NovelToon NovelToon
Pembalasan Istri Yang Tertindas

Pembalasan Istri Yang Tertindas

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Kehidupan di Kantor / Wanita Karir / Kelahiran kembali menjadi kuat / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Careerlit
Popularitas:109.8k
Nilai: 5
Nama Author: Mayy

Nadinta mengira hidupnya berakhir dalam keputusasaan, terkapar tak berdaya akibat pengkhianatan suami dan sahabat yang paling ia percaya.

Namun, takdir memberinya kesempatan kedua. Ia terlempar kembali ke masa lalu, di saat tubuhnya masih sehat, hartanya masih utuh, dan pernikahan neraka itu belum terjadi.

Kali ini, tidak ada lagi Nadinta yang naif. Ia bangkit untuk mengambil kembali kendali atas hidupnya dan memastikan mereka yang pernah menghancurkannya membayar harga yang setimpal.

"Selamat, karena telah memungut sampahku."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mayy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 35: Kecemburuan Maya

​Dua hari sebelumnya.

​Cahaya matahari menembus tirai vertikal di ruangan baru Nadinta, menciptakan garis-garis bayangan di atas meja kerja yang bersih. Nadinta duduk santai di kursi kulitnya, sementara Maya duduk di hadapannya, menatap layar tablet yang baru saja disodorkan Nadinta.

​Di layar itu, terpampang foto-foto hasil "belanja kalap" Nadinta di Grand Indonesia. Dress sutra, sepatu kulit, kemeja linen mahal. Barang-barang yang dibeli dengan uang Arga—uang yang sejatinya adalah limit kartu kredit Maya.

​Maya menatap foto itu. Rahangnya mengeras sejenak, namun dengan cepat dia memaksakan sebuah senyum lebar. Senyum "sahabat" yang sudah terlatih bertahun-tahun.

​"Wah... gila, Nad," ujar Maya dengan nada riang yang dibuat-buat, meski matanya menatap tajam ke arah harga yang tertera di struk foto.

"Arga beneran beliin ini semua? So sweet banget sih dia. Royal banget."

​"Iya kan, May?" Nadinta mencondongkan tubuhnya antusias, memainkan perannya dengan sempurna.

"Aku juga kaget. Tiba-tiba dia ngajak ke mal, katanya dapet bonus proyek. Dia bilang, 'pilih apa aja yang kamu mau, sayang'. Duh, aku jadi makin cinta."

​Tangan Maya di bawah meja mengepal. Kuku-kukunya menancap ke telapak tangan.

Bonus proyek apanya? Itu limit kartu aku, Nadinta bodoh! teriak batinnya.

Namun, di luar, Maya hanya mengangguk-angguk kagum.

​"Hebat ya Arga. Padahal kemarin dia bilang lagi banyak pengeluaran. Ternyata diem-diem nyiapin kejutan buat kamu," puji Maya dengan nada manis yang mengandung racun.

​"Makanya!" Nadinta berdiri, berjalan memutari meja dan duduk di sandaran tangan kursi Maya. Dia merangkul bahu wanita itu akrab.

​"Eh, May. Sabtu ini aku sama Arga mau foto prewedding di Kemang. Dateng dong?"

​Maya menoleh cepat. "Hah? Aku?"

​"Iya! Kamu kan bestie aku yang paling ngerti fashion," bujuk Nadinta manja. "Aku butuh kamu buat arahin gaya. Kamu tau sendiri aku kaku kalau di depan kamera. Kalau ada kamu, pasti suasananya lebih asik."

​Maya terdiam sejenak. Otaknya berputar cepat. Melihat Arga dan Nadinta bermesraan pasti menyakitkan. Tapi, membiarkan mereka berduaan tanpa pengawasan jauh lebih berbahaya. Dia harus memastikan Arga tidak benar-benar jatuh cinta lagi pada Nadinta. Dia harus ada di sana untuk menandai wilayahnya.

​Lagipula, dia ingin melihat Arga menderita di bawah tatapannya.

​"Duh, sebenernya aku ada janji facial sih," Maya pura-pura jual mahal.

"Tapi demi kamu... yaudah deh, aku usahain dateng. Tapi aku cuma nonton lho ya!"

​"Aaa! Makasih Maya sayang!" Nadinta memeluk Maya erat. "Nanti abis foto, kita makan enak. Arga yang traktir. Kita rayain 'bonus' dia bareng-bareng."

​Maya tersenyum kaku dalam pelukan itu. "Oke. Siap."

​Nadinta melepaskan pelukan, menatap wajah sahabatnya.

