My Sexy CEO

My Sexy CEO

MSC 01 - Sebaiknya Aku Pergi

Hansel Feliks, laki-laki tampan yang kini dibuang oleh keluarganya sendiri. Paman dan Bibinya yang dulu menampungnya, tidak berkenan lagi padanya. Ia pergi meninggalkan rumah Pamannya dan menyewa sebuah apartemen kecil di lingkungan yang sedikit kumuh. Ya, uang tabungannya tidaklah cukup untuk bisa menyewa apartemen besar, karena ia juga harus membagi uangnya untuk kebutuhan sehari-hari.

Rasa kecewa dirasakannya. Dulu, saat mendiang Papanya masih hidup. Pamannya selalu bersikap baik padanya. Ternyata semua itu hanya topeng. Pamannya baik kepadanya hanya karena harta peninggalan Papanya saja. Saat Papanya meninggal, usia Hansel masih sangat muda. Pamannya berperan sebagai wali dan mengirim Hansel ke sekolah asrama untuk beberapa waktu. Hansel tidak mengira selama ia tidak tinggal bersama Pamannya, ada trik dan rencana busuk yang dilancarkan Pamannya itu.

Harta Warisan yang seharusnya menjadi miliknya. Semuanya menjadi milik Pamannya. Hansel tidak punya kuasa dan kekuatan apa-apa karena ia tidak begitu perhatian pada urusan seperti itu. Yang ia tahu, Pamannya adalah satu-satunya keluarga setelah mendiang Papanya tiada.

*****

Hansel menatap apartemen kecil di depannya. ia mengambil napas dalam dan mengembuskan napasnya kasar. Kesal rasanya, saat mengetahui kebenaran yang menusuk hati. Lebih kesal lagi karena usahanya untuk mencari pekerjaan selalu gagal.

"Hah..." desah Hansel melempar jaketnya di sofa. Ia langsung duduk dan memijat lembut pangkal hidungnya.

"Sial. Bagaimana bisa mereka seperti ini padaku? aku harus apa sekarang?" gumamnya bingung.

Beberapa perusahaan sudah didatangi Hansel. Namun, semuanya menolak dengan alasan Hansel belum memiliki pengalaman pekerjaan. Perusahaan-perusahaan itu tidak mau mengambil resiko untuk memperkejakan seseorang yang belum punya cukup pengalaman. Beberapa tidak menerima karena sudah tidak membutuhkan pekerja baru lagi.

Sudah hampir sebulan, Hansel berjuang mencari pekerjaan. Namun, hasilnya sia-sia. Ia kesal karena ia harus menderita seperti ini demi mencari selembar uang bertahan hidup. Ia yakin nilainya tidak buruk, tetapi mengapa tidak ada satu perusahaan pun yang mau menerimanya.

Tiba-tiba saja ia teringat akan seorang temannya. Teman Hansel semasa sekolah. Hansel masih menyimpan nomor teleponnya, dan langsung menghubunginnya. ia berniat meminta bantuan temannya itu.

"Hallo..." jawab seseorang di ujung telepon.

"Hallo, Marc. Ini aku, Hans."

"Oh, hai Hans. Apa kabarmu? Kau tidak lagi mebghubungiku semenjak kita lulus dari sekolah. Kau sehat?"

"Aku tidak begitu baik, Marc. Kau di mana sekarang? apa kau sibuk?" tanya Hansel ragu-ragu.

"Tidak, teman. Aku tidak sibuk apapun saat ini. Ada apa?" tanya Marc mulai penasaran.

"Apa kau bisa membantuku mencari tempat tinggal dan pekerjaan, Marc?"

"Tunggu, Hans. Pekerjaan? bukankah Pamanmu punya perusahana besar? kenapa kau butuh pekerjaan lagi? tempat tinggal juga, untuk siapa?" tanya Marc bingung.

"Untukku. Aku tidak bisa jelaskan di telepon detailnya seperti apa. Intinya aku dibuang oleh Pamanku. Jadi aku harus mencari pekerjaan untuk hidupku."

"Kau dibuang? jangan bercanda denganku," jawab Marc seakan tidak percaya dengan apa yang didengarnya.

"Ya sudah jika kau tidak percaya. Untuk apa juga aku berbohong padamu. Tidak ada untungnya, kan?" jawab Hansel.

Marc terdiam, ia sedang berpikir. Beberapa saat kemudian Marc kembali bicara dan meminta Hansel datang ke kotanya. Marc akan membantu Hansel. karena Marc tidak ingin dan tidak tega melihat sahabatnya bersedih.

