejut dengan keberanian putranya. Bocah lima tahun itu duduk tegak, penuh percaya diri seakan-akan ia sedang menantang seorang rival bisnis, bukan ayah kandungnya.
“Boy…” Alexander menyandarkan punggung di kursi, nada suaranya lebih berat. “…kau pikir Papa ini apa? Penipu?”
Leon langsung mengangguk cepat. “Iya. Soalnya Papa sering bikin Mama nangis diam-diam. Leon dengar sendiri.”
Elena tersentak, wajahnya memerah karena malu sekaligus panik. “Leon!” serunya setengah berbisik, mencoba menghentikan mulut kecil yang terlalu jujur itu.
Namun Alexander justru terdiam. Kata-kata polos itu terasa seperti tamparan keras di wajahnya. Ia menoleh, menatap Elena lekat-lekat. “Dia benar?”
Elena membeku. Hatinya kacau, tapi ia tidak sanggup menutupi kenyataan. Tatapannya menurun, jemarinya meremas ujung taplak meja. “Alex, jangan salahkan Leon… dia hanya bicara apa yang dia lihat.”
Alexander menutup mata sejenak, menarik napas panjang. Saat dibuka kembali, ada sesuatu yang berbeda di sorot matanya. Bukan sekadar amarah atau arogansi, melainkan rasa bersalah yang jarang, hampir tak pernah, ia tunjukkan.
“Elena…” suaranya dalam, lebih lembut dari biasanya. “Aku berjanji. Tidak akan ada lagi yang membuatmu menangis. Tidak ada lagi yang menyakitimu. Aku… tidak ingin kehilangan kalian berdua.”
Elena mendongak, terperangah mendengar pengakuan itu. Suara Alexander kali ini tidak terdengar seperti ancaman, melainkan janji yang keluar dari hati terdalamnya.
Leon menatap Alexander beberapa detik, seolah sedang menimbang kejujuran di balik kata-kata itu. Lalu akhirnya, ia mengangguk kecil. “Baiklah. Tapi kalau Papa ingkar janji…” suaranya meninggi sedikit. “…Leon tetap akan cari Papa baru!”
Alexander terbatuk kecil, hampir tersedak lagi dengan sisa air di gelasnya. Elena refleks menepuk punggungnya, sementara bocah itu hanya menatap dengan tatapan polos nan serius.
Alexander tidak bisa berkata-kata. Ia hanya mendengus geli, lalu tersenyum samar, senyum langka yang membuat Elena menatapnya heran.
“Dasar keras kepala,” gumam Alexander lirih. “Sepertiku.”
Leon langsung menyahut, “Seperti Mama!”
Elena menutup wajah dengan tangan, antara ingin tertawa dan ingin menangis. Suasana meja makan yang tadinya tegang kini perlahan mencair, meski di dalam hati, Alexander tahu… ancaman polos Leon tadi akan terus menghantui pikirannya.
Dia ingin memberikan yang terbaik untuk Leon. Dia tidak ingin putranya menjadi seorang monster seperti dirinya.
Setelah sarapan usai, mobil hitam mengantar Leon ke sekolah. Bocah itu sempat melambai riang dari jendela, namun sebelum pintu mobil tertutup, ia masih sempat memberi peringatan terakhir pada Alexander.
“Papa, jangan bikin Mama nangis lagi!”
Alexander hanya mengangkat alis, lalu tersenyum tipis. “Pergi sana, Boy. Jangan terlambat.”
Mobil itu melaju, meninggalkan halaman mansion. Suasana mendadak lengang. Hanya ada Elena dan Alexander yang bersiap menuju kantor.
Perjalanan ke Thorne tower dimulai dengan hening. Elena duduk di kursi penumpang, menatap keluar jendela, sementara Alexander fokus menyetir. Namun, hati Elena tak tenang. Kata-kata lirih pria itu semalam kembali berputar di benaknya.
Elie…
Nama itu terngiang jelas. Terlalu familiar, seperti pernah ia dengar sebelumnya.
Akhirnya Elena memberanikan diri. “Alex…” suaranya pelan, ragu.
“Hm?”
Elena menoleh ke arahnya. “Semalam… kau menyebut nama seseorang.”
Alexander tidak menoleh. Matanya lurus ke jalanan, rahangnya menegang samar. “Siapa?”
“Elie,” jawab Elena hati-hati. “Siapa dia? Kenapa aku merasa pernah mendengar nama itu?”
Kesunyian turun mendadak. Suara mesin mobil terdengar begitu jelas, seolah menelan keheningan yang berat.
Alexander menggenggam kemudi lebih erat. Sendi-sendi jarinya memutih. Butuh waktu beberapa detik sebelum ia menjawab, suaranya rendah, hampir berbisik.
“Jangan pernah bertanya soal nama itu, Elena.”
Elena tertegun. “Tapi—”
“Tidak.” Alexander memotong cepat, kali ini nadanya tegas, penuh peringatan. “Aku tidak ingin mengingatnya. Elie… sudah tidak ada lagi untukku.”