Datanglah, May. Dan saksikan sendiri bagaimana milikmu bukan lagi milikmu.

​Kembali ke masa kini.

​Atmosfer di studio Lensa Abadi terasa ganjil. Arga masih mematung dengan wajah pucat, matanya membelalak horor melihat kedatangan Maya. Dia sudah bersiap untuk diamuk, diteriaki, atau dilabrak di tempat.

​Namun, ledakan itu tidak terjadi.

​Maya melangkah masuk ke dalam set dengan langkah anggun. Wajahnya dihiasi senyum lebar yang sangat manis—terlalu manis hingga terlihat seperti topeng porselen yang retak.

​"Hai semuanya! Sori banget ya aku telat!" seru Maya dengan suara cempreng ceria, seolah tidak ada masalah apa-apa di antara mereka. Dia melambaikan tangan pada Arga yang masih gemetar.

​Arga menelan ludah, bingung setengah mati. Kenapa Maya di sini?

​"E-eh... hai, May," jawab Arga gagap. "Kamu dateng buat liat kita?"

​"Masa aku nggak dateng di hari bahagia sahabat aku sendiri?" Maya berjalan mendekat, lalu cipika-cipiki dengan Nadinta.

​"Nad, sorry ya macet banget tadi. By the way, kamu cantik banget hari ini. Simple but elegant," puji Maya. Matanya menyapu penampilan Nadinta dari atas ke bawah dengan kilatan menilai yang tajam, tapi bibirnya tetap tersenyum.

​"Makasih, May. Kamu juga stunning banget pake merah gitu," balas Nadinta ramah.

​"Mas Rio, kenalin ini Maya. Fashion stylist dadakan kita hari ini," kelakar Nadinta pada fotografer.

​"Halo, Mbak Maya. Silakan duduk di sini, spot paling enak buat nonton," Rio menunjuk kursi sutradara di depan kamera.

​Maya duduk di sana. Dia menyilangkan kakinya yang jenjang, meletakkan tas di pangkuan, dan menopang dagu dengan tangan. Dia memasang pose penonton yang antusias.

​"Lanjutin aja, Mas Rio!" seru Maya riang. "Ayo Ga, Nad! Yang mesra dong! Jangan kaku!"

​Arga masih menatap Maya dengan curiga. Senyum Maya terlihat tulus di mata orang lain, tapi Arga bisa melihat tangan wanita itu meremas handle tasnya dengan sangat kuat hingga urat tangannya menonjol.

Kakinya yang disilangkan bergoyang-goyang gelisah dengan tempo cepat.

​Dia tidak sedang bahagia. Dia sedang menahan diri.

​"Oke, kita lanjut ya!" seru Rio. "Tadi pose pelukan belum dapet. Yuk, lebih intimate lagi."

​Nadinta tersenyum miring. Dia melihat kegelisahan Maya yang tersembunyi. Saatnya menaikkan suhu.

​"Siap, Mas Rio," jawab Nadinta.

​Tanpa ragu, Nadinta melangkah maju, menempelkan tubuhnya rapat-rapat ke tubuh Arga. Kali ini, dia tidak hanya bersandar. Dia mengalungkan kedua lengannya di leher Arga, menarik kepala pria itu merunduk sedikit.

​"Mas," bisik Nadinta, matanya menatap bibir Arga. "Rileks. Maya lagi nonton tuh. Tunjukin kalau kita pasangan bahagia."

​Arga menahan napas. Wangi tubuh Nadinta dan kedekatan fisik ini memabukkan, tapi tatapan mata Maya di belakang sana terasa seperti laser panas di punggungnya.

​Nadinta berjinjit sedikit. Dia menempelkan pipinya ke pipi Arga, lalu berbisik lagi. "Peluk pinggang aku, Mas. Yang kenceng."

​Arga menurut seperti kerbau dicocok hidung. Tangannya melingkar di pinggang ramping Nadinta.

​Cekrek! Cekrek!

​Lampu flash menyala.

​Nadinta tidak berhenti di situ. Dia mengubah posisinya. Dia memutar tubuh Arga agar menyamping, lalu dia bersandar di dada bidang pria itu, satu tangannya meraba dada Arga, turun perlahan ke kancing kemejanya.

​Gerakan itu lambat, sensual, dan sangat possessive.

​Nadinta menengadah, menatap wajah Arga dengan tatapan memuja. Lalu, matanya perlahan melirik ke arah kamera... dan melewatinya, langsung menatap lurus ke arah Maya.