"Kau mau datang ke sini, Hans? Yah, meski tempat tinggalju kecil. Kita bisa tinggal bersama untuk sementara waktu. Untuk perkerjaan, kita akan usaha bersama nanti. Kau tahu situasi dan kondisiku, kan? tempat asalku jauh dan aku juga seorang diri di kota ini. Jadi ayo, kita berjuang bersama teman."

Hansel tersenyum, "Terima kasih, Marc. aku akan pergi besok."

"Kau di mana sekarang?" tanya Marc khawatir.

"Aku di apartemen. Aku tidak tahu lagi harus pergi ke mana," jawab Hansel.

"Baiklah jika seperti itu. Kau tidurlah, hati-hati saat kau pergi besok. Hubungi aku jika kau sudah sampai di sini. Aku akan menjemputmu," kata Marc.

"Ok. Terima kasih, Marc. Kau memang teman yang terbaik."

"Jangan ucapkan itu sekarang. Ucapkan itu nanti saat kau sudah sukses. Sampai besok, Hans."

"Ya, sampai besok. Kau juga tidurlah," jawab Hansel. Ia langsung mengakhiri panggilannya.

Hansel meletakan ponselnya di atas meja. Ia kembali menyandarkan tubuhnya ke sofa. Pikirannya kembali memikirkan kejadian-kejadian yang membuatnya kesal. Ucapan yang begitu menusuk, masih terdengar jelas di telinga Hansel.

"Tidak ada seorang pun yang bisa diandalkan rupannya. Aku harus bisa mengandalkan diriku sendiri. Astaga, aku masih tidak bisa mengerti kenapa Paman begitu bernafsu untuk menguasai harta peninggalan Papa. Terlebih lagi Paman tidak memberiku uang sepeser pun. Benar-benar keterlaluan," batin Hansel kecewa, "Mau tidak mau aku harus pergi dari kota terkutuk ini. Aku sudah muak dengan kehidupan di sini," geram Hansel. Merasa terlalu lelah, Hansel akhirnya tertidur di sofa.

*****

Keesokan harinya. Hansel pergi meninggalkan apartemen. Setelah mengembalikan kunci dan berpamitan pada pemilik aparteme, Hansel pergi ke Halte untuk pergi ke luar kota dengan menumpangi Bus. Di Halte ia menunggu, ia menatap sekeliling yang ramai. Semua orang juga menunggu Bus sepertinya.

Beberapa menit menunggu, Bus akhirnya tiba. Hansel naik ke dalam bus dan segera mencari tempat duduknya. Ia langsung duduk di bangku paling belakang dekat dengan kaca jendela. setelah semua penumpang naik, Bus perlahan bergerak pergi meninggalkan Halte.

"Selamat tinggal, Pa. Maafkan Hansel yang memilih untuk pergi. Keputusan Hansel sudah bulat," batin Hansel menatap ke jalan. Ia memandangi jalanan yang ramai.

Sekelibat kenangan muncul. Kenangan saat ia masih kecil, ia sering sekali diajak Papanya utuk berjalan-jalan berkeliling taman. Meski ia tidak pernah melihat sosok Ibunya sejak kecil, ia tidak merasa kekurangan kasih sayang. Papanya begitu mencintainya, meski kini semuanya hanyalah kenangan.

Kenangan itu membuat Hansel tersenyum tipis walaupun sesaat. Ia sangat bersyukur, ia bisa mendapatkan cinta dan kasih sayang seorang keluarga meski hanya dalam waktu yang singkat.

Mama Hansel meninggal saat melahirkan Hansel. Sejak kecil, Papa Hansel yang merawat Hansel dengan hanya dibantu seorang pengasuh bayi. Saat Papanya bekerja, Hansel akan diasuh oleh pengasuh. Meski sibuk bekerja, Papanya akan selalu meluangkan banyak waktu untuk menemaninya bermain dan belajar. Membimbing dan memberikan arahan. Juga selalu memberikan semangat pada Hansel.

Kini semuanya hanya bisa disimpan dalam hati, hanya bisa dikenang. Kebahagiaan yang indah itu terenggut begitu saja denngan sebuah tragedi kecelakaan yang membuatnya kehilangan sosok orang yang paling disayanginya.

Mata Hansel terpejam, masih teringat jelas saat ia berlari masuk ke dalam gedung rumah sakit demi melihat Papanya yang terbaring tidak sadarkan diri. Jantungnya seakan berhenti bedetak, saat Papanya dinyatakan meninggal dunia. Itulah pukulan terberat Hansel saat ia harus merelakan kepergian satu-satunya orang yang begitu berharga dalam hidupnya.