Mata Elena membesar. Ia ingin mendesak, ingin tahu lebih jauh, tapi ada sesuatu pada tatapan dingin Alexander yang membuatnya menahan diri.
Alexander menarik napas dalam, menenangkan dirinya. “Fokus saja pada pekerjaanmu, Elena. Hal-hal lain… tidak penting.”
Elena menunduk, menggenggam erat ujung roknya. Namun di dalam hati, rasa penasaran itu semakin tumbuh. Siapa sebenarnya Elie bagi Alex? Kenapa nama itu terasa tidak asing untuk Elena?
***
Siang hari, meeting besar dengan salah satu partner internasional berjalan mulus. Elena mencatat setiap detail, memberi masukan strategis, dan bahkan membantu menjelaskan data di saat Alexander terlalu singkat dalam berbicara. Para investor tampak puas, dan pertemuan ditutup dengan tepuk tangan kecil.
Elena menghela napas lega, kembali ke ruang kerjanya untuk merapikan laporan. Namun sebelum ia sempat duduk, pintu ruangannya terbuka. Alexander berdiri di sana, dengan jas rapi dan sorot mata penuh perintah.
“Bersiaplah,” katanya singkat.
Elena mengernyit. “Bersiap? Untuk apa?”
“Malam ini ada jamuan dengan mitra baru. Kau ikut denganku.”
Elena menelan ludah. Jamuan bisnis seperti itu biasanya penuh orang penting. Ia tidak ingin menjadi pusat perhatian. “Tapi Alex, aku—”
“Tidak ada tapi.” Alexander menatapnya tajam, namun nada suaranya tidak sekeras biasanya. “Aku ingin kau ada di sampingku.”
Elena terdiam, hanya bisa mengangguk pelan.
---
Sore menjelang malam, alih-alih langsung menuju hotel tempat jamuan, mobil berhenti di depan sebuah butik pakaian mewah dengan dinding kaca berkilau. Elena menoleh cepat, menatap Alexander dengan bingung.
“Kenapa kita berhenti di sini?”
Alexander keluar lebih dulu, lalu membuka pintu untuk Elena. “Kau butuh gaun.”
“Gaun?” Elena melangkah keluar dengan hati-hati, wajahnya menegang. Ia melihat deretan koleksi di balik kaca yang jelas-jelas bernilai puluhan ribu dollar. “Tidak, Alex… pakaian di sini terlalu mahal. Aku bisa memakai—”
“Elena.” Alexander menatapnya datar, seakan penolakan itu tidak berlaku. “Wanita yang berjalan di sampingku tidak akan memakai sembarangan pakaian. Kau harus terlihat sempurna.”
Elena semakin gelisah. “Tapi aku tidak bisa, aku tidak mau—”
Dengan satu jentikan jarinya, Alexander memanggil manajer butik yang langsung berlari menghampiri dengan penuh hormat.
“Bawakan koleksi terbaik musim ini. Semuanya.”
“Baik, Tuan Thorne.”
Elena terperangah. “Apa? Semuanya?”
Tak butuh lima menit, pegawai butik datang membawa deretan gaun elegan dengan kain berkilau, potongan indah, dan detail menawan. Gaun-gaun itu jelas bukan sekadar pakaian… mereka adalah karya seni.
“Alex, ini keterlaluan!” Elena berbisik panik. “Aku tidak mungkin menerima semua ini!”
Alexander menunduk sedikit, wajahnya mendekat hingga Elena bisa merasakan hembusan napasnya. “Kau wanitaku, Elena. Dan wanitaku… hanya pantas mendapat yang terbaik.”
Kata-kata itu, begitu sederhana, tapi langsung membuat darah Elena berdesir. Wajahnya memanas, rona merah menjalar di pipinya.
Ia ingin membantah, ingin menolak… tapi tatapan Alexander begitu mantap, seolah tidak ada ruang untuk negosiasi.
“Pilih satu untuk malam ini,” bisik Alexander. “Sisanya akan dikirim ke rumah.”
Elena terdiam, hatinya kacau. Satu sisi ia merasa diperlakukan berlebihan. Namun sisi lainnya… ia tidak bisa menyangkal, ada sesuatu yang bergetar lembut di dadanya mendengar pengakuan pria itu.
Ia menggigit bibir, lalu akhirnya mengulurkan tangan, menyentuh lembut salah satu gaun biru tua dengan taburan kristal halus. “Yang ini. Aku akan mencobanya.”
Alexander mengangguk dan menunggunya. Tak lama Elena keluar. Seketika Alexander tertegun. Elena terlihat sangat cantik.
Melihat Alex yang terus menatapnya membuat Elena berpikir dia terlihat jelek dengan gaun itu.
"Pasti jelek, ya?"
Elena hendak kembali ke ruang ganti untuk melepaskan pakaiannya. Tapi Alex buru-buru mengikutinya dan memegang tangan Elena yang hendak melepaskan gaun itu.
"Jangan di lepas. Kau terlihat sangat cantik memakainya," ucap Alexander berbisik pelan.