​Di kursi penonton, senyum di wajah Maya mulai berkedut. Dia mengambil botol air mineral di meja, meminumnya dengan gerakan kasar, lalu meremas botol plastik itu hingga berbunyi krek yang cukup keras.

​Nadinta tersenyum dalam hati mendengar bunyi remasan botol itu.

​"Arga, tangannya jangan kaku!" teriak Maya tiba-tiba. Suaranya terdengar riang, tapi nadanya terlalu tinggi. "Pegang pinggulnya Nadin yang bener dong! Masa kayak megang karung beras!"

​Komentar itu terdengar seperti arahan, tapi tersirat nada cemburu yang kental. Maya tidak tahan melihat Arga disentuh.

​"Begini, May?" Nadinta sengaja meraih tangan Arga, menempelkannya lebih erat ke lekuk pinggangnya sendiri, lalu mengusap punggung tangan Arga dengan lembut. "Enak kok pegangannya. Pas."

​Nadinta menyandarkan kepalanya di bahu Arga, memejamkan mata seolah menikmati momen itu, sambil membiarkan Maya melihat betapa nyamannya Arga dalam pelukannya.

​Arga sendiri bingung. Dia merasa terjepit di antara dua wanita. Nadinta yang agresif dan Maya yang "sok asik".

Tapi egonya sebagai laki-laki tidak bisa bohong, dia menikmati disentuh dan diperebutkan seperti ini. Dia mulai membalas sentuhan Nadinta, mengelus punggung wanita itu.

​Maya yang melihat tangan Arga bergerak membelai punggung Nadinta, langsung berdiri dari kursinya.

​"Duh, panas ya lampunya!" seru Maya sambil mengipas-ngipas wajahnya dengan tangan, padahal AC studio sangat dingin. "Mas Rio, masih lama nggak pose peluk-pelukannya? Gerah nih liatnya, hahaha!"

​Tawanya sumbang.

​"Bentar lagi, Mbak! Chemistry-nya lagi dapet banget ini!" sahut Rio tak peka, terus memotret.

​Nadinta membuka matanya. Dia menatap Maya yang gelisah, berdiri-duduk-berdiri lagi. Wanita itu berusaha terlihat santai, tapi matanya tidak bisa bohong. Mata itu terbakar.

​Gimana rasanya, May? batin Nadinta.

​"Oke, cut!" seru Rio akhirnya. "Keren banget! Bu Nadinta luwes banget hari ini. Sekarang pose terakhir ya. The Proposal."

​Rio berlari kecil mengambil properti. Arga menghela napas lega, melepaskan pelukannya dari Nadinta dan buru-buru menjauh sedikit, mencoba menjaga perasaan Maya. Tapi nasi sudah menjadi bubur. Maya sudah melihat semuanya.

​"Ini bunganya, Pak. Kotak cincinnya di saku ya," Rio menyerahkan buket bunga artifisial. "Oke, posisinya Pak Arga berlutut di depan Bu Nadinta."

​Arga memegang bunga itu. Dia melirik Maya sekilas. Maya sudah duduk kembali, kali ini dengan tangan bersedekap di dada, kakinya mengetuk-ngetuk lantai dengan tempo cepat.

Wajahnya datar, senyum manisnya sudah lenyap, digantikan ekspresi tegang.

​"Ayo, Mas," panggil Nadinta lembut.

​Dengan berat hati, Arga menekuk satu lututnya.

Dia merendahkan tubuhnya, berlutut di lantai kayu studio.

​Arga mendongak, menyodorkan bunga itu ke arah Nadinta. Dia memasang wajah memohon yang sudah dilatihnya—wajah yang sama yang dia pakai saat minta uang ke Nadinta.

​"Din... will you..." Arga menggumamkan dialognya.

​Rio membidik. "Tahan... senyum bahagia Bu Nadinta!"

​Nadinta berdiri tegak di hadapan Arga. Dia menatap pria yang sedang berlutut di bawah kakinya itu.

​Di mata orang lain, ini adalah adegan romantis. Tapi bagi Nadinta, ini adalah simbol kemenangan.

Arga berlutut di bawah kakinya.

​Nadinta tidak langsung mengambil bunga itu. Dia membiarkan Arga berlutut lebih lama. Dia menatap ubun-ubun Arga, lalu menatap matanya.

​Sudut bibir Nadinta terangkat, membentuk seringai tipis yang dingin dan penuh arti. Tatapan "cinta" yang diminta fotografer tidak ada di sana. Yang ada hanyalah tatapan seorang majikan kepada hambanya.