*****

Hansel tertidur disepanjang perjalanan. Hampir sekitar empat jam perjalanan. Bus itu akhirnya tiba di kota tujuan. Hansel membuka mata perlahan saat seseorang di sampingnya membangunkannya.

"Hei, bangunlah. Kita sudah sampai, Nak."

"Ah, iya. Terima kasih sudah membangunkanku."

"Kau ingin pergi ke mana? apa ada yang menjemputmu?" tanya laki-laki paruh baya di samping Hansel.

"Iya, ada. Temanku akan datang menjemput."

"Baiklah jika seperti itu. Aku akan turun dulu. Semoga harimu menyenangkan," kata laki-laki itu yang lanhsung pergi untuk segera turun dari dalam Bus.

Hansel berdiri dari duduknya, ia menggendong ranselnya di bahu dan langsung turun dari dalam Bus. Pemandangan yang asing, ia tidak menyangka jika ia akan nekat pergi ke tempat asing yang belum pernah ia kunjungi sebelumnya.

Ponselnya berdering, Hansel mendapatkan panggilan dari Marc. Dengan segera Hansel menerima panggilan dari temannya itu.

"Hallo, Marc. Aku baru saja turun dari Bus. Kau di mana?" tanya Hansel.

"Aku di Halte. Aku menunggumu sejak tadi," jawab Marc.

"Di mana? aku tidak mrlihatmu," jawab Hansel melihat sekeliling.

"Hei, teman. Lihatlah baik-baik. Aku di belakangmu," kata Marc.

Hansel berbalik dan terkejut melihat Marc. Hansel dan Marc berpelukan ringan saling melepas rindu. Sudah lama sejak keduanya lulus sekolah, ini pertemuan pertama mereka setelah sekian lama.

"Kau banyak berunah, Hans. Kau semakin tampan," puji Marc.

"Jangan berlebihan. Kau juga banyak berubah. Lihatlah otot-ototmu ini. Apakah kau sedang berkencan sekarang?" goda Hansel.

"Tidak ada wanita yang menyukai laki-laki miskin sepertiku. Jika adapun itu hanya dalam mimpi," jawab Marc.

"Bicara apa kau ini. Ayolah, pasti ada wanita yang akan mencintaimu dengan tulus nanti."

"Ah, iya-iya. Aku selalu kalah bicara darimu, Hans. Nah, ayo kita beli makan dan kembali pulang. Nanti sore aku akan ajak kau berkeliling," kata Marc.

"Ok," jawab Hansel.

Marc dan Hansel pergi meninggalkan Halte. Mereka hendak mencari restorant kecil untuk makan dan selanjutnya Marc akan mengajak Hansel untuk pergi ke apartemennya.

...****...

Terpopuler

Comments

Susi Andriani

Susi Andriani

salam kenal ya

2022-12-15

1

Novianti Ratnasari

Novianti Ratnasari

menarik cerita nya

2021-11-02

1

Mozza

Mozza

duh

2021-08-04

0

lihat semua
Episodes
1 MSC 01 - Sebaiknya Aku Pergi
2 MSC 02 - Bersama Marc
3 MSC 03 - Tawaran Yang Menggiurkan
4 MSC 04 - Si Rubah Cantik
5 MSC 05 - Masuk Kandang Rubah
6 MSC 06 - Monster
7 MSC 07 - Sisi Lain CEO
8 MSC 08 - Trik Licik
9 MSC 09 - Laporan
10 MSC 10 - Masalah Besar
11 MSC 11 - Psikopat (1)
12 MSC 12 - Psikopat (2)
13 MSC 13 - Psikopat (3)
14 MSC 14 - Hal Tidak Terduga
15 MSC 15 - Malam Yang Manis
16 MSC 16 - Pengakuan
17 MSC 17 - Terlihat
18 MSC 18 - Meragukan
19 MSC 19 - Mulai Menyelidiki
20 MSC 20 - Aku Datang Karena Rindu
21 MSC 21 - Perselisihan
22 MSC 22 - Mendengar Sesuatu
23 MSC 23 - Hasil Penyelidikan
24 MSC 24 - Pertemuan Hansel dan Charlie
25 MSC 25 - Orang itu Adalah Aku
26 MSC 26 - Aku Akan Akhiri Semuanya
27 MSC 27 - Kesepakatan
28 MSC 28 - Pelatihan (1)
29 MSC 29 - Pelatihan (2)
30 MSC 30 - Pelatihan (3)
31 MSC 31 - Ketahuan
32 MSC 32 - Saling Jujur
33 MSC 33 - Pergi Ke Villa
34 MSC 34 - Latihan Ringan (1)
35 MSC 35 - Latihan Ringan (2)
36 MSC 36 - Bringas
37 MSC 37 - Misi Penyelamatan (1)
38 MSC 38 - Misi Penyelamatan (2)
39 MSC 39 - Lihat Aku Dan Percayalah
40 MSC 40 - Saling Mengenal
41 MSC 41 - Kakak Ipar
42 MSC 42 - Lampu Hijau Menyala
43 MSC 43 - Bersikap Biasa Saja
44 MSC 44 - Mimpi Buruk (1)
45 MSC 45 - Mimpi buruk (2)
46 MSC 46 - Mimpi Buruk (3)
47 MSC 47 - Tidak Tenang
48 MSC 48 - Aku Baik Baik Saja
49 MSC 49 - Menemanimu
50 MSC 50 - Kecupan Permintaan Maaf
51 MSC 51 - Tamu Istimewa (1)
52 MSC 52 - Tamu Istimewa (2)
53 MSC 53 - Tamu Istimewa (3)
54 MSC 54 - Keputusan (1)
55 MSC 55 - Keputusan (2)
56 MSC 56 - Keputusan (3)
57 MSC 57 - Keputusan (4)
58 MSC 58 - Surat Panggilan
59 MSC 59 - Rencana Jahat Ergy
60 MSC 60 - Ada Apa Denganmu
61 MSC 61 - Pergerakan Micheline (1)
62 MSC 62 - Pergerakan Micheline (2)
63 MSC 63 - Pergerakan Micheline (3)
64 MSC 64 - Pergerakan Micheline (4)
65 MSC 65 - Pergerakan Micheline (5)
66 MSC 66 - Persiapan Micheline
67 MSC 67 - Menyerah Atau Menyesal (1)
68 MSC 68 - Menyerah Atau Menyesal (2)
69 MSC 69 - Menyerah Atau Menyesal (3)
70 MSC 70 - Menyerah Atau Menyesal (4)
71 MSC 71 - Menyerah Atau Menyesal (5)
72 MSC 72 - Maafkan Aku
73 MSC 73 - Tidak Bisa Tidur
74 MSC 74 - Rasakan dan Nikmati
75 MSC 75 - Denganmu (Micheline)
76 MSC 76 - Kabar Berita
77 MSC 77 - Memancing Mangsa (1)
78 MSC 78 - Memancing Mangsa (2)
79 MSC 79 - Aku Hamil (Micheline)
80 MSC 80 - Memancing Mangsa (3)
81 MSC 81 - Memancing Mangsa (4)
82 MSC 82 - Kehilanganmu (Micheline)
83 MSC 83 - Peringatan Keras
84 MSC 84 - Berharap Hanya Bunga Tidur
85 MSC 85 - Sampai Kapan
86 MSC 86 - Aku Tahu Hatimu
87 MSC 87 - Keputusan Di Tanganmu
88 MSC 88 - Pilihan Terakhir
89 MSC 89 - Ada Penyusup
90 MSC 90 - Hati Yang Risau
91 MSC 91 - Ancaman
92 MSC 92 - Bersiaplah
93 MSC 93 - Kau Milikku Dan Aku Milikmu (1)
94 MSC 94 - Kau Milikku Dan Aku Milikmu (2)
95 MSC 95 - Mengejutkan Hatimu
96 MSC 96 - Kejutan Manis (Hansel)
97 MSC 97 - Akan Selalu Ada Untukmu
98 MSC 98 - Mereka Adalah Keluarga
99 MSC 99 - Pertarungan Yang Melelahkan
100 MSC 100 - Akhir Dari Semuanya
Episodes