​Di belakang Arga, Maya menahan napas. Dia melihat adegan itu dengan perasaan campur aduk. Arga berlutut untuk wanita lain. Arga memberikan bunga untuk wanita lain. Posisinya sebagai "ratu" di hati Arga terasa tergeser.

​Nadinta mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan, mendekatkan wajahnya ke wajah Arga yang mendongak.

​"Liat baik-baik posisi ini, Mas," bisik Nadinta, suaranya sangat pelan, hanya desis yang sampai ke telinga Arga.

​Arga menatap mata Nadinta bingung. Senyum Nadinta makin lebar, tapi matanya makin dingin.

​"Berlutut," lanjut Nadinta.

​Arga terpaku. Satu kata itu terdengar seperti kutukan. Dia merasakan aura dominan yang mengerikan dari wanita yang selama ini dia anggap lemah.

​"Bu Nadinta? Senyumnya?" tegur Rio.

​Nadinta langsung mengubah ekspresinya menjadi senyum manis yang cerah dalam sekejap mata. Dia mengambil bunga itu dari tangan Arga.

​"Makasih, Sayang!" ucap Nadinta lantang, suaranya penuh kebahagiaan palsu.

​Cekrek!

​Foto terakhir diambil.

​Nadinta menatap lurus ke kamera, lalu melirik Maya yang kini sedang sibuk meminum air mineralnya sampai habis, berusaha menelan rasa pahit di kerongkongannya.

​"Gimana, May?" tanya Nadinta sambil mengibaskan bunga di tangannya. "Arga romantis banget kan kalau lagi berlutut gitu? Cocok banget jadi suami idaman."

​Maya memaksakan tawa kecil. "Iya... romantis banget. Kalian kaya Dilan dan Milea."

​"Hahaha, kamu bisa aja!" Nadinta tertawa renyah. "Yuk, Mas, bangun. Kita makan-makan! Maya udah laper tuh kayaknya."

​Arga berdiri sambil membersihkan debu di celananya. Dia masih teringat bisikan Nadinta tadi.

Berlutut.

​Arga bergidik ngeri tanpa sadar. Dia merasa, entah bagaimana, hidupnya baru saja berubah arah menuju jurang yang dia tidak tahu dasarnya.

1
ᄂ⃟ᙚRisa Virgo Always Beau
Rasakan tamparan Nadinta pasti membekas dan sakit banget
ᄂ⃟ᙚRisa Virgo Always Beau
Nadinta hati hati memilih calon suami ya supaya ngga kayak ayahmu
You And Me Cinta Abadi
Ibunya Arga berani menampar Nadinta padahal itu apartement milik Nadinta
You And Me Cinta Abadi
Nadinta ibumu sangat menderita saat hidup
You And Me Cinta Abadi
Wah Arga memuji Nadinta pasti supaya ibumu kagum ke dia
Aku dan kamu selamanya😍💏💑👪
Ibunya Nadinta kasihan sakit hati dan sakit fisik
Aku dan kamu selamanya😍💏💑👪
Nadinta Arga memangil kamu untuk berhenti berjalan keluar apartement
Risa Istri Yayang
Keren Nadinta ikutan membalas menampar ibunya Arga
Risa Istri Yayang
Ibunya Nadinta kasihan meninggalkan dunia ngga di temani suaminya
Risa Istri Yayang
Ibunya Arga ribet banget makanan bisa beli jadi jangan menyuruh Nadinta memasak
Yayang Lop3♡ Risa
Arga wajar Nadinta menampar ibumu karena ibumu menampar Nadinta duluan
Yayang Lop3♡ Risa
Ibunya Nadinta kenapa ngga minta cerai ke suaminya
Yayang Lop3♡ Risa
Ibunya Arga kejam menyuruh Nadinta memasak
Aku kamu tak terpisahkan
Nadinta kamu keluar dari apartement mencari udara segar
Aku kamu tak terpisahkan
Kasihan ibumu Nadinta karena saat di selingkuhi ayahmu dia cuma menangis
Aku kamu tak terpisahkan
Nadinta Arga pasti marah sama kamu
@Me and You Married
Arga kamu ngga bakal boleh menikah dengan Nadinta
@Me and You Married
Tabahkan hatimu ya Nadinta ikhlasin ibumu sudah meninggal dunia
@Me and You Married
Wah Nadinta kamu di puji Arga pintar memasak di depan ibunya Arga
@Yayang Risa Couple Happy
Arga ibumu tega melakukan kekerasan fisik ke Nadinta
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!