Updated 100 Episodes

1
MSC 01 - Sebaiknya Aku Pergi
2
MSC 02 - Bersama Marc
3
MSC 03 - Tawaran Yang Menggiurkan
4
MSC 04 - Si Rubah Cantik
5
MSC 05 - Masuk Kandang Rubah
6
MSC 06 - Monster
7
MSC 07 - Sisi Lain CEO
8
MSC 08 - Trik Licik
9
MSC 09 - Laporan
10
MSC 10 - Masalah Besar
11
MSC 11 - Psikopat (1)
12
MSC 12 - Psikopat (2)
13
MSC 13 - Psikopat (3)
14
MSC 14 - Hal Tidak Terduga
15
MSC 15 - Malam Yang Manis
16
MSC 16 - Pengakuan
17
MSC 17 - Terlihat
18
MSC 18 - Meragukan
19
MSC 19 - Mulai Menyelidiki
20
MSC 20 - Aku Datang Karena Rindu
21
MSC 21 - Perselisihan
22
MSC 22 - Mendengar Sesuatu
23
MSC 23 - Hasil Penyelidikan
24
MSC 24 - Pertemuan Hansel dan Charlie
25
MSC 25 - Orang itu Adalah Aku
26
MSC 26 - Aku Akan Akhiri Semuanya
27
MSC 27 - Kesepakatan
28
MSC 28 - Pelatihan (1)
29
MSC 29 - Pelatihan (2)
30
MSC 30 - Pelatihan (3)
31
MSC 31 - Ketahuan
32
MSC 32 - Saling Jujur
33
MSC 33 - Pergi Ke Villa
34
MSC 34 - Latihan Ringan (1)
35
MSC 35 - Latihan Ringan (2)
36
MSC 36 - Bringas
37
MSC 37 - Misi Penyelamatan (1)
38
MSC 38 - Misi Penyelamatan (2)
39
MSC 39 - Lihat Aku Dan Percayalah
40
MSC 40 - Saling Mengenal
41
MSC 41 - Kakak Ipar
42
MSC 42 - Lampu Hijau Menyala
43
MSC 43 - Bersikap Biasa Saja
44
MSC 44 - Mimpi Buruk (1)
45
MSC 45 - Mimpi buruk (2)
46
MSC 46 - Mimpi Buruk (3)
47
MSC 47 - Tidak Tenang
48
MSC 48 - Aku Baik Baik Saja
49
MSC 49 - Menemanimu
50
MSC 50 - Kecupan Permintaan Maaf
51
MSC 51 - Tamu Istimewa (1)
52
MSC 52 - Tamu Istimewa (2)
53
MSC 53 - Tamu Istimewa (3)
54
MSC 54 - Keputusan (1)
55
MSC 55 - Keputusan (2)
56
MSC 56 - Keputusan (3)
57
MSC 57 - Keputusan (4)
58
MSC 58 - Surat Panggilan
59
MSC 59 - Rencana Jahat Ergy
60
MSC 60 - Ada Apa Denganmu
61
MSC 61 - Pergerakan Micheline (1)
62
MSC 62 - Pergerakan Micheline (2)
63
MSC 63 - Pergerakan Micheline (3)
64
MSC 64 - Pergerakan Micheline (4)
65
MSC 65 - Pergerakan Micheline (5)
66
MSC 66 - Persiapan Micheline
67
MSC 67 - Menyerah Atau Menyesal (1)
68
MSC 68 - Menyerah Atau Menyesal (2)
69
MSC 69 - Menyerah Atau Menyesal (3)
70
MSC 70 - Menyerah Atau Menyesal (4)
71
MSC 71 - Menyerah Atau Menyesal (5)
72
MSC 72 - Maafkan Aku
73
MSC 73 - Tidak Bisa Tidur
74
MSC 74 - Rasakan dan Nikmati
75
MSC 75 - Denganmu (Micheline)
76
MSC 76 - Kabar Berita
77
MSC 77 - Memancing Mangsa (1)
78
MSC 78 - Memancing Mangsa (2)
79
MSC 79 - Aku Hamil (Micheline)
80
MSC 80 - Memancing Mangsa (3)
81
MSC 81 - Memancing Mangsa (4)
82
MSC 82 - Kehilanganmu (Micheline)
83
MSC 83 - Peringatan Keras
84
MSC 84 - Berharap Hanya Bunga Tidur
85
MSC 85 - Sampai Kapan
86
MSC 86 - Aku Tahu Hatimu
87
MSC 87 - Keputusan Di Tanganmu
88
MSC 88 - Pilihan Terakhir
89
MSC 89 - Ada Penyusup
90
MSC 90 - Hati Yang Risau
91
MSC 91 - Ancaman
92
MSC 92 - Bersiaplah
93
MSC 93 - Kau Milikku Dan Aku Milikmu (1)
94
MSC 94 - Kau Milikku Dan Aku Milikmu (2)
95
MSC 95 - Mengejutkan Hatimu
96
MSC 96 - Kejutan Manis (Hansel)
97
MSC 97 - Akan Selalu Ada Untukmu
98
MSC 98 - Mereka Adalah Keluarga
99
MSC 99 - Pertarungan Yang Melelahkan
100
MSC 100 - Akhir Dari Semuanya

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!